Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Leon Pergi


__ADS_3

"Kok pada sedih?" tanya Bening begitu sampai di tempat kerjanya.


Teman- teman Bening yang bisa comel berkerumun dengan menekuk mukanya.


"Leon dimutasi!" celetuk teman Bening


"What?" pekik Bening spontan.


Seketika itu nafas Bening terasa tersendat, dan mendadak dunia serasa terhenti.


"Iya... suratnya tiba kemarin sore!" jawab teman Bening


Seketika itu tubuh Bening terasa lemah lunglai, Bening langsung terduduk, tidak bisa berkata- kata. Bening satu- satunya pegawai muda yang belum menjadi pegawai tetap. Apalagi Bening hanya lulusan SMA. Bening wiyata di museum itu juga karena Leon.


Jika Leon dimutasi dan atasan Bening ganti nasib Bening akan dipertanyakan. Apalagi mengingat pemasukan museum yang sedikit, uang untuk menggaji pegawai tidak tetap seperti Bening sangat limit hanya atasan yang berjiwa sosial tinggi yang mau mempekerjakan Bening.


Leon mempekerjakan Bening hanya karena kasian, bahkan seringkali mereka patungan untuk bayar Bening.


"Nggak tahu kenapa? Dinas pariwisata meminta Leon kerja di museum pusat," tutur teman Bening


"Dimana Leon?" tanya Bening cepat.


"Tadi dia berangkat, terus ke rumah kayaknya kemas- kemas!" jawab teman Bening.


"Oke!" jawab Bening lirih.


Tidak peduli dia baru berangkat, tanpa pamit juga, Bening langsung berdiri dan berjalan setengah berlari menuju ke rumah dinas Leon di dekat museum.

__ADS_1


Bening hanya punya Leon dalam hidupnya. Leon satu- satunya saudara Bening dari Ibunya. Hanya Leon yang selama ini mengerti Bening, walau Leon suka berbicara asal dan suka semaunya juga matre. Tapi hanya Leon yang bisa memahami Bening.


Hingga tanpa Bening sadari air mata Bening jatuh mengiringi langkahnya.


"Aku sama siapa di sini Leon?" batin Bening sangat patah hatinya.


Karena Bening berjalan setengah berlari juga letaknya yang ada di belakang museum, tidak butuh waktu lama Bening sampai.


Tepat saat itu juga Leon sedang memasukin kunci motornya.


Dengan derai air mata Bening berdiri tepat di depan motor Leon menatap Leon penuh harap.


"Haishh!" desis Leon menghela nafas dan meletakan tangan di atas kedua pahanya.


Bening masih terisak dengan kedua bibirnya yang meleot tepat di depan ban motor Leon.


"Jadi benar kamu mau pergi?"


"Ya benar. Minggir minggir! Kenapa nangis segala lebay banget!" ucap Leon.


"Kalau kamu pergi gimana nasib aku?"


"Ya nggak gimana- gimana? Harusnya kamu seneng aku akan pindah ke museum yang rame. Uangku akan banyak, aku juga kerja di kota bisa deketin Tia tiap hari. Sebagai adik kamu harus doain aku!" ucap Leon lagi dengan tawa penuh semangat


Sayangnya berbanding terbalik dengan Leon, bibir Bening semakin meleot dan air matanya semakin banjir.


"Haissh malah tambah nangisnya?" keluh Leon.

__ADS_1


"Kalau kamu pergi aku sama siapa? Penggantimu siapa? kalau galak gimana? Kalau dipecat gimana?" rengek Bening lagi.


"Hhh....," Leon kemudian menghela nafasnya menatap Bening kali ini wajahnya penuh empati.


"Aku ikut!" rengek Bening dengan suara lirih sembari sesenggukan.


"Tenang aja penggantiku perempuan sepertinya dia akan mengajarimu banyak hal, semoga dia bijak ya. Kamu berdoa makanya. Kamu kan sekarang sudah punya suami. Ya sama suamimu lah!" ucap Daka lagi.


"Ih...," mendengar kata suami Bening langsung mencubit Leon.


"Kamu kan tahu aku menikah dadakan itu juga akal- akalan nenek lampir itu. Dia bukan suami yang aku ingin!"


"Tapi nyatanya di hadapan Tuhan dia suamimu. Kamu harus terima. Dia temanmu sekarang!"


"Tapi dia lupa ingatan. Kalau ternyata dia beristri? Gimana? Kita juga tidak saling cinta!"


"Nggak usah banyak negatif thingking. Dia masih muda aku yakin dia lajang. Kalian bisa saling cinta. Terima saja. Percaya deh. Dah... aku harus ke kota. nanti terlambat. Minggir!" ucap Leon lagi


Bening masih tidak mau beranjak dan berdiri cemberut di depan Leon.


"Minggir.. aku harus kumpul ini!" ucap Daka lagi.


"Nggak!"


"Nggak usah lebay. Doakan aku dan Tia segera jadian ya. Oh ya... jangan galak- galak samq Daka. Berdoa saja dia segera pulih feelingku dia bukan orang sembarangan!" ucap Leon serius dan mengerlingkan air mata tetap menyalakan mesin motornya.


Leon pun membelokan motornya agar tidak menabrak Bening tetap pergi.

__ADS_1


__ADS_2