
“Ehm...,”
Bening langsung tergagap begitu membuka mata, dia hampir berteriak tapi dia sendiri yang segera menutup mulutnya sendiri.
“Oh my God..,” gumam Bening dalam hati merutuki dirinya sendiri “Apa- apaan ini?” gumam Bening sangat malu lalu bergerak, menarik tangan dan kakinya sangat hati- hati untuk menjauh.
Malam ini Daka tidak mengigau. Bening juga sangat lelap sampai tak mendengar ayam berkokok.
Bahkan yang membuat Bening sangat malu, ternyata Bening tidur dengan memeluk Daka dan bersandar nyaman di dada Daka, entah bagaimana ceritanya. Ya, Bening yang berpegangan erat ke Daka.
Bantal guling yang menjadi pembatas pun sudah berserakan terjatuh di lantai.
“Ck!” Bening berdecak sangat lirih.
Untungnya Daka terlihat masih memejamkan mata bahkan terdengar mendengkur.
"Amaan! Untung masih tidur. Semoga dia juga tidak sadar. Bisa ge er dia?" batin Bening.
Bening sangat tengsin kalau Daka tahu dia memeluknya. Bening harus menghilangkan jejak dan jangan sampai Daka menyadari semua itu.
“Huuuftt...,” Bening langsung membuang nafasnya, menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata dan memukul kepalanya sendiri.
“Ck... ini tidak bisa dibiarkan? Bahaya kalau begini terus. Tapi bagaimana mencegahya?” gumam Bening segera turun dari kasur. Bening selalu kalah dengan rasa kasihanya jika harus mencegah permintaan Daka yang banyak alasan untuk tetap stay di dekatnya.
Bening cepat- cepat ke dapur.
__ADS_1
Ternyata hari sudah siang.
Bening segera membuat sarapan dan bersiap kerja.
Bening sengaja tidak membangunkan Daka. Intinya Bening mendadak jadi selalu panas dingin jika harus berhadapan dengan Daka. Bening meminimalkan berkomunikasi dengan Daka.
Bening tidak bisa mengusir Daka karena hati Bening yang murni masih takut dosa. Tapi Bening juga masih merasa terlalu dini untuk membuka hati dan menerima Daka suaminya. Bening takut salah mengambil keputusan jika membuka hati untuk Daka.
Otak Bening masih dipenuhi banyak prasangka. Bagaimana kalau Daka ternyata beristri. Bagaimana kalau Daka ternyata orang jahat. Banyak sekali.
Tanpa pamit, Bening berangkat bekerja. Meski Begitu, Bening tetap melakukan sesuatu dengan hatinya. Dia meninggalkan sarapan untuk Daka juga memilih jalan kaki tempat kerjanya, dan membiarkan sepedanya dipakai Daka.
Setelah terdengar Bening menutup pintu Daka kemudian membuka matanya tersenyum.
“Huuft!” Daka pun membuang nafasnya dengan senyum nakalnya. Lalu Daka mengibaskan lenganya yang pegal karena ditin dih Bening.
Bahkan saat Daka tebangun, sebelumnya kaki Bening berada tepat di atas adik kecilnya dan membuatnya berubah berdenyut.
Daka pun membetulkan agar dia tidak tersiksa. Meski begitu menyadari kaki Bening bertumpu di atas kakinya, Daka tetap semakin mendekat dan mengeratkanya.
Daka juga berlama- lama menatap Bening lekat, membelai kepalanya, bahkan sudah memberikan kecupan lembut di kening Bening tanpa Bening tahu.
Daka paham kalau Bening tahu pasti malu dan gengsi. Bukan hanya itu, Bening akan mengumpat marah- marah. Daka memilih menikmatinya sendiri dan bertindak tidak tahu apa- apa.
Itu sebabnya saat Bening melalukan pergerakan hendak bangun, Daka pura- pura tidur dan mendengkur lagi.
__ADS_1
Tepat sesuai perkiraan Daka, Bening jadi sangat malu dan berniat menyembunyikan semua itu. Tentu saja Daka jadi ingin tertawa melihat kelakuan Bening.
“Kamu sekarang wanitaku, Bening!” gumam Daka melirik foto Bening saat kecil bersama ibunya yang tertempel di dinding.
“Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu Menangis. Aku yakin aku orang kaya! Aku hanya perlu mengingat siapa aku? Kamu akan bahagia bersamaku.” gumam Daka lagi.
Daka pun ikut turun dari kasur dan segera ke dapur.
Daka kembali tersenyum melihat makanan sudah tersaji untuknya. Daka pun segera melahap makanan dari Bening.
Setelah itu Daka bersiap kembali ke kota. Daka ingin keliling istana lagi mencari titik agar bisa menemukan Benang yang bisa merangkai keping mimpinya.
Setidaknya Daka hanya ingin menemukan tempat seperti yang dia lihat di mimpinya.
“Huuuft apa iya aku harus bekerja jadi pemungut sampah? Menyebalkan sekali?” gumam Daka enggan.
Daka sudah berkeliling kota dan kawasan istana tapi tak mendapatkan hasil. Yang dia dapat lelah panas dan uangnya berkurang banyak.
Daka pun menimbang tawaran Bu Maria. Tapi memungut sampah sangat menjijikan bagi Daka.
“Tapi aku harus cepat dapat uang lagi. Uang ini akan segera habis kalau aku tidak bekerja!” gumam Daka berfikir setelah mengeluarkan uang untuk ongkos ojek.
Daka melihat isi dompet hasil copetanya makin hari makin menyusut.
"Aku harus bekerja. Aku tidak boleh menyusahkan Bening?" gumam Daka.
__ADS_1
Akhirnya mengingat Bening. Daka ingin bahagia atasnya juga mengijinkanya tinggal. Ditambah untuk mencari tahu tentang kepingan mimpinya butuh Uang. Daka pun memutuskan untuk bekerja bersama Bu Maria.
“Oke... lets do it? Aku harus ke tempat wanita tua. Itu?" gumam Daka memutuskan.