
“Awas kamu ya! dasar anak durhaka, kuadukan pada ayahmu!” ucap Bu Damita, mengancam dan mengambil tasnya.
Damita tidak sadar kalau tas yang tadinya rapat dan di meja, terbuka dan bergeser.
Bening hanya diam membiarkan ibu tirinya pergi.
“Dia ibumu?” ledek Daka ke Bening.
“Ish..,” desis Bening jijik. “Enak aja!”
“Tadi bilang begitu!”
“Amit- amit punya ibu begitu. Dia bukan ibuku, dia nenek sihir yang sudah menyihir ayahku jadi jahat. Dia ibunya Alika!” jawab Bening berbagi cerita ke Daka.
“Oooh gitu?” jawab Daka mengangguk angguk. Daka pun tersenyum dan semakin merasa benar sudah mengambil dompet di tas Bu Damita.
“Aa_o ao?” cibir Bening.
“Hehe...,” Daka kemudian nyengir menatap Bening.
“Kenapa senyum- senyum?” tanya Bening ketus.
“Tadi kata dia apa? Kamu mau dinikahkan dengan Tuan Barri? Siapa itu?” tanya Daka meledek Bening.
“Ish kepo lu?” jawab Bening kesal.
Daka pun senyum- senyum meledek. “Ternyata kamu laris juga ya? ya udah kalau Mamanya laki- laki berkacamata kemarin nggak setuju sama kamu? Nikah sama itu aja!” ledek Daka lagi.
“Iiih!” Bening langsung geram dan mengangkat pot bunga meja hendak memukulkan ke Daka. Daka reflek membungkuk dan menyilangkan kedua tanganya menolak.
“Gua tampol lu. Diam lu nggak ngerti apa- apa!” omel Bening mode singa.
“Ya ampun- ampun, emang siapa Barri itu?”
“Jangan sebut namanya, jijik baget aku dengernya! Nggak ada hubunganya sam kak Naka! Mending nggak nikah aku daripada nikah sama orang itu!” omel Bening lagi.
“Ya emang siapa orang itu? Katanya hidupmu akan enak?” tanya Daka.
“Dia adalah duda tua yang kerjanya kawin cerai, entah udah berapa orang yang jadi jandanya”
“Empt...,uhuk...,” Daka langsung terkekeh mendengarnya.
“Sshh...,” Bening pun kembali geram ke Daka.
Tidak lama Tia datang, Daka dan Bening langsng menyambut Tia. Akan tetapi tatapan Tia tidak ke Bening melainkan langsung salah fokus dan menatap Daka tanpa berkedip. Daka terlihat sangat macho dengan penampilan lusuhnya.
Meski tak bermerek dan terkesan sedikit urakan karena celana yang dipinjam dari Leon lututnya bolong- bolong, karena tubuh Daka yang proporsional justru membuat kesan laki banget untuk beberapa orang seperti Cica dan Tia.
“Ehm....,” dehem Bening. “Duduk Ti..,” ucap Bening memberikan bangku ke Tia.
“Ehm..,” Tia ikut berdehem malu, lalu menganggukan kepala menyapa Daka. Daka hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit, seperti awal bicara dengan Bening, terhadap orang asing, Daka memang tidak ramah dan angkuh.
__ADS_1
“Kenalin dia Daka!” celetuk Bening paham Tia merasa asing dengan Daka.
“Oh ya?” jawab Tia tersenyum manis, “Tia!” lanjutnya memperkenalkan diri.
Daka hanya mengangguk.
“Nggak apa- apa ya ada dia?” tanya Bening.
Tia tersenyum kikuk, “Nggak apa- apa, tapi boleh kita ngobrol bentar?” tanya Tia mengajak Bening menepi.
Bening mengangguk da meminta ijin Daka, bicara empat mata.
“Aku aja yang pergi!” ucap Daka pengertian.
“Jangan!” ucap Tia cepat. “He...,”
Daka dan Bening jadi terbengong. “Ehm...Dak.. ehm maksudnya, Mas Daka di sini aja?” tutur Tia lagi pipinya merona sembari menyelipkan rambutnya ke telinga dengan sedikit tebar pesona.
Daka hanya melotot bingung.
“Aku Cuma mau tanya dikit, sungguhan nggak apa- apa!” ucap Tia lagi.
“Oke!” jawab Daka kembali duduk.
Tia menyeret Bening.
“Dia siapa? Bukan pacar kamu kan? Kamu udah move on dari Naka?” tanya Tia langsung menyerbu, Bening. Tia kan tahu, Bening cinta mati dengan Naka.
“Huuft...,” Tia langsung menghela nafasnya lega. “Yes!”
“Yes apa?”
“Dia jomblo kan? Pedeketein aku sama dia ya? kasih nomernya!” ucap Tia lagi.
“Ish... apaan sih? Dia itu cowok bermasalah,” jawab Bening jadi heran kenapa smeua temanya jadi naksir Daka.
“Pokoknya entar kasih aku nomernya! Dah!” ucap Tia buru- buru kembali ke meja mereka makan.
“Whoah?” Bening hanya menelan ludahnya heran. “Kamu akan langsung mundur setelah tahU Daka itu berandal gelandangan nggak punya apa- apa? Jangankan hp, makan aja ngrepotin aku?” batin Bening kesal.
Tia langsung dekat- dekat Daka centil- centil. Bening pun menyusulnya, sementara Daka diam dengan wajah dinginya.
Mereka pun segera memesan makanan, setelah itu makan bersama. Kali ini Daka yang membayar, tentu saja hal itu membuat Bening heran, tapi membuat Tia semakin naksir.
“Kamu uang darimana?” bisik Bening menyenggol kaki Daka.
“Ya sisa kemarin, itung- itung biar hutangku tidak terlalu menumpuk!” jawab Daka.
Bening kembali diam.
Lalu Bening mengobrol dan curhat ke Tia tentang Alika dan ibu Naka. Sementara Daka diam menyimak.
__ADS_1
Dari obrolan mereka, mereka sepakat mencari septu mereka. Mereka pun langsung mencari ke tempat ganti yang mereka datangi. Awalnya di tempat sampahh sudah tidak ada karena sudah berhari- hari.
Bening dan Tia sudah putus asa dan mau pulang, tapi Daka meski diam matanya berkelana di sekitar gedung itu. Tanpa pamit ke Bening Daka melipir melihat tumpuukan sampah yang menunggu diangkut tukang sampah.
Daka tanya ke petugas yang kebetulan sedang membuang sampah juga.
“Sampah berapa hari Pak kok numpuk?” tanya Daka.
“Udah seminggu lebih, katany tukang sampahnya lagi mogok kerja karena mereka protes naik gaji!” jawab tukang kebersihan di gedung teater.
Daka kemudian malah tertarik mendengar berita tentang tukang sampah yang mogok. Cleaning servis yang melihat Daka berpakaian sama kumalnya dengan lancar curhat dan mengeluhkan pejabat kota yang jahat.
“Oh gitu? Ck dasar ya mereka para pemimpin serakah!” imbuh Daka ikut- ikutan mengutuki pejabata yang pellit ke pegawai rendahan.
“Ya sudah aku mau kerja lagi, masnya mau ngapain?” tanya cleaning servis.
“Nyari sepatu balet!”
“Oh sepatu yang bewarna pink ada rendanya?” tanya pekerja itu lagi.
Daka mengangguk.
“Sini!” ucap tukang bersih itu.
Daka mengangguk ikut. “Ini... aku pikir udah tidak dipakai, mau kujual ke pasar loak!” ucap tukang bersih itu.
Daka mengangguk senang.
“Makasih ya! Ini buat kamu!” ucap Daka ramah dan menyodorkan uang 100 ribuan dari dompet Bu Damita.
“Apa ini? Tidak usah!” jawab tukang bbersih- bersih.
“Nggak aapa- apa... anggap aja aku pedangan loak yang membeli sepatu pungutanmu!” ucap Daka berbaik hati.
“Oke makasih ya!” ucap tukang bersih- bersih.
Daka mengangguk cepat membawa sepatu Bening yang hendak Bening tunjukan untuk cerita ke Naka.
****
“Haish... dimana Daka sih?” gumam Bening baru sadar Daka tidak ada di parkiran. Entah karena kasihan atau merasa bertanggung jawab. Bening jadi panik kehilangan Daka.
“Eh kamu belum cerita kok dia sama kamu? Dia siapa?” tanya Tia.
Bukanya menjawab Bening mengedarkan pandangaya sangat khawatir. “Dimana dia? Aduh jangan- jangan dia tersesat dan bikin masalah?” gumam Bening bicara sendiri.
Tia jadi heran melihatnya. Tia ikut melihat sekeliling.
“Itu dia?” ucap Tia menunjuk Daka.
Bening ikut menoleh. “Bawa apa dia?”
__ADS_1