
Seterang sinar mentari, setarang itu juga pancaran mata Bening. Senyumnya merekah begitu keluar dari parkiran rumah sakit, pujaan hatinya menepati janjinya. Naka sudah menunggu dengan helm dan motornya siap membawa Bening kencan.
“Siapa yang sakit?” tanya Naka.
“Teman!” jawab Bening tersenyum. Dalam hati, “Entahlah teman, musuh atau beban hidup,”
“Oh.. yuk. Nih pakai helmnya!” ucap Naka menyodorkan helm.
“Kita mau kemana Kak?” tanya Bening masih tidak mengerti.
“Udah ikut aja, kan Kaka bilang hari ini ada kejutan!” jawab Naka tersenyum senang.
Hati Bening pun mengembang sempurna. Bening sangat bahagia, pria yang diidamkanya membalas perasaanya, bahkan sekarang nyata hendak membahagiakanya.
"Oke!"
Hal itu seakan menghapus semua lara dan luka di hati Bening. Harapan hidup Bening kembali membumbung tinggi. Bening berharga dan bisa bahagia.
Bening segera memakai helmnya lalu naik ke motor Naka. Terserah kemana Naka membawanya, Bening ikut saja.
Dan ternyata, Naka membawa Bening masuk ke mall besar di kota itu.
“Kita beli baju couple_an ya Sayang!” celetuk Naka.
Bening berhenti sejenak, kupingnya serasa ada yang meniupkan salju, langsung dingin menembus ke hati mendengar panggilan Naka.
“Kakak tadi panggil aku apa? Coba ulangi?” tanya Bening malu- malu.
“Kita beli, baju couple_an Sayang. Kan kita udah jadian!” jawab Naka.
Reflek, pipi Bening mengembang dan menggembul merah, sangat cantik. Naka pun tersenyum.
"Oh?"
Entah untuk apa, Bening tidak berfikir jauh. Dia hanya mengikuti Naka, masuk ke gerai batik dan mencari sepaket pakaian couple untuk mereka berdua.
Lama mereka memilih, pakaian yang warna model dan ukuran keduanya sesuai, baik untuk Naka atau Bening.
Meski lama, berbeda dengan Daka yang menunggu dengan lapar dan jenuh, Bening menikmatinya dan selalu merasa kurang.
Selesai mendapatkan pilihan baju couple, Naka mengajak Bening ke toko perhiasan.
“Kakak kita mau apa kita kesini?” tanya Bening merasa semuanya sudah lebih dari cukup untuk hari ketiga mereka pacaran.
“Aku tidak tahu ukuran jari manismu, ayo pilih yang kamu suka dan sesuai tanganmu!” ucap Naka.
“Hoh?” pekik Bening terdiam, Bening tidak bisa berkata- kata. Bahkan dia menepuk pipinya, antara percaya dan tidak. Naka mau membelikan Bening cincin.
“Ayo!” ajak Naka menggandeng Bening.
“Kakak belikan aku cincin?” tanya Bening lagi.
“Ya!” Naka mengangguk.
"Beneran?"
"Ayo cepat!" ajak Naka.
Dengan hati yang berseri, Bening pun memilih cincin yang dia suka dan sesuai dengan jari manisnya. Sungguh hari yang indah seperti mimpi.
“Kita makan yuk! Lapar nih!” ajak Naka begitu keluar dari toko emas.
Mendadak Bening teringat Daka. Dia pun melihat jam di tanganya, ternyata sudah pukul 12 lewat lebih. “Dia udah selesai belum ya?” batin Bening.
“Ayok!” jawab Bening.
“Mau makan dimana?” tanya Naka.
Bening tahu, tempat dia berdiri sekarang agak jauh dari tempat Daka periksa. Jika makan di tempat itu, Bening bisa telat sampai ke halte Bus. Entah kenapa, Bening tetap merasa gelisah dan gundah takut Daka hilang.
“Di depan rumah sakit, ada restoran ayam, di situ katanya ayam katsunya enak. Makan di situ aja gimana?” jawab Bening memilih makan di tempat dekat halte.
__ADS_1
“Boleh!” jawab Naka.
Mereka kemudian segera menuju ke arah rumah sakit. Sesampainya di restoran, Naka langsung memesan banyak makanan.
“Kok pesan menunya banyak Kak? Kan kita cuma berdua!” tanya Bening kaget.
Naka tersenyum.
“Kan kaka bilang mau kasih kejutan ke kamu Sayang!” jawab Naka.
Bening nampak bingung, bagi Bening dibelikan cincin dan baju juga udah kejutan.
“Kejutan apalagi, Kak?” tanya Bening.
“Emmm... gimana ya? Kaka bingung kasih tahunya!” jawab Naka.
“Sekarang aja kasih tahu!” rengek Bening.
Naka tidak menjawab, karena tiba-tiba ponsel Naka berbunyi. Naka segera angkat telponnya. “Iya Mah. Di depan Rumah Sakit, restoran Ayam Enak!”
Terdengar Naka memberitahu tempat mereka berada.
“Siapa Kak?” tanya Bening.
“Mamah!” jawab Naka cepat.
“Ha?” pekik Bening. “Mamahnya Kakak?”
“Iyah!”
“Mau kesini?"
"Iyah!"
"Kok nggak bilang- bilang?” tanya Bening memekik.
Naka kemudian tersenyum, “Kalau bilang namanya bukan kejutan!” jawab Naka.
“Lhoh belum siap gimana? Kata Mamah kamu udah kenal dekat sama adekku dan mamahku!” jawab Naka kemudian.
“Hoh?” pekik Bening kaget dan menelan ludahnya.
Bening sama sekali tidak mengenal ibu Naka. Kenapa Naka bilang begitu.
“Aku kenal dekat dengan Ibu Kak Naka?” tanya Bening memastikan.
“Huum?” jawab Naka mengangguk. “Kakak cerita kakak jadian sama anaknya Pak Hanjaya. Mamah, bilang kenal baik dengan ibumu. Mamahku ingin aku segera lamar kamu!” tutur Naka bercerita dengan semangat.
Bening tercekat bingung mendengarnya, antara sedih senang, namun mendadak firasatnya jelek. Kepala Bening pun dipenuhi tanda tanya.
Ibunya Naka, mengenal baik Ibu Bening, anak Pak Hanjaya? Ibu yang mana? Anak yang mana? Ibu Bening kan lama meninggal.
Bening masih terbengong, tiba- tiba, suara panggilan anak seusianya terdengar melambai dan mendekat ke Naka. Bening pun langsung menoleh, gadis itu bersama dengan perempuan paruh baya. Tapi Bening tidak kenal.
“Itu mereka datang. Adek dan Mamahku, kamu kenal kan?” bisik Naka.
“Dheg!” seketika itu, jantung Bening berdegub sangat kencang.
Orang yang dimaksud Ibu Naka bukan Bening, pasti Alika. Ya. Bening pernah melihat Alika jalan bersama adik Naka.
Bening tidak menjawab dan langsung menunduk, tubuhnya bergetar sudah tidak bisa tertebak. Langkah kaki ibu dan adik Naka semakin mendekat.
“Naka..., mana pacarmu?” tanya Ibu Naka langsung begitu sampai di depan Bening. Padahal di depanya sudah jelas Bening duduk bersama Naka.
Meski begitu Bening tetap menyapa. Bening mengangkat kepalanya, berdiri dan memberikan anggukan kepala tanda hormat.
Sayangnya, Ibu Naka tidak membalas senyumnya, tapi justru memberi tatapan masam dan melihat penampilan Bening dari atas sampai bawah.
“Kenalin, Mah. Pacar Naka, Bening!” ucap Naka lantang dan percaya diri.
“Kok dia?” celetuk adik Naka pedas dan tatapanya sinis. Tentu saja, Bening langsung merasa tertusuk pendengaranya, nyeri dan sakit. Seakan Bening tidak diharapkan, pandangan yang tertuju padanya tatapan kecewa.
__ADS_1
“Kamu bilang pacarmu, anak Pak Hanjaya yang punya toko pakaian itu kan?” tanya Ibu Naka memastikan.
Bening memilih menunduk dan membiarkan Naka yang menjelaskan. Hati dan perasaanya semakin memburuk dan sudah bisa menebak kemana arahnya. Sementara Naka tampak bingung.
“Iya, Bening anak sulungnya, Pak Hanjaya Mah!” jawab Naka.
“Hooh,” Ibu Naka langsung menghela nafasnya dan menatap Bening dengan ejekaan.
“Duduk dulu, Mah!“ ucap Naka.
“Naka kamu salah!” ucap Ibu Naka dengan lantang.
Hati Bening semakin hancur mendengarnya, tubuh Bening melemas. Bening semakin menundukan kepalanya tidak kuat menangkap sorot mata kebencian dari Ibu Naka.
“Menantu yang mamah mau bukan yang ini!” jawab Ibu Naka lagi tak berperasaan.
“Maksud Mamah apa?” tanya Naka.
“Kak Naka, Dede kira Kaka pacaran sama Kak Alik, Kak Alika keren nggak kaya dia!” imbuh adik Naka mengejek Bening semakin menambah sakit hati Bening.
“Ya... anak Sis Damita yang kenal Mamah itu, Alika yang kuliah bareng Dede bukan dia!” ucap Ibu Naka lagi di depan Bening tidak peduli bagaimana perasaan Bening.
Kali ini Bening tak kuasa menahan air matanya dan menangis.
Naka pun tak enak hati, dan mengajak Ibunya berbicara menjauh dari Bening. Tempat Naka menghindar tepat di belakang Daka mengintip. Daka pun langsung menutup wajahnya dengan buku menu, Daka menajamkan telinganya.
“Mah... mamah itu nyakitin hati Bening. Naka cintanya sama Bening bukan Alika!” jawab tutur Naka.
“Tapi Mamah nggak setuju kamu sama dia! Mamah maunya kamu sama Alika!” jawab Mamah Naka tegas.
“Tapi Naka nggak suka Mah!”
"Dia miskin. Tidak berpendidikan, tidak pantas dengan kamu. Mamah malu punya menantu seperti dia. Dia juga hanya anak tiri!" imbuh Mamah Naka.
"Tapi, Mah!"
“Pulang dan tinggalkan dia, atau jangan pernah panggil mamah, mamahmu lagi!” ucap Mamah Naka lagi mengancam.
Naka pun langsung menyeringai.
“Mah. Kasian Bening. Mamah jangan gitu!" jawab Naka.
Mendengar bantahan putranya, bukanya mengerti Mamah Naka malah memandang Naka sinis, lalu duduk kembali ke mejanya dan menatap Bening dengan tatapan sinis.
“Kamu anak tirinya Damita kan?” tanya Mama Naka judes.
Bening menyeka air matanya, dan mengangguk.
“Iya, Tante!” jawab Bening.
“Aku dengar kamu bodoh dalam sekolah, kamu juga pemalas dan juga lelet, itu sebabnya kamu selalu kalah dari adikmu. Aku tidak mau punya cucu, yang dilahirkan dari perempuan sepertimu. Tinggalkan Putraku!” ucap Mamah Naka tanpa ragu dan mantap.
“Mah!” pekik Naka sangat malu dengan ibunya.
Sementara Bening tidak bisa berkata- kata, dan hanya bisa menangis.
Daka yang mendengarnya geram, Daka tidak bisa menahan diri langung meletakan buku menunya.
“Kamu punya telinga kan?” tanya Mama Naka tidak peduli putranya.
“Mah, mamah jaga omongan Mamah, Bening tidak seperi itu!” bela Naka.
“Diam kamu!” jawab Mama Naka membentak Naka.
Daka yang tidak tahan mendengar kesombongan Ibu Naka, langsung bangun dan meraih tangan Bening.
“Ayo pulang!” ajak Daka nekat.
Bening, Naka, adik Naka dan mamanya pun kaget dengan kedatangan Daka tiba- tiba.
“Siapa kamu?”
__ADS_1