Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Narasi Camilia.


__ADS_3

“Mau dibawa kemana?” tanya Daka ke Bening. 


“Ke dapur!” jawab Bening.


“Mau diapain?” 


“Beresinlah!” 


“Jangan!” cegah Daka cepat. 


Karena makan sepiring berdua, dan Bening disuapi, makan mereka jadi tidak terukur, rasanya lahap terus dan terasa baru sedikit karena harus gantian. Dan ternyata tau- tau sudah habis. Bening yang dimanjakan tahu diri membawa piring kotor ke dapur. 


Daka yang ada udang di balik batu tentu saja langsung sigap, mencegah dan menegur Bening. Pokoknya malam ini, Daka mau tenaga Bening tercurah untuk dia. 


Bening yang biasanya melakukan segalanya jadi menatap heran. 


“Kenapa emangnya?” tanya Bening tidak mengerti, sebelumnya juga Daka santai aja membiarkan Bening bekerja keras. 


Daka tidak menjawab, tapi langsung bangun dan mengambil alih semua piring yang dipegang Bening dengan tanganya. “Sinih, aku aja!” 


Bening semakin terbengong membiarkan piring di tanganya diambil Daka.


“Kenapa sih? Udah aku aja kan kamu udah masak! Gantian!” jawab Bening. 


“Sstt... udah, kamu istirahat aja!” jawab Daka menghalangi pintu dapur dan meminta Bening balik. 


“Ish... aneh!” cibir Bening. 


“Patuh nggak! Duduk manis aja sana! Malam ini semua aku yang ngerjain. Aku kan suamimu yang serba bisa!” ucap Daka lagi percaya diri.  


“Ya tapi nggak usah ngalangin pintu gini. Aku mau cuci tangan dan bersih- bersih juga!” jawab Bening sembari cemberut.


“Oh.., kirain” jawab Daka mengangguk lalu memberi jalan ke Bening.


"Tunggu!" pekik Daka menghentikan langkah Bening.


"Apa?" tanya Bening.


Daka mendekat ke Bening.


“Yang bersih dan wangi ya!” bisik Daka ke belakang telinga Bening dengan tatapan tajam dan mengerlingkan matanya. 


“Gleg!” Bening langsung menelan ludahnya merinding, sekarang Bening langsung paham modus Daka. “Hmmm..!” jawab Bening jadi salah tingkah tapi tidak menghiraukan Daka.


Bening langsung masuk ke kamar mandi, dan menutup rapat pintunya. Bening sikat gigi, cuci muka dan bersih- bersih. Sementara Daka ke wastafel untuk mencuci piring. 


Begitu selesai Bening pun keluar hendak meletakan handuk mukanya ke jemuran. Akan tetapi fokus Bening teralihkan ke Daka.


Bening melihat Daka tampak kebingungan, mengorek- orek lubang pembuangan wastafel, penampilanya jadi berantakan, padahal kan sudah mandi. 


“Kenapa?” tanya Bening mendekat. 


Daka kaosnya sudah basah, dia pun mengacak- acak rambutnya kasar.


“Mampet, airnya nggak turun, ck...gimana nih?” jawab Daka wajahnya tampak payah frustasi. Air kotor menggenang di wastafel.


“Hmmm...,” Bening pun berdehem dan berdecak menatap Daka payah. 


Ternyata Daka memang berbeda dengan laki- laki lainya, dia tidak ahli dalam hal perairan dan membetulkan saluran air.


Tentang keahlian Daka masak itu saja menjadi misteri untuk Bening, entah siapa yang mengajarinya. Apa Daka koki atau entahlah.

__ADS_1


Awal Daka tiba sikapnya songong sekali, Daka jadi baik setelah bertemu Leon, sampai mau bersih- bersih, meski sebenarnya hasil cuci piring Daka juga tidak sebersih hasil cucian Bening. 


“Minggir!” ucap Bening keluar sikap pendekar dan tomboynya.


Bening menggulung rambutnya yang tadi basah terurai dan sekarang sudah kering, Daka pun memperhatikan setiap gerakan Bening dengan penuh kekaguman, seakan setiap geraknya terkesan eerotik dan selalu indah untuk Daka lihat.


Bening kan terbiasa hidup sendiri di kontrakan sepi dan sempit itu jadi dia sudah terbiasa dan tahu letak kelemahanya. 


“Kamu mau apa?” tanya Daka menyeringai bingung melihat Bening yang menjelma seperti tukang.


Bening tidak menjawab dan mengambil ember serta alat untuk membuka saluran bawah. Ya, paralon wastafel Bening memang beberapa kali mampet, bukan hanya penyaringnya tapi saluran bagian bawahnya, dan seharusnya diganti. Akan tetapi Bening hanya memperbaikinya. 


Setelah dibuka, air yang tergenang dibiarkan jatuh keember, setelah itu, Bening bersihkan saluran pipanya tanpa takut jorok.


Bening sibuk memperbaiki sementara Daka malah berdiri terbengong dengan terus mengagumi Bening. 


“Kok cuma liatin?” bentak, Bening pas sudah selesai menatap Daka terbengong. 


“Terus aku harus ngapain?” tanya Daka. 


“Ini dibuang!” ucap Bening menunjuk ke embernya yang berisi air dan sampah kotor.


Daka mengangguk dengan muka bodohnya dan mengambil air kotor itu, membuangnya ke luar setelah itu kembali.


Masalah selesai dengan cepat, Bening pun tampak sedang membersihkan tanganya setelah terkena kotoran. Setelah itu menyelipkan beberpa helai rambutnya yang berantakan, seeksi sekali bagi Daka. Kecantikan Bening semakin nyata saat dilihat dari samping begitu. Daka selalu tak berkedip menatapnya.


“Udah...!” jawab Daka mendekat, meletakan embernya.


“Lain kali kalau mau nyuci, sampah dan tulang- tulangnya bersihkan dulu!” ucap Bening memberitahu. 


“Ya...!” jawab Daka. 


“Penyaringnya ini kebesaran lubangnya, jadi masih masuk dan mengendap di dalam, mampet deh!” ucap Bening memberi tahu Daka lagi. 


Karena membetulkan air, baju tidurnya pun basah, sehingga Bening berjalan ke arah tempat pakaian kotor, beniat melepas baju tidurnya dan berganti. 


Tatapan Daka pun tak lepas dari semua gerakan Bening. Daka yang kaosnya juga basah pun ikut- ikutan melepas kaosnya dan mengekor mendekat ke Bening. Hingga saat Bening berbalik dan hanya mengenakan singlet dan celana pendek, tepat di depan Bening Daka juga sudah melepas kaosnya. 


“Gleg!” Bening menelan ludahnya kaget hampir menabrak Daka. Mereka kemudian saling berhadapan dan saling tatap. 


“Soo se-ksi..,” lirih Daka spontan. 


“Woaah?” pekik Bening memperjelas karena Daka sangat pelan mengucapkanya. “Kamu bilang apa?” tanya Bening. 


Daka tersenyum, Bukanya menjawab, tangan Daka terulur meraih dagu Bening dan mengusap pelan satu sisi pipinya dengan satu tangnya.


Tentu saja Bening jadi gelagapan. Bening tidak menolak akan tetapi tanganya ikut terangkat dan meraih tangan Daka yang menyentuh pipinya, Bening membalas mengusap tangan Daka, menggenggamnya, lalu tersenyum. 


“Thank you, terima kasih sudah menemukanku dan menjadi istriku, kamu perempuan hebat,” ucap Daka lagi, pelan tapi sangat serius dan membuat Bening semakin salah tingkah. 


“Ehm.. Sudah malam istirahat yuk, besok harus ke Bu Maria kan?” ucap Bening lembut membuang rasa dheg- deganya dan menurunkan tangan Daka. 


“Maaf ya, kalau aku masih jadi pria payah! Nggak bisa apa- apa,” ucap Daka lagi. 


“Kata siapa? Buktinya kamu bisa masak, mungkin di masalalumu, kamu tidak pernah bersinggungan dengan itu,” jawab Bening bijak sembari tersenyum menetralkan suasana canggungnya. 


Daka mengangguk. 


“Sudah, sudah selesai kan? Aku ngantuk, aku ke kamar dulu ya!” ucap Bening lagi menyudahi obrolan mereka dan hendak berjalan maju melangkah ke meninggalkan dapur, 


Sayangnya saat Bening berjalan, Daka langsung meraih tangan Bening. 

__ADS_1


“Apalagi?” tanya Bening kaget dan menoleh. 


Daka tidak menjawab, hanya tersenyum, dan dengan gerakan cepat, Daka langsung menggendong Bening. 


“Daka...,” pekik Bening kaget dan memukul manja dada Daka. 


“I love you!” bisik Daka sembari berjalan menggendong Bening dan menatapnya dengan senyum. 


“Ishh kebiasaan! Kaget tahu! Mentang- mentang badanmu besar!” ucap Bening lagi. 


Daka tidak menjawab dan hanya terkekeh.


Daka pun berjalan cepat membawa Bening ke kamar, lalu menidurkanya dengan pelan. Daka kemudian mengungkung Bening di hadapanya, dan mereka saling tatap dengan mata penuh cinta.


“Ehm...,” Bening jadi gelagapan, sementara Daka tidak menunggu waktu langsung mengenduskan kepalanya ke sisi leher Bening dan berbisik lembut, “Kamu sangat cantik, i love you,” 


Mendengar bisikan Daka yang tepat di telinga membuat Bening menggeliat dan merinding. 


“Masa? Dulu bilang aku kerempeng dan bukan tipemu,” jawab Bening menetralkan tubuhnya yang panas dingin berniat dengan bercanda. Bahkan wajah mulai centil berani dan menantang mengejek Daka.


Daka kemudian beralih mundur sehingga wajahnya kini berhadapan dengan Bening yang sedang tersenyum mengejek, tentu saja senyum Bening Daka artikan sebagai bahasa tantangan. 


“Aku akan buat kamu berisi!” jawab Daka. 


“Ish..., gimana caranya?” desis Bening manyun dan berani.


"Liat aja nanti!" jawab Daka menatap tubuh bagian bawah Bening.


Bening tidak takut. Bahkan Bening kini menatap Daka dan tanganya terulur, berganti memberanikan diri menangkup wajah Daka dengan kedua tanganya. 


Daka membiarkanya nya dan menyambutnya dengan hangat. Mereka pun masih saling tatap, saling berkomunikasi dengan mata, mengungkapkan bagaimana mereka bersyukur atas kebersamaan yang mereka lalui, saling mengejek, saling menolong, saling melindungi dan mereka kini saling memiliki. 


“Aku tampan kan?” tanya Daka kemudian. 


Bening terdiam sejenak, hati Bening memang sedang mengagumi wajah Daka yang kini bebas dia pegang. Akan tetapi pikiran Bening dihampiri dengan perasaan yang lain.


“Siapa kamu sebenarnya, Daka?” lirih Bening kemudian. 


Daka tidak menjawab, menguraikan tangan Bening agar menjauh. Dan Daka menurunkan wajahnya lalu mengecup bibir Bening dengan bibirnya.


Bening memejamkan matanya menerima kecupan Daka dan membiarkan, mereka saling terpaut, dan ciuman mereka menjadi peraduan yang hangat, hingga di sela- nafas mereka, Daka melepasakan dan berbisik. 


“Aku suamimu, aku milikmu, dan selamanya akan begitu,” ucap Daka menatap Bening. 


Mendengar penuturan Daka, Bening tersenyum, dan dengan berani, Bening membalas mencium Daka lebih dulu, hingga mereka kembali terpaut


Dan malam itu mereka kembali beradu, menyatukam cinta mereka untuk kedua kalinya. Di dalam kamar sempit yang penuh cinta, mereka melakukanya dengan saling menyadari, saling menikmati, tanpa gangguan dan rasa bersalah. 


***** 


Di istana. 


Putri Aille diam di kamarnya yang megah dan luas, menatap semua hadiah pemberian kakaknya yang tertata rapih dalam lemari kacanya yang berkilau.


“Aku berharap apa yang dikatakan Camilia benar. Aku merindukanmu, Kak!" batin Putri Aille sembari mengusap foto dirinya dan Pangeran Abe.


Kemudian Putri Aille mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tanganya.


"Aku tidak akan ampuni siapapun yang berniat mencelakaimu atau menjauhkanmu dari keluarga kita,” ucap Putri Aille bertekad.


Putri Aille kemudian menelan ludahnya, meninggalkan foto kakaknya. Putri Aille beralih ke lemari yang lain dan menyiapkan rencananya hari esok sesuai kesepakatan dengan Putri Camilia. 

__ADS_1


Entah apa yang sudah Putri Camilia ceritakan, tapi Putri Camilia menceritakan narasi buruk tentang keadaan Daka saat ini, terutama Bening. 


__ADS_2