
Seperti kata Leon, Bening harus menerima konsekuensi pilihanya. Ketika sudah memilih jalan menyelamatkan, Bening harus komitmen membantu dan melanjutkan niatnya, walau berat dan menguras emosi. Bening pun membiarkan pria itu tidur di rumah Bening.
Bening berlari karena hujan. Bening masuk, tanpa mengucap salam. Bening langsung ke kamar mandi melepas pakaian basahnya dan mencuci kakinya.
“Aih lupa... nggak bawa pakaian ganti dan handuk lagi. Kan ada pria angkuh itu? Ck!” gumam Bening di kamar mandi.
Bening memang tidak sepenuhnya menanggalkan pakaiannya karena yang basah hanya pakaian luar, jaket dan celana. Bening masih mengenakan tangtop dan short ketat.
Jika tak ada orang, itu memang pakaian keseharian Bening tidur atau saat ngepel di dalam rumah. Itu sebabnya Bening lupa masuk ke kamar, ambil pakaian ganti yang panjang dulu.
“Tapi dia tidur kan? Iya dia tidur. Nggak apa- apalah aku lewat. Dia tidak akan lihat!” batin Bening.
Dia pun nekat berjalan keluar kamar mandi menuju ke kamarnya dan melewati ruang tamu sekaligus ruang tv yang ada kasur lantai tempat Pria itu berbaring.
Rumah Bening memang hanya ukuran 5x 6. Hanya ada satu kamar tidur, satu ruang tamu merangkap ruang tv dan parkir motor, lalu ruang sempit untuk dapur dan terbagi kamar mandi.
Bening mengikuti mau Leon, mengunci pintu kamarnya rapat dan tidur. Bening tidak peduli atau memperhatikan Pria asing yang tidak jelas identitasnya itu.
__ADS_1
Karena lelah dan kesal, Bening terlelap begitu cepat. Hingga malam yang panjang terasa begitu singkat.
Baru beberapa detik Bening memejamkan mata, tiba- tiba dia sudah mendengar ayam berkokok, benar- benar terasa kilat.
Walau malas dan masih ingin bergelung di bawah selimut memeluk bantal, Bening terpaksa harus melepas semuanya.
Dia harus bekerja. Hidup seorang diri juga memaksanya bekerja mandiri mempersiapkan semuanya. Apalagi penjual makanan di desa itu agak jauh, jadi Bening harus masak sendiri.
Bening pun menyeret kakinya bangun dan melangkah di dapur.
“Iiiishh pemalas sekali, masih ngorok kan dia?” gumam Bening mendengar pria itu mengorok.
Bening ke belakang membersihkan dirinya, beribadah, lalu melakukan pekerjaan rutinya, mencuci baju, nyapu dan juga masak. Setelah itu bersiap- siap bekerja ke museum.
“Ya Tuhan, dia belum juga bangun!” gumam Bening kesal.
Bening sudah cantik memakai seragam, tapi pria asing itu masih meringkuk tidur.
__ADS_1
Bening pun emosinya memuncak, lalu dengan geregetan dia ke belakang mengambil segayung air. Bening ingin menyiram Pria asing itu untuk bangun.
“Jangan Bening kasian! Lagian kalau dia bangun kamu hanya akan berdebat dan telat!” batin Bening seperti ada yang mencegah tanganya menyiram pria asing itu.
Bening menarik tanganya lagi.
“Hoooh! Oke... kali ini kamu selamat, tapi siang nanti kamu harus cabut dari rumah ini!” batin Bening.
Bening kemudian menuliskan memo.
“Dear pria sombong dan pemalas, mengharap ucapan terima kasih dari kamu sepertinya mimpi untukku, tapi its ok, karena aku orang baik nggak masalah. aku juga miskin tidak ada yang perlu aku khawatirkan, tidak ada harta yang bisa kamu ambil. Jadi aku membiarkanmu tinggal di kontrakan sempitku malam ini.
Kalau kamu sudah bangun, cepat pergi dari rumahku. Atau nanti aku akan antar kamu ke kantor desa!” tulis Bening di secarik kertas.
Kontrakan bening memang tidak ada barang berharganya, kecuali tivi jadul yang layarnya bahkan suka ad garis dan semutnya jika hujan.
Setelah menulis memo, Bening melajukan sepedanya menuju ke museum tempatnya bekerja.
__ADS_1
Dia berharap Pria itu pergi, atau jika tidak pergi dia akan menghubungi ke kantor desa sepulang kerja yang letaknya dekat dengan tempatnya bekerja.