Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Mimpi Camilia


__ADS_3

Tia yang wajahnya mendadak merah karena menahan malu, bukanya mengambil ponsel untuk diangkat tapi malah dimatikan. Kalau diangkat pasti Bening heboh, begitu fikirnya.


"Kok dimatikan? Ye...malu ya? Ishh nggak usah malu kalii? Biasa aja, Kakak Ipar, aku mengerti..." goda Bening lagi dengan centilnya.


"Ehm...kakak ipar apa sih? Nggak, ini salah!" jawab Tia langsung salah tingkah dan gelagapan.


Tentu saja Bening langsung ngakak so hard.


"Apaan sih?" cibir Tia lirih, dirinya benar- benar mati kutu ditertawakan Bening.


Di saat yang bersamaan, ponsel Tia bunyi lagi.


"Udah sih nggak usah malu. Biasa aja. Silahkan diangkat aku nggak akan ganggu kok. Tapi jangan bilang aku di sini ya!" ucap Bening lagi sembari mengerlingkan matanya, dia geli sendiri melihat Tia yang gelagapan malu.


"Udah sana. Biar aku masak. Pokonya jangan bilang ada aku di sini!" ucap Bening lagi mendorong Tia agar masuk ke dapur.


Karena sudah ketangkap basah, Tia pun mengangguk. Bening hanya senyum- senyum sendiri. Lalu mengikat rambutnya ke atas dan bersiap tempur dengan kompor membuat mi instan.


Leon sebenarnya pdkt ke Tia sejak Bening SMA, pertama kali saat Tia main ke rumah Bening. Sayangnya Bening waktu itu masih jual mahal tidak mau memberikan, nomor Tia. Sebab Bening tahu Leon dulu punya incaran banyak.


Leon baru punya nomor Tia setelah membantu Bening angkat Daka dari sungai sebagai imbalan. Leon pun melancarkan aksinya mendekati Tia setelah dia dipindah kerja di museum pusat di kota. Dan sepertinya usahanya berhasil tanpa sepengetahuan Bening.


"Kreek...," Tia yang malu menutup pintu kamar perlahan.


"Halo...,"


"Ai kok dimatiin sih?" tanya Leon langsung menyerobot.


"Heee maaf tadi lagi di dapur? Ada apa?"


"Aih, aku kan kangen sama kamu, Ai, kangen banget," ucap Leon mode manja dan centil ke pacar barunya.


"Ish...," desis Tia malu.


Walau tak berhadapan langsung, karena Leon pacar pertama Tia yang umurnya lebih dewasa, tiap digombali hati Tia berbunga- bunga.


"Beneran!"


"Udah sih buruan. Nanti masakanku gosong!" ucap Tia berbohong.


"Aduh, istri idaman, jadi nggak sabar nih halalin biar dimasakin kamu? Masak apa emang?" jawab Leon malah tambah nakal merayu Tia.


"Ish...Udah buruan. Ada apa?" jawab Tia lirih, dia tidak mau bermesraan karena ada Bening.


"Hehe...yaya. Aku punya berita bahagia. Aku harus sampaikan banyak hal ke kamu!" ucap Leon menggebu.


"Bahagia?" tanya Tia jadi salah kira.


"Iya"


"Apa?"


"Kamu pasti nggak nyangka?"


"Ya udah cerita aja? Apa emangnya?"


"Nggak! Kita harus ketemu. Kamu pasti syok dengernya. Jadi kita harus ketemu!" ucap Leon lagi sangat semangat, menceritakan siapa Daka dan hendak memberitahu tentang Bening.


Leon, Ares, Bernand dan Pangeran Abe yakin Bening diculik Putri Camillia, jadi Leon tidak bertanya keberadaan Bening ke Tia. Setahu Leon juga, Tia dan Bening sudah jarang komunikasi selama beberapa bulan ini, setelah ada Daka.


"Ish... apa emangnya?" tanya Tia lagi malah mengira Leon akan memberi kejutan manis tentang hubungan mereka.


"Dah. Aku jemput kamu ya!" ucap Leon cepat tidak sabar memberitahu.


"Ha... sekarang?" pekik Tia bingung dan tidak siap. Tia belum koordinasi dengan Bening.

__ADS_1


"Udah buruan dandan cantik. 30 menit aku kesitu!" ucap Leon memutuskan sendiri dan Tia tidak bisa menolak.


"1 jam ya!" jawab Tia hanya bisa menawar.


"Lama amat, keburu kangen nih?"


"1 jam aku beresin pekerjaan!" jawab Tia beralasan.


"Oke 1 jam!" jawab Leon.


"Ya udah ya!" jawab Tia cepat mematikan telepon.


Tia lalu buru- buru membuka pintu kamar, aroma ayam bawang pun tercium menggugah selera makan Tia. Bening yang melihat Tia datang langsung melebarkan senyum


"Kok udahan? Cepet amat telponanya?" tanya Bening menggoda.


"Dia mau ke sini! Dia ngajak pergi,"


"Cieee mau kencan. Diam diam ya kaliaan? Udah kencan kemana aja?" jawab Bening langsung centil menggoda Tia.


"Kencan apa sih? Dia katanya mau kasih tahu berita penting! Berita bahagia, tapi apa ya?" jawab Tia malu.


"Wuaah.. benarkah berita bahagia?"


"Bilangnya gitu!"


"Mau lamar kamu kali? Atau kasih hadiah?"


"Apaan sih?" jawab Tia tersipu.


"Ish nggak usah malu- malu. Aku yakin. Kakakku yang tampan dan baik itu mau lamar kamu. Terima yaaa... Please. Nikah itu menyenangkan tau. Ayo buruan makan, dandan cantik buat ketemu ayang?" ucap Bening dengan semangat dan spontan tanpa sadar, dan tanpa sengaja Bening mengungkapkan kalau dia bahagia bersama Daka.


Mendengar itu, Tia langsung mendelik.


"Iyakah menikah menyenangkan?" tanya Tia memancing.


"Kok bisa?"


"Ya, disayang, ditemenin, dicarikan nafkah, banyaklah! Haha ada yang nggak bisa diceritakan bisanya dirasakan sendiri!" jawab Bening lagi dengan percaya diri dan sangat semangat, malah mendekati centil. Bening berniat memotivasi Tia cepat menikah.


Tapi hal itu justru membuat Tia jadi berdecak dan jadi Boomerang Bening.


"Hmmm... yakin begitu?"


"Iyah!" jawab Bening lagi.


"Oh ya? Kamu sakit apa gimana sih? Gelo!" jawab Tia ekspresinya langsung cemberut dan tanganya memegang kening Bening.


"Sakit gimana?" jawab Bening menghempaskan tangan Tia.


"Katamu bahagia, menyenangkan? Kenapa kamu nangis- nangis, kabur dan nggak mau ketemu suamimu? Hah? Jangan bilang kamu kabur minta perhatian? Nggak percaya lagi aku ke kamu!" tanya Tia menyerang Bening.


Bening langsung gelagapan termakan ucapanya sendiri. Tapi Bukan Bening kalau nggak ngeles.


"Itu beda cerita. Udah buruan makan dulu. Nikah dulu baru kamu ngerti!" jawab Bening mengalihkan pembicaraan.


"Ye... gimana aku mau percaya dan yakin. Orang kamu yang udah nikah juga begini?" jawab Tia tambah kesal sekarang balik memojokkan Bening yang sudah menggodanya.


"Ish... kalau belum nikah nggak akan ngerti. Itu susah di jelasinya, pokoknya nikah dulu!" jawab Bening lagi.


"Hmmmm...," Tia pun hanya berdehem dan mencibir Bening.


"Udah. Daka dan Leon itu beda. Leon jelas asal usulnya. Masalahnya Beda. Kalau kamu nikah sama Leon pasti lebih menyenangkan. Buruan makan siap- siap keburu dia jemput!" ucap Bening tidak mau kalah.


"Ish! Terus kamu gimana kalau aku pergi sama dia? Nggak apa- apa Leon tahu kamu di sini?" tanya Tia mengingatkan.

__ADS_1


"Eh jangan. Leon itu satu- satunya temen Daka. Pasti Daka tanya Leon. Aku nanti sembunyi di kamar aja!" jawab Bening langsung menolak.


"Lah. Kamu aneh banget sih. Punya masalah itu diselesaikan. Siapapun suamimu harusnya kamu hadapi dan kamu tegesin! Kalian udah hidup berbulan- bulan sebagai suami istri. Jujur kalian udah bercinta kan? Makanya kamu begini?" ucap Tia lagi terus memojokan Bening balas dendam ngeledek.


"Ish.. udah diam!" jawab Bening kesal dan bawel.


"Lagian ya, Leon itu bukan Daka. Leon itu saudaramu. Udah sih nggak usah sembunyi? Fiks, aku kasih tahu aja ya!"


"Jangan!"


"Katanya Kakak ipar? Nurut dong sama aku!"


"Ah kamu nggak ngerti! Pokoknya jangan!"


"Ck. Sumpah kamu aneh. Kalau emang kamu bahagia sama Daka? Kalau masih sayang ya udah terima apa adanya dan bantu dia buat jadi orang bener. Lagian semua curigamu belum tentu benar. Terus kalau emang udah nggak sanggup, cerai sekalian kan jelas!" jawab Tia memberikan solusi.


Bening tidak mau kalah dan mendengar.


"Berisik deh. Kenapa perkara kencan jadi bahas aku sih?" jawab Bening lagi malah bertengkar. "Pokoknya aku nggak mau ketemu dulu. Udah nggak usah bahas aku,


Kalau kamu nggak mau makan, ya udah aku makan sendiri!" jawab Bening malah ngambek dan mengambil sendok langsung melahap kuah panas mi-nya.


"Ye..., bagii... jangan makan sendiri!" seru Tia tidak terima Bening makan sendiri.


"Kan kalian mau kencan," ucap Bening lagi.


Mereka akhirnya makan bersama meski saling debag dan membully.


*****


Di kota


"Abelard sudah kembali," ucap Putri Helena di balik telepon ke Putri Camilia ponakanya.


"Abelard kembali?" jawab Putri Camilia kaget dan menegaskan.


"Ya. Dia ada di istana sekarang. Katamu dia tidak akan meninggalkan perempuan kampung itu? Dia datang bersama Ares! Apa ini karena Aille?" tanya Putri Helena lagi.


Camilia pun gelagapan, dia belum tahu info lagi. Dia juga tidak tahu kalau di Kubu Abelard sedang mengintai dan mencurigainya.


"Maaf Ratu. Saya tidak tahu. Tapi kalau karena Aille, seharunya kembali bersqmqnyq kan?"


"Ya benar katamu!


"Lalu saya harus bagaimana?"


"Bodoh. Kenapa bertanya? Siapkan dirimu? Kamu harus menyambut kepulangannya sebagai calon tunangan. Dia masih lupa ingatan. Jadi kamu harus yakinkan dia kalau kalian dulu saling mencintai. Kalau perlu buatlah cerita agar dia percaya kamu perempuan yang berharga untuknya!" tutur Putri Helena memberitahu Putri Camillia.


"Baik ratu!" jawab Putri Camillia.


Putri Camilia yang sebelumnya sedang berolahraga segera bergegas mandi.



Putri Camillia sudah membayangkan akan berperan jadi istri putra mahkota. Lalu membalaskan dendamnya pada Daka dan membuat Daka patuh padanya. Walau Daka kelak jadi raja, kebijakan akan dipengaruhi oleh dia dan ratu Helena.


****


Di kamar Pangeran Abe.


Karena sudah mengambil keputusan untuk kembali menjadi Pangeran Abe. Daka pun tidak mau menjadi Pangeran yang lemah. Dia tidak mau jadi Daka yang bodoh. Dia harus segera ingat dan menjalankan tugasnya dengan baik.


Pangeran Abe pun mengingat pesan dokter tentang aturan minum obatnya.


"Seharusnya kamu di sini mengingatkan dan menyiapkan obat untukku kan?" gumam Pangeran Abe mengingat hari- harinya bersama Bening yang semakin hari semakin mesra dan kompak.

__ADS_1


Pangeran butuh Bening segera ada di sampingnya dengan segala kecerewetan dan kebawelanya.


Daka pun mengambil obatnya, lalu meminumnya. Dia harus sembuh.


__ADS_2