
“Via... aku nebeng dong!” panggil Bening memanggil temanya.
“Kamu jalan lagi? Sepedamu kemana?” tanya Via.
“Dipakai Daka!” celetuk Bening spontan.
“Daka?” tanya Via mengernyit bertanya.
“Cowo ganteng yang waktu itu kan, Ning?” celetuk Cica langsung nimbrung.
Beninng pun mengangguk menyeringai. Entah kenapa, rasanya, tetiba Bening tidak nyaman dengan sikap Cica yang mengingat Daka.
“Oh ya kamu belum cerita? Dia siapa sih? Boleh dong aku kenalan? Dia tinggal dimana? Kok pakai sepeda kamu? Saudara kamu juga kaya Pak Leon? Yuk aku aja yang antar kamu, aku main ke rumahmu ya!” ucap Cica menyerbu Bening dengan banyak pertanyaan, sudah begitu Cica bertanya dengan centil. Cica kan jatuh cinta pada pandangan pertama ke Daka.
Via yang tidak suka Daka yang urakan langsung manyun dan mencibir, tapi Via lega. Dia mau buru- buru pulang, jadi tidak merasa bersalah menolak permintaan tolong Bening.
Sementara Bening menelan ludahnya semakin tidak nyaman dan bingung mau jawab apa.
Daka kan tinggal di rumahnya bahkan sekamar, Daka kan suaminya. Tapi kalau Bening jawab itu semua, Bening sendiri masih ragu? Apa pernikahan akan tetap berlanjut atau bagaimana mengingat mereka menikah secara tidak baik.
"Ya udah sama Cica aja ya Ning. Aku mau ada acara sama adik aku. Daah!" pamit Via ngacir.
"Ya...," jawab Bening mengangguk dan memaksa tersenyum melepas kepergian Via.
Bening langsung menoleh ke Cica dan Cica langsung menqmpakan wajah ceria dan centilnya.
"Jawab dong. Dia siapanya kamu? Aku kenalin ya...!" pinta Cica ngotot.
"Ehm...ya!" jawab Bening bingung, entah kenapa rasanya jadi kesal ke Cica, tapi Bening masih tidak bisa menjawab dia siapa jadi Bening hanya jawab singkat.
"Beneran? Rumahnya deket kan sama kontrakanmu?" tanya Cica lagi karena tidak diberi keterangan dia berasumsi sendiri kalau Daka saudara Bening.
"Dia tinggal di rumahku kok!" jawab Bening lagi.
"Oh ya?"
"Aku pernah cerita kan?" jawab Bening malas.
"Wuaah...! Ayuk buruan aku antar kamu!" ucap Cica gerak cepat dan penuh semangat.
Seketika itu tidak tahu apa sebabnya, Bening langsung hilang mood. Tidak bisa dijelaskan yang pasti Bening kesal ke Cica yang centil. Tapi Bening yang sudah lelah dan butuh tumpangan tidak mau menolak kebaikan Cica walau Bening tahu semua karena Daka.
"Semoga dia belum pulang!" batin Bening entah mengapa berharap Daka belum pulang.
Cica yang kerja mengendarai motor langsung memakai helm cantiknya, menyalakan mesin motor dan mengeluarkan dari parkiran.
"Yuk!" ajak Cica.
Bening pun naik, mereka menuju ke rumah Bening. Karena memang jaraknya dekat tidak butuh waktu lama hanya sekitar 10 menit mereka sampai di kontrakan rumah Bening.
Begitu mematikan mesin motor, mata Cica pun berbinar.
Doa Bening rupanya tidak terkabul. Di samping rumah Bening, hanya dengan memakai kaos kolor dan membuka kaosnya, Daka yang baru pulang kerja dan mengayuh sepeda tampak berkeringat, dan sedang membetulkan lampu teras.
Luka sayatan serta goresan di lengan dan punggung Daka hasil perawatan Bening masih terlihat. Akan tetapi tonjolan otot- otot Daka yang kuat, apalagi sedang berkeringat tampak begitu mempesona dan membuat Cica semakin terpana. Daka terlihat sangat maco apalagi dia tampak bertanggung jawab membetulkan lampu walau terlihat kesusahan.
"Omoo... aku benar- benar melihat jelmaan dewa," gumam Cica langsung membetulkan rambutnya kecentilan
Sementara Bening wajahnya langsung padam, dadanya terasa sangat sesak mendengarnya. Tidak tahu kenapa. "Ish dewa apaan?" batin Bening mengejek. Bening jadi ikut melihat ke Daka. Daka memang terlihat kekar dan gagah.
"Ck. Kenapa buka baju segala sih? Dasar kecentilan? Keganjenan, sengaja banget tebar pesona?" gumam Bening dalam hati jadi kesal ingin ngomelntapi tengsin.
Daka yang menyadari kepulangan Bening, pun menoleh dan menyapa.
"Hei.. kebetulan kamu pulang! Bantuin dong!"" ucap Daka.
"Hai Kak Daka!" jawab Cica gercep menjawab sebelum Bening menjawab. Cica langsung mendekat.
Daka yang tahu Cica teman Bening mengangguk tersenyum.
"Hai....," jawab Daka.
Daka semakin terlihat tampan saat tersenyum. Saat Daka ke museum dan bertampang songong kan Bening yang menasehati untuk ramah dan sopan. Jadi Daka berniat mengikuti mau Bening agar Bening bahagia.
Bening yang melihat itu semua semakin kesal, tapi kesal dan sesak itu hanya ada di dada, berputar dan terpendam tidak bisa dijelaskan. Bening jadi tidak bisa berkata- kata juga tidak semangat melakukan apapun.
__ADS_1
"Lagi benerin lampu ya? Ada yang bisa aku bantu Kak? Sini Cica bantu!" tanya Cica agresif.
Sementara Bening yang malas langsung masuk.
"Eh beneran nggak apa- apa?" jawab Daka. Daka kan niatnya ke Bening bukan ke tamu.
"Tentu boleh!" jawab Cica ceria, "Katakan apa itu?" Cica yang memang berniat pdkt tentu saja sangat senang mempunyai kesempatan bersama Daka.
"Tolong pegang lampu ini!" ucap Daka menyerahkan lampu yang baru.
"Oke!" jawab Cica.
Lalu Daka melepas lampu yang lama. Setelah terlepas Daka menyerahkan ke Cica dan Cica mengulurkanya. Mereka berdua bekerja sama, dan Cica sangat semangat.
"Makasih ya!" ucap Daka.
Cica semakin tersipu- sipu mendapatkan ucapan dari Daka.
"Iyah... Kak Daka tampak berkeringat, abis ngapain?" tanya Cica.
Saat kemarin Daka berkeringat kan oleh Bening dihina bau. Daka langsung menyeringai mundur mengira Cica seperti Bening..
"Aku baru pulang kerja. Maaf ya kalau Bau. Jangan dekat- dekat!" ucap Daka.
Berbeda dengan Bening. Cica malah sangat senang.
"Waah keren sekali. Nggak bau kok. Cowok yang berkeringat karena bekerja itu macho dan keren!" ucap Cica lagi semakin memuji Daka.
"He.. ya? Begitu ya?" jawab Daka singkat dan merasa aneh. Meski Cica memujinya dan tampak mengaguminya Daka tetap tidak tergoda, malah baginya aneh. Tapi Daka ingat pesan Bening janhgan songong. Daka pun menghormati Cica.
"Iya. Aku suka cowok pekerja keras. Hehe. Berarti belum istirahat ya? Aku buatin minum ya!" tawar Cica lagi.
Daka jadi bingung dan risih, Daka melirik ke dalam melalui pintu yang terbuka. Tidak ada Bening. Daka pun hanya tersenyum mengangguk.
Cica pun merasa mendapat lampu hijau.
"Tunggu ya!" ucap Cica.
Daka mengangguk. Cica langsung berjalan cepat masuk ke dalam, ternyata di balik jendela, Bening mengintip dan mukanya manyun. Tapi Bening tidak bisa mengungkapkan.
"Hmm ya!"
"Dimana letak gula teh dan termosmu?" tanya Cica.
"Untuk apa?" tanya Bening kaget.
"Aih kamu. Daka berkeringat begitu habis kerja, ini kesempatan aku pedekate buatkan minum!" jawab Cica lagi
Bening langsung menelan ludahnya tergagap hendak menjawab
"Dimana?" tanya Cica lagi.
Mau tidak mau Bening menunjukan. Cica memang sok akrab dan tidak sungkan. Cica langsung masuk ke dapur Bening dan memeriksa.
"Ya ampun Bening... gulamu sudah hampir habis. Besok aku belikan ya!" ucap Cica lagi.
"He...," Bening hanya menyeringai. "Nggak usah. Aku belum sempat saja?" jawab Bening.
"Nggak apa- Apa. Buat alasan aku kesini!" ucap Cica lagi sembari membuatkan kopi.
"Aku aja yang buat!" ucap Bening lagi rasanya tidak terima Daka meminum kopi buatan Caca
"Beneran?" tanya Cica malah bersemangat dan di luar dugaan Bening.
Bening jadi mengangguk agak bingung.
"Oke!" jawab Cica lalu buru- buru keluar dan mendekat ke Daka lagi.
"Hoooh!" Bening langsung menghela nafasnya kesal.
"Memangnya aku pelayan? Aku disuruh buat kopi terus kalian ngobrol enak- enakan! Ish...," desis Bening tetap saja semuanya menyebalkan. Membiarkan Cica membuat kopi menyebalkan, melihat Cica ngobrol juga terasa menyebalkan.
Bening jadi membuatkan kopinya asal- asalan. Sementara di luar, Cica tampak mewawancarai Daka kerja apa.
"Ehm...," dehem Bening menngganggu.
__ADS_1
Daka dan Cica pun menoleh.
"Aku nggak jadi buatin minum Kak. Kata Bening aku tamu. Hehe jadi Bening buatin. Lain kali Cica buatin ya Kak!" tutur Cica lagi caper.
Daka hanya mengangguk dan Bening pun tersenyum menyeringai.
"Ca.. udah sore lho .. kamu nggak kemaleman pulangnya?" tanya Bening menyindir halus.
"Ha...," pekik Cica tidak suka diingatkan hendak pulang.
"Rumahnya mana emang?" celetuk Daka.
"Jauh!"
"Dekat!"
Jawab Bening dan Cica bersamaan. Bening menjawab jauh dan Cica menjawab dekat.
"Ehm...," Bening pun langsung berdehem. Bening jadi sangat kesal.
"He...," sementara Cica hanya nyengir.
Daka pun jadi bingung dan melirik Bening dengan tatapan penuh perhatian. Daka menangkap ada aura tidak sedap dari wajah Bening.
"Jadi jauh apa dekat nih?" tanya Daka.
"Tetangga kecamatan sih Kak. 20 menit naik motor!" jawab Cica.
"Oh.." jawab Daka mengangguk. "Kalau gitu jauh. Ini udah petang lho!" imbuh Daka mendukung maksud Bening.
"Haa iya!" jawab Cica.
"Maaf ya Ca..bukan maksud usir!" sahut Bening lagi.
"Yaya!" jawab Cica ke Bening lalu menatao Daka kecentilan lagi. "Kak Naka kalay ke kota, kabarin. Kalau ada waktu main ke rumah Cica, ya Kak!" tutur Cica agresif.
Daka hanya mengangguk.
"Ya udah aku pulang ya Ning!" pamit Cica.
Bening mengangguk tersenyum lega, Cica mau pulang.
"Besok aku jemput kamu ya!" bisik Cica lagi
Bening yang tadinya tersenyum mendadak cemberut lagi tidak suka.
"Mari Kak Daka...," pamit Cicaa pergi.
Daka mengangguk, lalu mereka berdua duduk di teras sampai Cica menghilang. Bening pun masih mode cemberut dan mengeratkan rahangnya kesal.
Daka pun melirik Bening tersenyum.
"Dia cantik yah!" ucap Daka malah semakin mengerjai Bening
"Apa katamu?" pekik Bening semakin terlihat kesalnya.
"Ya dia cantik kan?" pancing Daka lagi.
Wajah Bening semakin mengkerut dan Bening segera berlalu meninggalkan Daka. Wajahnya mencucu sempurna.
Daka tambah puas lalu menyusulnya.
"Aku tanya kok cemberut?" tanya Daka mengekori Bening.
"Ngapain sih ikutin aku?" bentak Bening kesal karenq Daka mengekor sangat dekat "Gitu doang dibilang cantik. Dasar keganjenan," gerutu Bening mencibir.
"Kamu kenapa sih kok marah- marah? Kamu cemburu ya?" tanya Daka
Bukanya menjawab Bening langsung masuk ke kamar mandi.
"Nggak usah ikut. Sana sama Cica aja!" omel Bening tanpa alasan lalu melempar pintu kasar.
"Huuh," Daka pun hanya menggelengkan kepala tersenyum
"Pintunya jangan dibanting. Sayang kalau rusak. Kalau cemburu bilang aja!" ucap Daka lagi.
__ADS_1
"Sory.. ya. Nggak level cemburu sama orang keganjenan!" jawab Bening marah- marah sambil teriak.