Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Mengadu.


__ADS_3

"Iiish. Kebiasaan. Pasti dia molor nih?" gumam Bening kesal sudah 5 kali memanggil Leon tidak ada sahutan.


Bening pun berniat mendatangi rumah Leon


"Perasaan baru jam berapa? Masa Leon udah tidur sih? Aku nggak mau hanya berdua dengan berandalan tengik ini! Leon kan janji bantu aku?"


Tidak berniat pamitan pada Pria asing yang tidur di rumahnya. Bening keluar rumah melewati pria asing itu. Pria itu tampak sangat pulas tidurnya sampai melongo. Saat melewati pria itu Bening berhenti memperhatikanya.


"Huuh. Dasar. Abis makan tidur, sangat payah dan tidak berguna. Tapi dia memang terlihat sangat kelelahan, dia juga sepertinya kelaparan?"


Walau sekesal apapun, hati nurani Bening tetap dominan bekerja. Pria itu memang tampak pucat dan lemah. Memprihatinkan dan kasian.


Akan tetapi mendadak wajahnya kembali manyun.


"Hhh...Tapi kenapa dia sangat angkuh. Terima kasih saja tidak, malah menghina. Nggak! Aku nggak mau kasian dan menolong dia lagi. Aku harus usir dia?" batin Bening melanjutkan langkahnya dan meninggalkan pria itu sendirian di rumahnya.


Bening harus minta batuan orang usir pria itu.


Menjadi anak pertama dan berbeda ibu dari saudara yang lain, diperlakukan tidak adil, membuat Bening mandiri dan berani.


Bening jalan kaki walau melewati jalan setapak yang gelap. Sebab tiba- tiba, lampu padam.


Bening berjalan cepat, jarak kontrakan mereka berkisar 700 meter. Tapi dalam jarak rumah Benung dan Leon sepi, kosong. Suasana di tempat Bening mengontrak adalah pekarangan kosong.


Di desa itu juga banyak rumah kosong karena pemudanya merantau dan bekerja di kota. Rumah hanua di tempati saat hari raya. Kalaupun ada pasangan kakek nenek atau petani yang anaknya masih SD.


"Brak!" tidak memakai sopan santun apalagi salam dan ketuk, Bening langsung nyelonong masuk ke rumah kakak sepupunya.


"Astaga. Bening. Ah... tubuhku jadi terlihat olehmu kan!" jawab Leon lagi kaget.


Dia ternyata hanya memakai celana pendek tanpa pakaian lain dan di sampingnya tampak dua mangkok bekas makan mi instan.


"Haaishh!" bening hanya mengigit bibir bawahnya kesal dan gemas, ditunggu- tunggu malah enak-enakan makan mie.


"Aku nggak bernaapsu lihat tubuh raksasamu. Lagian kenapa sih malam- malam nggak pakai baju. Kenapa juga telponku nggak diangkat?" protes Bening ke Leon kesal.


Leon segera meraih kaos dan memakainya.


"Aku habis makan mie ini pedes banget. Jadi gerah. Lagian ngapain sih ke sini mati lampu. Malam- malam!" jawab Leon tanpa dosa mencibir Bening.


"Brak!"


Bening langsung menggebrak meja Leon tambah bertubi- tubi kesalnya.


"Ya ampun Bening. Aku tahu kamu habis patah hati karena nggak menang. Kalah dalam bertanding bukan akhir segalanya. Kamu perempuan jangan galak- galak dan kasar begini?" jawab Leon lagi.


"Iih! iu iu iu" cibir Bening kesal dan mulutnya komat kamit mengejek omongan Leon.


"Dibilangin malah!"

__ADS_1


"Ya kamu. Ini nggak ada hubunganya dengan lomba. Ini tentang kamu. Kamu katanya mau bantuin aku ke rumah? Kenapa nggak datang ke rumahku. Tega banget ninggalin aku sama pria itu!" jawab Bening.


"Lah aku suruh ngapain? Kan katanya tadi, tidak ada yang mengkhawatirkan dengan pria itu. Nanti sadar tinggal pemulihan saja!" tanya Leon lagi.


"Leon! Ya emang dia nggak mati dan nggak mengkhawatirkan. Tapi aku adikmu. Kamu nggak takut pria itu ternyata orang jahat terus ngapa- ngapain aku?"


"Lah. Kalau kamu takut dia orang jahat kenapa kamu tolongin dia?"


"Aih... ngajak berantem lagi. Kan udah aku jelasin!"


"Yaya. Bening yang hatinya sebening embun. Udah nggak usah ceramah Ya udah kamu kan udah komit nolongin dia. Ya udah tunggu aja sadar. Dia udah sadar belum sih?"


"Udah!"


"Nah. Bagus dong apalagi masalahnya. Ngapain aku ke rumahmu!"


"Astagah? Bagus apanya? Dia nyebelin banget pokoknya ayo ke rumahku. Temani aku!"


"Ck...Bening. Dia kulihat masih sangat lemah. Kamu tutup kamar kamu aja kunci yang rapat. Dia nggak akan bisa macam- macam! Lagian kulihat dia tampan. Siapa tahu dia jodohmu kan? Katanya kamu nggak mau karatan menjadi perawan tua jadi penunggu museum ini?" jawab Leon lagi.


"Plak!" Bening langsung memukul Leon.


"Tampan. Tampan. Nggak ada yang lebih tampan dari Kak Naka. Enak aja jodoh aku. Aku maunya sama Kak Naka. Ogah aku berjodoh sama pria angkuh begitu. Aku aja nyesel nolongin dia. Ayo cepat ke rumahku dan usir dia!" jawab Bening lagi mencucu dan memohon pada Leon.


"Usir? Angkuh? Eh kalau Naka cinta kamu. Harusnya dia tolongin kamu cari pekerjaan!" tanya Leon mengernyit. Kan yang kekeh nolongin Bening kenapa Bening jadi ingin usir.


"Oh kalian udah ngobrol? Ya udah apa masalahnya?"


"Dia ngeselin dan sombong. Aku harus usir dia!"


"Lah kamu yang bawa dia ke rumahmu? Emang sombong gimana?"


"Dia bilang masakanku kaya pakan ayam. Rumahku sempit dan pengap!" jawab Bening malah mengadu.


"Lah kan emang nyatanya!" jawab Leon terkekeh malah semakin menjatuhkan mental Bening.


"Iiih!" Bening pun mencubit Leon lagi. "Satu lagi. Dia mengatai bajumu panas dan kasar!" lanjut Bening berharap Leon bersimpati.


"Lah emang iya. Itu kaos dapat doorprise jalan sehat 3 tahun lalu. aku aja malas pakainya makanya kupinjamkan. haha!" jawab Leon lagi malah tertawa seakan tidak ada yang salah dengan pria asing itu.


Bening menganggap Leon tumpuan harapanya, dan ternyata berbalik, Bening langsung down kecewa.


"Leon. Dia hilang ingatan. Lupa siapa namanya dan dimana rumahnya?" celetuk Bening kemudian


"What?"


"Iyah. Makanya. Bantu aku!"


"Lah kamu kok malah ditinggal. Orang hilang ingatan malah mau diusir. Kamu kalau nolong orang jangan tanggung- tanggung. Kasian, malah ditinggal pergi!" omel Leon malah menyalahkan Bening.

__ADS_1


"Leon!" pekik Bening kecewa.


"Udah sana balik. Kasian kalau dia kenapa- kenapa. Aku yakin dia tidak akan jahat. Kunci pintu kamarmu kalau mau tidur!" jawab Leon lagi


"Leon. aku perempuan dia laki- laki. Kalau aku digerebek gimana?" rengek Bening lagi


"Tidak akan! Tidak ada juga warga yang tabu dan peduli. Warga di sini sudah tua- tua semua. Sudah ya. Aku ada janji dengan temanku. Aku mau pergi!" jawab Leon enteng.


"Hooh!" Bening langsung terbengong sangat kecewa.


"Kamu udah niat nolong dia. Ya udah positif thingking tolong dia! Komit dong!"


"Tapi aku nggak mau nampung dia terus? Enak aja!"


"Ini sudah malam, mati lampu juga. Dia juga masih lemah. Biarkan dia istirahat di rumahmu dulu. Besok kita lapor ke desa aku temani. Terus kita bawa dia ke Puskesmas!" jawab Leon lagi.


"Kenapa nggak sekarang?"


"Bikin repot!"


"Tenang aku jamin. Dari luka lebamnya. Dari luka lenganya dia tidak akan bisa macam- macam denganmu!" jawab Leon lagi.


Bening tidak bisa berkata- kata lagi dan menunduk kesal.


"Sudah sana pulang. Sebentar lagi hujan. Aku juga mau pergi!" jawab Leon lagi malah mengusir Bening.


Bening tidak bisa berkata- kata lagi.


"Mang mau pergi kemana sih?" tanya Bening lirih.


"Urusan cowok?" jawab Leon.


Tidak lama terdengar suara motor di depan kontrakan Leon..


"Tuh temenku udah jemput!" jawab Leon lagi


Tidak ada pilihan lain. Akhirnya Bening memilih pulang membawa kekecewaan.


Bening berjalan malas sambil mengacak- acak rambutnya dan kakinya menendang tanpa arah.


"Hiks... Mamah. Kenapa nasibku sesial ini? Sudah kalah kenapa musibah lagi? Kenapa juga aku tolong pria itu. Harusnya biarin aja dia mati? Ah!" gumam Bening sepanjang jalan.


Bagi Bening hari ini hari tersial bagi Bening sudah kalah dalam bertanding. Masih dibuat kesal oleh pria yang ditolong.


Karena Bening berjalan malas, Bening memakan waktu yang lebih lama dan keburu hujan turun


"Aih hujan lagi! Ya ampun. Sempurna sekali kesialanku?" gumam Bening berlari kesal.


Padahal siang tadi matahari bersinar terang tapi malam itu hujan turun.

__ADS_1


__ADS_2