
Daka pulang lebih dulu dari Bening, dress cantik yang Bening inginkan sudah Daka kantongi dengan bermodal uang hasil copetan dari ibu tiri Bening.
“Kamu pasti kaget dan suka, aku sudah seperti suami kan?" batin Daka sembari mengayuh sepeda Bening meyusuri jalanan desa yang terasa rindang karena banyak pepohonan.
Hari kemarin mereka diantar Tia, Daka pun sekalian membawa pulang sepeda Bening.
Sesampainya di rumah, Daka langsung meletakan tas belanjaanya di atas kasur Bening. Walau menimbulkan bekas, Daka sudah benar- benar pulih dari luka- luka tubuhnya akibat luka sayatan dan goresan.
"Memberi hadiah sudah, apalagi ya? Aku harus melakukan apa yang dilakukan suami pada umumnya. Oh iya aku juga harus memberi makanan!” batin Daka lagi bersungguh- sungguh mau jadi suami.
Daka kemudian ke sungai lagi mencari ikan.
Saat Daka pergi, Bening pun pulang.
“Apa ini?” gumam Bening kaget ada box belanjaan di atas kasurnya. “Siapa yang menaruh di sini?” gumam Bening lagi.
Daka mencari ikan tidak di tepian sungai tempat favorit Bening, sehingga dia membawa sepeda. Jadi Bening tidak tahu Daka sudah pulang.
Karena barang itu berada di ruang pribadinya, Bening pun merasa berhak membukanya. Bening kemudian membuka kado itu.
Seketika mata Bening membulat sempurna terkejut melihat benda itu. Sesaat matanya berbinar senang, dia memang sangat menginginkanya, tapi sepersekian detik, raut mukanya kembali padam dan muram.
“Siapa yang naruh di sini?” batin Bening jadi berfikir dan curiga. “Kak Naka? Leon?” batin Bening masih memikirkan Naka.
“Tunggu, orang yang tahu aku ingin baju ini kan hanya pria menyebalkan itu? Housh..." desis Bening tidak menyangka.
"Ya yang berani sembarangan masuk ke kamarku kan hanya dia? Jadi dia udah pulang? Tapi bagaiamana dia masuk? kan udah aku kunci? Kemana dia?” gumam Bening langsung meletakan dress itu.
Bening memeriksa kunci ternyata kunci duplikat seharusnua ada 3 satunya tidak ada, Bening kecolongan lagi. Suami dadakanya itu ternayat cerdas.
"Dasar... hah?" batin Bening menghela nafas. Daka selalu di luar dugaanya.
__ADS_1
Bening segera keluar kamar dan memeriksa di semua sudut rumahnya. Daka tidak ada.
“Kemana dia? Apa dia sudah dapat pekerjaan? Kerja apa? Secepat inikah? Kok dia bisa belikan aku dress cantik ini? Seharusnya setelah dia sembuh dan bekerja dia pergi dari rumah ini? Tapi kenapa malah jadi suamiku sih? Ish...” gumam Bening lagi masih tidak menyangka dirinya sudah istri.
Bening kembali ke kamarnya, dipegangnya dress cantik itu dengan tangan lentiknya. Dress itu memang sangat lembut dan dingin terasa nyaman dipakai. Warnanya juga manis dan bentuknya lucu. Bening memang suka.
Karena tidak ada orang, Bening kemudian mencoba memakai dress itu untuk memeriksa apa muat atau tidak. Lalu Bening bercermin melihat semua sisi dress itu.
“Muat kan?” tanya Daka tiba- tiba sudah berdiri bersandar di saka pintu Bening.
“Ehm...” Bening langsung terlonjak kaget dan wajahnya memerah sepeti kepiting rebus ketahuan bahagia memakai barang pemberian Daka.
“Nggak ini terlalu sesak!” jawab Bening gengsi.
Daka hanya tersenyum, padahal jelas muat dipakai Bening. Daka pun hanya menggaruk pelipisnya.
Bening masih canggung dan malu tidak menatap Daka.
“Terserah kamu!” jawab Bening
“Aku tidak bisa memasak dengan baik, kamu saja ya! Aku mau mandi!” ucap Daka menentukan.
Bening tidak menjawab, diammya bening artinya iya. Daka pun pergi ke dapur meletakan ikanya dan memilih Mandi.
Bening kemudian buru-buru melepas pakaianya. Karena hari sudah sore Bening juga lapar. Bening pun mempertimbangkan kata Daka. Lalu Bening memeriksa ikan tangkapan Daka dan mengolahnya.
Daka yang selesai mandi pun tidak ingin mengganggu Bening dia memilih ke ruang tivi dan bersantai.
Setelah sepersekian detik makanan pun matang Bening yang memang lapar menyajikanya dan mengajak Daka makan seperti hari- hari sebelumnya. Tidak ada percakapan selama mereka makan karena keduanya kelaparan dan makan lahap.
__ADS_1
“Kamu kerja dimana?” tanya Bening membuka pertanyaan.
“Adalah!” jawab Daka.
“Digaji berapa? Kok kamu belikan aku hadiah?” tanya Bening jual mahal.
“Aku sudah seperti suami kan?” jawab Daka girang.
"Ish..." desis Bening malu.
"Kau tampak seperti istri yang sedang menceramahiku!" ucap Daka lagi.
"Aku tanya serius!" jawab Bening mengalihkan pembicaraan
"Sudah tenang saja Istriku. Aku akan jadi suami yang baik dan tanggung jawab!" jawab Daka.
"Aku tidak ingin kamu jadi suami yang baik. Aku mau ingatanmu pulih dan cepat pergi dari sini!"
"Kalau aku tidak mau pergi meeki aku ingat?"
"Siapa taju kamu sidah beristri. Ingat ya pernikahan kita belum sepenuhnya syah!'
"Sah!"
"Tapi kamu tidak tahu identitasmu. Tidak ada cinta juga di anatara kuta!"
"Ada!"
"Nggak. Enak aja yang ada utang!" jawab Bening
"Ada- ada!" jawab Daka memaksa.
__ADS_1
Malam itu merka pun beradu mulut dan memperbaharui kesepakatan lagi.