Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tidak Sabar


__ADS_3

"Dimana kamu Sayang? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu denganmu?" gumam Pangeran Abe sembari meneguk minuman hangat dan menepi di tepi pantai pulau pribadinya



Pov sebelumnya.


Sesampainya di villanya itu. Pangeran Abe langsung menjalani pemeriksaan oleh dokter Ahli di negaranya. Pangeran Abe sedikit- sedikit sudah mulai mengingat bayangan masa kecil dirinya.


Pangeran Abe ingat wajah ibunya, Pangeran Abe ingat wajah ayahnya, juga peristiwa- peristiwa manis di hidupnya. Sayangnya Pangeran Abe lebih banyak mengingat masalalu. Tentang masa yang terakhir sebelum dia jatuh, sebenarnya sudah sering datang bayangan, tapi seperti potongan yang menyeramkan, dan saat Pangeran Abe berusaha mengingat atau menyambungkan Pangeran Abe akan pusing.


"Yang mulia akan segera sembuh, akan tetapi akan lebih baik jika Tuan Muda datang ke rumah sakit," tutur Dokter Nicholas.


"Hmmm....," Pangeran Abe tidak menjawab dia hanya manyun dengan wajahnya yang sudah kembali angkuh.


Saat sebagai Daka, dokter di rumah sakit pinggiran kan juga memintanya cek dengan alat mahal. Dia tidak melakukanya karena tidak punya uang. Sekarang bahkan dokter terbaik yang mendatanginya secara khusus.


"Kenapa harus ke rumah sakit, dokter? Tidak bisakah obat saja?" tanya Ares, pengawal setia Pangeran Abe.


"Karena saya harus memastikan, tidak ada cedera atau masalah lain," jawab Dokter.


Tuan Ares kemudian melirik ke Pangeran Abe yang tampak cuek melihat ke luar tapi sebenarnya mendengarkan. Jika Pangeran Abe tidak menanggapi itu artinya Pangeran Abe keberatan atau punya unek- unek lain.


"Ya sudah siapkan saja apa yang diperlukan. Saya akan menghubungimu lagi," tutur Ares.


Dokter pun mengangguk. Dia mengerti artinya dia sudah tidak dibutuhkan. Dokter kemudian memberikan obat dan aturan minumnya ke Ares.


"Kalau begitu saya undur diri. Semoga ingatan Tuan Muda segera pulih, kesehatan dan berkat selalu tercurah," pamit Dokter dengan formal dan memberikan hormat.


Sembari duduk dengan kaki berselonjor di kursi panjang dan empuk, Pangeran Abe yang menyandarkan bahunya hanya diam mengangguk, tanda mempersilahkan Dokter itu pergi.


Anak buah Ares yang lain dengan sigap membawa dokter itu ke halaman villa besar yang terparkir helly kopter. Mereka pun mengantar Dokter itu kembali ke kota.


"Ehm...," dehem Ares bingung melihat Pangeran Abe yang tampak diam memandang lautan lepas.

__ADS_1


"Aku ingin istriku segera ada di sini!" ucap Pangeran Abe seketika itu.


"Ya!" jawab Ares setengah kaget.


"Bawa istriku ke sini secepatnya. Aku mau ditemani dia saat aku periksa," ucap Pangeran Abe keluar mode manja dan bucinya.


"Gleg!" Ares pun gelagapan. Ares yang mengenal Pangeran Abe lebih dari 20 tahun, mengingat Pangeran Abe saat ini berusia 27 tahun dan Ares dikenalkan dengan Pangeran Abe di usia 6 tahun. Pangeran Abe begitu anti terhadap perempuan kecuali ibunya, pengasuhnya dan adiknya Putri Aille.


Pangeran selalu menyebutkan perempuan itu manja, jahat, merepotkan, penuh dengan tipu muslihat dan selalu membuatnya disalahkan. Entah apa yang membuat Pangeran Abe menganggap perempuan seperti itu, tapi selama ini Pangeran Abe tidak suka melibatkan atau dekat dengan perempuan. Tapi kenapa sekarang seperti ketergantungan.


"Kenapa diam? Bukankah di majalah dan di artikel kamu ini orang terhebat dan tercerdas juga paling setia terhadapku? Kenapa diam? Ck!" bentak Pangeran Abe sembari mencebik keluar sifat manja dan seenaknya.


"Ehm... Tuan Leon, Tuan Bernand juga tim kita sedang bergerak mencari Pangeran. Secepatnya istri Pangeran akan dibawa kesini, tapi...," jawab Ares menjelaskan dan hendak merayu, kalau ingatan Pangeran Daka lebih penting.


"Tapi apa?" tanya Pangeran Abe lagi.


"Kesehatan dan ingatan yang Mulia lebih penting. Apa tidak sebaiknya, sambil menunggu kabar istri Pangeran kita melakukan pengobatan?" tutur Ares pelan takut dibentak lagi.


"Aku terbiasa diurus olehnya saat sakit. Dia obatku! Kamu lihat? Aku yang hampir mati, masih sehat seperti sekarang itu karena dia! Dia hidupku!" ucap Pangeran Abe tegas.


"Gleg!" Ares pun menelan ludahnya lagi mengangguk saja. "I-iya Pangeran!" jawab Ares.


Akan tetapi hati Ares sungguh menjadi heran dan penasaran seperti apa rupa istri Pangeran Daka ini. Ares menebak dia hanya gadis biasa, yang seharusnya sekelas Pangeran Abe bisa mengabaikanya dan mementingkan urusan dirinya.


Ares pun tidak mau membiarkan Pangeran Abe melupakan tugas dan tanggung jawabnya hanya karena perempuan.


"Tapi maaf, yang Mulia. Bukankah anda sendiri yang mengatakan? Untuk melawan Nona Camillia dan yang lain Yang Mulia harus segera menemui Yang Mulia Raja dan keluarga Pangeran? Bukankah untuk menghadapi mereka, Pangeran harus sehat?" ucap Ares mengingatkan.


"Hhh....," Pangeran Abe hanya menghela nafasnya.


Sebelumnya Pangeran Abe juga mempunyai pikiran yang sama. Tapi kembali ke tempatnya yang begitu indah, rindu Pangeran Abe terhadap Bening datang menyergap dengan begitu hebat. Pangeran Abe jadi tersendat sesak lupa akan tujuan awalnya. Dia terbawa emosi dengan perpindahan peranya sekarang dan ingin ada Bening secepatnya.


"Bagaimana Pangeran bisa menghadapi Adik- adik Pangeran dan permaisuri jika Pangeran masih sakit dan tidak ingat apapun? Bagaimana Pangeran akan menunaikan tugas Pangeran jika Pangeran masih sakit?" lanjut Ares merayu.

__ADS_1


Pangeran Abe tampak diam.


"Ehm....," Ares jadi keki sendiri ucapannya tak ditanggapi. Akan tetapi Ares tetap setia menunggu Pangeran Abe berfikir dan mau bicara.


"Baiklah!" ucap Pangeran Abe tiba- tiba. "Siapkan jadwal pemeriksaan secepatnya. Tapi ingat. Tidak boleh ada satu orang pun dari istana yang boleh tahu hasil pemeriksaanku. Termasuk ayahku. Jangan beritahu juga kalau aku mulai ingat. Aku justru ingin kembali seakan aku tak ingat apapun. Aku ingin lihat bagaimana memperlakukanku jika aku tak ingat apapun!" tutur Pangeran Abe kembali sadar.


Ares pun tersenyum lega.


"Siap, Yang Mulia!"


"Aku ingin istirahat dulu! Siapkan pakaianku!" ucap Pangeran Abe.


Ares mengangguk tahu. Ares pun mengkode pelayan untuk menyiapkan tempat Pangeran Abe bersantai dan mandi.


Pelayan pun mengantar Pangeran Abe ke bath ub yang sudah siap dengan air hangat dan aromaterapi serta minuman dengan pemandangan alam yang indah. Mereka pun membiarkan Pangeran Abe kembali bersua dengan kehidupan mewahnya setelah berbulan- bulan menjadi Daka yang hidup kekurangan.


Dari kejauhan, Ares tersenyum melihat Pangeran Abe, Tuan sekaligus sahabatnya dimana dia berjanji dan bersumpah untuk mengabdi, kini berada di depanya lagi. Apalagi Pangeran Abe sekarang pembawaanya lebih tenang. Apalagi saat berendam di air segar itu.


"Aku harus pastikan dulu, Pangeran tidak salah jatuh cinta. Aku juga harus pastikan pemuda yang bernama Leon itu tidak berbahaya," batin Ares kemudian kembali bekerja dengan laptop canggihnya sembari menunggu Pangeran Abe selesai mandi.


Setelah cukup tenang dan siap. Pangeran Abe bergegas dari mandinya. Dengan dilayani pelayan, kini Pangeran Abe berganti pakaian dengan pakaian mahalnya lagi dan menanggalkan pakaian Daka. Pangeran Abe pun bersiap ke rumah sakit setelah itu, pulang ke istana.


****


Bersama Tia, Bening menikmati waktunya dengan bermalas- malasan, tidur di kamar kontrakan sempit itu, menonton film dan bercerita sesuka hati.


Karena saat Tia menelpon nomer Bening, posisi Pangeran Abe sudah berjalan ke arah helikopter, Leon pun tak berfikir sama sekali kalau Bening bersama Tia. Apalagi dengan pin anak buah Aille yang menjadi petunjuk yang datang orang istana. Semua setuju jika kemungkinan Bening diculik dan dijadikan sandera untuk meminta Pangeran Abe kembali.


Leon pun memilih waktunya untuk kembali ke pekerjaanya.


"Aku tidak bermimpi kan? Bening diperistri Pangeran Abelard. Aku berteman dengan Pangeran Abe, bahkan aku sempat membodohinya?" gumam Leon di depan kaca kamar mandi dan menepuk sendiri kedua pipinya.


"Aku tidak sabar melihat respon Alika dan tante Damita?" gumam Leon mengeratkan rahangnya.

__ADS_1


__ADS_2