Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Dinding Kaca


__ADS_3

Waktu terus berlalu, jarum jam dinding juga ikut berputar, hingga hari terus berganti, satu minggu pun berlalu.


Daka dan Bening masih irit bicara, meski satu rumah tak ada obrolan panjang di antara mereka.


Mereka hanya bertemu saat membuka mata di pagi hari, juga setelah pulang bekerja sebelum Bening mengunci pintunya rapat.


Akan tetapi walau tak akrab, mereka berdamai, menjadi partner yang saling membantu.


Setiap sore, Bening membantu Daka mengganti perbannya, juga mengingatkan Daka meminum obat. Daka sendiri membantu Bening mencari ikan dan membuat sarapan bersama di pagi hari.


Entah apa yang dilakukan Daka saat Bening bekerja. Perjanjian di antara mereka, tidak boleh mencampuri urusan masing- masing. Bening tidak peduli Daka, begitu juga Daka.


Walau sebenarnya, tidak hanya sekali Daka mendengar Bening mengigau, menangis dan juga memanggil- manggil nama ibunya. Daka menahan diri untuk tidak bertanya. 


Sebab setelah paginya, Daka juga mendengar Bening tertawa dan berbicara di balik telepon. Daka berfikir Bening baik- baik saja dan hanya bermimpi buruk. 


“Obatku sudah habis,” celetuk Daka sebelum Bening pergi. 


Mendengar penuturan Daka, Bening berhenti dan menoleh ke Daka. 


“Bengkakmu sudah mengecil sih, tapi lukanya belum kering sempurna, masih perlu obat tidak ya?” jawab Bening malah berfikir ragu. 


“Haish...,” desis Daka kesal. “Kamu kan yang obatin aku, aku bertanya malah balik tanya!” gerutu Daka. 


Bening diam, sebenarnya Bening tahu Daka butuh obat, dia juga butuh periksa untuk ingatanya, tapi Bening tidak punya uang untuk bantu Daka berobat. Kalaupun punya Bening tidak ikhlas dan tidak mau. 


“Dimana aku bisa dapatkan obatnya?” tanya Daka lagi membuyarkan Bening yang sedang berfikir.


“Hah?” pekik Bening kaget. 


“Dimana aku bisa dapatkan obatnya? Juga perban dan salepnya?” tanya Daka. 


Bening  tersenyum menyeringai. 


“Memang kamu punya uang?” tanya Bening. 


Daka kemudian mengeluarkan satu amplop uang dari sakunya. 


“Hoh? Kamu punya uang, kamu bekerja? Uang darimana?” tanya Bening. 


“Segitu cukup nggak?” tanya Daka. 


Bening menerimanya dan memeriksa, jumlah uangnya sekitar 500.000. 


“Uang sebanyak ini kamu dapat dari mana?” tanya Bening lagi. 


“Temanmu yang bantu aku. Aku jual cincin yang menempel di jariku! Sebenarnya aku juga ingin jual ini, tapi tidak ada yang mau beli!” jawab Daka menunjukan kalung dan gelangnya.


“Laku berapa?” tanya Bening. 


Saat Bening menolong dia sempat melihat cincin Daka, seperti cincin mahal, cincin emas putih mengkilap, ada ukiran mutiara di pinggirnya juga batu yang yang mengkilap. Bening tidak pernah melihatnya. Seperti identitas, tapi sayang Bening belum sempat memeriksanya. 



Aslinya lebih mengkilap dan putih, tapi kira- kira begini. Hehehe.


“Satu juta!” jawab Daka.


“Murah sekali? Jual dimana?"


"Pinggir jalan!"


"Tinggal segini?” tanya Bening lagi.


“Aku sudah belanjakan sebagian untuk membeli pakaian, kail pancing dan beberapa keperluanku, termasuk mengganti tagihan obatmu waktu itu. Kata pembelinya, aku tidak bisa menunjukan kartunya jadi dia membelinya harga segitu! Entahlah. Aku sudah berkeliling toko emas di pasar, mereka malah mencurigaiku, tidak ada yang mau beli. Malah suruh aku ke toko antik," jawab Daka bercerita.


Sebenarnya di otak Bening timbul banyak pertanyaan tentang cincin dan harganya, tapi Bening malas berdebat. Bening ingat perjanjian, tidak boleh ikut campur. 

__ADS_1


“Ya sudah, kalau begitu, ikut aku. Hari ini aku libur kerja, aku akan ke kota. Kamu bisa periksa ke rumah sakit, sekalian konsultasi tentang ingatanmu!” jawab Bening memberitahu. 


“Ya!” jawab Daka.


“Ya sudah siap- siap!” jawab Bening. 


Hari itu, Bening ada janji dengan Naka. Dua hari lalu, lewat telepon, Naka mengungkapkan perasaanya kalau Naka mencintai Bening.


Tentu saja itu hal yang sangat membahagiakan untuk bening. Hari Bening yang gelap seakan mendapatkan cahaya penerang. 


Bening punya harapan hidup indah, Bening tidak lagi dihantui menjadi istri aki- aki atau menjadi penunggu museum kuno yang sepi. 


Ini hari ketiga, Bening resmi menjadi kekasih Naka. Dan pertama kalinya akan berkencan. Naka bilang akan memberi kejutan besar.


“Sudah siap, ayo berangkat!” ucap Daka tiba- tiba keluar dari kamar mandi berdiri di belakang Bening. 


Bening yang sedang chattingan dengan Naka kaget dan menoleh sehingga mereka berhadapan sangat dekat dan hampir bertabrakan.


“Ehm...,” dehem Bening memundurkan langkahnya.


Bening mendadak gugup dan jantungnya berdebar. 


Bening kaget. Daka berganti pakaian dengan baju yang baru dia beli, Daka berubah menjadi pria tampan dan wangi. 


“Ayo!” ajak Daka. 


“Kita harus buat perjanjian dulu!” ucap Bening tergugup.


“Ya. Apa itu?” tanya Daka. 


“Aku hendak menemui pacarku!” tutur Bening. 


Seketika itu, Daka tersenyum, “Kamu punya pacar?” tanya Daka. 


“Punya lah. Aku kan cantik!” jawab Bening. 


Daka semakin tersenyum, pantas hari kemarin, Daka mengintip Bening menari.


Daka berhenti di balik semak dan memperhatikan setiap detail gerakan Bening. Ternyata Bening sedang bahagia.


“Yaya. Terserah! Terus aku harus bagaimana?” tanya Daka. 


“Aku hanya akan mengantarmu menunjukan rumah sakit selebihnya kamu urus dirimu sendiri. Anggap kita  tidak saling kenal. Jangan campuri urusanku. Jam 4 sore, kamu tunggu aku di halte tempat kita berhenti nanti!” ucap Bening memberitahu. 


Daka mengangguk, setidaknya kalau Bening masih memberi waktu menunggu, itu artinya Bening masih memberinya kesempatan tinggal. 


“Ya. Tapi jam 4 apa nggak kelamaan? Aku ngapain  aja selama nunggu kamu?” tanya Daka. 


“Terserah! Yang penting jam 4 kita ketemu di halte! Kamu bisa nongkrong di taman dekat rumah sakit!” 


“Baikla!” jawab Daka. 


Mereka kemudian berangkat, tentu saja menggunakan sepeda mini Bening. Karena tangan Daka terluka, Bening yang di depan memegang stang, Daka di belakang. Daka berbadan tinggi besar, dan kakinya panjang. Daka membantu Bening mengayuh dari belakang. 


Untung saja, jalanan dari rumah Bening ke tempat mendapatkan bus sepi. Kanan kiri persawahan dan pepohonan, Bening tidak malu. Hanya beberapa tempat dia  berpapasan dengan orang, tapi Bening tidak kenal. 


Tidak menunggu lama, mereka sampai di kota. Seperti perjanjian awal, Bening membantu Daka sampai mendapatkan nomer antrian. 


“Kamu ke dokter umum dulu, untuk obati luka sayatmu ini, letaknya di situ. Nih kamu dapat no antrian 3 semoga cepat selesai. Setelah  itu ke kamar nomer lima. Kamu harus temui dokter spesialis yang bisa bantu kamu dapatkan ingatanmu!” ucap Bening memberitahu. 


Daka mengangguk. 


“Ya!” jawab Daka. 


Bening pun tersenyum mengangguk setuju, lalu pergi meninggalkan Daka sendirian. 


Bening pergi menemui Naka. Bening sengaja memilih rumah sakit yang dekat dengan halte bus juga kafe yang terkenal. 

__ADS_1


Sementara Daka menunggu antri di rumah sakit. Daka mendapat antrian awal, sehingga tidak menunggu lama Daka dipanggil. 


Dokter mengatakan luka Daka sudah hampir sembuh, jahitanya sudah kering walau ada dua yang infeksi, di sebelah ujung. Tapi itu tidak masalah, karena Daka akan diberi resep obat. 


Setelah dari poli umum, Daka berpindah ke poli Syaraf untuk konsultasi tentang ingatanya.


Tanpa Bening tahu, sebenarnya Naka setiap malam gelisah dan keluar keringat dingin, selalu bermimpi tentang beberapa kejadian masalalunya. Daka bisa mengingat betul suasana tempatnya, tapi lupa dengan nama- namanya. 


Setelah menunggu sekitar 1 jam, kini giliran Daka konsultasi. Daka menyampaikan semua keluhanya. Dokter mengangguk dan menanggapi. 


“Sayang sekali anda baru periksa Tuan!” jawab Dokter menyayangkan Daka baru berobat setelah berhari- hari. 


Daka hanya diam, dia merasa jengkel ke dokternya, enak sekali bilang harusnya langsung periksa. Daka kan sudah cerita dia terdampar dan hilang ingatan. Identitas saja lupa apalagi uang. Tapi Daka sadar dia butuh dokter itu dan hanya menampakan muka dingin dan tidak suka.


“Anda harus melakukan serangkaian pemeriksaan!” sambung Dokter lagi.


“Periksa apalagi? Kenapa tidak obat saja?”


“Saya bisa memberi obat. Tapi sebaiknya diperiksa dulu.” 


“Kenapa ribet sekali. Saya ingin ingatan saya pulih!" jawab Daka kesal. 


Dokter kemudian menjelaskan rangkaian pemeriksaan yang harus Daka jalani, kenapa harus periksa, seperti uji fungsi syaraf dan CT Scan, untuk memastikan adanya cedera kepala Daka, seberapa parah. 


Daka diam mendengarkan.


“Berapa biayanya?” tanya Daka. 


Dokter tidak menjawab dan meminta Daka bertanya bagian keuangan, Dokter hanya menyerahkan beberapa catatan. 


Daka menerimanya.


“Saya ingin obat!” ucap Daka dingin dan ketus.


"Ya!" jawab Dokter.


Dokter pun memberikan resep untuk syaraf dan otaknya. Tapi Dokter tetap meminta Daka melakukan pemeriksaan penunjang. Daka tidak menjawab dan berlalu membawa resep itu. Daka kemudian mengantri.


Setelah menunggu sekitar 1 jam, Daka mendapatkan obatnya. Ternyata tagihanya melebihi uang Daka, sehingga Daka terpaksa juga mengurangi obatnya. 


“Mahal sekali berobat. Aku harus bagaimana untuk dapatkan uang? Periksa apalagi ini? Ck.” gumam Daka berfikir. 


Daka terduduk lemas di bangku yang disediakan rumah sakit.


Inilah sebabnya Bening tidak peduli dan mengajak Daka pergi ke rumah sakit, biaya mahal. Seharusnya Daka bisa mendapatkan gratis jika mau ke dibawa ke panti sosial atau pihak kepolisian sebagai orang hilang. Tapi mendengar cerita Leon, Daka tidak mau. Daka ingin bebas tidak tinggal di dinas sosial jadi orang hilang.


Daka juga tidak ingin orang di mimpinya, jahat ke dia menemukanya sebelum Daka ingat dirinya sendiri.  


“Kruyuuuk... kruyuuuk...,” tiba- tiba perut Daka berbunyi. 


Daka melihat jam yang tertempel di rumah sakit. Waktu sudah menunjukan pukul 1 siang. Daka lelah mengantri dan kelaparan. 


“Haissh aku tidak punya uang lagi, bagaimana ini?” gumam Daka. 


Daka melihat ke sekeliling kebingungan. Daka pusing berada di rumah sakit banyak orang, apalagi jika harus menunggu sampai jam 4, Daka pun pergi melangkahkan kakinya acak. 


Tiba- tiba langkah Daka terhenti.


“Si kerempeng?” gumam Daka senang.


Dari jalan, terlihat dari dinding kaca transparan sebuah restoran mewah, Bening duduk di sebuah meja bersama dua orang. Di meja itu banyak makanan. 


“Waah... aku bisa minta makan ke dia!” batin Daka lupa perjanjian, karena rasa lapar yang meronta. 


Daka berjalan cepat hendak menghampiri Bening meminta makan.


Akan tetapi langkah Daka terhenti, dari kejauhan, Bening terlihat menitikan air matanya lagi. 

__ADS_1


"Kenapa dia menangis? Siapa perempuan itu?" guman Daka.


Hati Daka, terasa pedih saat melihat mata Bening basah tergenang air mata.


__ADS_2