
Jika sepanjang jalan Daka bersemangat, membakar kalori menu sate lontongnya, dengan mengayuh sepeda membonceng Bening. Bening diam membakar kalori dengan memeras otaknya.
Bagi Daka, sangat menyenangkan mengendarai sepeda di jalanan desa yang rindang dan sejuk itu. Hatinya tenang, seakan Daka benar- benar terlahir menjadi manusia baru.
“Kamu bekerja di museum, kerjanya apa saja?” tanya Daka membuka pembicaraan.
“Kepo!” jawab Isyana singkat malas mengobrol.
“Jutek banget!” keluh Daka.
“Berisik! Cepat kayuhnya!” seru Bening malah membentak Daka.
Daka sebenarnya tersinggung dan ingin balas marah suruh Bening turun dan naik sendiri. Tapi kan Daka tidak punya siapa- siapa. Cuma Bening yang mau nampung dan rawat Dia. Daka jadi menahan emosinya dan patuh, mempercepat putaran kakinya.
“Ya!” jawab Daka.
Karena ngebut, walau geal geol karena sepedanya kecil sementara mereka berdua besar, kecepatan mereka bertambah 10 menit dari seharusnya.
Sesampainya di rumah, Bening turun, meletakan tasnya. Tapi langsung pergi lagi.
“Mau kemana?” tanya Daka.
“Kepo!” jawab Bening lagi galak.
“Hoh!” Daka hanya menanggapinya tersenyum heran.
“Nggak usah ikutin aku. Keringatmu bau sekali. Jadi mandilah!” ucap Bening kasar mengatai Daka.
Daka langsung merengut dan mencebik. Daka pun mengangkat ketiak kanan dan kirinya juga menciumnya.
Ya, Daka memang berkeringat karena mengayuh sepeda. Sudah hanya dengan satu lengan, bonceng Bening, disuruh ngebut lagi. Dia memang bau. Ternyata Bening selama di jalan diam menahan bau keringat Daka.
Sayangnya begitu Daka mengangkat wajahnya, Bening sudah hilang dalam pandangan.
“Kemana gadis kerempeng dan galak itu?” gumam Daka penasaran kemana perginya Bening.
__ADS_1
Padahal hari kan sudah sore, walau mereka pulang lebih awal dari perjanjian, tetap saja, sekarang sudah sore.
Daripada dimarahi Bening lagi, Daka patuh, masuk ke rumah dan mandi.
Akan tetapi, pikiran Daka terpaut oleh Bening. Bening di luar, galak dan kasar, tapi Daka yakin, hati Bening itu lembut, rapuh. Dan saat ini Bening sedang hancur dan kalut.
Daka khawatir apa yang hendak Bening lakukan. Daka khawatir kemana Bening pergi dan untuk apa. Daka yakin Bening butuh teman bicara mencurahkan semua masalahnya.
Terbukti, Bening sering mengigau menangis. Lebih dari identitas sendiri, Daka jadi penasaran dengaan kehidupan Bening sebenarnya.
Apalagi dengan mata kepalanya sendiri. Daka melihat bagaimana sikap Alika yang mencurigakan, dan sikap Lisa yang membuat Daka gatal.
Daka mempercepat mandinya. Dan segera keluar mencari Bening. Sepeda Bening terparkir, itu artinya Bening tidak pergi jauh.
“Apa dia ke sungai? Sesore ini? Untuk apa?” gumam Daka. “Tapi dia menolongku juga di waktu yang sama seperti sekarang,” gumam Daka lagi.
Daka pun menuju ke sungai. Daka sudah tahu titik sungai yang tempatnya indah. Ada bagian yang pasirnya lapang dan lembut. Juga arus dan kedalamanya juga sedang. Ya. Daka ingat tempat favorit Bening. Bahkan Daka juga sudah punya tempat tersembunyi untuk mengintiip.
Benar, tidak peduli matahari mulai turun dan berubah warna menjadi Jingga, Bening menanggalkan pakaianya, menyelam ke dalam air.
Bening melepaskan semua gundah hatinya, mencurahkan seluruh tenaganya untuk berliuk menari bersama arus sungai.
“Wuah... amazing, its soo beautiful, dia seperti penari aquatic?” gumam Daka terbengong mengagumi Bening.
Tidak berselang lama, setelah Bening puas mengaburkan isi pikiranya, Bening beranjak dari air. Bening mengenakan pakaian panjangnya lagi.
Tapi Bening tidak segera bangun, dia masih memilih duduk di atas batu. Bening tampak memeluk lututnya seperti terisak, bahkan semakin lama terdengar sedikit meraung.
Daka terdiam, menajamkan telinganya mendengar. Hatinya tersayat. Daka ingin berlari mendekat, memeluknya membawa Bening pergi dari kesepian, seperti yang dia rasakan.
Tapi Daka sadar, bukan sekarang waktunya. Bening perlu membebaskan perasaanya sendiri.
Daka dan bening sama- sama tidak memakai jam tangan sehingga mereka hanya berpatok waktu dengan langit. Daka melihat ke atas, langit mulai gelap, Daka harus segera kembali ke rumah sebelum Bening. Agar dia tidak ketahuan mengintiip.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Daka memutar otaknya. Dia ingin menghibur dan membahagiakan Bening.
"Tapi bagaimana caranya? Apa yang dia suka ya?”
****
Di tempat Lain.
Leon yang menjadi seorang konservator museum kuno itu tampak mencatat dan berdiskusi dengan tamunya. Mereka suka mempelajari hal- hal yang berbau sejarah.
Kebetulan mereka sedang membahas benda- benda yang berbau dengan kerajaan.
“Wait!” pekik Leon membulatkan matanya.
“Ada apa?” tanya teman Leon.
Leon yang jika sudah menyalakan otak versi serius mendadak jadi terlihat ganteng. Dia memperlebar layar ponsel temanya.
“Ini simbol identitas keluarga raja?” tanya Leon ke temanya.
Temanya menunjukan sebuah selendang dan di ujungnya, ada logo ukiran.
“Iyah!”
“Aku kok kaya nggak asing ya, liat ukiran ini?” gumam Leon mencoba mengingat.
“Ini logo khusus keluarga, kerajaan yang asli. Logo khusus untuk keluarga, catat! Bukan logo yang untuk cap pemerintahan seperti yang beredar. Ini rahasia dan hanya dikenali kalangan mereka dan orang pintar sepertiku. Susah merangkai ini,” jawab Teman Leon berbangga hati.
Leon memfokuskan pikiran dan otaknya.
"Dimana aku lihatnya ya? Tapi aku yakin aku baru melihat ukiran ini?" guman Leon.
"Di buku kali. Sini aku pinjam!"
“Bukan! Kaya Cincin!” gumam Leon.
__ADS_1
"Ah...masa. Kalau cincin istana. Pasti dipajang di museum kota dekat istana. Bukan di situs kuno seperti di sini!".
"Bukan di museum, tapi dipakai orang!" jawab Leon