
“Permisi!” sapa Daka mengetuk meja recepsionits dekat pintu masuk sebuah kafe.
“Iya, Mas, mau pesan apa?” jawab seorang pramu saji mendekat membawa buku menu.
Daka menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, rasanya berat sekali mau mengutarakan keperluanya. Daka sampai bisa menebak dan ingin putar arah, tapi harus maju.
Ini sudah toko yang ketujuh yang dia masuki dan tanyai. Semuanya menolak Daka, ada yang bilang tidak membuka lowongan, ada yang bilang karyawanya penuh, ada yang bilang tidak butuh karyawan karena dilayani l oleh penjualnya saja nggak ada pembeli. Ada yang memaki Daka tampan- tampan kok ngelamar jadi pelayan. Ada yang bilang tidak mau punya karyawan tampan, semuanya menolak.
“Di sini, menerima karyawan baru nggak?” tanya Daka berpengalaman tidak langsung to the point seperti sebelumnya.
“Oh ya.. ada, kok Masnya tahu, padahal belum dishare lho, temenya Frans ya?” jawab pelayan malah sksd dan salah kira.
Ternyata salah satu personil yang bernama Frans pagi tadi pamitan resign.
“Ehm..,” Daka pun berdehem salah tingkah, tapi Daka cukup lega dan sangat berharap ini berita bagus. Daka pu hanya tersenyum.
“Saya bisa kan daftar kerja di sini?” tanya Daka lagi.
“Bisa- bisa, kebetulan Pak Riki ada di ruanganya silahkan masuk!” jawab waitress ramah dan mengantar Daka ke ruang HRD kafe itu.
Daka pun tersenyum senang dan puas, ada harapan. Akhirnya Daka bisa kerja dan jadi suami beneran. Daka berjalan dengan sangat percaya diri mengikuti pramusaji itu ke sebuah ruangan.
“Ketuk aja Mas, ini ruanganya, Pak Riki di dalam kok!” ucap Pramusaji.
Daka hanya tersenyum mengangguk tanpa berterima kasih. Daka langsung mengetuk pintu, Pak Riki pun langsung mempersilahkan Daka masuk.
“Masuk!” jawab Pak Riki.
Daka yang memang tidak pandai berbosa basi berjalan santuy masuk ke ruang HRD, bahkan belum disuruh duduk sudah duduk duluan.
Tentu saja, seorang laki- laki yang tadinya tanganya berada di atas keyboard langsung berhenti, dan menatap Daka tidak suka.
Dia pun menatap Daka dari ujung kaki sampai ujung kepala. Entah siapa Daka di masalalu, ditatap dengan tatapan seperti itu, Daka tidak suka, menurutnya sangat tidak sopan. Daka yang tadi moodnya baik dan semangat hsncur lagi dan segera bertanya.
“Katanya di sini menerima pegawai baru? Apa saya bisa bekerja di sini?” tanya Daka spontan.
Pria itu hanya mengulum lidahnya tersenyum sinis.
“Siapa namamu?”
“Daka!”
“Nama panjangmu?”
“Daka!”
“Hanya itu?” tanya Pak Riki lagi.
Daka semakin tersulut emosinya, tapi dia butuh kerja sehingga menahan agar tidak meledak.
“Ya... hanya itu nama saya!” jawab Daka malas.
“Tahu darimana daftar ke sini?” tanya Pak Riki itu.
“Tidak ada!” jawab Daka lagi.
Pak Riki tersenyum sinis lagi.
"Kamu mau daftar sebagai apa? Di sini yang kosong office boy!" ucap Pak Riki.
Daka menelan ludahnya, tapi mengingat Bening dan ini sudah toko ke 7 yang dia tanyai Daka mengangguk.
"Nggak masalah? Saya bisa kerja di sini?" tanya Daka.
“Mana lamaranmu dan data dirimu?” tanya Pak Riki lagi.
“Haish..."bukanya menjawab Daka malah mendesis kesal tidak sopan. Pak Riki jadi tambah kaget.
“Tidak sopan sekali kamu!” hardik Pak Riki.
"Harus ya? Ada surat lamaran?"
"Ya!"
"Memang berapa gajijya?" tanya Daka lagi.
"Kerja saja belum sudah tanya gaji!"
__ADS_1
"Kalau saya nggak punya surat lamaran dan data diri gimana? Kan pekerjaan saya tukang bersih- bersih saja!" ucap Daka.
"Syarat kerja di sini begitu, apa ijazah terakhirmu?" tanya HRD lagi.
Daka semakin geram mendengarnya, Daka kan sensitif jika ditanya perkara identitas.
"Saya tidak ada!" jawab Daka
"Waah. Harus dilengkapi dulu, juga riwayat pekerjaanmu sebelumnya kamu kerja dimana?" ucap HRD lagi.
Daka pun kehilangan kesabaran.
“Kenapa banyak sekali pertanyaanya sih? Saya bernama Daka, rumahku di dekat sungai di kampung Museum kuno! Intinya saya bisa nggak kerja di sini?” tanya Daka emosi.
“Huuft...,” Pak Riki menghela nafasnya dan menelan ludahnya, bukanya Daka yang takut dengan HRD karena dia yang butuh kerja, sekarang malah Pak Riki yang takut, Daka terlihat sangat berani dan tidak sopan apalagi segan.
“Setiap karyawan yang bekerja di sini harus meninggalkan data diri, saya butuh ktp kamu, butuh...,” ucap Pak Riki hendak menjelaskan tapi terpotong.
“Aish...ribet banget sih, pekerja kebersihan kan hanya cuci piring dan menyapu. Karyawan lain, aku lihat kerjanya cuma anter makanan ke meja. Apa gunanya ijazah dan ktp. Semua bisa melakukanya!" tutur Daka malah mengomel.
"Tapi kalau mau kerja di sini harus ada itu!"
"Ya udahlah nggak jadi!” jawab Daka lagi dengan frustasi, lalu mendorong mejanya ke belakang dan bangun.
HRD pun hanya diam menggaruk pelipisnya yang tidak gatal membiarkan Daka pergi.
Dengan langkah kesal dan emosi Daka berjalan cepat keluar.
“Apa Lo?”
Bahkan saat di luar berpapasan hendak menabrak pengunjung, Daka membentak. Semua karyawan dan Pengunjung hanya geleng- geleng kepala dan mencibir. Ganteng doang, miskin harta miskin adab pula.
Daka pun kembali melangkah menyusuri jalan tak berarah. Karena sudah berjalan sedari tadi, Daka pun lelah dan merasa lapar. Tepat di samping Daka berdiri tenyata ada warung nasi.
Daka kemudian masuk, di dalam beberapa pemuda sedang bergosip mengeluhkan pelayanan publik negara yang terlalu banyak pajak atau pungutan liar. Daka tidak tahu menahu tapi jadi mendengar, Daka pun memakan makananya cepat, rasanya gatal mendengarnya.
“Berapa Bu?” tanya Daka hendak membayar.
“Dua puluh ribu, sekarang apa- apa mahal jadi mulai hari ini aku naikan ya Mas! Nasi ayam 20!” ucap tukang nasi spontan.
Sebenarnya Daka tidak bertanya juga tidak tahu harga sebelumnya berapa, tapi mungkin penjual ingin memberitahu agar pelangganya tidak menganggapnya kemahalan. Daka pun hanya mengangguk lalu memberikan uang sisa hasil copetanya.
Daka pun menatap gedung- gedung tinggi dan besar di sana. Jika kafe kecil saja harus pakai ijazah dan identitas berarti gedung- gedung tinggu juga iya.
“Susah sekali cari kerja? Ck,” batin Daka mengusap tengkuknya.
Walau dia sudah dua kali mencopet, tapi Daka yakin itu hal jelek dan tidak ingin copet sembarang orang.
Daka pun berhenti menatap gedung – gedung itu sembari menjeda langkahnya. Daka memejamkan matanya, tiba- tiba kepalanya kemudian terasa pening. Sekelebat bayangan kejadian datang lagi.
Daka kemudian menutup kedua kupingnya, dalam bayangan Daka ada seseorang yang melempar berkas banyak kertas ke hadapan orang- orang berdasi, mereka semua menunduk lalu menangis memunguti kertasnya dan mengiba.
Tidak kuat menahan sakit kepalanya, Daka terhuyung hampir jatuh. Daka langsung berpegangan pada tiang lampu, lalu terduduk. Daka beristihat. Keringat Daka seketika itu bercucuran.
“Kamu baik- baik saja? Kamu kenapa anak muda?” tanya seorang perempuan mendekat.
Daka yang wajahnya pucat, melawan rasa pusing mulai membuka membuka matanya pelang. Di depanya seorang perempuan tua menyodorkan sebotol minuman.
“Minumlah, kamu pucat sekali!” ucap ibu itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Ibu itu, dengan gemetaran, Daka meraih botol itu dan segera meminumnya.
Ibu itu juga tidak menunggu jawab Daka, dengan tongkat yang ujungnya seperti ada pengaitnya, ibu itu memunguti botol minuman yang terserak di bawah kaki Daka. Sepertinya ibu itu seorang pemulung atau petugas kebersihan.
“Terima kasih!” ucap Daka singkat mengembalikan botol minumnya.
“Sudah makan belum?” tanya Ibu itu baik.
“Sudah Bu?”
“Kamu kenapa? Sakit? sama siapa?” tanya Ibu itu lagi.
Awalnya Daka tidk menjawab, Daka kan malas banyak berbicara dengan orang asing tentang dirinya.
“Ditanya kok nggak jawab, kalau sakit jangan pergi- pergi sendirian!” ucap Ibu itu lagi.
“Ya Bu!” jawab Daka.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di sini. Habis darimana?"
"Saya nyari kerja!" jawab Daka lagi.
Ibu itu kembali menatap Daka. Daka kembali sensitif jika orang lain menatapnya.
"Apa kamu bisa memberiku pekerjaan?" tanya Daka.
"Asal kamu mau bisa aja ikut Ibu. Tapi kamu tampan dan tampak kuat. Tidak usah. Sana cari yang lain saja!" ucap Ibu itu.
"Tapi Bu!" ucap Daka hendak merayu dan bertanya.
Sayangnya ibu itu tampak mengacuhkan Daka dan berniat pergi.
Ibu itu kemudian berjalan dan mengambil gerobaknya, ternayat dia menaruh gerobak sampahnya, di seberang jalan.
Daka kemudian mengamati ibu itu.
“Apa dia sedang bekerja?” gumam Daka.
Diam- diam Daka mengikuti ibu itu. Ibu itu ternyata memang pemulung yang memunguti botol- botol bekas di tempat- tempat sampah dekat tempat- tempat umum di pinggir jalan.
Ibu itu lalu masuk ke gang perkampungan padat penduduk di pinggir kota, di balik gedung- gedung tinggi.
Fokus Daka kemudian teralihkan oleh rumah- rumah tidak layak pakai di pinggiran kota itu. Juga ada banyak anak kecil berlarian dengan pakaian dekil juga ingusan sedang bermain.
Daka menelan ludahnya, terasa jijik. Setelah tersadar, Daka kebingungan kehilangan jejak ibu pemulung tadi.
Daka lalu celingukan mencari kemana ibu tadi pergi.
“Puk!” tiba- tiba dari belakang punggung Daka ditepuk, sehingga Daka tersentak kaget dan menoleh.
Senyum tulus yang tadi dia lihat kembali nampak di depanya. Ibu itu ternyata tau Daka mengikutinya.
“Apa kamu mengikutiku?” tanya ibu itu.
Daka tidak menjawab dan kebingungan malu.
Ibu itu tersenyum.
“Ayo mampir ke rumah Ibu dulu!” ucap Ibu itu.
Daka menelan ludahnya dan mengangguk. Rumah ibu itu ternyata di balik bangunan toko kelontong di pinggir jalan tempat Daka berdiri. Rumah kecil dan di depanya terdapat banyak sampah yang sudah dipilah- pilah. Daka tampak sangat jijik, Daka hampir pergi.
“Maaf saya mau pulang!” jawab Daka cepat tidak nyaman.
“Sepertinya kamu kelaparan, makan dulu!” ucap Ibu itu mengira Daka hampir pingsan di jalan karena lapar.
“Tidak! Saya sudah makan, terima kasih!” jawab Daka.
Tapi ibu itu yakin kalau Daka kelaparan, Ibu itu pun menarik Daka untuk stay dan mengajaknya duduk.
Ibu itu ternyata menjamu makanan. Walau di depan rumah banyak sampah, rupanya rumah ibu itu bersih.
Awalnya Daka ragu melihat makananya terasa aneh, tampak ikan kecil- kecil yang sangat kering, lalu entah apa itu seperti saus atau sambal berearna hitam kecoklatan. Bagi Daka tidak menarik. .
Tapi Ibu itu memaksa.
"Sayur asem ikan asin dan sambal terasi sangat enak. Makanlah! Temani Ibu makan!" ucap Ibu itu mengambilkan Daka.
Walau ragu Daka menerimanya. Awalnya aneh, tapi ternyata memang enak. Daka pun melahapnya. Sebab nasi ayam 20 ribu yang Daka makan tadi porsinya sedikit.
Sembari makan ibu itu pun mengajak Daka kenalan.
"Namaku Maria!" tutur Bu Maria mengenalkan diri.
"Daka!" jawab Daka.
Ibu itu kemudian bercerita tentang pekerjaanya. Berapa hasilnya? Kemana menjualnya? Juga untuk apa semua itu,. Daka pun menyimak dan mendengarkan.
Setelah kenyang Daka berpamitan
"Kalau kamu tertarik dengan bekerja seperti ibu? Besok datang saja ikut ibu mencari ke arah pasar!" ucap Bu Maria ramah
Daka hanya menelan ludahnya dan menarik sudut bibirnya ke kanan dan ke kiri. Hati kecil Daka menolak jika harus bekerja seperti Bu Maria, pasti sangat melelahkan dan menjijikaan. Apalagi upahnya sangat sedikit.
"Saya pulang. Terima kasih?" pamit Daka pergi.
__ADS_1
Bu Maria mengangguk.
"Haiissh... kenapa aku tidak tahu apapun? Aku yakin aku punya keterampilan dan pekerjaan. Apa pekerjaanku sebelumnya? Yang benar saja aku harus memunguti sampah? Bagaimana caranya aku bisa dapatkan uang? Bening pasti marah?" gumam Daka sepanjang di Bus.