
Walau tak melakukan serangkaian perjalanan panjang mengarungi lautan, berpindah dari satu ke pulau yang lain singgah di tempat yang indah. Atau terbang dengan pesawat mahal untuk mendapatkan destinasi yang mengagumkan, sebagai pasangan baru, Daka dan Bening tetaplah meneguk manisnya madu di bulan- bulan pertama mereka menjadi pasangan.
Tidak ada kegundahan di antara mereka atau kata mengeluh. Bening sadar seutuhnya, Daka hanyalah seorang pria sebatang kara yang tak ingat asal usulnya. Jangankan harta dia bertahan hidup juga atas belas kasih dan kesabaranya. Bening menyadari betul Daka adalah suami yang mengisi dan menemani harinya dengan segala kekurangan dan kelebihanya.
Jadi kekurangan uang tak menggentarkan mereka untuk menghadapi hari esok, justru menambah mereka semakin solid bekerja sama dengan tujuan yang sama, menggapai hidup bahagia.
Di setiap pekerjaan tidak ada rasa lelah yang mendera, mereka selalu bahagia, semangat dan kompak bersama.
Di setiap moment mereka selalu bermesra, hari mereka selalu bertaburkan cinta. Bahkan Bening selalu dihujani kecupan hangat oleh Daka. Tidak ada rasa lelah atau bosan, di setiap ada kesempatan Daka selalu meminta jatah memadu kasih agar mereka terus berpadu satu seakan tak rela berpisah walau sedetik.
Seperti hari ini, meski masih lelah sepulang bekerja memulai ide Bening di rumah bu Maria, begitu malam datang, Daka tidak mau absen, Daka selalu lihai menggoda Bening untuk mendapatkan haknya dan Bening tetaplah tidak bisa menolak.
Kamar yang sempit tetaplah menjadi tempat peraduan yang hangat dan berharga untuk mereka.
“Sayang...,” panggil Daka sembari memeluk Bening yang terkulai lemas hampir memejamkan mata.
“Hmm...,” jawa Bening malas.
“Kita kan sekarang udah jadi suami istri, jangan panggil aku Daka terus!” tutur Daka dengan polosnya.
“Huh?” Bening yang tadinya ngantuk langsung kembali fit dan tersadar mendengar penuturan Daka yang menurutnya lucu.
Bening hanya mengenakan selimut karena belum sempat mengenakan pakaianya lagi setelah ditanggalkan Daka. Bening yang tadinya tidur dengan posisi miring, memelakangi Daka langsung mengubah posisi berbalik menghadap Daka sembari tersenyum.
"Kamu bilang apa?" tanya Bening.
"Ck... malah senyum,!” cibir Daka cemberut dan kesal karena Bening tetap saja tak ada rasa hormat padanya.
Bening semakin tertawa, “Kamu nggak mau kupanggil Daka? Terus kamu mau dipanggil siapa? Emang kamu udah ingat namamu? Siapa? Ayo cepat cerita apa yang kamu ingat?” tanya Bening malah ngeledek suaminya.
“Plethak..,” Daka pun gatal dan langsung mengetuk kening Bening gemas.
“Lah ditanya malah jitak?” jawab Bening ikut manyun mengusap keningnya.
“Aku suamimu. Istri itu harus hormat pada suami!” jawa Daka lagi.
“Hehehe yaya... Oke. Hormat grak. Pak Daka!" ledek Bening lagi.
"Ya sudahlah. Sudah nasibku dapat jatah istri durhaka!" jawab Daka lagi menampakan wajah manja dan kekanakanya.
"Yaah gitu aja ngambek! Aku bingung mau panggil kamu apa? Terasa aneh gitu, terus kan aku nggak tahu, di antara kita siapa yang leih tua, aku harus panggil kamu apa?” jawab Bening beralasan.
“Anggap aja aku! Panggil Mas, apa sayang gitu!” jawab Daka lagi.
“Ye...Tau darimana tua kamu? Emang tau hari lahirku? Emang udah ingat hari ulang tahunmu?” tanya Bening lagi.
Sebenarnya Bening paham maksud Daka untuk menghormati Daka sebagai suami, akan tetapi Bening sengaja ingin mnggoda Daka.
“Penting ya begitu?” tanya Daka jadi tambah ngambek.
“Penting!”
“Ck.., gini nih mentang- mentang aku nggak kaya dan numpang, nggak ada harganya jadi suami! Dasar istri durhaka!” jawab Daka tambah sensitif
Bening pun semakin geli dan tertawa.
“Ya ampun, ternyata di balik sikap kamu yang suka sombong ada sisi bapernya juga ya? Hehe!" ledek Bening lagi.
“Malah ngatain? Tambah durhaka kamu. Ck. Awas aja kalau aku udah kaya aku hukum kamu!” omel Daka lagi main ancam.
__ADS_1
"Hahahaha....," Bening pun semakin terkekeh.
"Tuhan nggak akan bikin kamu kaya Sayang... kalau niat kamu jelek!" ucap Bening akhirnya keceplosan mengucapkan kata Sayang ke Daka setelah selama ini sangat berat mengatakan cinta dan Sayang.
Daka langsung tersenyum lagi.
"Nah...itu tuh tadi kamu manggil aku apa? aku suka tuh?" jawab Daka.
"Hmmm," Bening langsung berdehem tersipu.
"Ulangi lagi, tadi manggil aku apa?"
"Sayang!"
"Nah gitu? Panggil Sayang kek. Apa apa gitu!"
“Yaya... suamiku, aku akan panggil kamu sayang? Eh tapi nanti sama, apa? Ayah Daka? Mas Daka? Hehe ah susah sekali!” jawa Bening masih terus memercandai Daka dengan senyum centilnya.
"Pokoknya panggil itu ya!" ucap Daka senang akhirnya mendapatkan apa yang dia mau. Daka kemudian merapatkan tubuhnya membawa Bening dalam pelukanya di balik selimut murahnya.
Kulit mereka yang sama- sama belum tertutupi kembali menyatu, saling bertukar kehangatan. Walau udara malam masuk ke celah- celah jendela kayu yang mulai keropos juga atap yang tak berplafon dan membuat udara dingin. Walau tak berselimutkan sutra atau kain yang mahal mereka tetap merasakan hangat.
"Eh tapi aku penasaran tahu, kamu sebenarnya usia berapa tahun sih? Kapan ya ulang tahun mu?" ucap Bening kemudian.
“Hmm.... aku masih tampan dan imut kan? Aku juga perkasa kan? Anggap saja aku masih 20 tahun!" jawab Daka asal.
"Ishh... pede banget 20 tahun!" cibir Bening mencubit dada Daka.
Daka tang menghiraukanya. Dia malay memejamkan matanya walau masih sadar.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Kita seumuran. Perhatikan dari senjataku yang kau suka ini. Kalau dia masih berdiri tegak itu artinya aku masih muda. Aku juga yakin, kamu istriku pertama dan satu- satunya. Anggap aja hari aku di temukan dan selamat dari kematian itu hari lahirku,” jawa Daka lagi.
"Hmm...ya!" jawab Bening malu karena Daka bawa- bawa senjata.
"Sudah... tidur. Aku besok harus bekerja keras. Katamu kita harus kaya!" ucap Daka lagi.
"Ya... tapi jangan hukum aku kalau udah kaya!" jawab Bening.
"Nggaak...," jawab Daka malas karena sudah ngantuk.
Berkebalikan, jika tadi Bening yang mengantuk sekarang Daka yang tak kuat menahan kantuk dan Bening yang masih ingin mengobrol.
"Sayang...," panggil Bening.
"Hmmm,"
"Apa kamu sungguh tak mengingat semua perempuan yang tempo hari menemui kita? Apa jangan- jangan Abe itu namamu?" tanya Bening hati- hati.
"sudah tidur! Ssh.. jangan bahas dialah!"
"Tapi aku penasaran"
"Apalagi? Sudah ayo tidur. Aku tidak ingin mengingat apapun. Aku hanya ingat, orang yang aku cintai itu kamu!" jawab Daka malas membahas Camilia.
"Satu lagi!"
"Aa...pa?" jawab Daka lirih karena sudah tidak tahan lagi dari rasa kantuk.
"Kamu selama ini kasih aku uang yang nggak sedikit. Aku kira uang dr kamu bekerja karena pekerjaan kamu bagus tapi kata Bu Maria pendapatan kalian sedikit. Aku ingin tahu uang yang kamu kasih ke aku darimana?" tanya Bening lagi.
__ADS_1
"Hhh..," Daka mulai oleng tidak menjawab.
"Darimana?" tanya Bening memaksa dan menepuk Daka agar bangun dan menjawab. "Kamu punya uang banyak darimana?"
"Aku jual apa yang aku punya...," jawab malas.
"Oh... yaya!"
"Udah tidur!"
"Entah kenapa aku merasa aneh. Aku minta kamu selalu jujur ya sama aku. Aku paling tidak suka dibohongi! Aku benci dibohongi!" ucap Bening lagi.
"Hmm...," Daka yang sudah ngantuk berat benar- benar tak menjawab dan terlelap
"Ish...," Bening mendesis dan kemudian ikut memejamkan matanya.
*****
Di tempat lain.
Tanpa memperdulikan Bening. Naka dan Alika malam itu bertunangan. Bahkan mereka menyelenggarakan pesta yang meriah di kediaman orang tua Bening.
Setelah acara selesai dan tamu mereka pulang, kedua keluarga berkumpul dalam satu meja untuk makan malam.
"Setelah ini jangan ditunda- tunda ya pernikahanya. Kita segera persiapkan pernikahan mereka!" tutur Bu Lisa, Ibu Naka.
"Ya...jadi kalau Alika bekerja kan bisa pulang ke rumah Naka suaminya sendiri!" jawab Bu Damita.
"Ya sudah urus kartu identitasmu yang katanya hilang agar bisa segera melengkapi persyaratan menikah Naka dan Alika!" tutur Ayah Naka.
"Lhoh. Kartu identitas Ses Lisa hilang?" tanya Bu Damita kaget.
"Iyah. Terakhir itu waktu makan di restoran yang Naka ajak. Ketemu sama anak tirimu dan pacarnya itu!" ucap Bu Lisa menekankan pertemuan Daka pacar Bening sembari melirik Naka.
"Sama. Dompetku juga hilang! Terakhir pas ketemu sama menantu suamiku yang berandal itu!" sahut Bu Damita cerita.
"Oh iya... kok bisa bareng dan samaan ya?"
"Berarti bener kan Mah. Apa kata Alika. Suami Kak Gita itu laki- laki nggak bener. Kayaknya emang diambil dia deh. Liat aja perlakuanya waktu itu? Kasar? Penampilanya juga gitu!" sahut Alika.
"Iya ya? Kenapa aku baru ngeh" sahut Bu Damita.
"Iyah.. benar- benar. Jangan- jangan kita dicopet!"
"Alika...jangan berburuk sangka dulu," sahut Naka walau sebenarnya Daka adalah rivalnya dia tetap masih berbaik sangka pada suami Bening.
"Sayang...," jawab Alika tidak terima. "Suami Kak Gita emang berandalan. Mana ada pria baik- baik tidur di rumah Kak Bening segala beralasan orang hilang ingatan. Masa asal usul dan rumah dia nggak ingat. Dia menang ganteng doang, dia pria nakal. Kak Gita aja yang kegatelan liat orang dari wajah doang!" jawab Alika masih terus ingin menjelekan Bening di hadapan Naka
Sebab walau Naka sudah jatuh di pelukan Alika, Naka masih sering diam, bahkan masih menyimpan foto Bening dan semangat jika membahas Bening.
"Ehm...," Tuan Hanjaya berdehem tidak nyaman putri kandungnya dibahas.
"Tapi Alika ada benarnya lho. Mamah sih tidak suka dengan anak itu sejak awal melihat!" jawab Bu Lisa.
"Kita buktikan saja. Kita tanya atau datangi rumahnya!" sahut Bu Damita.
"Untuk apa Ses. Sudah tidak penting. Buang tenaga! Kita pikirkan saja rencana pernikahan anak kita, Naka kan bekerja di lingkungan pemerintahan kan. Buatkan kami ya!" sahut Bu Lisa
Naka pun mengangguk. Bu Damita dan Alika juga hanya tersenyum ikut saran calon besanya.
__ADS_1
Akan tetapi dalam benak Bu Damita dia masih menyimpan dendam dan ingin memarahi Daka dan Bening. Sebab dia ingat betul ada banyak uang di dompetnya.