Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Adik- adik Abelard


__ADS_3

"Ijin bertanya Ayah..ibu!" sela salah seorang Putra di sebuah meja makan panjang, menyela pembicaraan di akhir makan malam sebuah keluarga besar.


"Hm...," jawab Sanga Ayah memberi jawaban Ya.


"Ini sudah satu bulan lebih Ayah, sejak kita melakukan pencarian Kakak," lanjut Putra itu mengutarakan niatnya.


"Hhh...,"


Sang Ayah, seorang pria paruh baya yang berbadan tinggi besar dengan pembawaan yang tegas dan wajah penuh kuasa duduk di ujung tengah meja mewah berkilauan itu hanya menghela nafasnya, raut mukanya masih tampak kelam tanpa ekspresi.


Pria paruh baya itu pun meletakan sendok makanya.


Para anggota keluarga lain, yang berjejer di samping kanan kiri meja dan saling berhadapan ikut menegang terdiam. Aura mencekam merayap datang.


"Maaf Ayah. Rakyat pasti menunggu. Kita juga perlu memberitahukan berita ini? Orang- orang akan bertanya kemana Kak Abe pergi. Kita harus umumkan kematian Kak Abe. Kita juga harus," sambung Pangeran Adelfino.


"Kak Abe belum meninggal!" sahut Putri Allie menyela walau ayahnya belum menjawab.


Dia Seorang Putri yang parasnya sangat cantik dan anggun yang duduk di seberang Pangeran Ade.


"Aku tahu ini berat Allie, tapi ini sudah lewat dari waktu pencarian. Pangeran Aberald adalah seorang calon pemimpin yang keberadaanya akan dipertanyakan oleh banyak orang di acara perayaan kita nanti. Kita harus memberitahu kenyataanya pada khalayak dan para tamu!" sambung Pangeran Alexander adik dari Ade.


Sang Ayah yang sedari tadi masih diam, belum mau menjawab masih menyimak ketiga Putranya beradu pendapat. Sementara dua istrinya yang duduk di samping kanan dan kirinya saling memandang.


Satu Istri yang terlihat cantik dan muda tampak diam menunduk, dia adalah Ibu Helen. Istri ketiga di keluarga itu.


Sementara Satu Istri yang sama cantik namun terlihat lebih Tua, yang merupakan ibu dari ketiga Putra Putri yang sedang beradu mulut itu tampak gatal dan antusias ikut bicara. Dia adalah Ibu Dewi Hera, istri kedua di keluarga itu.


"Benar apa kata Ale dan Ade, Aile....Suamiku. Apapun yang terjadi dengan Abe, kira harus memberitahu ke semuanya. Abelard mendapatkan kecelakaan dan sampai sekarang belum kita temukan. Ini sudah satu bulan... kita tidak bisa terus merahasiakan apa yang terjadi dengan berbohong pada banyak orang, Suamiku!" sambung Dewi Hera.


"Kakak belum meninggal. Aille yakin Kakak masih hidup!" sanggah Aille lagi.


"Kita bisa umumkan kehilanganya, termasuk melibatkan rakyat untuk mencari Kakak jika memang para pelacak tidak bisa menemukan Kak Abe, Aile!" sahut Pangeran Ale.


"Tapi jas Kakak, sepatu Kaka dan dompet Kaka sudah cukup menjadi barang bukti. Apalagi ada bercak darah di bebatuan itu. Para pelacak sudah menyusuri sungai dan menyatakan Kakak hanyut, ini sudah satu bulan!" sambung Pangeran Ade kekeh ingin mengumumkan kematian Kakaknya.


"Panggil petugas media Istana, besok pagi!" celetuk Sang Ayah menyela dan membuat semua diam.

__ADS_1


"Kalau berita duka ini disampaikan, bagaimana dengan pesta perayaan ulang tahun yang sudah dinantikan rakyat banyak, suamiiku? Hal ini akan mengganggu semua rencana yang sudah disusun dan direncanakan. Rakyat akan berduka. Kita juga harus melakukan upacara hari berkabung?" sela Putri Helena istri ketiga di keluarga itu membuka suara.


Dewi Hera, Ade, Ale, dan Aile langsung diam mengeratkan rahang ke perempuan cantik yang baru satu tahun menjadi anggota keluarga itu tapi cukup banyak menyita perhatian sang Ayahanda, Raja Apollo.


Sementara Sang Ayah, Raja Apo tampak begitu memperhatikan perempuan cantik bak Dewi itu dengan penuh perhatian.


"Benar juga katamu, istriku!" jawab Raja mempertimbangkan.


"Kalau begitu, kita batalkan saja, perayaan besar ini Ayah. Kita menggantinya dengan melakukan persembahan bersama mendoakan Kakak. Kita bisa melakukan amal untuk banyak rakyat dengan uang itu!" jawab Pangeran Ade memberikan saran.


"Jasad, Abe belum ditemukan. Kita bisa mengulur waktu pencarian sampai pelaksaan perayaan pesta dilaksanakan. Rakyat kita sangat menyukai perayaan ini. Kasian mereka jika harus selalu diberita duka. Tidak ada yang tidak mungkin kan? Abe masih hidup?" sambung Putri Helen tetap memberikan pendapatnya.


"Kakak masih hidup!" sahut Aille lagi.


Dewi Hera, Ade dan Ale terdiam menunduk. Mereka sejak awal ingin mengumumkan tentang berita hilangnya Abe anak tertua di keluarga itu sejak awal.


Ade berfikir agar semua orang tahu Pangeran yang digadang diajukan sebagai penerus Raja Apo dalam keadaan bahaya atau bahkan tiada.


Sementara Ale berfikir, ingin mengumumkan agar rakyat mereka bisa mencari keberadaanya. Sebab Pangeran Abe menurut pengawal yang menemukan, mobil masuk ke jurang tepi sungai dan terperosok ke sungai.


Sementara Pendapat kedua Pangeran disanggah oleh Ibu Helena, dengan alasan jasad Abe tidak ditemukan , itu berarti masih ada harapan. Putri Helena memilih mencari dengan anggota tim dari istana serta merahasiakanya.


Dia beralasan jika diumumkan akan merugikan banyak orang juga meresahkan. Apalagi satu minggu sebelum Abe hilang, baru saja disepakati Pangeran Abelard dijodohkan dengan seorang Putri.


Pangeran Abelard adalah Putra pertama, Pangeran Abe terlahir dari Ibu Permasuri yang sudah meninggal.


Sang Ayah kembali diam, dia tidak mau gegabah bertindak. Apalagi Raja Apo juga sangat menyukai perayaan dan pesta.


"Kalau begitu. Jam 09.00 kumpulkan para dewan dan menteri!" jawab Raja Apo menengahi dengan memberikan titah


Ade yang sudah sering ikut dalam urusan pemerintahan tanggap.


"Ya.. Ayah!" jawab Pangeran Ade tidak bisa menolak titah ayahnya.


Raja Appo pun memundurkan kursinya dan segera bangkit dari duduknya. Sang Raja pun meninggalkan meja makan, lalu disusul dua istri dan anak- anaknya.


****

__ADS_1


Di tempat lain di bilik kecil sebuah rumah sederhana seorang perempuan cantik dengan membawa amarah melucuti semua pakaianya.


Setelah semua tertanggal, diraihnya gayung air dan mengguyur tubuhnya cepat dengan gerakan penuh api kemarahan. Dia ingin air itu mendinginkan tubuhnya yang terasa panas.


Sayangnya rasa panas dari api yang tak berupa itu tak kalah oleh guyuran air. Dia masih terus merasa kesal


"Katanya...aku harus lupain Kak Naka dan ikhlasin. Ada aku, aku suamimu, aku akan jadi suami yang baik untukmu. Huh... apa apaan. Kecentilan begitu!" guman Perempuan cantik itu sangat kesal, merutuki suaminya yang memuji kecantikan orang lain.


Bening pun kembali mengguyur tubuhnya.


"Iish....," tiba- tiba bayangan dirinya terbangun dan sedang memeluk dan bersandar dengan nyaman di suaminya datang.


"Hh...kalau dia saja masih centil- centil ke orang, ya udah jangan dekat- dekat aku. Batalkan saja pernikahan ini. Untuk apa juga dia tidur di kamarku?" gumam Bening lagi.


Dia pun kembali mengguyur tubuhnya. Setelah dia selesai mandi, dia pun mengulurkan tangan ke atas dan menoleh ke gantungan handuk di dinding kamar mandi.


"Hoh?" pekik Bening seketika.


Di Gantungan baju yang biasanya dia menaruh handuk otomatis tak ada apapun.


"Dimana anduknya?" gumam Bening panik.


Bening segera menatap ke lantai. Tak ada handuk jatuh, ada di pojok kamar mandi bawah satu ember kecil berisi pakaiannua yang semuanya dia lucuti kasar tadi. Itu juga sudah basah terkena air siraman dia mandi.


"Oh My God. Kenapa aku lupa? Gimana ini?" pekik Bening kemudian tanganya terulur memegang bagian intinya bawah dan kedua aset atas tubuhnya.


Bening kan tadi emosi. Jadi dia masuk ke kamar mandi karena menghindari Daka tanpa ada tujuan dan persiapan untuk mandi.


"Ah.. gimana ini?" gumam Bening lagi berfikir bagaimana dia keluar kamar mandi.


Bening pun menepuk jidatnya.


"Apa iya aku minta tolong Daka. Ish... ck!" Gumam Bening.


"Ehm...," dehem Bening bersiap- siap menurunkan harga dirinya hendak minta tolong ke Daka.


"Dakaa...," panggil Bening lirih.

__ADS_1


__ADS_2