Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kan


__ADS_3

Hati Bening berbunga atas perlakuan Daka, akan tetapi ciuman Daka membuat Bening mati kutu, terdiam membisu dan menyulap Bening menjadi gadis kalem dan penurut.


Betapa tidak, hati Bening berdegub sangat keras, jika digambar atau direkam mungkin gelombang pqrs nya tak beraturan, setelah di jatuhkan oleh Naka, Alika, dan Bu Damita, lalu dinaikan Daka, lalu di hantam lagi dengan datangnya perempuan yang memanggil Daka, Abe. Sekarang Daka kembali mengalirkan listrik daya tinggi dan badan Bening terasa panas dingin.


Bening pun mengikuti Daka pulang. Walau dengan mengayuh sepeda sangat pelan, dan si sepeda tampak kepayahan menyangga mereka berdua, mereka berdua tetap menikmati perjalanan pulangnya.


Melewati jalan menuju ke desa di temani semilir angin, diiringi senandung alam dan bisikan dari daun- daun yang bergoyang mereka berdua berboncengan, tangan Bening pun melingkar ke pinggang Daka, Bening duduk menghadap ke sisi jalan karena jika harus menghadap ke depan kaki Bening akan menyentuh tanah dan tidak nyaman.


Tak ada obrolan di antara mereka, tercipta hening dan mereka hanya bergemuruh dalam hati. Daka ingin segera sampai rumah. Tidak ingin lagi ke kota bahkan tak ingin lagi mengingat keluarganya saat dia tahu ternyata masalalunya sudah bertunangan.


Sementara Bening diliputi keraguan yang banyak. Dia senang Daka pulang bersamanya. Meski begitu, walau Daka tak memperdulikan Gadis itu, tapi Bening ingat, malam itu Daka juga mengigau, ya nama Daka adalah Abe. Entahlah Abe siapa.


Di otak Bening pun berkecamuk dengan banyak prasangka. Siapa Daka sebenarnya. Lalu dia harus bagaimana? Bening bukan orang jahat, Bening tahu bagaimana sakitnya saat orang yang dia cinta lebih memilih orang lain.


Akal Bening tidak mau egois dan menyakiti seseorang yang sudah mencintai Daka lebih dulu. Tapi kenapa hati Bening meronta, terasa sangat perih dan tidak rela jika kehangatan yang baru dia rasa harus pergi. Apalagi Daka terus mengejarnya, bagaimana menyuruh Daka pergi.


"Turun!" ucap Daka kakinya menyanggah ke tanah.


Mereka sudah sampai di depan rumah, tapi Bening tampak melamun.


"Udah sampai ayo turun!" ucap Daka lagi.


"Ha?" pekik Bening.


"Ck...," Daka pun berdecak.


"Udah sampai ternyata?" ucap Bening lalu segera turun.

__ADS_1


Bening menunduk tak berani menatap Daka, dia pun berjalan menuju ke pintu rumah, membuka kuncinya perlahan dan masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, Bening langsung merebahkan dirinya seperti ingin menaruh semua lelah di pundak dan hatinya.


Daka pun mengikutinya, bahkan tanpa ragu ikut berbaring dan kembali membuat jantung Bening berdegub kencang. Bening kaget karena Daka tiba- tiba memeluknya padahal Bening sedang berbaring tengkurap.


"Daka...," pekik Bening hendak mengibaskan tangan Daka yang merengkuhnya


Daka pun membuang tanganya, tapi dia berbaring miring menghadap Bening dan menatap Bening dalam.


"Kamu kenapa sih? Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Apa yang kamu takutkan?" tanya Daka,


"Ehm..., tidak. Aku hanya lelah!" jawab Bening.


"Kamu pergi dan lari karena kamu cemburu kan?" tanya Daka malah tersenyum.


Bening diam tidak menjawab. Bening sendiri tidak mengerti kenapa dia sesakit itu melihat Daka dipeluk orang lain. Padahal seharusnya dia bisa berfikir jernih, bersikap tenang, menanyai siapa gadis itu, siapa dia? Darimana asalnya? Lalu menjelaskan tentang Daka.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa apa kamu tidak penasaran dengan gadis itu? Kenapa kamu meninggalkanya?" jawab Bening malah balik bertanya.


Bening masih berat menjawab iya dia mencintai Daka. Bagi Bening dengan Bening mengijinkan Daka menciumnya dua kali, tidur di kamarnya bahkan sekarang membiarkan Daka memeluknya itu artinya cinta, tidak perlu ditanya.


"Aku tidak ingin ingat, aku ingin tetap jadi Daka! Aku ingin tetap jadi suamimu!" jawab Daka menatap Bening yang ada di depanya, tangan Daka pun terulur membelai rambut Bening.


Bening diam bingung bagaimana harus bersikap.


"Kalau nanti kamu ingat, dan ternyata dia orang yang kamu cinta di masalalu bagaimana?" tanya Bening.


"Sudahlah jangan dibahas! Mungkin dia salah orang. Namaku bukan Abe!" jawab Daka jengkel.

__ADS_1


"Namamu Abe, Daka!" ucap Bening kemudian dengan intonasi yang pelan tapi tegas.


Daka pun terdiam.


"Darimana kamu tahu? Hanya dengan orang memanggilku Abe. Mungkin saja aku memang mirip!" jawab Daka.


"Malam itu kamu pernah mengigau. Kamu seperti merindukan ibumu!" ucap Bening lagi bercerita.


Seketika itu, Daka menelan ludahnya dan menunduk. Daka sendiri takut jika dirinya yang sebenarnya akan terungkap. Tidak bisa dijelaskan, tapi Daka merasa, justru akan ada hal buruk yang datang. Bahkan Daka juga merasa dirinya terjatuh ke sungai dengan luka sayat di lengan juga beberapa luka memar, karena terjadi sesuatu.


"Dia merindukanmu? Mungkin gadis tadi adalah orang yang kamu cinta sebelumnya. Kita juga tidak pernah tahu kisah cinta seperti apa yang kalian jalani!" ucap Bening lagi pelan


Daka semakin diam.


"Satu lagi. Kamu punya keluarga! Dan tempatmu seharusnya bukan di sini! Mungkin kamu orang kaya," ucap Bening lagi.


Daka masih tidak menjawab. Daka malah mengulurkan tanganya, kembali membawa Bening jatuh dalam dekapanya sambil berbisik lembut.


"Keluargaku adalah kamu. Kita sudah menikah kan? Katakanlah ini takdir kita. Kamu yang Tuhan jadikan istri untukku, bukan perempuan tadi. Seperti apapun masalaluku. Sekarang, kamu istriku! Bukankah, banyak orang putus berjodoh sebelum menikah dan itu sebuah kewajaran!"


Bening diam, membalas pelukan Daka. Kini Bening semakin berani menunjukan penerimaanya, dia pun berlindung dan menyandarkan kepalanya di dada Daka, dalam rengkuhan Daka.


"Kamu berjanji kan ucapanmu ini Benar?" tanya Bening.


"Ya!" jawab Daka.


"Terimakasih," ucap Bening.

__ADS_1


"Kamu mencintaiku kan?" tanya Daka


__ADS_2