Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Sigap


__ADS_3

“Ya ampun, Bening kamu ngapain di situ?” tanya Tia kaget saat melihat Bening meringkuk di bawah kolong jembatan sangat dekat dengan arus air.


Tia pun buru- buru turun mendekat ke Bening. Pengawal dan Leon juga langsung terfokus melihat ke kolong jembatan.


Sementar Bening masih bingung dan memperhatikan arus sungai penasaran kemana laki-laki pemancing itu menepi. Kenapa laki- laki itu berani sekali masuk ke air padahal mengatainya bodoh jika menyebut ke sungai.


Padahal dilihat arusnya sepertinya deras, sungainya juga lebar, tidak seperti sungai di tempatnya di dekat peguningan dan banyak belokan batu. Sungai di kota kan landai juga sudah dekat dengan laut.


Rasanya untuk Bening seperti mimpi, apa pria tadi sungguh ada? Tapi alat pancing pria itu masih tergeletak. Lalu apa pria itu meninggal atau selamat, hebat sekali berenangnya?


Bening tidak memperdulikan Tia dan justru tergagap khawatir ke pria itu.


Tia buru- buru turun dan mendekat ke Bening. Begitu sampai, Tia langsung mendekap Bening, sampai Tia terisak.


“Apaan sih?” gumam Bening kaget dipeluk Tia erat.


Tia pun menguraikan pelukanya sembari menyeka air matanya.


“Aku khawatir banget, kamu diculik orang atau dijahati orang lagi. Kamu kok disini? Kamu lagi ngapain. Kalau kamu kepeleset gimana? Bahaya Bening. Kotor juga! Kenapa kamu pergi nggak pamit?” tanya Tia memburu Bening dengan banyak pertanyaan sembari menoleh ke sekeliling, tempat yang mengerikan di bawah kolong jembatan di luar dugaan Tia.


“Bening…,” Leon pun ikut memekik melihat Bening, Leon tampak ikut mendekat tapi diikuti pria berseragam.


Bening pun menoleh, lalu menatap Tia lagi.


“Aku baik- baik saja. Kenapa kamu bilang ke Leon kalau aku bersamamu, siapa mereka?” tanya Bening jadi kesal ke Tia.


Tia menghela nafasnya lalu tersenyum ke Bening.


“Ayo sekarang naik, ada yang harus kita sampaikan ke kamu kenapa ada Leon dan mereka. Kamu harus ikut kita!” tutur Tia pelan merayu Bening.


“Siapa mereka?” tanya Bening lagi.


“Nanti, kamu juga tahu. Ayo cepat naik. Bahaya tahu di sini!” ucap Tia menoleh ke samping, air sungai begitu deras dan hampir sejajar dengan tempat mereka berdiri.


“Akhirnya kamu ketemu juga, Ning. Ngapain kamu di sini! Daka nyariin kamu!”


Sayangnya, Leon malah keceplosan membawa nama Daka, saat Tia dan Bening hendak berjalan ke atas.

__ADS_1


Bening pun terhenti dan menoleh ke Tia.


“Ada Daka di atas?” tanya Bening langsung menatap Tia tajam.


Tia pun langsung mencebik melotot me Leon kesal, tapi juga segera menggelengkan kepalanya.


“Nggak! Nggak ada!” jawab Tia.


“Kamu jemput aku mau nemuin aku sama Daka? Kalian kasih tahu aku dimana ke Daka?” tanya Bening kalap lagi. Bening seperti orang depresi. Sudah tadi kelelahan di tambah mukamya kusam abis menangis sekarang wajahnya tambah kusam karena marah.


Tia pun segera menghela nafas mengangkat tangan meminta Bening tenang.


“Bening, tidak ada Daka di sini, tapi dengerin penjelasanku dulu. Kamu harus tahu siapa Daka sebenarnya. Dan kamu juga harus temui dia!” tutur Tia merayu lagi.


“Temui. Daka?" tanya Bening menegaskan dengan wajah marah.


"Ya. Daka nyariin kamu!" jawab Leon cepat.


Tia langsung menoleh ke Leon memberi isyarat suruh tenang dan diam.


"Tia aku udah bilang ke kamu kan! Kenapa kamu kecewain aku! Aku bilang jangan kasih tahu Leon aku dimana, dan aku nggak mau ketemu Daka lagi!” sahut Bening langsung marah.


“Aku kecewa sama kamu, Tia!” jawab Bening tetap emosi.


Leon yang berhasil turun jadi kesal juga heran ke Bening. Kenapa Bening yang ceria dan bawel jadi aneh dan memprihatinkan begini.


“Bening!” bentak Leon merasa tidak mengenal Bening sekarang.


“Pergi kalian!” jawab Bening tidak kalah emosi.


“Bening… Kamu kenapa sih? Kok kamu begini? Kamu salah paham, ayo kita pulang!" ajak Leon emosi dan keras.


“Pergi nggak kalian, atau aku lompat!” jawab Bening mengancam terpancing emosi juga ke Leon.


"Haish!" desis Tia yang di tengah jadi mengernyit pusing. Kenapa Leon jadi emosi dan tidak sabaran. Bening kan sejak dipukuli Aille seperti trauma dan depresi.


“Astaga Bening. Jangan Lompat. Please tenang dulu." ucap Tia cepat menenangkan Bening. Lalu Tia menoleh ke Leon agar Leon diam dulu. Tia lalu menoleh ke Bening lagi.

__ADS_1


"Bening. Aku minta maaf karena aku kasih tahu Kak Leon. Tapi kamu harus dengerin aku! Daka nggak jahat. Ayo naik dan pulang. Kita ngobrol dulu,” rayu Tia.


“Nggak! Aku nggak mau ketemu Daka titik. Dan cepat tinggalin aku atau aku lompat!” jawab Bening.


Sayangnya Bening tetap kalut dan pikiranya masih belum jernih entah kenapa. Bahkan pikiran Bening jadi tergoda untuk melompat. Bening malah berfikir kalau lelaki tadi berani bertaruh kenapa tidak. Bahkan saat Bening melihat ke ujung sana, Bening berhasil melihat kepala laki- laki itu naik ambil nafas di tepian sungai tapi tetap merunduk.


“Bening. Kamu gila apa gimana sih?” Leon yang dengar ancaman Bening malah jadi emosi dan gemas ke Bening.


"Kaak...," pekin Tia kesal ke Leon.


“Diam kamu. Aku nggak mau ketemu Daka!” jawab Bening lagi.


“Tapi dia suamimu dan kamu harus ketemu dia!” jawab Leon lagi masih terus kebawa emosi.


“Nggak!” jawab Bening ngotot lagi.


“Ish… kamu kenapa sih?” Leon pun benar- benar gemas merasa ini Bukan Bening unah dia kenal.


“Kak Leon diam...jangan gitu!” pekik Tia lagi jadi kesal ke Leon dan menoleh ke Leon.


“Ya Bening ini kenapa sih? Kok dia jadi bodoh gini? Pikir coba, diangapain di sini kaya orang gila!” omel Leon tidak paham.


“Jaga omongan Kakak!” jawab Tia lagi.


"Dia kerasukan setan apa gimana sih?" tanya Leon


Leon dan Tia malah jadi beradu pendapat.


Dan Byurr…


“Bening…,” pekik Leon dan Tia.


Bening sungguh ikut masuk ke sungai menyusul pria yang lompat tadi, entah apa yang Bening pikirkan, tapi Bening merasa kesal ke Tia dan Leon.


Spontan, Leon ikut masuk ke sungai dan berenang mengejar Bening, para pengawal pun ikut sigap turun saat melihat Leon dan Bening masuk ke sungai.


Sementara Tia memekik kaget dan menangis hiteris.

__ADS_1


"Bening....,"


__ADS_2