Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tega


__ADS_3

Ibu Tiri Bening memandang Bening seperti orang asing dan orang lain. Seakan Bening hendak meminta atau merebuta uangnya. Padahal Bening diam dan tidak melirik sedikitpun ke uang ayahnya yang seharusnya ada hal Bening dan mendiang ibunya.


Ibu tiri Bening langsung memasukan uang ke dalam kotak brangkasnya, membereskan catatanya dan masuk ke kamar meninggalkan Bening sendirian di depan televisi menunggu ayahnya. 


“Semoga aku tidak menyesal dan tak ada hal buruk aku pulang ke sini,” batin Bening mengepalkan tanganya. 


Bening tahu setiap kali di rumah rasanya hanya ingin menyerah hidup. Itu sebabnya dia lebih baik pulang ke kontrakan kecilnya. Tapi Bening memang sudah lama tidak pulang, dia juga ingin tahu kabar ayahnya. 


Seperti tamu asing walau di rumah ayahnya sendiri, Bening menunggu di sofa ruang televisi. Sesaat ingatan Bening terhenti pada sosok pria menyebalkan itu. 


“Ya Tuhan? Dia pergi nggak yah? Apa jangan- jangan masih tetap di rumah. Aku kan masaknya dikit, dia sudah makan apa belum? Dia masih sakit kan? Hoh... sebenarnya kasian, tapi dia menyebalkan. Ah masa bodo, dia bukan siapa- siapanya aku?” batin Bening lagi.  Dia baru ingat kalau di kontrakanya ada orang lain. 


Sesuai kata Ibu tirinya, selang beberapa menit, terdengar suara motor terparkir di depan rumah Bening. Bening pun siaga menanti pintu ruang depan terbuka.


Bening menanti sesosok laki- laki yang belasan tahun lalu, selalu memberikan uluran tangan kekarnya, mengangkatnya dan membiarkan Bening bergelayut manja padanya.


Walau kasih sayang itu sudah pudar dan menjadi milik orang lain, tapi Bening masih rindu hangatnya kasih sayang laki-laki yang dia panggil papah itu. 


Mungkin sekarang bukan lagi uluran tangan kekar dan dada hangatnya. Tapi Bening berharap masih mendapat tatapan dan suara merdu dengan penuh kasih menanyakan kabarnya dan bersua dekat, berbicara dari hati ke hati.


“Ceklek!” pintu itu terbuka.


Benar, Papa Bening pulang dia juga membawa bingkisan makanan. Dari baunya tercium aroma lauk ayam goreng.


“Papah,” sambut Bening berdiri. 


“Gita...Syukurlah kamu pulang? Sudah lama?” jawab Papa Bening, 


“Baru Pah,” jawab Bening mendekat dan mengulurkan tangan ingin bersalaman. 


“Tangan papah kotor, dan bawa makanan, mana Mamah dan adik- adikmu?” tanya Papa Bening menolak bersalaman malah menanyakan orang lain yang setiap hari bersamanya. 


“Tante ke kamar, sejak Gita datang, adik- adik sudah di kamarnya juga,” jawab Bening kecewa.


Semua yang Bening harapkan dari ayahnya tak dia dapatkan, bahkan Bening ingin mencium tanganya saja tidak bisa. 


“Oh... tunggu ya. Papa mau ngomong!” ucap Papa Bening singkat, tapi langsung berlalu membawa makanan ke belakang dan tampak mencari istrinya. 


Bening menghela nafasnya membuang kecewa. Seketika itu kaki yang menopang tubuhnya lemas.


Dia sudah satu bulan tidak pulang, kenapa ayahnya tak menanyakan kabarnya. Tapi Papahnya malah menanyakan istrinya yang jelas dia tahu bagaimana keadaanya.


Bahkan walau papahnya membawa makanan, dia bawa masuk begitu saja. Tidak ditawarkan pada Bening. 


Bening menunduk menelan ludahnya dan kepalanya penuh terka. Apa dia begitu tidak berharga? Apa dia bukan anak kandungnya? Apa yang hendak papanya sampaikan? 


“Semoga, papah nggak bilang hal aneh- aneh? Semoga tidak ada hal buruk yang menimpaku.” batin Bening berharap. 


Tidak lama, Papahnya keluar, tapi tidak sendirian, melainkan bersama istrinya. Hati Bening mendadak tidak enak, jika bersama ibu tirinya sepertinya bukan hal baik. 


Mereka berdua kemudian duduk dan mendekat ke Bening, menatap Bening dengan tatapan tajam seperti hendak menyidang Bening. 

__ADS_1


“Gita...,” panggil Papa Bening. 


“Ya.. Pah!” jawab Bening. 


“Papah udah dengar kamu kalah di perlombaan dan Alika yang menang, Papah berharap kamu berbesar hati menerimanya,” 


“Iya, Pah. Aku nggak apa- apa kok! Aku senang Alika yang menang,” jawab Bening berpura- pura, Bening tidak baik- baik saja. Bening terluka, Bening hanya membohongi diri untuk terlihat terbiasa dan berdamai dengan keadaan.


“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” 


“Lancar, Pah!” 


“Berapa gajimu di sana?” tanya Papa Bening lagi. 


Bening sedikit mendongak, ada harapan indah, papahnya menanyakan gaji Bening Apa Papanya akan perhatian dan memintanya pulang, karena Alika akan di karantina dan menjadi penari di Istana. Lalu memperhatikannya. Seperti memasrahkan satu tokonya mungkin.


“700 ribu Pah!” jawab Bening cepat.


Bening ingin memberitahu Papahnya kalau gaji anaknya dengan gaji ART di rumahnya lebih besar dia menggaji orang lain.


Seharusnya Bening bisa memilih kerja pada ayahnya. Tapi kalau Bening kerja pada ayahnya lebih parah, tidak dikasih uang dan kata ibu tirinya itu kewajiban anak membantu orang tuanya. Padahal kan Bening butuh uang untuk pulsa, jajan dan perawatan dirinya. Itu sebabnya dia memilih kerja ikut Leon jadi wiyata bakti penjaga museum.


“Dengan uang segitu? Kamu bisa bertahan hidup?” tanya Papa Bening lagi. 


“Sebenanrnya kurang. Tapi Gita atur agar cukup. Gita makan seadanya dan tempat kerja Gita dekat, jadi kalau berhemat cukup!” jawab Bening lagi mengiba. Bening sangat berharap ayahnya peduli.


“Papah ingin hidup kamu lebih, baik dari ini Nak!” tutur Papa Bening lagi tepat seperti yang Bening harapkan.


“Papah dan mamahmu punya solusi untukmu!” tutur Papa Bening kemudian. 


“Ya Pah! Apa?" jawab Bening dengan mata berbinar.


“Menikahlah!” ucap Papah Bening. 


“Hah?” pekik Bening kaget, semangat dan harapanya yang sudah menggunung runtuh seketika. 


“Tuan Barri, teman Papah yang punya bank keliling itu, tau kan?” sambung Ibu tiri Bening. 


Bening melotot mendengar nama itu. Tuan  Barri seorang berumur, dia memang kaya karena punya dua toko bangunan dan sebagai rentenir. Tapi dia sudah berumur 40 tahun dan menikah dua kali. 


“Dia baru menceraikan istrinya dan mencari istri lagi. Kalau kamu mau, hidupmu akan enaak Gita. Kamu tetap menjadi istri satu- satunya. Juga menjadi Nyonya besar,” sambung Ibu Tiri Bening. 


Seperti di hantam gulungan api. Bening semakin sakit, panas dan terbakar. Hatinya luluh lantak tidak bisa dijabarkan.


Jahat sekali ayah dan ibu tirinya, ingin menikahkan Bening dengan pria berumur. Pada Alika mereka mengupayakan masa depan terbaik dengan kuliah.


Bendungan kokoh yang Bening bangun tak kuat menopang lagi, bagi Bening ini sudah keterlaluan, sangat.


Bening tidak menjawab dan hanya bisa menatap ayahnya dengan mata nanar melelehkan air mata. Hatinya meronta berharap masih ada setitik kasih dalam pancaran tatapan mata ayahnya. 


“Itu sih kalau kamu mau!” sahut Ibu Tiri Bening. 

__ADS_1


Bening menggelengkan kepalanya.


“Papah dan Tante tega sekali ke Gita, Pah?” tanya Bening lirih dan terbata.


Papa Bening tampak tersendat merasa bersalah. Dan Bening menyeka air matanya menunduk. 


“Gita anak Papah kan?” tanya Bening lagi. 


Jika ayah Bening tampak bingung dan menelan ludahnya, entah hatinya terketuk atau malu tak bisa berkutik.


Berbeda dengan ayahnya, Ibu tiri Bening langsung menatap Bening dengan tatapan menusuk. 


“Kok malah bilang begitu dengan Papamu? Kami orang tuamu. Kami memikirkan masa depanmu. Tuan Barri itu terhormat dia juga duda, bukan suami orang. Hidup kamu akan terjamin! Dia juga gagah. Dimana salahnya? Dia pernah melihatmu dan juga menyukaimu!” jawab Ibu Tiri Bening.


“Tapi itu bukan solusi Tante? Umur kami terlalu jauh, Gita tidak mencintainya, Gita juga punya mimpi dan Gita masih ingin mengejar cita- cita Gita! Bukan menikah dengan duda dua kali dan berumur!” jawab Gita melawan ibu tirinya berderai air mata. 


Ibu Tiri Bening tersenyum pias mengejek Bening. 


“Cita- cita apalagi yang ingin kamu kejar. Nilai akademismu pas-pasan tidak seperti Alika. Kamu bodoh. Menari? Lihat saja, kamu kalah kan? Kalaupun mengurus toko, pasti kamu nggak bisa? Yang ada nanti kamu gulung tikar? Kamu mau bekerja di toko papahmu sendiri? Itu malu- maluin Papahmu! Mau kamu jadi benalu dan beban di rumah ini?" omel Ibu tiri Bening lagi, sangat merendahkan Bening. 


Padahal Bening nilai ujian jelek karena tidak ada kesempatan dia untuk belajar semasa sekolah. Bening hanya bisa menghela nafasnya menahan perih atas sayatan tajam ibu tirinya.


“Mamahmu, benar Bening. Kamu akan hidup enak jika menjadi istri Tuan Barri, kamu hanya tinggal menuruti perintahnya!” sambung Papa Bening. 


“Satu lagi!” sambung Ibu tiri Bening. “Kamu juga bisa bantu papahmu dan adik- adikmu, Tuan Barri akan bantu Papahmu buat toko baru kalau kamu mau jadi istrinya,” 


“Tidak!” jawab Bening tegas menolak. Bening tidak bodoh dan tidak mau hidupnya menjadi tumbal ibu tiri dan adik tirinya. 


“Hhhh...,” Ibu tiri Bneing langsung menghela nafas kesal. 


“Gita nggak mau. Gita mending kerja di museum saja! Gita akan bahagia dengan jalan Gita sendiri!” jawab Bening bertekad. 


Ibu Tiri Bening tersenyum mengejek lagi.


“Dasar, anak tidak tahu diuntung. Dipikirkan dikhawatirkan, diberikan solusi biar hidupmu mulia malah memilih jalan menderita. Jangan salahkan kami ya, kalau kamu jadi perawan tua, dan hidupmu miskin jadi penunggu museum!” omel Ibu tiri Bening lagi. 


Bening tidak menjawab lagi, hanya bisa meneteskan air mata dan tanganya mencengkeram ujung bajunya. 


Ibu tiri Bening sangat marah dan kemudian bangun meninggalkan Benig


“Papa harap kamu bisa berfikir ulang Nak,” tutur Papah Bening pelan, tapi sangat menyakiti hati Bening. 


“Tidak!” jawab Bening tegas tetap menolak. "Bening tidak akan menjadi perawan tua. Papah lihat saja nanti!" jawab Bening lagi.


Papahnya menelan ludahnya menatap getir anak sulungnya. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Papah Bening sudah menjadi tawanan yang tersihir oleh segala tipu daya keindahan ibu tirinya. Ibu tiri Bening memang cantik.


“Ya sudah kalau itu pilihan kamu, Papah nggak maksa!” jawab Papah Bening. “Maafkan Papah,” tutur Papa Bening, lalu menoleh ke istrinya dan kemudian ikut bangun mengekor masuk ke kamar. 


Bening membiarkan papahnya memilih ibu tirinya.Kini Bening sendirian di depan televisi. 


“Mamah...,” lirih Bening dalam hati. “Seharusnya saat itu aku ikut Mamah pergi ke surga?” batin Bening putus asa dan tidak sanggup lagi menahan sakit atas perlakuan ayah kandungnya. "Aku harus bagaimana? Aku tidak mau menikah dengan lelaki tua itu?"

__ADS_1


Waktu sudah menunjukan pukul 9 lebih, walau sangat ingin pulang ke kontrakan tapi tidak memungkinkan. Bening kemudian merebahkan dirinya di sofa dan tidur di situ. 


__ADS_2