
“Daka...,ish.. udah sih, ayo bangun!” keluh Bening dengan suara serak basahnya, berusaha mengurai tangan Daka yang nakal.
“Mmm...,” bukanya bangun Daka justru semakin merapatkan tubuhnya dan tangannya melawan kuat tangan Bening.
Di kamar yang sempit dalam kontrakan mereka yang kecil di tengah desa pinggir sungai itu, mereka berdua masih berlindung di bawah selimut bulu dengan corak beruang berwarna coklat yang Bening beli di sebuah supermarket. Setelah mereka beradu semalam, mempraktekan ilmu reproduksi yang otodidak mereka pandai melakukanya, mereka belum berpakaian sama sekali.
“Daka...! udah... ih geli!” keluh Bening lagi karena tangan Daka terus usil bermain di bola bulat milik Bening.
“Semalam suka...,” goda Daka nakal.
“Ih, tapi sekarang beda!” ucap Bening kali ini mengerahkan tenaganya untuk mencekal tangan Daka.
“Daka dengerin! Kita harus kerja, ingat uang kita udah mau abis, harapan kita ada di dagangan yang di Bu Maria!” bentak Bening keluar sifat matrenya.
“Gleg!”
Daka pun langsung terdiam dan muka yang tadinya garang langsung padam. Berubah tak ubahnya manusia yang ditunjukan kelemahanya dan menyadari semua itu.
“Hmmm... ya!” jawab Daka berdehem langsung menciut nyalinya, tanganya pun mengendur dan dia tarik.
Bening ikut diam, lalu balik badan dan menghadap ke Daka, menatapnya dengan penuh sayang.
“Hhh.., kita nggak boleh malas, mengerti?” ucap Bening.
“Ya!” jawab Daka mengangguk dan mengulum lidahnya mengerti.
“Udah ayo, bangun!”
“Makasih ya!” ucap Daka.
Bening mengangguk tersenyum, dan Daka langsung mengecup kening Bening. Setelah itu, Daka pun bergegas menyingkap selimutnya, bahkan bangun lebih dulu dari Bening dan segera mencari pakaianya. Daka pun mengenakan satu persatu pakaianya lalu mandi.
Bening yang membangunkan malah lebih akhir, sebab Bening tak seberani Daka yang berjalan begitu saja. Bening menggunakan selimut untuk membungkus tubuhnya bangun, dan memunguti pakaianya.
Sambil menunggu Daka mandi, Bening merebus air.
“Hhh...,” Bening pun menghela nafasnya.
Ternyata semalam Daka menghabiskan semua bahan makannya. Bening melirik ke pintu kamar mandi. ”Pantas saja rasanya enak, semua bumbu dihabiskan, bahkan garam dan gula nggak sisa, oke fiks pagi ini nggak sarapan,” gumam Bening berdiri sembari memegang keningnya.
Bening kemudian hanya merebus air saja. Lalu memilih menyapu.
Tidak lama, Daka keluar masih dengan wajah tenang dan rahang tegasnya yang membuat dia selalu terlihat gagah. Sementara Bening sembari menyapu terus mengkerucutkan bibirnya manyun.
Dengan santainya Daka melempar handuk ke Bening meminta Bening segera mandi, niat Daka bercanda mesra. Akan tetapi Bening yang sedang kesal karena ternyata Daka menghabiskan semua stok, bawang, gula dan garam tidak respon dan cemberut.
“Hei... sama suami dilarang melotot!” ucap Daka. “Mandi sana!” lanjut Daka melihat Bening no respon dan hanya menatap bahkan dengan emosi.
Bening hanya menghela nafas dan menatap Daka kesal, mau marah tapi tidak bisa, sebab dia sendiri melahap nikmat masakan Daka. Bening hanya menyambar handuknya dan berjalan dengan menghentakan kaki, ke kamar mandi.
Daka jadi terheran dan memperhatikan Bening dengan seksama.
“Dia kenapa? Apa dia marah padaku? Perasaan semalam dia juga menyukainya, bahkan dia senyum- senyum senang dan nagih. Dia terlihat bersemangat dan menyukaiku, kenapa pagi ini, kembali jadi nenek lampir menyebalkan begitu sih?” gumam Daka menggaruk kepalanya.
Daka masih tidak berfikir apa kesalahanya. Daka masih tidak berfikir jangka panjang bagaimana cara bertahan hidup, juga mempertahankan uang agar hari ini bisa makan, besok masih bisa makan dan seterusnya.
Daka malah berlenggang santai sembari bersiul, semangat hidupnya full dengan hormon ke bahagiaan. Dia pun langsung ke kamar, bersiap- siap dan menyisir rambutnya, memastikan rupanya yang tampan sudah segar siap bekerja menjemput uang yang dia titipkan di Bu Maria.
Setelah merasa cukup, Daka pun ke depan menunggu Bening keluar dari kamar mandi. Di meja depan televisi pun, sudah tersaji dua cangkir minuman. Daka bersemangat membukanya.
__ADS_1
“Dia benar- benar seperti Sang Dewi penyelamat yang Tuhan hadiahkan untukku,” gumam Daka senang mengira Bening sudah menyiapkan minuman manis seperti sebelumnya.
Daka dengan cepat dan bersemangat mengambil cangkir itu dan membuka tutupnya.
“Gleg!”
Sayangnya begitu dibuka dan Daka hendak menghirupnya, Daka langsung menelan kecewa karena yang ada di cangkir itu hanya air putih panas.
“Kok Cuma air putih? Biasanya teh? Jahe? Atau susu, atau kopi?” gumam Daka mengeluh kecewa.
Daka kemudian menoleh ke belakang, dan terlihat Bening berjalan dengan rambut basahnya masuk ke kamar tanpa menoleh ke Daka.
“Kok air putih doang!” protes Daka.
“Terus mau kamu apa?” tanya Bening dari dalam kamar.
“Biasanya ada warna dan rasanya?” ucap Daka lagi.
“Kerja, makanya! Gula mahal” jawab Bening singkat dengan nada judes.
Mendengar semua tuntutan Bening tentang kerja terus, Daka pun tidak menjawab lagi. Daka kan juga sudah bekerja keras terus. Ternyata Bening belum berubah masih terus mengingatkan tang uang.
Ya, Daka kan sudah bekerja membantu Bu Maria memungut sampah, meski memang hasilnya sedikit dan baru memberi Bening dua kali. Itu saja untuk modal mereka jualan. Mereka baru saja memulai kemarin dan uangnya langsung ludes. Hanya tersisa yang di Bu Maria entah berapa.
Daka diam menerima.
“Okelah, air putih pun tak apa, ini akan menjadi air ternikmat buatku,” gumam Daka masih tersenyum menyadari situasi sekarang, Daka memang dipaksa untuk menerima, tidak bisa protes. Meski hatinya merasa situasi sekarang, situasi yang baru dia rasakan dalam hidupnya, berat.
Daka pun menyeruput pelan minuman itu. Sementara Bening yang marah – marah, tapi tidak digubris Daka jadi penasaran. Bening kan ingin dijawab dan direspon. Bening pun berdandan cepat dan segera keluar kamar.
“Hmmm...,” dehem Bening.
“Makasih ya, udah sediain minum,” ucap Daka masih berusaha merayu Bening dan bersikap manis agar Bening tetap sabar dan menyenangkan.
“Uang kita habis untuk modal usaha kita kemarin, masih sisa sih, tapi untuk ongkos kita bekerja. Bahan makanan juga sudah kamu habiskan. Setelah ini nggak ada cerita makan pakai lauk. Kita harus segera dapatkan jalan dapat uang, mengerti!” ucap Bening memberitahu.
“Iyaa.. setiap hari kamu selalu berkata ini padaku. Aku kan juga kerja terus tiap hari! Tenang aja!” jawab Daka tersenyum dan menenangkan Bening.
Walau sebenarnya dalam hati Daka juga membatin dan otaknya mulai berfikir. Kemarin- kemarin Daka mendapatkan uang lebih itu, masih dengan menjual barang berharganya dan hasil copetanya. Uang dari bekerja sangat sedikit. Dan sekarang sudah hampir habis, tinggal berapa ribu.
“Masalahnya pagi ini, kita sudah tidak punya bahan makanan untuk makan, nggak ada sarapan untuk kita!” ucap Bening memberitahu.
Daka mengangguk dan menelan ludahnya dengan sorot wajah dan matanya merasa bersalah.
Kenyataan saat ini menamparnya tentang hidup yang nyata yang sedang dia hadapi, dia sekarang miskin tak punya modal bekerja lebih. Untuk melindungi Bening dan membahagiakannya, tidak cukup dia meniduri dan memberikan kenikmatan surgawi, tapi juga memberi makan Bening. Dengan semua kekurangan yang ada di dirinya dia harus berusaha keras. Apalagi Bening kini tidak bekerja lagi.
“Oke... kita beli sarapan bersama!” ucap Daka tetap percaya diri bertanggung jawab.
“Kamu masih punya uang?” tanya Bening.
“Masih,” jawab Daka berusaha tetap tenang agar Bening tak khawatir dan marah.
“Oke.. ayok!” jawab Bening tersenyum senang dan bersemangat.
Mereka pun bergegas keluar rumah dengan sepedannya.
“Kita makan dimana?” tanya Bening di perjalanan.
“Warung nasi dekat pasar yang waktu itu, dekat pertigaan!” jawab Daka ingat tempat makan saat dia mentraktir Leon.
__ADS_1
“Kamu punya uang berapa?” tanya Bening lagi.
“Ada dua puluh ribu kalau nggak salah!” jawab Daka.
“Tinggal itu? Hanya itu?” tanya Bening tercengang.
“Iya!” jawab Daka tanpa rasa bersalah.
Bening pun langsung mencubit pinggang Daka sekuatnya.
“Auh.. kok nyubit, nanti jatuh!” jawab Daka.
“Belok, jangan beli di sana. Nggak cukup!” ucap Bening meminta, Daka mengubah tujuanya.
"Kok gitu!"
"Udah ikuti kataku aja!" ucap Bening.
Daka yang sedang dimabuk cinta istrinya pun mengikutinya. Bening mengarahkanya membeli makanan di penjual gerobak ibu- ibu yang lebih murah.
Dengan segala penerimaan rasa syukur dan cintanya. Bening pun membeli sarapan dengan harga paling murah, satu bungkus nasi sayur dan kerupuk tanpa lauk. Mereka pun berteduh di bangku bawah pohon dekat taman. Mereka makan berdua.
“Hanya ini?” tanya Daka spontan tanpa rasa bersalah, sifat asli Daka keluar, hatinya seperti tidak terima dan tidak tega makan hanya lauk seperti itu.
“Kita tidak tahu, berapa uang sisa di Bu Maria. Makan seadanya atau besok kita tidak makan!” omel Bening ke Daka
"Yaya...!" jawab Daka.
"Bersyukur kita masih bisa makan!" ucap Bening lagi.
"Ya...," jawab Daka
Mereka kemudian memulai makan bersama, Bening meminta nasi lebih banyak berharap mereka akan lebih kenyang walau hanya dengan kerupuk
Awalnya Daka menelan ludahnya ragu, dan menatap Bening dengan penuh cinta. Bening tampak sangat tenang dan menikmati makanan itu dengan lahap.
Walau Bening cerewet tapi rupanya dia gadis yang pandai bersyukur, menerima Daka apa adanya. Walau tak dapat menangis, tapi hati Daka teriris melihatnya, Daka pun memelankan makananya dan membiarkan Bening makan lebih banyak. Daka pun bertekad lebih semangat lagi menjadi laki- laki berguna. "Tapi bagaimana caranya?"
"Kenapa liatin aku gitu? Cepat makan. Habis ini, aku ikut kamu ya!" ucap Bening di tengah makanya.
"Udah kamu pulang aja!" jawab Daka
Selama ini, Bening belum Daka beritahu kalau dia bekerja sebagai pemulung sampah.
"Nggak aku mau ikut. Aku mau ikut kerja. Siapa tahu aku bisa bantu!"
"Kasian kamu capek!"
"Pokoonya ikut, titik!" ucap Bening
Daka pun tidak menolak dan menyetujui.
****
Di tempat lain
"Di sini tempatnya?" tanya Putri Aille kaget
"Orangku mengikuti perempuan tua yang bersamanya. Mereka bilang tinggal di sini!" jawab Putri Camelia
__ADS_1
"Kamu yakin Kak Abe tinggal di tempat seperti ini?" ucap Putri Aille lagi kaget melihat tempat kumuh.
"kamu lihat saja nanti. Kita juga harus sadarkan Pangeran Abe. Untuk pulang bersama kita!" jawab Putri Camillia lagi.