Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Hutang.


__ADS_3

Ada sesak di dada Daka  melihat setiap tetes air mata Bening yang mengalir, rasa sesak itu yang menghimpit rasa takutnya.


Tidak peduli apa respon Bening dan  bagaimana jadinya, saat Bening menarik kayu pegangan pel, Daka menarik Bening  ke pelukanya dan melepaskan gagang itu. 


“Hap...,” Bening tersentak, kaget. Tiba- tiba dengan cepat dia masuk ke dalam dekapan Daka.


Daka tak mengucap sepatah katapun hanya memaksa Bening bersandar di dada tegapnya. 


“Kamu...,” pekik Bening setelah terdiam sesaat dan sadar. 


Daka malah nekad mengencangkan pelukanya mengunci Bening. 


“Diam!” Daka malah membentak Bening. 


“Kamu jangan kurang ajar ya!” Bening berusaha menolak. Bukanya tenang, Bening jadi marah dan sesak.


Daka masih nekat. 


"Ih lepas!" jerit Bening berontak.


Daka pun melepaskan.


"Kamu gila ya!" omel Bening hendak menampar, tapi tanganya dicekal Daka kencang sampai pegal.


"Jangan salah paham!" ucap Daka dingin lalu menurunkan tangan Bening.


"Kamu bilang jangan salah paham? Pergi dari rumahku!" omel Bening salah paham.


"Tidak akan!" jawab Daka lagi.


"Whoa?" pekik Bening geram.


"Kamu jangan GR. Aku memelukmu, bukan untuk kurang ajar!" ucap Daka kemudian.


"Aku tidak mau dengar. Aku tidak mau tahu. Aku nyesel nolong kamu. Cepat pergi dari rumahku!"


"Aku khawatir kamu mati kalau aku pergi!" celetuk Daka lagi, masih dengan eksprei datar.


Dimarahi dan diusir bukanya tahu diri malah mengejek Bening dengan tanpa ekspresi. Tentu saja ucapan Daka semakin membuat Bening mendidih dan naik pitam.


"Aku? Bunuh diri?" tanya Bening melotot.


“Aku tahu kamu patah hati dan rapuh. Nggak usah sok tegar!"


"Apa maksudmu? Ingat jangan suka ikut campur!" jawab Bening tersinggung.


"Kamu jangan keras kepala? Kamu pikir kamu peri atau cenayang, sore- sore begini bermain di sungai? Kalau ada ular bagaimana? Kalau datang air bah bagaimana? Apa kamu mau mati? Hah!" omel Daka.


"Aku malah khawatir kalau aku pergi, terus sendirian. Bahkan tiap malam kamu mengigau menangis. Kamu butuh teman kan?” tanya Daka lagi.


Seketika itu Bening terdiam, menelan ludahnya, menunduk. Ternyata Daka suka dengar Bening menangis. Benar kata Daka, Bening memang ingin mati. Bening kemudian mengangkat wajahnya menatap Daka.


Daka menatap balik Bening.


“Bersandarlah jika kamu ingin bersandar, menangislah jika kamu ingin menangis, kamu tidak perlu memendamnya sendiri! Jangan terlalu keras pada tubuhmu” ucap Daka dingin, dan merentangkan tanganya.

__ADS_1


Bening semakin membeku, perkataan Daka semakin mengorek luka di hati Bening. Bening memang sangat ingin menangis, hatinya kacau.


Dia memang merasa sangat rapuh dan tidak tahu kemana arah dia akan berjalan ke depanya. Walau ragu, Bening tidak beranjak dari tempatnya masih di depan Daka. 


"Aku tidak tahu seperih apa lukamu di masalalu dan masalahmu. Tapi setidaknya kamu tahu siapa kamu. Kamu bisa tahu siapa yang baik dan jahat ke kamu. Kamu masih bisa membedakan arah jalan dan tujuanmu ke depan. Kamu tidak lihat aku?  Jangan kan tujuan ke depan. Diriku siapa saja aku tidak mengerti? Bagaimana aku akan hidup nanti?" ucap Daka.


Bening tercekat meresapi kata Daka.


"Menangislah kalau memang itu bisa meringankan bebanmu! Kita masih bisa bernafas kan? Berarti kita belum berakhir!" omel Daka lagi.


Bening meresapi kata Daka. Kata Daka benar, Bening masih punya harapan.


"Tapi bukankah menyenangkan jika kita bisa melupakan semua kejadian buruk kita di masalalu? Luka kita akan sembuh seketika. Aku malah ingin!" celetuk Bening.


"Apa kamu sedang mengajakku bertukar nasib? Kamu pikir enak menjadi sepertiku. Harus jadi benalu untukmu seperti aku sekarang. Apalagi aku sekarang diusir sama kamu!" jawab Daka lagi menyindir.


"Ehm...," Bening jadi berdehem kerasa.


"Makanya jangan usir aku!" celetuk Daka.


Bening diam.


"Kenapa kamu selalu menangis setiap malam?" tanya Daka kemudian.


"Kepo!" jawab Bening tidak ingin bercerita.


"Bukan kepo? tapi itu mengganggu. Bagaimana keluarga pacaramu menerimamu kalau tahu kamu suka mengigau!" ejek Daka.


Bening langsung menoleh cemberut dikatai Daka.


"Kenapa kamu tinggal di kontrakan sempit ini? Kulihat saudara tirimu kaya? Kamu masih punya orang tua? Kenapa kamu suka mengigau memanggil ayah dan mamahmu?" tanya Daka kemudian.


Kali ini pertanyaan Daka cukup menyentil Bening. Hal paling sensitif di hati Bening adalah jika diingatkan tentang papah mamahnya.


Seketika itu, air mata Bening kembali tumpah, Bening memang buntu, tidak kuat memendam cerita luka di hidupnya sendirian.


Bening menunduk meneteskan air matanya. Melihat Bening menangis, Daka pun mendekat. Kali ini tidak memeluk, tapi Daka reflek, menggerakan tanganya dengan ritme pelan menepuk bahu Isyana.


"Maaf..," ucap Daka


Mendengar kata maaf dari Daka, Bening semakin melow. Akhirnya kali ini, Bening bukan hanya terisak, tapi meraung menumpahkan semua sedihnya ke Daka. 


Daka tidak lagi ngomel dan menjadi pendengar yang baik membiarkan Bening meluapkan emosinya.


Setelah nafas Bening terdengar terengah- engah dan tersendat, Daka mengajak Bening duduk dan memberinya tisu. Lalu mengajaknya ngobrol.


“Sudah lebih lega kan?” tanya Daka. 


“Sshh...,” karena menangis kencang Bening kemudian mengeluarkan ingus. “Kenapa kamu baik ke aku?” tanya Bening kemudian. 


“Karena aku berhutang padamu!” ucap Daka lugas. 


“Hoh...!” jawab Bening terbengong mendengar alasan Daka, tidak mau membahas alasan Daka. Daka mengalihkan pembicaraan.


“Apa pria tadi itu pacarmu?” tanya Daka kemudian. 

__ADS_1


“Bening mengangguk!” 


“Hhhh...,” Daka menghela nafasnya. “Apa kamu menangis karenanya? Apa adikmu juga menyukainya?” tanya Daka lagi. 


Bening mengangguk lagi.


"Cinta segitiga?" tanya Daka lagi.


Bening terisak kemudian menoleh ke Daka.


"Aku tidak kenal siapapun. Cerita saja, aku tidak akan bocorkan rahasiamu!" ucap Daka lagi.


“Kak Naka cinta pertamaku," ucap Bening akhirnya mulai mau bercerita.


Daka pun mendengarkan dengan seksama


"Kak Naka idolaku, bertahun- tahun aku memendam perasaanku, aku sangat bahagia saat dia ternyata punya perasaan yang sama. denganku. Dia harapanku? Tapi kenapa semua ini menimpaku? Aku nggak ikhlas jika Alika merebutnya. Aku nggak bisa lepasin dia aku nggak bisa lupain dia!” rengek Bening mencurahkan perasaanya. 


“Isshh...,” Daka kemudian hanya mendengus dan mencucu mendengar Bening segitu bucin ke Naka. “Memang berapa lama kamu jadian denganya sampai kamu segitunya?” tanya Daka. 


Bening tampak menggigit bibirnya ragu, takut dikatai Daka.


“Hari ini, hari ketigaku kamu jadian!” jawab Bening lirih.


“What?” pekik Daka. Seperti dugaan Bening Daka seperti ingin mengejek.


“Jangan lihat hari kami jadian. Kak Naka emang ungkapin perasaanya kemarin. Tapi kita udah kenal lama. Udah banyak yang kita lalui bersama. Dan kamu tahu? D8a tadi siang itu ajak aku belanja, aku dibelikan baju, cincin sendal, aku seneng banget. Kata dia, dia mau lamar aku, ngerti nggak sih? Kami serius!" ucap Bening menggebu bercerita berharap Daka mengerti perasaan Bening.


Daka mengangguk- angguk. 


“Ya sudah, terus kamu mau gimana? Orang tua kekasih idamanmu itu nolak kamu? Kamu masih tetap mau perjuangin cintamu? Calon mertuamu begitu? Kaya nenek sihir!” ucap Daka mencibir.


Bening ikut mencebik.  


“Tapi aku nggak bisa lupain Kak Naka, aku nggak mau kalah terus dari Alika” ucap Bening lagi.


“Kalah terus?” 


Bening pun cerita kalau Bening sekitar 2 minggu lalu, lebih tepatnya saat menemukan Daka, Bening baru saja pulang membawa kekalahan karena kakinya cedera. 


“Oooh..,” Daka pun hanya mengangguk.


Bening juga cerita siapa Alika. Daka pun mulai menebak.


"Nasibmu memang menyedihkan ternyata!" komen Daka malah mengejek Bening.  


“Kamu menghinaku?” bentak Bening lagi.  


“Terus habis ini kamu mau apa?” 


“Aku tidak tahu, aku ingin bongkar belang, Alika, walau aku kalah dalam bertanding, aku tidak ingin kalah terhadap cinta Kaka Naka, tapi aku tidak punya bukti!” ucap Bening lagi. 


“Hmmm... dimana sepatumu?” tanya Daka lagi. 


"Sepatuku?" jawab Bening jadi berfikir.

__ADS_1


"Hmm... kalau kamu membuktikan kejahatanya. Ada bukti bukti dong!" ucap Daka.


__ADS_2