
“Kamu siapa?” pekik Bening, sedikit tertunduk malu.
“Penting ya? Tahu siapa nama seseorang, buat orang yang nggak menghargai hidupnya!” jawab Laki- laki yang menghentikan Bening naik ke tangga jembatan itu.
“Kamu tidak tahu apapun, nggak usah berisik!” jawab Bening kesal.
Entah siapa laki- laki ini, tapi Bening malu, rupanya di bawah bahu jembatan sedari tadi duduk pria ini. Pria tinggi berkulit sawo matang, memakai topi dan membawa alat pancing.
Laki- laki itu terlihat seusia Daka, tapi sepertinya lebih tua Daka sedikit, perawakanya hampir sama, bahkan sekilas matanya juga mirip, tapi rahangnya lebih tegas Daka, kulitnya juga lebih terang Daka.
“Aku memang nggak tahu apapun tentang kamu, tapi setidaknya aku tahu, ternyata di dunia ini ada yang lebih tak berharga dari sampah jalanan yang berjuang hidup, walau dia tak punya siapapun dan dianggap sampah oleh orang lain,” ucap Pria itu kasar.
Bening yang tadinya sedih langsung cemberut tersinggung. Bening dikatai lebih buruk dari gelandangan.
“Setiap orang punya mental dan hati yang berbeda! Aku lebih baik dari mereka!” jawab Bening membela diri.
Pria itu semakin tersenyum mengejek.
“Mudah sekali kamu bicara begitu. Aku lihat tubuhmu sehat, wajahmu juga bersih cantik,” tutur Pria itu sedikit membuat Bening tersipu dibilang cantik, karena Daka saja hampir jarang sekali memujinya.
“Dan dari semua yang kamu ucapkan, aku yakin, otakmu masih sedikit waras. kamu bukan orang gila, kamu hanya manusia yang tidak tahu diri pada Tuhan! Berbeda bagaimana? Berbeda karena kamu tidak tahu diri? Kamu lebih jelek dari sampah jalanan!” ejek Pria itu lagi.
“Ish…” desis Bening kesal, Bening kan sedang frustasi malah makin dikatai. Semua sedih Bening hilang berganti kesal, ternyata ada orang yang lebih menyebalkan dari Daka. “Apa maksudmu tidak tahu diri? Terus kenapa kamu hentikan langkahku?” tanya Bening.
"Ya udah sok lompat? Yakin mau lompat?" tanya pria itu menantang.
Otak Bening pun jadi geser lagi tambah malu.
Pria itu pun kembali tersenyum.
“Kamu tidak lihat di rumah sakit ada banyak orang yang berjuang agar tetap hidup sampai megorbankan semua yang mereka punya. Sebesar apa sih masalahmu sampai kamu mau bunuh diri? Hah? Hanya karena kamu patah hati? Ck. Ck. Kasihan sekali. Tapi kalau mau bunuh diri jangan muncul di hadapanku. Aku tidak suka!” ledek pria itu.
"Ya sudah. Kalau begitu sana kamu pergi jangan di sini!" usir Bening.
"Sayangnya aku tidak ingin dikatai manusia tak punya hati yang membiarkab orang mati begitu saja. Itu sama saja pembunuh. Kalau aku tidak lihat sih masa bodo!" ucap pria itu lagi.
Bening jadi tambah diam. Pria itu malah menatap Bening. Bening jadi salah tingkah.
"Siapa namamu? Sedang apa kamu?" tanya Bening.
“Apa kamu pikir jika kamu tenggelam kamu akan bertemu dengan ibumu? Kalaupun kamu bertemu apa kamu yakin dia akan bangga terhadap apa yang kamu lakukan?” tanya Pria itu lagi tidak menjawab pertanyaan Bening. Dan rupanya pria itu dengar semuanya.
Bening pun tercekat tak bisa berkata- kata lagi, hingga dia tertunduk.
“Duduk, minumlah!” ucap Pria baik itu menyodorkan sebotol air mineral ke Bening dan mengajak Bening duduk.
Sebenarnya Bening sangat malu tapi Bening haus, toh aib Bening sudah ketahuan, Bening pun membuang gengsinya, menerima sebotol air mineral itu. Bening juga menerima ajakan pria itu, duduk di bahu jalan, di pertengahan jembatan. Keduanya pun menggantungkan kakinya di atas sungai lalu menatap sungai yang mengalir deras.
“Kamu siapa? Sedang apa kamu di sini?” tanya Bening lagi setelah meminum minuman pria itu.
“Kamu tidak lihat aku membawa pancing, aku hanya tukang pancing,!” jawab pria itu.
“Aku tanya siapa namamu?"
"Jika kita ditakdirkan bertemu yang kedua kalinya setelah ini aku akan beritahu namaku!" jawab Pria itu.
Bening pun mencebik.
__ADS_1
"Aneh!" gumam Bening.
"Kita bertemu tanpa sengaja. Setelah ini entah ketemu lagi atau tidak. Untuk apa tahu namaku!" jawab Pria itu.
"Yaya!" jawab Bening. "Kenapa memancing di sini, di hari seterik ini?” tanya Bening lagi.
“Kenapa memangnya?” jawab Pria itu ternyata tak ingin Bening tahu banyak.
“Nggak apa- apa, tanya aja? Jadi kamu dengar semuanya?” tanya Bening malu.
Pria itu menghela nafas, memandang ke depan lalu tersenyum.
“Setidaknya kamu pernah punya orang yang benar- benar sayang ke kamu walau sudah tidak ada, kamu harus bersyukur,” tutur pria itu tiba- tiba.
"Maksudnya apa?" tanya Bening.
“Ya. Daripada aku. Aku punya keluarga yang lengkap. Tapi mereka semua bukan hanya diambil orang lain atau pergi dipisahkan oleh alam. Aku tidak pernah merasakan kasih sayangg dari mereka. Bahkan dari Ibuku uang melahirkanku. Aku seperti alat untuknya. Di dalam hidupku, aku hanya hidup dalam aturan dan ambisi, tanpa kasih sayang. Bahkan ibu dan ayahku tak segan membunuhku! Kau bisa bayangkan bagaimana mengerikanya hidupku?” tanya pria itu.
Bening pun menoleh dan mengernyit.
“Apa ada kehidupan seperti itu?” tanya Bening.
“Kamu bilang ayahmu juga sudah berubah setelah ibumu meninggalkan kan? Kenapa tidak? Di dunia ini banyak iblis berupa manusia! Tapi setidaknya kamu pernah punya memory indah bersamanya. Setidaknya kamu pernah punta ibu, yang tulus dan ingin kamu Bahagia. Dia bisa menjadikan kamu semangat, mengingat betapa orang itu menyayangimu, hargai hidupmu, jangan jadi orang bodoh, dan tetaplah menjadi pribadi seperti yang diingini ibumu dulu,” ucap Pria itu.
Bening menunduk malu ditegur begitu.
“Iya, Ibuku ingin aku jadi orang yang kuat walau aku tidak bisa!” jawab Bening lirih.
“Bisa!” jawab pria itu.
“Kenapa kamu yakin sekali? Kamu kan belum kenal aku?”
“Ya walau kadang aku hilang arah, aku tidak tahu aku harus bagaimana,” jawab Bening.
“Nikmatilah hidupmu, lihatlah burung yang terbaang bebas itu, mereka sangat bersuka cita!” ucap Pria itu menunjuk burung- burung yang terbang.
Bening pun melirik aneh.
“Kamu pria yang hidupnya tertekan sepertinya?” tanya Bening.
“Bisa dibilang begitu?”
“Terus sedang apa kamu di sini?”
“Mancing? Ini sangat menyenangkan. Aku bisa bebas,” jawab pria itu.
Bening tersenyum mendengarnya. Pria ini sepertinya pria depresi juga. Entah seseram apa hidupnya.
Di saat sama, dari arah ujung jalan terdengar iring- iringan mobil mewah dengan sirine khas. Bening awalnya tidak ngeh, tapi sesaat priaa itu melihat ke ujung jalan. Pria itu cepat bergegas bangun dan menyeret Bening.
“Ayo turun!” ajak pria itu.
“Ada apa?” tanya Bening bingung.
"Cepat!" ajak pria itu.
Pria itu tampak mengajak bersembungi di bawah kolong jembatan.
__ADS_1
Bening ikut berlari dan menunduk turun. Meski dalam hati Bening membatin, apa pria yang bersamanya orang penting. Dan heranya mobil- mobil iring- iringan itu juga berhenti di dekat mereka.
“Sial, kenapa mereka berhenti,” ucap Pria itu.
Bening pun melirik.
"Siapa mereka?" tanya Bening.
"Mereka tim pelacak. Tim khusus keluarga raja!" jawab Pria itu.
“Memang siapa kamu? Seperti mereka berhenti di dekat kita?” tanya Bening.
Tapi pria itu langsung membekap mulut Bening. Priaa itu meminta Bening diam dan menguping.
"Ssssttt... Diam!"
Bening dan Pria itu diam di bawah kolong jembatan.
Di atas jembatan beberapa pria berseragam tampak memantau alat.
“Signalnya sangat kuat, beberapa menit sebelumnya Bening ada di sini!” ucap Salah seoraang pria berseragam.
“Aku coba hubungi, Bening ya!” ucap salah seorang perempuan yang Bening juga kenal suaranya. Dan sepersekian detik, ponsel Bening bergetar. Namun karena lowbat, baru mau diangkat sudah mati lagi.
“Gleg!”
Bening dan Pria itu pun saling tatap.
Dan sekarang giliran Pria yang membekap Bening yang membelalakan matanya menatap Bening. Begitu juga Bening langsung terhenyak kaget.
“Dia bukan mencariku? Tapi kamu! Siapa kamu?” tanya pria itu.
“Aku? Aku, Bening! Kamu siapa?” jawab Bening juga bingung kenapa orang kerajaan dengan membawa iring- iringan mobil mencarinya.
"Dari keluarga mana kamu?" tanya Pria itu lagi.
"Aku tidak tahu maksudmu! Keluargaku kekuarga Hanjaya," jawab Bening dengan polosnya.
Pria itu menjauh dari Bening dengan tatapan aneh. Bening pun juga jadi tidak tahu harus bagaimana.
"Cepat periksa sekitar sini!" terdengar perintah seseorang di atas jembatan.
“Blep…” secepat kilat, priaa itu tiba- tiba menceburkan diri ke sungai dan menyelam mengikuti arus sungai meninggalkan Bening.
"Hoh.. Kemana dia?" pekik Bening kaget.
Bening terhenyak dan melotot bingung. Bening mungkin bisa ikut berenang dan lari dari kejaran, tapi kaki Bening terasa kelu. Jantung Bening juga berdebar hebat, benar- benar tidak mengerti. Apa yang terjadi, apa ini nyata?
Siapa laki- laki yang menyelam tadi. Lalu kenapa Bening dicari iring- iringan mobil. Bening jadi bergetar. Apa Bening harus keluar dan lihat siapa yang menyebut Namanya? Bening seperti mendengar suara Tia? Atau Bening ikut nyebur, tapi Bening masih merasa pusing.
Bening pun jadi terduduk gemetaran di bawah kolong jembatan menghadap arus sungai. Sembari celingukan kemana laki- laki tadi. Pandai sekali menyelam dan dimana naiknya?
Dan tepat di saat yang sama, langkah kaki seseorang terdengar mendekat.
“Bening!” pekik Tia ternyata ikut rombongan mencari Bening.
Bening pun menoleh ke Tia.
__ADS_1
"Tia!"
“Astagah, Bening kamu ngapain di situ?” pekik Tia segera menghampiri Bening.