
Setelah Daka pergi Bening segera menyantap nasi dari pak Kepala desa. Setelah kenyang No Bening pun berfikir ingin tidur cepat.
"Pumpung dia pergi aku kunci saja kamarnya!" batin Bening berfikir sambil memegangi dadanya yang sebenarnya masih dheg- dhegan malu ingat peristiwa tadi. Bahkan di kedua ujung bulatan kecil daging yang menonjol di dada Bening, terasa seperti ada kupu- kupu yang menari dan meniup angin, merinding karena dilihat Daka.
Rasanya semua berjalan di luar kendalinya dan seperti mimpi.
Bening pun berusaha memejamkan matanya untuk tidur, sayangnya otaknya kembali berkelana.
"Duh dia bikin masalah nggak ya?" batin Bening malah jadi khawatir ke Daka yang berbaur dengan orang banyak.
"Dia kan suka aneh? Kalau dia nyeletuk sesukanya? Gimana kalau dia bikin masalah dan bikin warga desa marah? Gimana kalau ditanya macam- macam?"
"Ah tapi kan waktu itu aku sudah jelaskan ke kepala desa?"
Bening tidak jadi tidur dia justru mengkhawatirkan Daka suaminya.
“Hoooh...,” dessah Bening menetralkan paniknya. Bening sampai menyingkap selimutnya dan duduk.
Lalu Bening keluar dan menyibak tirai jendelanya. Karena dari jendela di luar tak nampak apapun kecuali daun hijau yang berubah menghitam.
Bening pun membuka pintunya, dilangkahkan kakinya keluar dan Bening duduk di bangku teras. Masih tetap lengang, hanya terdengar nyanyian binatang malam, juga angin yang berbisik sendu.
Dari arah jalan tak jua nampak bayangan ataupun terdengar gerak langkah seseorang berjalan ke arahnya. Yang ada angin malam terasa semakin kencang sehingga membuat Bening kedinginan. Bening pun bersedekap memeluk dirinya sendiri.
“Semoga dia pandai membawa diri. Aku lihat satu minggu terakhir ini dia banyak berubah. Dia bahkan terlihat dewasa dan keren, dia juga bekerja kan? Ups kenapa aku memujinya sih?” gumam Bening memuukul- mukul kecil pelipisnya, tanpa sadar mengakui sendiri kalau Daka keren.
Di hati Bening pun timbul percaya terhadap Daka. Tidak tahan menahan dingin, Bening pun memutuskan masuk ke rumah. Sengaja Bening tak menguncinya, berharap Daka segera pulang.
Bening kembali masuk ke kamarnya dan berniat tidur. Saat berdiri di dekat pintu dan tangan Bening memegang gagang pintu, otak Beninng kembali menyala.
“Kunci nggak ya? tapi malu sekali kalau aku sampai kebablasan meluk dia lagi? Ah...ck! tapi kasian dia? Ah tapi tidak... tidak, walau dia suamiku di hadapan Tuhan dan orang- desa sini, tapi aku belum tahu siapa dia sebenarnya? Gimana kalau dia laki- laki nggak bener? Atau mungkin punya istri?” gumam Bening berfikir.
Bening kemudian mengunci pintu kamarnya.
Sete;ah terkunci, Bening melangkah hendak duduk, tapi baru saja Bening melepas sendal, terdengar suara rintik hujan dari luar disusul petir.
“Ya Tuhan? Hujan?” pekik Bening.
Bening pun mengintip dari celah jendela kamarnya.
Ya di luar hujan, hati Bening pun kembali tergerus oleh rasa khawatir.
“Daka bawa payung nggak ya? kasian sekali dia? Duh mana dia belum punya hp lagi?” gumam Bening semakin khawatir ke Daka.
Bening menutup tirai jendelanya dan ke kasur lagi, menarik selimut dan berlindung di bawahnya, memang sangat nyaman, tapi hati Bening terpaut oleh Daka, Bening masih tidak bisa memejamkan mata.
“Hhh..., kasian dia kalau kehujanan?” gumam Bening.
__ADS_1
Suara hujan yang tadinya hanya rintik- rintik kini berubah jadi guyuran. Bening membuka pintu kamarnya dan keluar lagi.
“Astaga... bocor!” gumam Bening di kamar tamunya bocor.
Bening pun segera menyelamatkan kasur lantai bekas Daka tidur dengan menggulungnya lalu mengambil ember di dapur untuk menadahnya.
“Malam ini aku nggak boleh jahat ke Daka,” gumam Bening akhirnya dengan rela hati tanpa Daka yang memaksa membiarkan Daka tidur bersamanya.
Bahkan Bening kepikiran Daka kedinginan, Bening kemudian ke dapur menyalakan kompor merebus air hangat untuk mandi juga untuk membuat minuman menyambut Daka pulang.
Semua air sudah mendidih, tapi hujan tak kunjung reda, Bening mengintip keluar, Daka belum juga pulang.
Bening pun menunggu sebentar, sampai akhirnya Bening menguap. Bening pun membuatkan minum dn menyajikannya di meja, sementara air panasnya dia masih di tempatnya dengan dia tutup rapat agar tetap hangat.
Tidak kuat menahan kantuk Bening tidur dnegan membiarkan pintu kamarnya terbuka.
****
Daka datang ke acara dengan hati dan pikiran utuh, entah kenapa, dunia yang dia temui sekarang, semua terasa baru. Entah karena dia memang sakit hilang ingatan, atau memang dia tidak pernah menjalani kehidupan seperti itu sebelumnya.
Jalan kaki melewati jalan setapak di desa yang masih dengan tanah berbatu dan samping kanan kirinya rerumputan, tanpa ada lampu gemerlap ataus suara bising kendaraan. Datang ke acara upacara adat pernihakan, mendapatkan nasi dari tetangga, hal itu membuat Daka tertarik.
Karena Daka tertarik, Daka mengingat pesan Bening, agar tak bermasalah tetap mengikuti acara sampai selesai, harus senyum irit bicara dan jawab seperlunya, yang pertama sopan. Ya walau hati Daka memberontak ada rasa risih yang bersemayam saat harus duduk di tengah bapak- bapak yang membaur merokok dan tercium berbagai aroma yang jelas tidak wangi.
Ternyata Pak Kepala desa menggelar acara besar. Tobong acaranya pun megah dan luas, konon anak Pak Kepala desa yang menikah ini juga menjadi sarjana yang bekerja di kantor pemerintahan di kota, bahkan banyak tamu- tamu dari kota juga.
Awalnya Daka merasa, karena dia orang baru, maka sejak dia duduk dan menganggukan kepala memang banyak yang memperhatikanya. Daka juga mendengar kasak kusuk, dikira Daka tamu dari pengantin dari kota, tapi kemudian di jawab, penghuni rumah di tepi sungai, suami mbak yang kerja di museum.
Daka pun tidak memperdulikanya, hanya saja saat ini, Daka merasa ada orang yang mengawasinya dengan intens. Bahkan saat Daka menoleh dia sedang mengarahkan kamera ke Daka tapi Daka langsung melihatnya dengan raut tidak suka. Sehingga belum sempat orang itu mengambil capture orang itu langsung menurunkan ponselnya dan gelagapan.
Daka pun tidak terima dan mendekat.
“Boleh saya, pinjam ponselnya Mas?” tanya Daka tanpa bosa basi. Ya orang itu terlihat muda dan seumuran dengan Daka sehingga Daka memanggilnya Mas.
Orang itu gelagapan, lalu menyembunyikan ponselnya. “Ma- af, untuk apa?” tanya Mas- mas itu.
Daka masih menatapnya tajam.
“Saya lihat kamu masih muda dan pakaianmu bagus? Mengambil gambar orang sembarangan tanpa ijin itu tidak sopan!” bisik Daka lagi keluar sifat arogan dan beraninya.
Pria itu semakin gelagapan, hendak berbohong, tapi tubuh Daka tinggi besar dan tatapanya menakutkan.
“Maaf saya tidak jadi kok!” jawab pria itu.
“Ehm... jadi benar kamu mau ambil gambarku?” tanya Dakaa raut muka seremnyanya berubah alay dan hidungnya kembang kempis.
“Maaf!!” jawab Pria itu menunduk.
__ADS_1
“Untuk apa kamu mau ambil gambarku? Aku tahu aku tampan. Tapi Aku bukan gay, aku beristri kamu mengerti?” tanya Daka malah narsis dan pede tingkat tinggi.
Tentu saja, mas- mas yang tadinya sudah berkeringat langsung terbengong dan mendelik.
“Saya juga normal dan punya pacar, Mas. Maaf anda mirip seseorang! Maka saya hanya ingin memastikan!” jawab Mas- mas itu cepat.
“Hmm... siapa memangnya yang mirip denganku?” tanya Daka.
Pria itu menelan ludahnya kemudian memperhatian Daka dengan seksama,
“Aku melihat Pangeran Abe hanya dari kejauhan, juga sekali saja. Masa iya dia ada di sini? Aku salah,” pria itu malah hanya bergumam kecil dan menatap Daka dengan ekspresi mengejek.
“Kamu bilang apa?” tanya Daka.
“Tidak aku salah lihat, maaf Mas!” jawab pria itu.
Gara- gara dikira Gay, pria itu segera menjauh dari Daka. Tapi Daka sebenarnya sempat mendengar ucapan pria itu.
“Aneh. Pangeran Abe siapa dia?” gumam Daka berfikir.
Karena tidak punya teman bicara dan bingung mau ngobrol apa, Daka pun segera pulang tak peduli hujan. Sesampainya di rumah basah kuyup.
“Ini untukku kan?” gumam Daka tersenyum, saat melirik ke meja tersedia secangkir jahe hangat.
Karena basah Daka ke belakang, dan melepas pakaianya. Karena kamar mandi dan kompor berdekatan, Daka yang tadi berangkat di atas kompor tidak ada panci kembali tersenyum, ada panci di atas kompor. Daka pun memeriksanya.
“Dia menyiapkan air panas untukku membilas tubuhku?” batin Daka hatinya langsung mengembang.
Daka pun segera mengangkatnya dan menuangkan ke ember di kamar mandi. Awalnya Daka merasa aneh, tapi insting Daka bekerja. Daka pun segera membilas air hujan dari tubuhnya dan mengganti pakaian sopanya dengan kaos dan celana pendek.
Daka pun segera meneguuk jahe yang mulai mendingin tapi masih hangat- hangat kuku.
“Sepertinya belum lama, tapi tidak terdengar suaranya?” gumam Daka.
Daka melihat kasur lantainya di gulung, senyum Daka semakin lebar, itu artinya, Bening menerima dan sudah dengan senang hati mengijinkan Daka tidur bersamanya.
Daka pun melangkah ke kemar Bening, benar saja. Pintu tak dikunci.
“Kapan kamu sadar dan mengakui kalau kamu sekarang menjadi milikku Bening?” gumam Daka mendekat ke Bening yang tampak berbaring melompong tapi sangat imut di mata Daka.
Daka duduk di sisi Bening, di ulurkan tanganya membelai rambut Bening yang tampak berantakan di dekat keningnya.
"Aku akan terus temani kamu. Aku pastikan aku selalu di sisimu. Aku tidak mau kamu menangis lagi," batin Daka lembut dan terus menikmati keindahan wajah Bening yang menggemaskan.
Bening tidak bereaksi saat tangan Daka membelainya. Daka sangat senang, dia pun membungkukan kepalanya dan memberanikan diri mengecup bibirnya.
****
__ADS_1
Kalau suka cerita ini dan mau lanjut kasih koment, like dan vote ya Kak. Makasih.