Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Tia Syok.


__ADS_3

Kata orang, nilai akan sesuatu tergantung dengan keadaan hati. Walau di hadapkan dengan satu meja makanan lezat, jika hati terluka, maka semua akan hambar.


Satu mangkuk mie instan pun terasa begitu lezat dan segar kerana dinikmati dengan gembira, apalagi Tia dan Bening sama- sama lapar. Tidak butuh lama, mereka sudah menghabiskan makanan mereka. Bening lega sekali bahkan Bening masih kurang dan memilih masak lagi. Kata Bening rasanya sangat nikmat, entahlah Bening seperti khilaf terhadap kuah yang pedas.


Sementara Tia hanya menggelengkan kepala, bagijya satu porsi sudah buat kenyang. Tia tidak peduali memilih bersiap dandan, untuk berkencan.


Sementara Bening malah tambah lagi dan buat mi lagi.


"Pakai baju yang ini apa yang ini?" tanya menunjukan dua baju saat Bening menyantap mie keduanya. Tia membawa satu kaos berwTiaarna biru muda, satu T- shirt berwarna coklat muda.


"Hmmm...," dehem Bening berfikir. "Yang biru aja!" jawab Bening memilih sembari memangku semangkuk mie instan.


"Oke....," jawab Tia.


Tia kemudian ke kamar mandi segera membersihkan tubuhnya. Tidak selang berapa lama keluar dengan wajah segar, aroma sabun pun menyeruak di hidung Bening.


Bening tersenyum menatap sahabatnya yang tengah berbunga- bunga oleh asmara yang sedang berkembang ini. Apalagi Bening tahu, cinta yang mulai mekar ini dengan sepupunya, orang yang peduli terhadapnya selama ini.


Tia masuk ke kamar untuk berdandan sementara Bening mencuci piringnya.


Setelah selesai mencuci. Bening pun duduk menunggu Tia dandan. Tia tampak sangat semangat, wajahnya berseri hendak berkencaan.


Seketika itu, hati Bening bergetar, ingatan tentang Daka kembali datang. Daka kan suka sekali menciium aroma sabun dari tubuh Bening. Setiap Bening selesai mandi, saat Bening menyisir rambutnya, tau tahu Daka sudah di belakangnya, menjulurkan kedua tangan kekarnya, mendekap hangat dari belakang. Leon juga pasti senang melihat Tia wangi dan cantik begitu.


"Hh...," Bening langsung menghela nafasnya mengusir semua bayangan kerinduan terhadap Daka itu.


"Kamu kenapa?" tanya Tia mengagetkan Bening. Tia heran sendiri melihat Bening memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya sendiri.


"Tidak apa- apa!" jawab Bening tergagap.


Kini Tia sudah cantik rapi dengan rambutnya yang dibiarkan terurai memakai celana jeans dan kaos biru. Simple tapi manis.


"Yakin nggak mau nemuin Leon?" tanya Tia lagi.


"Yakin!" jawab Bening mengangguk.


Tia melihat jam tanganya. Waktu yang dijanjikan Leon tinggal beberapa menit lagi.


"Ya udah aku keluar ya! Kamu baik- baik di sini!" ucap Tia.


"Iya...siap! Met happy- happy kalau dia lamar jangan kebanyakan mikir, iyain aja!" jawab Bening memberikan jempol tanda setuju. Dan menebak Leon bicara penting hendak melamar.


"Ish...," Tia hanya mendesis tersipu.


Tia pun menyambar tasnya, dan menunggu Leon di teras rumah, sementara Bening bersembunyi di kamar Tia.


Tidak selang berapa lama, suara motor pria terdengar. Bening masih hafal itu motor Leon. Bening pun menyingkap Tirainya sedikit, sembari tersenyum kemudian menutupnya lagi.


"Seharusnya kita bisa double date kan? Kenapa harus ada semua kejadian ini?" seketkka itu nama Daka kembali terbersit di benak Bening.


Bening jadi ingin menangis lagi. Bening kemudian memeluk boneka di kamar Tia untuk menenangkan hatinya.


"Aku harus bangkit!" gumam Bening berfikir. Setelah beberapa saat merenung. Bening mempunyai ide.


"Aku nggak boleh di kamar terus. Tapi kemana ya?"


*****


Sebuah gedung kaca yang dihiasi tanaman hijau dan berbagai ornament lampu dengan papan bertuliskan Caffe n Eatry tertangkap di penglihatan Tia dan Leon. Mata Tia langsung terbuka sempurna, dan wajahnya girang.


“Kak makan di sini aja! Katanya ada menu yang enak, ada eskrim buahnya,” tutur Tia menepuk bahu Leon.


“Oke!” jawab Leon semangat, apapun mau Tia tentu saja Leon turuti.


Leon pun segera memelankan laju motornya dan menyalakan lampu riting masuk ke pelataran parkir Caffe itu.


Dengan langkah yang berbunga- bunga, dua sejoli itu masuk, suasana di dalam lumayan ramai, awalnya Tia ingin makan romantic di dekat panggung live music, tapi ditolak.

__ADS_1


“Nggak Ai… Kakak mau ngomong penting, ambil yang di pojok sana aja!” jawab Leon menolak keinginan tia.


“Oh iya!” jawab Tia patuh walau hatinya sedikit kecewa.


Hati Tia yang mulai berbunga sedikit meredup, kini ruang hatinya tersisipi pertanyaan, apa yang hendak Leon bicarakan kenapa terlihat serius sekali. Kalau mau lamar kan di depan live musik lebih romantis.


Leon malah memilih tempat duduk di pojokan yang sedikit panas karena dekat jendela kaca, dimana sinar matahari masuk. Tapi memang sepi.


Dalam hati Tia mencebik dia tidak suka, akan tetapi rasa penasarannya lebih dominan, sehingga dia patuh saja apa kata Leon.


Seorang perempuan berseragam dengan sigap mendatangi Leon dan Tia membawa buku menunya, Leon dan Tia pun segera memesan. Sesuai incaran Tia, Tia memesan es krim vanilla yang dipadu dengan salad buah, sementara Leon coffe late, untuk menu beratnya mereka memilih chikcken katsu dan juga sirloin steak ditambah camilan kecil.


“Ehm..,” dehem Tia mulai canggung saat pelayan pamit pergi, Leon dan Tia kini berdua. Tia tidaak sabar ingin dengar Leon mau bicara apa.


“Ai sering makan di sini?” tanya Leon memulai pembicaraan.


“Cuma sesekali, gaji guru les taari kan nggak seberapa Kak, sayang uang kalau sering- sering!” jawab Tia merendah.


Leon mengangguk. “Ya kirain sama cowok gitu dibayarin!” goda Leon.


“Apaan sih?” jawab Tia tersipu malu dan mulutnya manyun ditunggu kalimat lamaranya malah bahas cowok.


“Ya ai kan cantik, pasti banyak dong yang deketin!” jawab Leon lagi.


“Ish.. nggak! Nggak ada, nggak ada yang deketin aku, aku kesini sama Bening kok!” jawab Tia. "Itu juga cuma dua kali. Bagus kan tempatnya. Ada live musiknya!" jawah Tia ingin menunjukan ke Leon kalau Tia suka dengarkan lagu.


Sayangnya Leon tidak peka.


“Oh ya.. ngomong- ngomong tentang Bening, ada yang mau aku sampaiin!” ucap Leon mimic wajahnya berubah serius malah bahas Bening.


“Gleg,” Tia pun mendadak tercekat, ternyata kata penting yang akan disampaikan Leon bukan lamaran atau ungkapan cinta. Tapi tentang Bening, benar kata Bening, Leon pasti tahu masalah Bening.


Tia jadi tegang, apa yang hendak Leon sampaikan, lalu dia harus setia kawan jaga janji agar Tia tutup mulut atau cerita. “Apa?” tanya Tia pelan.


“Aku lagi nyari dia, apa dia menghubungimu? Apa kamu tahu dia dimana?” tanya Leon lagi.


“Ehm…,” langsung berdehem selain kecewa karena tidak sesuai ekspektasi, Tia juga semakin bingung, Leon sangat to the point. Tia kan tidak pandai berbohong, tapi dia harus setia kawan. Tia harus jawab apa?


“Aku nggak mau kamu syok, atau nggak percaya!” ucap Leon lagi.


Tia pun mengernyit.


“Kenapa memangnya?”


“Kakak juga nggak tahu persisnya, tapi Bening dalam bahaya dan harus kita temukan?” jawab Leon lagi.


“Ehm…,” dehem Tia tambah tidak nyaman, Bening kan aman di kontrakanya, tapi dia harus pura- pira dulu dan tahu alasanya.


“Bahaya gimana sih Kak? Jangan ajak bercanda deh!” jawab Tia.


“Beneran. Kamu tahu Daka?” tanya Leon.


“Ya!” jawab Tia mengangguk, dalam hati Tia pun dengan percaya diri menebak, persis kata Bening, Leon dan Daka bekerja sama. Tia jadi malas. “Suami Bening kan? Kenapa? Mereka bertengkar? Bening bahaya kenapa?”


“Tidak! Bukan bertengkar?”


“Terus? Bening kan sudah dewasa!"


“Jangan kaget ya!” ucap Leon dengan berbisik bahkan Leon menoleh ke kanan dan kekiri. Seperti sangat rahasia. Tia jadi semakin mengernyitkan dahinya.


“Kaget kenapa? Mereka selingkuh dan beryengkar? Atau ternyata Daka itu jahat? Dia mafia? Residivis? Atau gembong barkoba? Atau mucikaari?” tanya Tia menebaak, Tia kan menebak sesuai cerita Bening dan prasangka Bening.


“Hush… ngarang kamu!” jawab Leon spontan dan keras.


“Terus?” tanya Tia,


Sayangnya belum Leon menjawab waitres datang membawakan pesanan minuman dan camilan ringan. Leon pun mengunci rapat mulutnya sampai waitres pergi.

__ADS_1


“Apa? Kenapa diam? Emang Daka itu siapa?” tanya Tia jadi tidak sabar lalu Tia menyeruput air mineral sebagai menu tambahhan.


Leon kembali menoleh ke kanan dan ke kiri lalu mencondongkan wajahnya ke Tia. “Dia putra mahkota, dia Pangeran Abelard!” bisik Leon hati- hati.


Tia langsung tersedak.


“Tuh kan? Kamu kaget,” cibir Leon mencebik.


Tia segera meraih tissue dan sekarang ikut mencondongkan wajahnya ke Leon, kali ini emang benar- benar di luar dugaan dan Tia juga sangat kaget.


“Kakak nggak lagi ngimpi atau ngarang cerita kan?” tanya Tia.


“Ck,” Leon langung berdecak, lalu merogoh sakunya.


Leon kemudian menunjukan saat mereka berkumpul bersama Ares, Bernand dan juga pengawal istana, Leon juga memfoto plat mobil yang membawa Daka pulang, Leon juga foto di dekat pesawat pribadi istana.


“Hoooh… Bening! Beneran Pangeran?” Tia pun langsung menutup mulutnya dan melotot.


“Syok kan kamu? Acara pegelaran ulang tahun dan pengenalan Tuan Muda gagal karena Beberapa bulan lalu Tuan Muda kecelakaan dan hilang. Bening yang nemuin dan sembunyikan!” jawab Leon lagi.


Tia hanya mengangguk masih mengatur nafasnya kaget.


“Sayangnya, Pas kemarin Pangeran Abe mau jemput, Bening malah nggak ada, kontrakanya berantakan, sepertinya Bening diculik tunangan Pangeran Abe!” tutur Leon lancar.


“Tidak!” jawab Tia spontan dan cepat.


Leon jadi mendelik tanda tanya, “Tidak apa?”


“Bening ada di kontrakanku!” jawab Tia spontan dan cepat.


Leon pun langsung melotot kaget. “Serius? Kenapa baru bilang?”


“Iyah, dia emang didatengin beberapa bodyguard perempuan, tapi mereka hanya mengancam Bening dan tanya keberadaan Daka. Bening aman dan dia ikut aku, sekarang ada di kontrakan!” tutur Tia bercerita.


“Haish… bilang Bening jangan pergi- pergi. Kasih tahu dia tetep stay, biar aku beritahu Tuan Ares!” jawab Leon.


“Dia nggak akan kemana- mana kok, kalau aku suruh dia jangan pergi- pergi nanti malah curiga!” jawab Tia.


“Oke… kalau gitu makan makananya cepat, kita pulang!” ucap Leon.


Tia pun mengangguk, di saat yang bersamaan waitres datang mengantar menu makanan berat. Leon dan Tia pun menyantap makanan mereka cepat. Leon dan Tia jadi tidak sabar memberitahu Bening dan mengamankan Bening aagar di bawa ke tempat persembunyian yang sudah disiapkan Pangeran Abe.


****


Sejak hari kemarin, Bening sudah menghabiskan waktunya di kamar untuk menangis. Hari ini Bening ingin bangkit, dengan menguncir rambutnya ke atas dan memakai masker, Bening keluar, menyusuri pertokoan barangkali ada toko atau caffe yang membutuhkan pelayan.


Bening tidak mungkin menjadi benalu untuk Tia yang hanya jadi guru tari, apalagi pulag ke rumah Damita, haram hukumnya. Jadi Bening harus bekerja, begitu fikirnya.


“Sayangnya sudah satu blok, baik toko pakaian ataupun kafe yang dia tanya tidak ada yang butuh karyawati.


Bening pun terduduk di ujung jalan.


“Kenapa aku pusing banget dan mual gini ya?” gumam Bening istirahat.


“Perasaan aku udah makan, aku juga Cuma jalan sebentar kok?” gumamnya lagi. Bening istirahat sejenak dan membeli air mineral. Sayangnya pusing Bening tak kunjung hilang. Bening pun menoleh ke sekeliling di dekat tempat Bening membeli minum rupanya ada ruko toko obat. Bening pun memeriksakan dirinya agar mendapat obat. Bening tidak mau sakitnya berlarut kemudian merepotkan Tia.


****


Hai Kakak pembacaku tersayang.


Masih ingat jalan ceritanya kaan? Heheh.


Maaf ya aku hiatus satu bulan.


Hampir lupa alur.


Oh iya, biar aku nggak lupa alut dan semangat. Kalian jangan silent reader ya. Like komeny jadi meski aku nggak dapat gaji setidaknua aku. ggak rasa sendirian. Kalau koment kan jadi berasa hidup.

__ADS_1


Semoga suka yaaa


I lope you Kak


__ADS_2