Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kekasih Ideal


__ADS_3

“Perasaan aku lebih tampan dari pria berkacamata itu, hhh... kenapa dia sedih menikah denganku?” gumam Daka.


Daka berbaring miring memejamkan matanya, namun tubuhnya tidak rileks sama sekali selayaknya orang tidur, tubuhnya menegang menahan sakit.


Lebih dari sekedar sakit karena pukulan, tapi Daka sakit karena mendengar Bening begitu membencinya.


Padahal Daka sudah berusaha menolongnya. Daka hanya punya Bening saat ini, bersama Bening setiap hari, detik demi detik berlalu, yang Daka rasa terhadap Bening semakin simpati, semakin ingin Daka membahagiakan Bening, temasuk malam ini.


Daka ingin cepat membebaskan Bening dari segala tekanan orang tuanya dan menikahinya. Daka berharap mereka bisa simbiosis mutualisme.


Namun di luar perkiraan Daka, Bening masih denial, Bening masih menolak kenyataan. Kenyataan itu ternyata lebih menyakitinya.


“Huuuft...,”


Setelah tidak terdengar suara Bening Daka menghela nafasnya, membalikan badan, masih terlentang di atas kasur, Daka menatap langit- langit kamar.


Daka memilih tetap berbaring di kamar itu. Daka tahu kalau dia keluar dan menyusul Bening, api di dada Bening masih berkobar, pasti akan menyemburnya.


Meski begitu, Daka tidak mau menyerah, dan ingin terus mempertahankan statusnya.


“Apa yang membuat Bening menyukai pria berkacamata itu? Aku harus menirunya? Hhhhh,” batin Daka berfikir.


Lalu Daka ingat kalau saat berjalan di mall Bening menginginkan sebuah dress cantik.


“Kata Leon, selain diperhatikan, perempuan suka diberi hadiah, mungkin Bening akan menerimaku dan tidak sedih lagi kalau kubelikan hadiah?” batin Daka lagi menemukan ide.


Daka kan masih punya uang dari hasil nyopet ibu tirinya Bening. Daka mengangkat ujung bibirnya lagi, serasa mendapat wangsit brillian membuat Bening tersenyum. Bahkan di otak Daka sudah datang wajah ayu Bening yang memancarkan mata bening dan indahnya.


“Hhhh...,” Daka menghela nafasnya lalu bangun dari berbaringnya.


“Ak..,” keluh Daka baru terasa ngilu pinggang dan pantatnya dipukuli Bening.


Daka kemudian ingat dia kan selama ini menderita dikerubungi nyamuk dan malam- malam suka melihat tikus berjalan saat tidur di kasur lantai.


“Dia tidur di lantai? Kasian sekali?” batin Daka tidak tega jika Bening tidur di luar tidak di kasur.


Daka lalu keluar.


Bening terlihat meringkuk memeluk selimut yang biasa Daka pakai. Suasana terasa hening hanya terdengar suara binatang malam yang sayup- sayup terdengar dari arah pepohonan. Daka memeriksa Bening.


Mata Bening terpejam dan terdengar dengkuran lembutnya.

__ADS_1


Daka kemudian menoel lengan atas Bening dengan hati- hati, tidak ada respon. Daka berlanjut menggoyangkan tubuh Bening pelan memeriksa Bening masih sadar atau tidak.


Rupanya Bening tidak merespon.


Daka kemudian mengangkat Bening agar tidur di kasur. Daka pun membaringkan Bening dengan hati- hati.


Ditatapnya wajah Bening yang ayu, bulu mata begitu panjang dan lentik, hidungnya mancung dan naik ke atas, begitu tegas, dipadu dengan bibir tipis yang manis. Daka kemudian tersenyum sendiri.


Daka bukan hanya bergantung karena Bening yang menghidupinya, Daka jatuh cinta pada Bening. Hati Daka terpaut pada malaikat cantik yang menjadi penolongnya.


“Kamu sekarang istriku, dan seterusnya kamu akan tetap jadi istriku?” batin Daka tanganya terulur membelai kening Bening.


“Tadi saat perempuan sialan itu datang, Bening ada di pelukanku kan? Kenapa bisa ya?” batin Daka mengingat tadi.


Daka tidak sadar dirinya mengigau. Daka kemudian tersenyum sendiri lagi.


“Dasar jual mahal kamu?” batin Daka lalu ikut berbaring di sisi Bening.


****


Daka kembali bermimpi begitu matanya terpejam diikuti alam sadarnya redup lalu masuk ke alam bawah sadar. Sangat jelas tergambar, Daka mempunyai banyak pengawal dan memakai pakaian yang bagus.


Daka bermimpi berjalan di sebuah rumah besar, dengan pilar- pilar yang tinggi. Saat Daka berjalan banyak orang menundukan kepala pada Daka, bahkan sesorang membukakan pintu saat Daka hendak keluar.


Daka masuk ke mobil itu. Lalu dalam perjalanan lebih tepatnya di atas jembatan panjang, mobil yang Daka naiki mengalami kendala. Mobil yang dinaiki Daka banya kempes. Mereka kemudian turun.


Saat supir Daka hendak memeriksa sekelompok orang menyerangnya. Daka keluar dan bertengkar.


“Hh..hh..,”


Daka langsung terbangun dan berkeringat.


Bahkan Bening yang di sampingnya ternyata sudah lebih dulu bangun. Bening duduk memperhatikanya. Tatapan Bening bukan marah lagi tapi iba.


“Ehm...,” dehem Daka nafasnya terasa ngos- ngosan.


Daka serasa sehabis bertarung melawan banyak orang.


“Maaf!” ucap Daka mengelap keringatnya.


“Kamu yang mengangkatku ke sini? Siapa yang suruh? Terus kenapa kamu tidur di sini?” tanya Bening ekspresinya berubah, jadi marah lagi, tapi mukanya dibuang tidak menatap Daka seperti tadi.

__ADS_1


“Kenapa sih? Sebelumnya juga kamu tidur dipelukanku, saat itu kamu belum menjadi istriku, sekarang sudah menjadi istriku malah marah!” jawab Daka masih mode seenaknya.


“Ssssh!” Bening jadi geram lagi. “Kamu yang menarikku, kamu yang memelukku! Enak aja!”


“Tapi nyatanya kamu ikut tidur kan?” tanya Daka lagi.


Kenyataanya Bening memang nyaman berada dalam pelukan Daka, walau akalnya menolak, Bening tercekat tidak bisa menjawab.


Daka tersenyum lalu menatap Bening lagi.


“Aku tampan dan baik, ya sudahlah, terima saja aku jadi suamimu!” ucap Daka lagi dengan percaya diri.


“Kamu pikir hanya dengan tampan cukup untuk bisa jadi suami?” jawan Bening cepat. “Aku menyesal menolongmu. Kamu musibah buatku, bodoh- bodoh. Aku mau bunuh diri saja rasanya!” keluh Bening frustasi


Daka masih menatap Bening dengan mata polosnya.


“Hati- hati kalau ngomong, siapa tahu aku Pangeran yang diutus Tuhan untuk menjemputmu! Nanti kamu tergila- gila denganku, nyesel kamu!” jawab Daka lagi.


“Cih!” Bening langsung berdecih dan meludah.


“Selain lupa ingatan dan jadi benalu ternyata kamu gila! Nggak ada baik- baiknya. Tau gini aku biarkan kamu mati aja dimakan ikan!" omel Bening lagi.


"Ya salah siapa ditolongin aku? kan aku nggak minta. Ya tanggung sendiri akibatnya?" jawab Daka masih tidak mau ngalah.


"Iish...," desis Bening jadi sangat geram lalu memukul Daka dengan bantal.


"Ya sudah memang laki- laki seperti apa yang ideal jadi kekasihmu?" tanya Daka masih percaya diri.


"Setidaknya bukan benalu sepertimu! bisa kerja! Bisa nafkahi aku! Punya keluarga!" jawab Bening lagi.


Daka kemudian tersenyum.


"Senyum lagi!" jawab Bening kesal.


"Hanya itu?" tanya Daka malah mengejek.


"Hanya itu! Ya laki- laki itu harus kerja dan mandiri. Kamu menghidupi diri kamu sendiri aja nggak bisa? Sok sokan! Jadi suami?" ejek Bening merasa sangat sial dinikahi Daka.


"Kalau aku bisa melakukan itu semua? Jangan nyesel ya kamu nanti tergila- gila sama aku!" jawab Daka lagi percaya diri.


"Ishh...," desis Bening cemberut.

__ADS_1


Daka tidak peduli lalu bangun keluar kamar.


__ADS_2