Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Apa rencana selanjutnya?


__ADS_3

“O..uh” Daka melenguh dan mengejang menyemburkan cairan hebatnya sebagai tanda puncak dari kenikmatanya, ia bertumpu pada batuan di sungai nan jernih dan airnya menyegarkan itu.


Sementara Bening yang berada di pangkuanya tampak memejamkan mata dan tubuhnya melemas menerima pemberian Daka.


Tidak peduli ada dua hati yang terbakar dan menangisi mereka, setelah merasa tuntas, Daka justru membelai rambut Bening yang basah terurai dan berantakan, menyisipkanya ke telinga Bening dengan lembut kemudian mengecup keningnya lembut.


“Aku janji aku akan bahagiakan kamu!” ucap Daka ke Bening, mereka berdua masih berendam di air.


Bening yang masih terasa lemas hanya terbengong, lalu beralih menjauh dari Daka dan kembali membenamkan dirinya ke air untuk membersihkan diri dan agar tubuhnya yang terbuka tak terlihat di permukaan.


“Heii... kok nggak jawab?” tanya Daka tidak puas karena Bening diam.


“Jawab apa? Nggak usah banyak janji buktiin aja. Ambilkan bajuku!” jawab Bening sembari manyun.


“Yaya...,” jawab Daka mengangguk semangat.


Daka kemudian mengambilkan pakaian Bening dan Bening segera memakainya, begitu juga Daka.


Daka kemdian mengulurkan tanganya membantu Bening untuk naik dengan mesra. Semua pun tak luput dari intaian Camilia dan Aille.


Dengan rambut basah, dan pakaian basah, tanpa mereka berdua bersepeda melewati jalan setapak di pinggir sungai pulang ke kontrakan Bening.


Camillia dan Aille pun bersiap mengikuti kemana mereka pergi.


“Aku tuh capek kesel... kenapa jalanya banyak rumput gini sih?” gerutu Aille mendadak kaki mulus dan putihnya sudah bentol- bentol merah digigit semut dan terkena semak belukar.


“Sstt...tenang Putri, jangan berisik!” Putri Camillia pun langsung membekap mulut Aille yang bawel dan.


“Mmmm...,” sementara Putri Aille yang sudah sangat sakit hati memberontak.


“Kenapa kita harus sembunyi gini. Kenapa kita nggak kejar mereka dan nggak suruh orang kerajaan jemput Kak Abe aja sih? Itu Kak Abe!” jawab Aille masih berfikir pintas.


Camillia yang mempunyai rencana sendiri pun menahan diri untuk tidak terpancing emosi pada Aille.


“Kalau kita langsung paksa Pangeran Abe... tentu saja perempuan itu akan ikut dan kita akan kalah! Apa kamu mau perempuan itu masuk ke keluargamu?” tanya Camilia memancing.


Aile langsung menelan ludahnya terdiam, Aille bukan hanya tidak suka Bening ikut ke kerajaan. Aille tidak ingin Daka menikah dengan siapapun, bahkan dengan Camilia sekalipun Aile benci.


Akan tetapi Aille sendiri tidak bisa mengekspresikan semua keinginan dan rasanya itu. Setatusnya adalah adik tiri Pangeran Abe dan dia tidak bisa mencegah pernikahan kakaknya, dia hanya bisa membenci semua perempuan yang dekat dengan Abe, mencintai Abe dalam diam.


Aile pun tidak bisa berkutik, dia harus patuh pada Camilia walau dia tidak bisa menebak apa jalan pikiran Camilia.


“Oke.. aku minta maaf!” jawab Aille.


“Ya udah ayo cepat, jangan sampai ketinggalan jejak!” ucap Camilia.


Lalu mereka melihat ke arah jalan lagi. Daka dan Bening sudah jauh melaju ke depan, masih keliatan akan tetapi sudah sengat kecil.


“Mereka belok!” ucap Aile mendadak mereka panik Daka dan Bening menghilang dari pandangan mereka.

__ADS_1


“Ayo cepat jangan sampai ketinggalan jejak!” ucap Camilia.


Mereka berdua pun bergegas menjadi penguntit amatir. Bahkan mereka sempat hampir tersesat dan kebingungan dimana Bening dan Daka belok, mereka hanya terus berjalan menyusuri jalan tepi sungai itu.


“Bukan di sini, masih ke sana lagi, ini kan semak belukar!” ucap Aile


“Ya udah ayo maju lagi!” jawab Camilia.


Mereka berjalan terus ke depan akan tetapi malah terasa semakin jauh dan semakin masuk ke hutan tidak menemukan jalan belokan.


“Kita kejauhan, aku lelah sekali, apa tadi ya? tempat beloknya?” ucap Aille lagi.


“Ssshh..,” Camilia pun mendesis kesal mereka kemudian berbalik dan mengikuti jalan belokaan.


Camilia pun tersenyum senang saat melihat rumah kecil tidak jauh dari jalan itu dan terparkir sepeda Bening.


“Kali ini sepertinya kita benar, itu rumah mereka!” ucap Camilia.


Sementara Aille tampak terbengong. “Kak Abe tinggal di rumah sekecil itu? Di tempat sesepi dan seterpencil ini?” gumam Aille.


“Sepertinya ada jalan lain untuk sampai di sini!” ucap Camilia lebih cerdas melihat sekitar.


Ya, Daka dan Bening kan mencari sungai yang airnya tenang dan nyaman untuk bermain, mereka memilih jalan lain bukan jalan semestinya.


Saat Camillia hendak maju, langkah mereka tertahan dan mereka segera berlindung di balik pohon.


Bening dan Daka yang sudah membilas tubuhnya dan berganti pakaian tampak keluar dan membawa secangkir minuman hangat. Mereka berdua rupanya hendak bersantai dan bermesra di teras rumah menikmati senja bersama secangkir teh hangat.


Camilia langsung cepat menariknya. “No.. Putri, tugas kita hari ini cukup, kita harus pulang dan susun siasat!” ucap Camilia.


"Ish...," desis Aile merasa gemas.


Aile tidak mengerti kenapa Camilia saat melihat Abe di depan mata tidak langsung bertindak, padahal kan mereka bisa langsung menghampirinya dan memberitahu siapa Abe, mengajak pulang dan memberitahu raja.


Tapi karena Aile sekarang bersama Camilia, Aile yanh masih labil patuh pada Camilia.


Aile pun terdiam dan mengangguk meski Aile sangat emosional.


Mereka kemudian mundur dan terpaksa melewati jalan setapak yang penuh rumput dan semak belukar hingga kaki mereka langsung gatal- gatal.


****


Camilia pun mengantar Aile ke mansion utama, yaitu istri kedua raja yang tak lain orang ibu Aille, yang sekarang menjadi ratu utama setelah mendiang Ibu Abe meninggal.


“Darimana kalian?” tanya Ratu menyambut putri bungsu dan calon menantunya.


Camilia dan Aille langsung menundukan kepalanya anggun sebagai tanda hormat pada sang ratu.


“Selamat sore, Ibu...,maaf kami habis olahraga,” jawab Camilia berbohong.

__ADS_1


Aile melirik ke Camilia dan dalam hatinya tersenyum, rupanya calon kakak ipar yang dia benci ini benar- benar pandai.


“Olah raga dimana? Kenapa baju kalian kotor dan kakimu kenapa Putriku? Kenapa kalian pergi tanpa pengawal?” tanya Ibu Ratu lagi tidak suka putri kesayanganya tampak lusuh dan kakinya tampak bentol- bentol.


“Maaf Ibu ratu..., tadi Aille meminta saya mengajarinya berkuda” jawab Camilia lagi


“Benar Aile?”


“Benar Ibunda?” jawab Aile mengangguk manja.


“Kenapa bajumu kotor begini, dan kakimu terluka?”


“Ampuni kami, Ibu Ratu, kami berkuda dan berkeliling, saat di perjalan kudanya sedikir liar tidak terkendali sehingga kami terjatuh,” jawab Camilia mengarang cerita lagi.


“Apa? Kamu terjatuh putriku?,” tanya Ratu langsung syok dan mendekat ke Aile memeriksa.


“Aman Ibunda.., hanya kotor aja! Aile tidak apa- apa,” jawab Aile menyeringai.


“Ya Tuhan... Aile... Ibu sangat khawatir. Jangan diulangi lagi, lain kali pergi bersama pengawal!” ucap Ratu menegang.


“Ya Bu...,” jawab Aile mengangguk, Camilia pun berdiri menunduk.


“Ya sudah, jangan sampai ayahmu tahu, cepat mandi!” tutur ratu lagi membertahu.


Camilia masih menunduk hormat dan Aile mengangguk masuk, tidak lupa berpamitan pada Camilia, Camila mempersilahkan Putri masuk, kini tinggal Camilia dan Ratu.


“Aku bersyukur kalian bisa akur dan dekat,” tutur Ratu ke Camilia dengan wajah datar.


Camilia pun mengangguk tersenyum. Akan tetapi sepersekian detik wajah ratu kembali garang dan mendekat ke telinga Camilia.


“Tapi bukan berarti kamu boleh membawa putriku main sembarangan, ini untuk pertama dan terakhir. Ingat Abelard sudah meninggal!" tutur Ratu dengan suara lirih tapi tajam mengancam.


Camilia masih berada di posisinya mendengarkan.


"Dan berita itu akan segera raja umumkan dan sahkan! Kamu bukan siapa- siapa di keluarga ini!” ucap Ratu dengan wajah galaknya. Ratu sangat berharap dan yakin Daka benar- benar sudah mati. Ratu ingin putra- putranya yang menjadi penerus.


Camilia pun mengeratkan rahangnya, akan tetapi dia tetap menaha emosi, menjaga sikap.


“Ampuni saya, Ibu ratu, saya hanya mengikuti keinginan Putri untuk berkuda. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Kami hanya sama- sama merindukan Pangeran Abe!” jawab Camilia sangat lembut dan sopan.


“Hhh...,” Ratu hanya menghela nafas, lalu berbalik meninggalkan Camilia begitu saja.


Camilia pun mengangkat wajahnya dan tersenyum sinis melihat punggung ratu menghilang.


“Aku berjanji akan membuatmu bertekuk lutut, dan anak- anakmu akan kubuat menangis darah!” batin Camilia.


Camilia pun berbalik arah, bukanya pulang ke rumah, Camilia datang ke mansion kedua yang tak lain istri muda raja. Dia adalah istri ketiga yang juga menginginkan tahta. Belakangan ini diketahui, selir ketiga raja ini tengah berbadan dua yang artinya Abe akan mempunyai adik tiri dari ibu yang berbeda. Dia yang menyusun siasat agar Camilia menikahi Abelard, walau Camilia tidak pernah mencintai Aberlard.


“Bagaimana?” tanya selir muda raja menyambut Camilia.

__ADS_1


“Aku sudah dapatkan alamat perempuan itu, sepertinya dia bukan suruhan orang kerajaan, apa rencana kita selanjutnya, ratu?” tanya Camilia.


__ADS_2