Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kembali pulang


__ADS_3

“Kaak Abee…,” pekik Putri Aille sangat girang begitu para pengawal berjalan membuka pintu pavilliun istana raja.



Istana... Keluarga Raja


Di tengah pengawasan para pengawal, tampak dengan gagah, seperti sebelumnya Pangeran Aberald yang dikenal, memakai sepatu mahal dan semua pakaian bersih. Pria itu tak seperti pria tampan yang kemarin Putri Aille intip memakai kaus usang. Dan kini Pangeran Abe benar kembali ke hadapan Putri Aille.


Putri Aille pun sangat senang dan berbangga diri. Putri Aille kan yang memaksa menemui Bening dan menyuruh Bening melepas Pangeran Aberald. Meski Putri Aille juga penasaran bagaimana bisa Pangeran Aberald bertemu Ares yang penting sekarang, Pangeran Abe yang dia cinta ada di depanya.


Mendengar namanya dipanggil, Pangeran Abe langsung menoleh. Akan tetapi dia hanya diam tanpa ekpresi, meski hatinya berkata. “Ini pasti putri Aille yang Ares ceritakan, dia adiku, dia pernah ada juga di mimpiku, aku harus hati- hati atau percaya? Tidak, bahkan dengan ayah kandungku aku juga harus waspada, sebab yang mencelakaiku juga orang istana," gumam Pangeran Abe waspada.


Peristiwa pengeroyokan Pangeran Abe sangat jelas terekam di mimpinya. Pangeran Abe ingat wajah orang yang mencelakai juga mengerti logo pegawai istana dari pakaianya. Hanya saja Pangeran Abe tidak tahu siapa? Ibu Tiri ke satu? Kedua? Saudara nya atau siapa?


Aille yang melihat Pangeran Abe langsung berlari, tidak peduli pada para pengawal, Aille langsung memeluk erat Pangeran Abe. Walau Pangeran Abe bukan adik kakak yang sebenarnya, selain ibu dan bapak kandungnya , orang lain kan tahunya mereka saudara satu ayah.


“Tuhan Maha Agung. Tuhan mendengarku. Usahaku berhasil, aku yakin kakak pulang. Semua orang sekarang akan mendengarkanku, Kak Abe masih hidup dan pasti kembali, aku merindukanmu Kak, sangat! Pokoknya Kakak tidak boleh pergi lagi!" ucap Putri Aille panjang dan memeluk Pangeran Abe kuat.


Pangeran Abe pun tersentak bingung. Dalam hati sebenarnya tahu berdasarkan dari briefing dari Ares siapa saja anggota keluarganya dan juga ditunjukan fotonya. Pangeran Abe pun mencatat, kalau dia adik tirinya, saudara tiri satu- satunya yang care dan baik padanya selama ini.


Namun entah karena sudah mengenal Bening, atau atau karena niat Putri Aille yang cintanya sudah bukan tulus sebagai adik, atau gara- gara potongan mimpi Daka, sosok Putri Aille yang dia tangkap tak seperti yang diceritakan Ares. Pangeran Abe pun merasa risih dipeluk Aille.


Pangeran Abe juga merasa Bening sedang ada di ruangan itu, menampakan mulut manyun dan mata bulat sempurna tidak suka miliknya di sentuh orang lain.


Pangeran Abe pun tak membalas bahkan menahan Putri Aille untuk menjauh.


“Maaf,, saya tidak ingat, anda siapa?” ucap Pangeran Abe menjauh dari Putri Aille dan pura- pura tak tahu siapa Aille.


Pangeran Abe ingat, dia harus pura- pura lupa ingatan dan melihat siapa yang baik denganya dengan tulus, dan berbohong.


Mendengar perkataan Pangeran Abe, Putri Aille tersentak dan melonggarkan pelukanya.


"Kakak tidak ingat siapa aku?" tanya Putri Aille.


Pangeran Abe pura- pura bodoh dan tersenyum. "Tidak.. dari pakaian Anda, Anda seorang Putri. Salam Hormat Putri," ucap Pangeran Abe lagi masih bersandiwara.


"Iih...," keluh Putri Aille kesal. Di hadapan raja, dan rakyat, Pangeran Abe adalah putra pertama dan pemegang kehormatan tertinggi setelah ayahnya. Kenapa memberi hormat Putri Aille.


"Kakak sungguh tidak ingat?" tanya Putri Aille.


Pangeran Abe menggelengkan kepala.


"Hhh...pantes. Dia menyebalkan, aku tidak melakukan kesalahan kan? Pasti selama ini kak Abe dimanfaatkan...," gerutu Putri Aille lirih, mengepalkan tangan dan ingat hasutan Putri Camilia terhadap Bening.


"Pantes apa? Dia siapa?" tanya Pangeran Abe mendengar keluhan Putri Aille.


"Hah?" pekik Putri Aille kaget.

__ADS_1


"Dia siapa yang menyebalkan Putri?" tanya Pangeran Abe.


"Ehm..." dehem Putri Aille gelagapan. Tidak boleh ada yang tahu kalau Putri Aille sejak awsl tahu Pangeran Abe masih hidup di desa dengan seorang gadis, dan dia sudah mendatangi Bening, menyikasanya dan mengancamnya.


Sebenarnya, watak asli Putri Aille juga tak sekejam Camilia, tidak suka kekerasan dan manja. Hanya saja ambisinya besar dan mudah dihasut Camilia. Jadi Aille menyesal berbuat kesalahan dan menyakiti Bening.Dia juga sangat takut jika ketahuan.


"Siapa yang menyebalkan, Putri? Maaf. Apa di masalalu aku menyebalkan?" tanya Pangeran Abe pura- pura lagi.


"Ah no no no! Kakak adalah kakak tertuaku yang paling baik. Kakak tahu, Kakak adalah yang Mulia Pangeran Abe. Kakak calon pewaris ayah. Aku yang harus beri hormat ke Kakak! Aku adikmu Kak!" ucap Putri Aille dengan tulus memuji Pangeran Abe.


Mendengar pernyataan itu Pangeran Abe mengangguk. "Begitukah?"


"Iya Kak. Aku adikmu. Aku sangat merindukanmu!"


"Terima kasih!" jawab Pangeran Abe mengangguk.


Putri Aille pun tersenyum senang. Cintanya benar sudah kembali walau lupa ingatan. Putri Aille pun memilin tanganya, berharap Pangeran Abe menerimanya dan kembali memeluknya setelah diberitahu dia adiknya.


Tapi Pangeran Abe hanya menoleh sekeliling. Para Pengawal tampak menunggu mereka yang sedang bercakap untuk melanjutkan jalan.



"Baiklah adiku. Aku senang bertemu denganmu dan kembali pulang. Aku ingin bertemu ayah dan Ibunda ratu!" jawab Pangeran Abe tak sesuai mau Putri Aille.


"Ehm...iya. Kak. Tapi apa Kakak tidak merindukanku?" tanya Putri Aille kecewa karena tidak dipeluk.


"Tentu saja semua orang merindukanmu. Kami mencarimu. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi denganmu?"


"Akan aku ceritakan semua! Kita temui Ayah Ibu dulu?" jawab Pangeran Abe.


"Baiklah. Sebentar lagi jam makan siang. Ayo kita ke ruang makan, Kak!" jawab Putri Aille.


Daka mengangguk, "Baiklah!" jawab Pangeran Abe.


Dengan penuh kecewa karena tidak dipeluk, Putri Aille ikut berjalan beriringan dan dikawal pengawal menuju ke sati ruang tempat berkumpul keluarga raja untuk makan siang.


"Setidaknya Pangeran Abeku sudah kembali. Perempuan udik itu ternyata patuh juga padaku. Tapi dia tidak akan mengenaliku dan memberitahu Kak Abe tentangku kan? Aku harus bungkam perempuan itu? Tapi dimana dia sekarang ya?" gumam Putri Aille sembari berjalan pikiranya masih was was.


****


Di tempat lain


"Ah... menyebalkan!" keluh perempuan muda yang mengenakan kaos dan celana pendek duduk di kursi dengan kedua kakinya di tekuk di atas, melempar koran. Siapa lagi kalau bukan Bening.


"Apa sih? Ngeluh terus?" tanya Letitia


"Nggak ada apa lowongan kerja untuk lulusan SMA sepertiku yang lumayan gitu? Semua butuhnya S1," keluh Bening cemberut frustasi ternyata sedari pagi mencari lowongan pekerjaan.

__ADS_1


"Hmm.... udah sih nari aja!" jawab Tia


"Tia... aku mau nari dimana memang ada yayasan yang lagi butuh guru Tari?" tanya Bening rasional.


Bening sadar, Penari dengan Penyanyi itu beda. Penari yang banyak menari klasik biasanya di pakai saat ada pagelaran atau petunjukan juga lomba- lomba. Jika dulu Bening sering mewakili sekolah, sekarang Bening tidak ada tiket agar bisa mewakili. Bening tak punya instansi apapun untuk bisa jadi identitas.


"Ya nggak sih. Ya ngelamar dimana gitu? Daftar rombongan sanggar mana?" jawan Tia.


"Hmm ya daritadi aku juga nyari itu, tapi nggak ada. Sanggarmu aja udah penuh kaan?" jawab Bening cemberut ketus, rambutnya acak- acakan karena dia cepol ke atas dan sebagian jatuh.


"Ya sabar, Ning. Coba ke kafe?" usul Tia asal.


"Kafe apaan? Aku bukan penari striiptis ya Tiaa. Kafe mana yang mau bayar aku?" jawab Bening lagi.


"Iya sih? Kalau jadi waitres?" tanya Tia lagi.


"Jauuh tempatnya. Di toko mana? Di koran nggak ada!" jawab Bening lagi.


"Ya nanti kucariin."


"Maafin aku ya!" ucap Bening.


"Maaf kenapa?"


"Aku jadi benalu di sini?"


"Ish.. apaan sih? Kok ngomong gitu. Kamu nggak anggap aku temen? Ya udah sih santai aja,"


"Oke. Pokoknya aku janji kalau aku jadi orang kaya. Aku akan ingat kamu dan bayar semua semua kebaikanmu ini. Kamu juga boleh hitung sewaku menginap dan makanan yang aku makan kok!" jawab Bening lagi nyeletuk dengan tengilnya.


"Ish. Pruk...," dengan spontan dan blak blakan Tia melempar Bening pakai bantal.


"Apaan sih?"


"Kamu yang apaan. Sombong banget. nggak usah ngehayal. Dibilang nggak usah bahas. Nggak bisa bayar dosa lho!"


"Hehe....," jawab Bening nyengir.


Tapi sebenarnya Bening memang baper dan tidak enak hati merepotkan Tia.


*****


Kaak... kalau suka Bening... komen dong biar aku tahu ada yang baca.


Jujur, nulisku sedang tidak bergaji, semangatku kalau ada yang baca. Komen kalian jadi semangat...


Soo...like komen dan Vote ya.

__ADS_1


__ADS_2