Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Kak Abe


__ADS_3

"Ah hahaha...," Alika langsung tertawa sinis dan mengejek.


Bening tampak memakai celana jeans dan kaos putih, lalu memakai topi. Dan dia membawa baki berisi beberapa botol minuman bermerk Dabin Healthy Drink, Bening berkeliling menjual minuman layaknya penjual asongan.


"Bening...,"


Sementara Naka bergumam lirih dan tampak tersentak melepaskan gandengan tanganya dari Alika.


Mulut Bening bergetar hendak berkata, sepertinya sekarang bukan hanya Alika yang menaruh rasa. Naka seperti mulai melupakanya dan menyambut Alika di hatinya. Bening melihat sendirintangan Alika dan Naka berpegangan erat.


Bening pun meneguhkan hatinya berusaha nampak tegar, walau hatinya tetap bergemuruh. Bukan karena sakit cemburu karena Bening juga merasa mulai nyaman dengan Daka. Tapi Bening sedikit tidak menyangka, serendah itu cinta Naka.


"Hai..., mau beli minumanku? Cobain aku buat minuman segar!" tanya Bening tetap berusaha tegar dan tersenyum.


Tentu saja Alika semakin ingin mengejek.


"Kakak sekarang jualan?" tanya Alika mengejek


"Ehm... Iya! Mau coba?" tanya Bening.


"Ah...ya ampun Kakak. Minuman apa sih ini?" tanya Alika.


"Ini minuman sehat dan segar kok? Ini racikanku." jawab Bening.


"Kakak udah nggak kerja di museum tua itu?" tanya Alika lagi


Bening menggelengkan kepalanya


"Tidak!"


Sayangnya bukanya membeli mata Alika tampak berkeliling dan memanggil ibunya.


Ya, Bu Damita ternyata ikut Alika.


"Maah. Lihatlah anak Mamah!" tutur Alika sengaja ingin mempermalukan Bening.


Bening menelan ludahnya dan mengeratkan rahangnya menahan kesal. Setelah ini pasti akan ada sesuatu yang menyebalkan.


"Astaga! Bening... kamu jadi penjual asongan?" pekik Bu Damita keras.


Daka yang ikut berkeliling dan daganganya lebih laku. Saat dia melayani pembeli melirik ke Bening dan mendapati Bening mendapat situasi menyebalkan itu.


Daka pun bergegas mendekat.


"Kenapa memangnya?" pekik Daka langsung membela Bening.


"Oh.. yaya. Kamu menolak permintaan kami menikah dengan saudagar kaya dan memilih jadi pedangan asongan begini? Jadi suamimu yang berandalan ini? Yang ajarin?" pekik Bu Damita lagi.


Bening semakin geregetan, tapi mulutnya dibuat bergetar saking kesalnya bingung mau bilang apa. Ingin memaki tapi di tempat ramai.


Naka pun tampak sangat canggung seperti maling kepergok.


"Berjualan sesuatu yang terhormat. Daripada mendapat pekerjaan dengan cara yang curang!" jawab Daka membela Bening.


"Apalagi merebut hak orang lain!" sambung Bening. Daka dan Bening bersatu saling membela.


"Ya, asal jualanya bener dan nggak sembari mencopet atau mencuri ya! Biasanya berandalan seperti ini suka menghalalkan segala cara!" sahut Alika sembari menyindir tetap Angkuh.


Bening dan Daka kali ini agak tersinggung. Entah apa mingkin Alika tahu Daka sempat mengerjai ibunya.

__ADS_1


"Maksudmu apa? Kamu lihat kan? Aku dan Daka berjualan secara sehat. Ini produk buatan kami! Kami bekerja keras! Tidak memakai jalan curang dan menghalalkan segala cara!" jawab Bening membela dan sangat bersikeras.


Akan tetapi Daka tampak hanya mengulum lidahnya. Ya. Daka memang pernah melakukan itu tapi dia bertujuan mengerjai dan memberi pelajaran. Toh uang Bu Damita ada hak Bening.


"Mana tahu kan? Dasar Rendahan!" ucap Alika mengejek dengan muka congkaknya dan tanganya kembali terulur meraih tangan Naka. Alika dengan sangat sengaja seperti menunjukan kalau Naka sekarang miliknya.


"Tapi kami tidak seperti itu!" sanggah Bening cepat.


Bening pun menelan ludahnya dan matanya tertuju pada tangan itu. Sementara Daka menatap Bening khawatir Bening tersakiti. Benar saja mata Bening tampak berkaca- kaca dan Bening sedikit gelagapan.


"Oh ya?" tanya Alika sinis.


"Kalian mau beli tidak? Kalau tidak ya sudah. Saya tidak ada waktu meladeni kalian!" tutur Bening cerdas dan hendak berbalik malas meladeni Alika apalagi melihat adegan yang menurutnya rendahan. Bening kan juga bisa bermesraan. Daka juga lebih tampan dari Naka. Tapi Bening sakit dengan semua hinaan Alika.


"Eits tunggu!" ucap Alika mencegah Bening pergi.


"Apa?" tanya Bening kesal.


"Pulanglah! Lusa.. Di rumah ada acara makan- makan. Kami mau tunangan. Pedagang asongan seperti kalian, pasti jarang makan enak kan? Datanglah! Kami akan sediakan banyak hidangan lezat!" tutur Alika sengaja menghina dan menyakiti Bening.


Bening dan Daka yang mendengarnya semakin gatal.


"Selamat ya...untuk kalian!" ucap Bening tergagap, tapi berusaha tegar agar tidak merendahkan diri. Bening sakit dengan hinaan Alika. Padahal semua kekayaan ayahnya dulu karena kerja keras ibu Bening.


Alika pun tersenyum sinis, sementara Naka sedari tadi diam membisu, seperti malu dan tertekan.


"Jangan iri ya.. kalau Alika kubuatkan pesta sementara kamu tidak. Kan kamu sendiri yang memilih jalanmu menikah tidak dengan hormat, memilih pendamping berandalan seperti dia. Beda kasta. Naka ini pegawai! Jadi harus kami buatkan pesta!" ucap Bu Damita menghina Bening lagi.


Kali Bening sudah tidak tahan lagi mendengar dan memilih pergi. Dia tersenyum getir.


"Ya!" jawab Bening. "Selamat untuk kalian. Permisi!" ucap Bening geram.


Lalu Bening berjalan cepat membawa bakinya.


"Kalian akan menyesal, menghina kami!" ucap Daka menatap Bu Damita dan yang Alika.


Alika dan Bu Damita hanya bersedekap sinis.


Bening tampak berjalan cepat menjauhi kerumunan. Daka pun menyusulnya. Mata Bening yang berkaca- kaca rupanya pecah juga. Dia berjalan sembari menangis. Bahkan satu persatu, botol minumanya terjatuh dan tidak dia hiraukan.


Sembari mengejar Daka yang memungutnya. Beberapa pembeli ada yang menghadang Bening hendak membeli juga dia hiraukan. Sehingga Daka yang melayaninya. Di tangan Daka botol minumanya laku. Akan tetapi Daka terus mengawasi langkah Bening


Daka pun terus mengejar Bening.


"Bening!" panggil Daka meraih tangan Bening dan membiarkan baki minuman Bening jatuh.


Benar... air mata Bening sudah jatuh, dan wajahnya berlinangan air mata.


Daka pun menarik tangan Bening dan menarik dalam pelukanya.


"Hiks..hiks..," isak Bening menumpahkan air matanya di dada Daka.


"Kita akan lebih sukses dari mereka. Kamu harus percaya!" bisik Daka menyemangati Bening.


Bening kemudian menjauhkan diri dari pelukan Daka.


"Tapi apa realitanya? Jangan terlalu bermimpi. Sedari tadi kita jualan kita juga baru mendapat uang tidak lebih dari 200 ribu kan? Kita memang kalah!" jawab Bening dengan emosional.


Ya. Daka dan Bening sudah bekerja keras, tapi minumanya baru laku sebagian. Satu botol dia jual seharga 5000 rupiah dan baru laku sekitar 15 botol.

__ADS_1


"Ini proses, Bening!" tutur Daka.


"Aku hanya penjual asongan!" lirih Bening menunduk.


"Kamu sakit karena ini? Atau karena kamu cemburu mendengar mereka akan tunangan?" tanya Daka lagi.


Bening masih terisak tidak menjawab.


Hatinya sangat sakit dipermalukan dan dikatai penjual asongan. Terlebih dia malu, menyesal selama ini mempercayai Naka mencintainya. Padahal memory masa kecil Bening bersama ibunya masih jelas melekat. Bening juga mengidolakan Naka.


Bening adalah putri kecil dari saudagar kaya punya karyawan dan beberapa toko. Bening juga begitu dimanjakan.


Melihat Bening menangis membuat hati Daka tersayat. Bingung mau berkata apalagi. Daka mendekat ke Bening dan meraih dagunya. Tidak peduli di tepian jalan, di bawah tiang lampu jalan. Dengan gerakan cepat, Daka menundukan kepalanya, dan mendaratkan bibirnya, mencium Bening dalam keadaan sadar.


Bening juga kaget dan membeku menerima ciuman Daka. Seketika itu tubuhnya meleleh. Membawanya rasanya ke alam dunia lain meski berada di tempat yang sama.


Daka tidak peduli, apa setelah ini Bening marah, dia hanya ingin menyalurkan energi positif dan memberitahu Bening. Ada dia yang ingin membahagiakannya.


"Ehm...," dehem Bening gelagapan saat nafasnya mulai tersengal. Bening sedikit mendorong Daka menjauh, dan menoleh ke sekeliling malu.


"Kenapa?" tanya Daka.


Bening mengelap bibirnya, mendadak hatinya seperti tersengat listrik panas membara dan berdegub kencang.


"Ini di muka umum!" lirih Bening gelagapan dan membuang muka dari Daka. Tapi Bening sama sekali tidak marah. Bahkan tadi membiarkan Daka menyelesaikan inginya sampai beberapa saat.


Daka tersenyum, Daka mengira Bening akan marah atau mengatainya karena dia berani menciumnya. Rupanya Bening hanya malu karena mereka berciuman di pinggir jalan.


"Berarti kalau di rumah mau lagi?" bisik Daka dengan mata nakalnyam


"Ehm..., apa sih?" Dehem Bening gelagapan malu dan berjalan meninggalkan Daka.


Daka kembali tersenyum lalu mengambil bakinya. Untung minumanya sudah habis.


Daka pun mengejar Bening untuk berjalan mensejajarinya berjalan.


"Kita pulang atau lanjut jualan?" tanya Daka.


"Terserah...," jawab Bening singkat tidak berani menatap Daka.


"Aku lihat kamu kelelahan. Pulang aja ya!" jawab Daka.


"Katanya mau kaya dan sukses. Dagangan kita masih banyak!" jawab Bening.


"Titipin Bu Maria aja!" jawab Daka


"Dasar pemalas!" cibir Bening.


Daka hanya tersenyum lagi. Bening pipinya merona merah walau cemberut. Daka ingin segera pulang karena berfikir lain.


"Berjualan dengan mata sembab begitu kurang baik!" jawab Daka lagi.


"Ish...," desis Bening tetap tidak berani menatap Daka.


Tidak lama mereka tiba di lapak Bu Maria. Bu Maria pun menyambut Daka dan Bening.


Minuman yang ditaruh di bok dekat Bu Maria ternyata laku lebih banyak.


"Itu mereka penjualnya!" tutur Bu Maria ke pembeli menunjuk Daka dan Bening

__ADS_1


Dan di situ berdiri seorang gadis cantik berpenampilan elegan. Gadis itu menatap Daka lekat.


"Kak Abe!" pekik gadis itu ke Daka.


__ADS_2