Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Hidupku.


__ADS_3

Daka dan Bening berjalan ke tempat dia menaruh box daganganya yang dititipkan ke Bu Maria dan rekanya.


Bening dan Daka tampak berbinar melihat ada yang membeli minumanya.


Siapapun yang membeli mereka bahagia, ibu- ibu yang membeli dengan menawar juga membuat mereka berbunga. Apalagi yang dia lihat sekarang adalah sesosok gadis cantik dengan penampilan yang terlihat berkelas, pasti akan beli banyak.


Gadis itu juga tidak sendirian, entah teman atau siapanya, tampak 3 orang menunggui gadis itu, dua pemuda bertopi mengenakan kaos ketat badanya tampak tinggi tegap. Satu perempuan tinggi semampai juga badanya terlihat berotot dengan rambut diikat rapih ke belakang. Padahal gadis yang membelinya itu terlihat manja. Sepertinya akan laku banyak, pikir Daka.


“Itu mereka penjualnya!” tutur Bu Maria menunjuk ke Daka dan Bening. 


“Kak Abe!” lirih gadis cantik itu dengan mulut bergetar begitu menoleh ke Daka dan menatap Daka.


Sementara Daka dan Bening tampak mendekat dan tersenyum menganggukan kepala berniat ramah ke pembeli.


Ya mereka berdua, sepanjang waktu beberapa hari lalu, setiap berusaha meracik resep. Sembari bercengkerama, berandai- andai, saling mengakrabkan diri dan besenda gurau, Bening juga mengajarkan banyak trik jualan. Bening memberi tahu Daka, harus ramah, jaga omongan jangan suka membentak, nyeletuk komentar setiap yang dia lihat dan sok kaya. 


Sebab jika tidak diajari sifat Daka yang sok kaya dan memerintah suka keluar.


Untung saja jalan kehidupan menyesatkan Daka bertemu dengan pemulung, pekerja keras serta bijaksana seperti Bu Maria jadi Daka sudah banyak tertempa dan menyesuaikan diri dengan pergaulan kaum sudera dan rakyat jelata. Daka mematuhi kata Bening dan berlatih ramah selayaknya kaum rendahan.


Saat Daka menganggukan senyum hendak menyapa dan bertanya apa yang hendak dibeli, bukanya menjawab gadis itu tampak sedikit berlari memeluk Daka erat.


Daka sendiri langsung kaget, sementara ketiga teman gadis itu tampak maju tapi tidak berani mencegah dan membiarkan gadis itu memeluk Daka.


Bening yang berjalan di sisi Daka langsung terdiam menyisih ikut kaget matanya melotot dan muncul berbagai tanya, begitu juga Bu Maria dan rekanya. 


Hanya saja, sepersekian detik, ada rasa sakit yang menjalar di hati Bening. Rasanya tidak terima pria yang baru saja menciumnya, dan dia mulai membuka hati menerima menjadi suaminya, miliknya, dipeluk orang lain. Apalagi jika dilihat dari pakaianya tampak jauh lebih bagus. 


Hati Bening mendadak terasa panas dan terbakar. Beberapa hari ini, Bening selalu menyadarkan dirinya, Daka suaminya, membiarkan Daka tidur di sisinya dan memeluknya, menjamaah tubuhnya, setiap malam meski masih saling membisu dan malu- malu tanpa kata. Ya...diam diam Bening memang mulai menyadari Daka memeluknya bukan mimpi tapi nyata.


Siapa gadis ini? Benarkan, sesuai perkiraan Bening dia adalah masalalu Daka dan akan membawa Daka pergi.


Seketika itu nafas Bening teresendat dan seperti ada yang mencekik lehernya, sangat sesak, sampai tak terasa Mata Bening memerah dan berkaca lalu meneteskan air mata. Apalagi, perempuan itu tampak sangat erat memeluk Daka seperti menumpahkan kerinduan yang teramat sangat. 


Daka yang dipeluk secara paksa dan tidak mengenali gadis itu tidak bereaksi. Daka justru menoleh ke Bening. Melihat Bening tampak murung dan matanya berkaca- kaca, Daka langsung melepas pelukan gadis itu cepat, bahkan mendorongnya kuat.


“Jangan kurang ajar, Nona!” ucap Daka malah membentak gadis itu. 


Karena didorong Daka, gadis yang memakai dress dan sepatu cantik itu tersungkur jatuh dan kaget, hingga temanya langsung maju menolong.


Bu Maria dan Bening juga melotot kaget. Bahkan salah satu teman gadis itu hampir memukul Daka. 


“Jangan pukul Kak Abe!” teriak Gadis itu. 


Bening pun semakin melotot. Bening yang menyadari Daka adalah orang hilang yakin, nama Daka memang Abe dan gadis ini adalah masalalu Daka.


Sementara Daka tampak diam. Gadis itu berusaha bangun dan mendekat ke Daka dengan mata penuh harap. 

__ADS_1


“Kak Abe ini aku, Camilia, aku calon istrimu!” ucap Putri itu mendekat ke Daka. 


“Gleg!” Bening semakin lemas dan menelan ludahnya, kali ini air mata Bening yang tadi sempat surut kembali mengalir dan menetes. 


“Hooh,” pekik Bening dengan menghela nafas, jantungnya terasa lepas.


Ini yang paling Bening takutkan. Kenyataan di kehidupan Daka sebelumnya ada perempuan lain. Bening yang baru saja memulai, baru saja rela dicium Daka dan memupuk harapan indah, merasa sangat patah. 


Tidak peduli lagi tentang daganganya yang dia perjuangkan selama beberapa hari. Bening langsung berlari cepat meninggalkan mereka, Bening tidak kuat mengetahui detail kenyataannya. Apalagi dalam waktu dekat dia harus merasakan sakit yang bertubi.


"Anda salah orang, Nona. Namaku Daka, aku sudah beristri!” jawab Daka cepat.


Walau Daka ingin tahu siapa dirinya sebenarnya, tapi semua itu tak berarti dan tidak ada yang lebih penting dari Bening. 


Daka pun mengabaikan gadis itu dan tidak menghiuraukanya. Daka berniat mengejar Bening. Sayangnya gadis itu bersikeras meraih tangan Daka. 


“Kak... ini Aku, aku nggak salah. Kamu Kak Abe. Allie sangat merindukanmu, ayo pulang bersamaku. Kita semua mencarimu dan menunggumu. Allie pasti sangat bahagia Kak... kita juga akan segera menikah!” ucap Gadis yang itu meraih tangan Daka. Langkah Daka jadi terhenti sementara Bening tampak berjalan dan berlari cepat.


“Saya Daka, bukan Abe!” ucap Daka menghempaskan tangan gadis itu lagi dan tidak menghiraukan semua perkataanya. Walau sebenarnya perkataan Gadis itu cukup menggelitik otak Daka, merayu agar Daka mencari tahu kebenaranya. Tapi lebih dari itu Daka tidak ingin kehilanhan jejak Bening.


Melihat temanya di kasari, entah pengawal atau temanya, dua pria yang menjaga gadis itu tampak mendekat dan seperti hendak memukul Daka.


Daka jadi harus meladeni kedua pria itu. Karena emosi dan Daka kuat, Daka pun dengan cepat mengalahkan dua pria itu dan Daka berlari cepat mengejar Bening. 


Bening rupanya langsung naik ke bus jurusan ke desa, dan Daka melihatnya naik. Daka berlari cepat tapi tetap tertinggal. Daka nekat meminta tukang ojek mengejarnya, sampai Daka yang di depan mengendarai motor itu mengejar bus yang dinaiki Bening. 


Daka melaju di belakang bus Bening, sampai mereka tiba di jalan menuju ke desa tempat Bening berhenti.


Daka berhasil mengejar Bening dan sampai lebih dulu. Daka pun menghadang Bening di dekat pintu rumah penitipan sepeda. 


Daka berdiri dengan tubuh tinggi tegap dan penuh karismanya bersandar di tembok, menatap Bening yang berjalan menunduk dengan mata sembab. 


“Kenapa pergi dan lari?” tanya Daka setelah itu mengulum lidahnya dan menatap Bening pias. Daka tidak bisa melihat Bening murung dan menangis, air mata yang keluar dari kelopak mata Bening seperti tetesan racun yang mengiris hatinya. 


Bening tidak bisa menjawab dan hanya diam. Sepanjang jalan naik bus, Bening banyak meneteskan air matanya. Bening merasa sangat sakit, dia baru saja kehilangan Naka dihina Alika. Saat lukanya mulai sembuh dan terisi Daka, dia harus menerima kenyataan kalau Daka bukan miliknya dan harus melepasnya.


Bening menyesali kenapa Bening tidak bersikukuh mengusir Daka dan menolak pernikahanya. Bening menyalahkan hatinya kenapa berfikir Daka benar- benar akan menjadi sandaran hidupnya. Kenapa Bening lupa kalau Daka hanya orang terdampar yang lupa ingatan.


“Kenapa tidak jawab, liat aku!” ucap Daka lagi dengan nada  lembut tapi penuh penekanan. 


Bening menelan ludahnya kemudian mengangkat wajahnya menatap Daka. Setelah yakin dengan pemikiranya. Dia tidak boleh egois dan harus mematahkan kuncup daun yang mulai tumbuh di hatinya. Bening sadar, gadis tadi pasti mencintai dan dicintai Daka lebih dulu.


“Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu mengejarku, gadis itu mengenalimu? Aku yakin ini petunjuk untuk kamu. Ini kan yang kita tunggu- tunggu! Seharusnya kamu bisa bertanya banyak padanya. Aku yakin dia memang bagian dari masalalumu dan kehidupanmu yang sebenarnya, kamu bisa pulang dan mendapatkan ingatanmu bersamanya? Kamu bisa tahu siapa kamu dan keluargamu..” ucap Bening lagi dengan nafas memburu dan matanya tampak merah berkaca- kaca. 


Daka kemudian menunduk sebentar tersenyum masam lalu menatap Bening dalam. 


Bening ditatap Daka seperti itu jadi gelagapan. Kenapa Daka tidak menjawab, apa yang ada di pikiranya.

__ADS_1


“Minggir! Aku mau pulang dan ambil sepedaku!” ucap Bening lagi, meminta Daka memberinya jalan lewat, karena kaki Daka menghalangi Bening. 


Daka tidak bergeming dan masih di tempatnya semakin menatap Bening intens. 


Bening semakin salah tingkah. Daka kan juga berobat ingin tahu kehidupan dan pulih ingatanya. Harusnya Daka menyambut gadis tadi.


“Pergil! Jangan halangi aku dan ikuti aku. Kamu sudah sehat kan!” bentak Bening lagi.


Daka masih tetap diam dan menatap Bening.


Bening tidak sabar.


"Iih!" Bening pun bertekad mengerahkan tenaganya, menggerakan tangan maju berniat menggeser tubuh besar Daka. 


Daka yang tinggi besar masih tampak berdiri kokoh. 


“Hhh...Minggir!” bentak Bening hanya capek sendiri menggeser tubuh Daka tapi tidak kuat.


"Minggir!" ucap Bening memohon dengan wajahnya yang tampak memelas, kali ini memakai senjata perasaan.


Daka pun menggeser tubuhnya sedikit kasian melihat Bening tampak memohon.


Begitu ada celah, Bening berniat berjalan melewati celah jalan itu, sayangnya tangan Daka bergerak cepat meraih tangan Bening dan kembali menarik Bening berhenti. 


“Apa sih?” bentak Bening lagi. 


“Katakan sekali lagi! Kamu ingin aku pergi?” tanya Daka serius. 


Entah kenapa ditanya Daka serius seperti itu, mendadak, Bening jadi gelagapan tidak berkata- kata. Seperti datang rasa kecewa dan takut?


Apa jika Bening mempersilahkan dan Bening berkata Pergi sekali lagi Daka benar- benar akan mencari gadis itu dan kembali ke keluarganya?


Bening merasa seperti tidak rela, tapi bukankah ini yang Bening inginkan dan Mereka usahakan. Mereka kan ingin Daka cepat ingat. Bening jadi tidak bisa menjawab dan membeku, mana yang sebenarnya Bening ingin.


“Cup...,” tidak sabar menunggu Bening menjawab, sepersekian detik, Daka kembali mendaratkan bibirnya, melahap bibir Bening yang tampak bergetar, untuk kedua kalinya dalam keadaan sadar di tempat terbuka, bahkan lebih kuat dari sebelumnya dan tampak lebih brutal. 


Untung saja pemilik penitipan sepeda nya adalah nenek tua dan sedang ke kamar mandi. Jam itu juga bukan jamnya orang pulang dari sekolah atau bekerja. Jadi penitipan sepeda sepi. 


Bening kembali tidak menolak dan membiarkan Daka menikmati bibirnya, bahkan Bening merespon, meski air matanya tampak kembali menetes perlahan. 


Daka kemudian melepaskan ciumanya dan menangkup pipi Bening dengan tangan kekarnya, Daka menyeka air mata Bening, dan menatap Bening dalam.


“Kamu istriku! Sementara dia hanya calon, aku tidak mengenalnya. Kamu hidupku sekarang ataupun nanti! Tidak peduli apapun itu. Aku tidak akan pergi dan jangan suruh aku pergi!” ucap Daka ke Bening.


Bening terbengong dan terpaku mendengar kata Daka. Hatinya mengembang lega. Tidak menunggu Bening menjawab Daka langsung menggenggam tangan Bening.


"Kita pulang bersama!" ucap Daka mengajak Bening pulang.

__ADS_1


"Kamu istriku, aku akan membuatmu menjadi istriku sepenuhnya. Apapun itu!" batin Daka ingin segera pulang.


Daka melihat tadi pagi Bening sudah bersih- bersih bahkan di tempat sampah tak ada pembalut lagi.


__ADS_2