
"Daka....," pekik Bening untuk ke sekian kalinya.
Di dalam sungai yang airnya jernih dan mengalir tenang, juga terdapat satu kedung yang dalam, Daka menunjukan kepiaawaianya menyelam yang tidak Bening tahu. Daka, mengejar Bening dan terus memberinya kejutan tahu- tahu selalu sudah mendekap Bening, menangkap kakinya juga menghadang Bening saat Bening berenang.
Favorit Bening di bagian aliran sungai yang datar jernih dan tenang.
"Kenapa?" tanya Daka tersenyum senang berhasil mengejar Bening. Padahal Bening terus mencari arah air yang dalam.
"Lepas iih! Kenapa ikutin aku terus sih? Sana" usir Bening tersipu malu.
Daka hanya memakai celana pendek dengan dada terbuka, bekas luka jahit yang membentuk garis hitam masih terlihat jelas di lengan atas Daka. Selain itu tentu saja tonjolan tulang dan otot- otot kuat Daka terpampang nyata.
Hal itu membuat Bening malu, walau berada di dalam air, tubuh Bening terasa memanas. Padahal Bening sudah merasakan betapa nyaman saat Dada itu memberikan perlindungan dan menjadi sandaran.
Bening sendiri hanya mengenakan celana ketat dan pendek dengan kaos yang pres body tanpa lengan. Berenang di alam terbuka berbeda dengan Berenang di kolam, jadi lebih tertutup, meski begitu, dia sudah sangat menarik perhatian Daka.
"Aku ingin tahu. Bagaimana aku terdampar dan bagaimana kamu menolongku!" ucap Daka tenang dengan tatapan smirknya, tidak tahu kalau Bening sedang menahan deguban jantung yang terus bertambah kencang.
"Ho...," pekik Bening terbengong salah tingkah.
"Kamu bilang kamu menemukanku saat kamu berenang di sini kan? Sepertinya kamu memang sangat senang berenang di sungai ini!" tutur Daka lagi
Bening kemudian menelan ludahnya dan mengulum lidahnya. Memalukan sekali saat itu.
"Hei kok ngelamun sih?" tanya Daka.
"Untuk apa?" tanya Bening.
"Ya kan aku ingin tahu," jawab Daka.
Bening kemudian mengangguk lalu menoleh ke arah aliran sungai atas mereka yang lebih deras.
"Di sana, di batuan sana!" ucap Bening menunjuk.
Daka ikut menoleh, ke arah tempat yang Bening tunjukan.
"Kamu berenang di sana?" tanya Daka sedikit tidak percaya.
Bening menelan ludahnya dan mengangguk. Saat itu kan Bening sangat patah hati karena gagal menang lomba. Beberapa waktu Bening menyukai tempat yang berarus kebetulan tak terlalu jauh.
"Kamu tersangkut di bebatuan sana!" ucap Bening lagi
"Kesana yuk!" ajak Daka.
Bening memanyunkan bibirnya.
"Sepertinya hari sudah mulai sore, pulang aja ya!" jawab Bening menolak.
__ADS_1
Sesungguhnya Bening masih betah, tapi ke gep Daka dalam keadaan berpakaian minim dan sama- sama berada di dalam air hanya berdua membuatnya berpikiran jauh.
"Ah biasanya kamu juga lebih sore!" jawab Daka spontan menarik tangan Bening
"Auh!" pekik Bening kaget dan oleng masuk ke air.
Daka hanya tersenyum, sementara Bening menoleh ke Daka.
"Kau bilang biasanya? Kamu tahu aku suka renang di sini?" tanya Bening
"Taulah!" jawab Daka diam- diam selalu intip Bening.
"Ish..., kamu suka intip berarti?" desis Bening manyun.
"Intip istri sendiri nggak apa- apa kan?" jawab Daka.
Mereka kemudian berjalan melawan arus dan sampai di tempat bebatuan dan aliranya lebih deras dari tempat mereka sebelumnya.
"Kamu tersangkut di situ. Aku berenang di sini!" tutur Bening menunjukan batu tempat Daka terdampar.
Daka mengedarkan pandangan di tempat itu. Daka tampak tersenyum sebentar dan tampak menghirup udara sekitar.
"Tempat yang indah," gumam Daka.
"Hoh?" pekik Bening lagi.
Daka kemudian menarik tangan Bening dan menggenggamnya.
"Ehm...," dehem Bening mendadak jadi salah tingkah.
Daka tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya, meraih dagu Bening, lalu kembali mendaratkan bibirnya untuk kesekian kalinya.
Jika sebelumnya dalam keadaan Bening sedih, kacau malu, dan banyak orang kini Daka melakukanya di alam terbuka yang begituan tenang, hanya berdua, bahkan berendam di dalam air yang menyejukan.
Seperti air yang mengalir jernih, tubuh bening ikut hanyut dalam belaian Daka. Bening luluh, tak menolak dan membiarkan tangan Daka menjelajahi tubuhnya. Hingga tangan Daka bebas bergerak kemana dia mau, mulai dari menurunkan tali yang menempel di bahu Bening lalu turun ke bawah.
"Daka..." deesah Bening lembut saat dia menyadari tangan Daka menurunkan celananya.
Daka tak menjawab, dia justru membawa Bening mendekat ke bebatuan yang lebih dangkal. Mata Daka kini memerah, Bening pun menelan ludahnya gelagapan. Tapi dia tidak bisa berkutik karena ternyata kini dirinya sudah menanggalkan pakaianya.
"Kamu wanitaku. Dan selamanya kamu milikku" bisik Daka mencengkeram kedua lengan Bening.
Daka kembali mencium Bening, mengendus ke belakang telinga Bening, sehingga tubuh Bening seketika itu melemah pasrah bersandar di bebatuan.
Tidak membuang kesempatan, Daka melakukan penyatuan kepada Bening.
"Aak...," pekik Bening tersentak saat bagian tubuh termahalnya terkoyak.
"Maaf, aku akan lebih pelan," bisik Daka lembut.
Bening mengangguk, dan membiarkan suaminya mendapatkan haknya. Tidak peduli apakah ada ular atau binatang liar datang, di temani gemericiknya air yang menabrak bebatuan juga daun- daun yang rimbun, mereka berdua melakukan penyatuan, saling merelakan dan mengikrarkan untuk saling terpaut dan bergantung.
__ADS_1
Karena sama- sama pengalaman pertama, juga sudah sore dan di alam terbuka, mereka menyelesaikanua dengan cepat.
"Hoh.. hoh..," Daka bernafas cepat setelah selesai mengeluarkan segenap tenaganya.
"Ehm...," sementara Bening juga langsung berdehem, sebenarnya sangat lelah, tapi dia langsung sadar dirinya manusia, bukan binatang, tak seharusnya di alam terbuka seperti itu.
"Dimana pakaian kita. Ayo pulang!" ajak Bening.
"Di bawah!" jawab Daka.
Daka mengambil pakaian basah yang tadi dia simpan di bebatuan tapi melarang Bening memakainya. Mereka kemudian berenang bak ikan tanpa pakaian mengikuti arus ke aras tempat mereka pertama masuk ke air.
Tanpa mengenakan pakaian dalam mereka segera mengenakan pakaian kering yang diletakan di pasir. Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ke rumah
"Mau kugendong nggak?" tanya Daka melihat Bening jalanya tampak lebih pelan.
"Tidak usah!" jawab Bening
"Ayolah sayangku. Aku gendong ya!" ucap Daka merayu.
Langsung berjongkok di depan Bening
Bening menelan ludahnya masih malu, meski begitu, walau Bening tak mengucapkanya, Bening sudah menunjukan cintanya, bahkan melebihi apapun. Bening tidak bisa gengsi dan bersembunyi lagi.
"Naiklah!" ucap Daka.
Akhirnya Bening naik digendong Daka pulang ke rumah, tangan Bening membawa pakaian basah mereka.
Bening pun tak ragu lagi memeluk Daka, dan bertumpu nyaman agar tidak jatuh selama berjalan.
"Mulai sekarang, ceritakan apapun yang kamu rasa ke aku ya! Jangan menangis sendirian lagi" ucap Daka sembari berjalan.
"Iyah!" jawab Bening
"Jangan suka lari ke sungai sendirian juga. Ajak aku, jangan suka mengambil kesimpulan sendiri juga!" tutur Daka lagi.
"Iyah!" jawab Bening lagi.
"Pokoknya mulai sekarang, aku akan terus bersamamu. Kita akan lalui semua apa yang di depan kita. Mengerti!"
"Iyah!" jawab Bening lagi.
Mereka sampai ke rumah, untung sudah sore, sepertinya mereka aman. Mereka pun segera menyalakan lampu, lalu membilas mandi di kamar mandi sempit mereka.
"Jangan lagi. Nanti lagi!" pekik Bening kaget saat melihat Daka ternyata bangun lagi.
"Sekarang aja tanggung!"
"Aku nggak mau di air terus!" jawab Bening
"Oke...di kamar ya!" bisik Daka nakal.
__ADS_1
Bening segera menyambar handuknya dan pergi.