Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Daka.


__ADS_3

Matahari segera naik, dan hari sudah siang. Tidak mau membuang waktunya memikirkan pria asing yang tidak bisa Bening tebak, Bening yang sejak kemarin belum ganti langsung ke kamar mandi membersihkan diri dan berganti pakaian kerja.


Walau bergaji kecil, walau pengunjung gedung yang menyimpan barang- barang kuno itu sepi, saat ini itulah satu- satunya gantungan hidup Bening. 


Karena kemarin Bening dijemput Naka, hari ini Bening bekerja dengan jalan kaki. 


"Kenapa seperti ada yang mengintaiku?" guman Bening dalam hati merasa ada yang memperhatikan. 


Bening berhenti dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi tidak ada orang. Bening pun melanjutkan jalanya dengan cepat 


Untung saja, atasan Bening Leon. Walau bukan sifat asli Bening telatan, tapi setidaknya Bening tidak mendapatkan sanksi berat karena telat 2 jam.


"Selamat Pagi. Bos. Enak banget yaa jam segini baru berangkat?" sambut Leon langsung menyindir Bening.


"Hmmm…., maaf,"


Sayangnya, jika biasanya Bening akan bersikap aktif dan melawan jika diisengi, hari ini Bening tidak merespon dan justru minta maaf. Sebenarnya hal itu sedikit mengganggu Leon, tapi Leon jadi semakin ingin membercandai Bening.


"Yang habis kencan? Mana pajaknya? Telat lagi!" goda Leon lagi 


dan untuk yang kedua kalinya, Bening mengacuhkan Leon tidak merespon baik.


"Apasih?" jawab Bening lalu mengambil pencilnya berkeliling memeriksa.


Leon pun terdiam, karena kesal tidak ada teman berantem Leon mengejar Bening dan mensejajarinya. 


"Kamu kenapa sih?" tanya Leon kemudian. 


"Aku lagi malas bicara?" jawab Bening datar terus melangkah tanpa menoleh ke Leon. 


"Abis kencan kok malah cemberut? Benar kan Naka nggak baik? Udah sama pria asing itu aja!" cibir Leon.


Mendengar ucapan Leon, Bening langsung berhenti dan menatap Leon tidak suka.


Leon jadi gelagapan, kali ini Bening semakin seram seperti marah sungguhan. 


"Kak Naka baik. Stop jelekin Kak Nakaku!" ucap Bening tegas dan tajam.


Leon menelan ludahnya. Tapi tetap tidak menyerah mengajak Bening bicara agar bawel seperti biasanya.


"Terus kenapa mukamua ditekuk gitu! Pria itu tampan kok. 11 dua belaslah sama aku. Naka itu kurang greeng kalau menurutku?" goda Leon lagi. 


Kali ini Bening mengepalkan tanganya dan sifat bawelnya mulai datang lagi. 


"Nggak usah sama- samain. Lagian siapa pria itu. Udah pergi juga?" jawab Bening.


"Daka Pergi?" tanya Leon kaget..


"Apa katamu? Daka?" tanya Bening kaget dan terasa asing dengan nama itu 


"Hehe!" Leon kemudian garuk- garuk kepala mengingat kejadian kemarin..


Bening mengernyitkan matanya. Sambil berjalan, Leon pun cerita percakapan Leon dan Pria asing yang Leon namai Daka itu.


Flaschback.


"Aku ingin tinggal di sini!" ucap Pria itu.

__ADS_1


Leon yang sedang makan langsung tersedak kaget mendengarnya.


"Tidak bisa. Mana bisa kamu langsung ingin tinggal di sini. Kamu harus ke kantor desa!"


"Untuk apa aku kesana? Aku tidak mau? Aku mau tinggal di sini! aku suka tempat ini!" ucap Pria itu lagi seenaknya. 


Leon pun meletakan  makanya lalu menatap pria itu.


"Bukan berarti kamu suka kamu bisa tinggal di sini seenaknya. Bening saja tinggal di sini tidak gratis. Bening bayar tempat sempit ini untuk bisa tinggal. Nah kamu? Enak aja, Bening tidak akan setuju kamu tinggal di sini?" jawab Leon.


Pria itu hanya diam.


"Apalagi kamu belum punya nama. Tidak tahu asal usulmu? Tidak bisa seenaknya. Kamu ke harus ke kantor desa!" 


"Siapa kamu memrintahku aku tidak mau!"


Leon pun tertawa mendengarnya.


"Lah kamu. Aku memberitahu kamu. Untuk bisa hidup seseorang harus punya nama. Juga punya pekerjaan, kerja dapat uang. Kamu doyan makan kan? Kamu makan ini nggak gratis beli. Kamu tahu nggak ini harga beras berapa? Enak aja tinggal. Udah kamu ke balai desa aja. Cari asal usulmu!" 


"Tidak mau!" jawab Pria itu cepat.


Leon kemudian berdecak.


"Pantas Bening sangat membencimu, selain sombong keras kepala. Kamu harus tahu namamu untuk bertahan hidup. Sudah ke balai desa saja. Nanti kamu bisa dibantu dicarikan informasi asal usulmu dan namamu!" 


"Ya sudah beri aku nama!" ucap Pria itu.


"Heh?" pekik Leon heran. 


Pria itu tampak diam. Leon kemudian meyakinkan lagi 


"Beri aku nama. Aku tidak mau mencari asal usulku. Aku suka tinggal di sini. Aku tidak butuh persetujuan Bening aku nanti buat rumah sendiri?" jawab Pria itu ngasal dengan ekspresi datar.


Leon pun tertawa mengejek.


"Waah kamu gila ya? Namamu saja kamu tidak ingat. Mau buat rumah segala?"


"Brak!" tanpa Leon kira pria itu dengan mantap memegang gelas besar dan pecah. Padahal hanya dipegang dan tanganya tidak berdarah. 


Leon melotot, menatap Pria itu. Dia mempunya mata yang tajam dan seakan yang melihatnya reflek ingin mematuhi perintahnya. Leon merasa pria ini terbiasa memerintah.


"Beri aku nama. Aku akan tinggal di sini!" ucap Pria itu lagi 


Leon menelan ludahnya. 


"Kau yakin?"


"Beri aku nama!" jawab Pria itu memaksa.


Leon yang terjebak kemudian berfikir. "Bening sangat suka dengan Pria yang bernama Naka. Kau kuberinama Daka saja ya?" ucap Leon akhirnya menuruti mau Pria asing dan seram tatapanya itu.


Pria itu kemudian tersenyum. 


"Bagus juga!"


"He yaya. namamu Daka!" 

__ADS_1


"Panggil Daka!"


"Ya Daka!"


"Terus apalagi yang harus aku lakukan agar aku bisa tinggal di sini?"


"Tentu saja kamu harus ijin Bening dan baik ke Bening. Tapi Bening pasti tidak akan mau menanggung beban hidup mengurusmu? Dia pasti bawa kamu ke kantor desa!"


"Bagaimana caranya agar aku bisa tetap ada di tempat ini!" bentak pria itu lagi..


Leon pun tergugup lagi. Pria itu sangat seram saat membentak. bukan hanya matanya, tapi rahangnya begitu tegas. Telapak tanganya yang kekar juga seram saat mengepal.


"Oke aku kasih tahu. Karena Bening miskin, kamu jangan susahin dia. Harus punya uang sendiri!"


"Punya uang?"


"Iya. Bekerjalah. Terus baik- baiklah sama Bening. Bantu bereskan rumah. Jangan sombong dan pokoknya baik!" jawab Leon.


Pria itu diam, lalu mencebik.


"Aku selalu baik padanya?"


Meski lirih Leon dengar.


"Baik gimna kata Bening kamu sombing dan menyebalkan!".


"Aku tidak sombong. Aku hanya mengatakan kejujuran!" jawab Pria itu lagi


"Aiish terserahlah. Pokoknya selama kamu tidak melakukan hal yang aku sebutkan. Bening pasti akan membawa ke kantor desa! Jangan muncul di hadapanya lagi!"


"Aku tidak mau!" jawab Pria itu lagi


"Ya sudah. Kamu harus punya uang dan baik ke dia!"


"Bagaimana caranya dapat uang?"


"Kerja!" jawab Leon cepat.


"Bagaimana bisa? Tanganku masih sakit?" jawab Pria itu lagi.


"Haissh..," desis Leon berfikir.


"Kamu sendiri? Kamu tinggal dimana? Dan kerja apa? Kenapa kamu juga makan di rumah Bening ini?" tanya Pria itu


Leon langsung berdecak. "Jangan sampai kamu mau tinggal bersamaku. Ogah!" batin Leon.


"Rumahku jauh. Aku bekerja sama seperti Bening!" jawab Leon.


"Kalau begitu aku ikut kamu saja! Ajari aku kerja!"


"Nonono!" jawab Leon cepat. Leon kan matre pelit dan malas.


"Dimana temlat kerjamu aku ikut!"


"Tidak. Tidak bisa asal sembarang kerja!"


"Terus bagaimana biar aku dapat uang?" tanya Pria itu

__ADS_1


Leon pun memperhatikan Daka dengan seksama.


"Nih kamu memakai kalung, cincin dan gelang? Ini bisa jadi uang? Jual aja!" jawab Leon memberitahu.


__ADS_2