
Tidak mau terluka lebih dalam dan menyiksa diri. Begitu fajar tiba dan kira- kira bus sudah beroperasi, Bening ingin segera kembali ke kontrakan.
"Lhoh…Non Bening?" gumam Darcy terperanjak kaget melihat Bening berbaring di sofa tanpa selimut.
Darsy adalah Art baru yang dipekerjaan sebelum Bening pamit ngontrak. Dia sempat bertemu Bening dan tahu Bening anak sulung di keluarga itu. Saat itu Bening tahunya Darcy dipekerjakan hanya siang hari.
Darcy sebagai ART baru dan satu- satunya, bekerja sangat banyak membuatnya lelah. Sehingga begitu setrikaan selesai, dia langsung tidur dan harus bangun pagi.
Saat Bening tiba tadi malam, Darsy tidak tahu. Dan sekarang dia kaget saat bangun hendak mematikan lampu luar ada Bening.
"Eh Mbak?" jawab Bening bangun sambil mengerjapkan matanya.
"Kok tidur di sofa, Non?" tanya Darcy tidak enak hati.
Bening hanya tersenyum, dia ingin menjawab. Kamarku sudah jadi kamarmu, tapi Bening tidak mau Darcy tersinggung.
"Semalam ketiduran. Oh ya aku harus bekerja. Aku harus segera pulang. Ngejar bis. Mbak Darcy bisa antarkan aku ke halte?" tanya Bening langsung meminta bantuan.
"Non. Ini masih petang? Kok buru- buru. Nggak nunggu sarapan? Bapak dan Ibu belum bangun lho?" Tutur Mbak Darcy.
__ADS_1
Bening hanya mengangkat sudut bibirnya masam. Seandainya akrab dia ingin bilang, justru aku tidak ingin lihat Bapak dan Ibu. Tapi Bening harus menelan semua yang ungkapan itu, menyimpan di palung hati yang dalam. Cukup malaikat dan dinding bisu yang mendengarnya.
Bening harus menjaga aib orang tuanya.
"Bapak udah paham kok. Kalau nggak buru- buru ketinggalan bus. Nanti Aku pamit lewat hp. Aku bersih- bersih dulu ya! Mau kan antar?" tanya Bening.
"I-i ya Non!" jawab Mbak Darsy.
Bening pun segera ke kamar mandi di dekat dapur untuk mencuci muka dsb. Sembari menunggu Bening, lampu di kepala Darcy sebagai manusia yang berhati nurani menyala.
"Walau Non nggak minta. Tapi aku kasian masa berangkat nggak sarapan?" gumam Mbak Darsy.
Untungnya di ricecooker juga masih ada nasi. Dengan penuh kasih sayang, Mbak Nik membuat bekal sarapan untuk Bening dengan tempat makan yang tersedia.
Setelah beberapa menit, Bening keluar dari kamar mandi.
"Ayo. Mbak. Antar aku ke halte!" tutur Bening mengajak Darsy ingin segera pergi.
"Ya Mbak. Tak ambil jaket!" jawab Darsy masuk ke kamarnya mengambil jaket setelahnya, membawa bekal makanan langsung di cantolin ke motor tanpa bilang ke Bening.
__ADS_1
Sesampainya di halte barulah Darsy bilang.
"Lhoh ini apa Mbak?" tanya Bening.
"Udah bawa aja! Biar dimakan di bus!" jawab Mbak Darsy.
"Makasih ya?" jawab Bening tersenyum. Bening terharu di dunia ini masih ada yang memperhatikanya.
Tidak menunggu lama karena memang sudah jamnua bus datang. Bening langsung naik. Setibanya di bus Bening langsung membuka bekal itu. Bening menitikan air matanya, saking senangnya dia memakan makanan kesukaannya dulu. Ayah Bening memang dulu sering juga membelikan Bening ayam goreng.
Setelah menempuh beberapa puluh menit perjalanan bus sampai di jalan dekat Bening kecamatan dia bekerja. Bening pun segera naik ojek menuju ke tempat dia tinggal.
Sesampainya di rumah. Bening terbengong kaget.
"Kemana Pria itu?" batin Bening memeriksa rumahnya.
"Apa ini hasil kerja pria itu?" gumam Bening lagi
Kasur lantainya terlipat rapi, di atas meja tersedia nasi dan ikan goreng. Pakaian yang Bening cuci kemarin juga berubah jadi lipatan pakaian rapih.
__ADS_1
"Hoh? Apa dia sembuh dan sehat? Apa dia sungguh pergi?"