
"Haish...," desis Daka menelan ludahnya.
Daka menanyai Bening apakah Bening mencintainya, walau hati Daka yakin iya, Daka ingin mendapatkan konfirmasi dan mendengar pengakuan Bening. Sayangnya tak ada sahutan, Bening tampak tenang dan diam. Setelah dilihat ternyata mata Bening terpejam. Entahlah benar terpejam karena lelah atau hanya menghindar.
Akan tetapi lambat laun dengkuran halus Bening terdengar. Rupanya, Bening benar- benar lelah dan mengantuk.
"Ck...," Daka kemudian tersenyum, membelai kepala Bening pelan, kembali membawa Bening dalam dekapanya yang nyaman. Daka pun ikut memejamkan matanya, ikut larut dalam ruang waktu yang menenangkan jiwa dan raganya.
****
Di tempat lain.
"Maaf Nona, mereka naik bus!" tutur seseorang lapor pada putri cantik yang mengaku calon istri Daka.
Perempuan cantik itu pun mencebik.
"Ya sudah... biarkan!" ucap perempuan itu.
Perempuan itu kemudian berjalan dengan langkah tegap dan tatapan lurus ke arah Bu Maria.
Bu Maria yang menyaksikan semua kejadian tadi hanya menelan ludahnya. Bu Maria bingung tidak tahu apa yang terjadi. Bu Maria juga tidak tahu seluk beluk Daka. Apalagi perempuan cantik itu.
"Saya beli semua minuman ini!" tutur perempuan cantik itu.
"Iya Nona!" jawab By Maria.
"Saya sangat suka minuman ini. Boleh saya tahu dimana rumah penjual minuman ini?" tanya perempuan cantik itu.
"Saya tidak tahu dimana mereka tinggal!" jawab Bu Maria cepat.
"Bohong!" sanggah gadis cantik itu tidak percaya pada Bu Maria
Bu Maria yang tadinya segan dan hormat jadi terpancing emosinya.
"Saya tidak bohong Nona,"
"Saya akan beli semua dagangan kalian. Beritahu saya. Siapa gadis yang bersama calon suamiku? Dimana mereka tinggal?" tanya Perempuan cantik itu menekan Bu Maria.
Semakin ditekan Bu Maria jadi semakin geram. Meski sebenarnya Bu Maria juga menaruh curiga, tapi karena sikap perempuan kaya ini menyebalkan jadi Bu Maria ingin melindungi Bening.
"Nona, sepertinya anda salah mengira? Sudah dengar kan? Naka Daka tidak mengenal anda. Daka sudah menikah dan mempunyai istri!" jawab Bu Maria.
__ADS_1
"Bahkan dia berganti nama?" tanya Perempuan itu malah menatap Bu Maria dengan berani dan wajah marah.
"Jangan ganggu mereka. Daka bukan calon suamimu, Nona!" tutur Bu Maria.
Perempuan itu tidak bergeming. Dia justru mengepalkan tangan dan menatap Bu Maria dengan berani.
"Dia adalah Pangeran Abelard. Aku tidak mungkin salah?" batin perempuan itu.
"Maaf saya mau berjualan. Bisa tinggalkan tempat saya?" tutur Bu Maria meminta.
Perempuan itu.kemudian tersenyum.
"Saya akan bayar semua dagangan kalian. Beritahu saya dimana saya bisa temui pria yang bernama Daka itu!" tutur Perempuan itu lagi dengan intonasi suara yang merendah.
Karena Bu Maria sudah terlanjur marah. Jika tadi senang daganganya dibeli, sekarang Bu Maria menolak.
"Maaf Nona. Saya menjual makanan dan minuman bukan informasi. Jangan ganggu anak- anak kami. Silahkan pergi!" tutur Bu Maria sekqrang berani.
Perempuan itu pun terpancing.
"Berani kamu menolak permintaanku. Kamu tidak tahu siapa aku?" perempuan itu malah membentak.
Hingga para pengunjung festival ikut berhenti dan memperhatikan mereka.
Salah satu pengawal perempuan itu tampak berbisik, memberitahu aagar tuan Putri mereka tidak membuat kericuhan.
Perempuan itu pun mengangguk lalu menatap Bu Maria tajam
"Kamu menyesal jika taju siapa aku dan jika perkiraanku benar!" ucap Perempuan itu mengancam Bu Maria dengan tatapan membunuh.
Bu Maria tidak gentar dan tetap berdiri tegak. Perempuan itu pun tampak pergi dan Bu Maria kembali menjual daganganya.
"Tetap awasi mereka dan cari tahu siapa perempuan uang bersama Pangeran Abe!" titah perempuan itu ke pengawalnya sembari berjalan.
"Siap Nona!"
"Ikut aku. Belikan makanan kesukaan Ibu Ratu dan Putri Aille. Kita harus beritahu cerita ini!" ucap perempuan itu lagi.
"Siap!" jawab pengawal
****
__ADS_1
"Emm...," Daka menggeliat membuka matanya.
Waktu berlalu, tidur membuat energi Daka dan Bening yang terkuras banyak untuk lembur beberapa hari kemarin dan semalam cukup pulih.
Daka kemudian mengucek matanya. Sayangnya tubuh hangat yang tadi dia peluk sudah tidak ada dalam tangkapan matanya.
"Kemana istriku?" gumam Daka bangun.
"Bening Sayangku...," panggil Daka mulai berani memanggil Bening dengan panggilan sayanynya.
Daka keluar kamar dan mencari Bening. Sayangnya di seluruh penjuru rumah Daka tak mendapatkan Bening.
Hati Daka mulai bergemuruh dan gelisah.
"Apa dia pergi?" gumam Daka mulai panik
"Beniing!" panggil Daka setengah berteriak dan keluar rumah.
Sepeda mereka terparkir di depan
"Kemana dia?" guman Daka berfikir.
Seketika itu Daka pun tertuntun ke sungai. Daka melangkah cepat dengan nafas terengah- engah.
"Kecipaak.kecipiik...," suara beriak air yang terkena gerakan Bening tertangkap telinga Daka.
"Hah...," Daka pun tersenyum lega. Perempuan cantik dan lekuk tubuhnya yang sangat indah nampak di depan matanya.
Daka pun menelan ludahnya. Kali ini Daka tidak seperti sebelumnya yang hanya duduk di balik semak dan pepohonan melihat Bening.
Dengan langkah yang pasti, Daka ikut turun ke bawah. Tanpa sepengetahuan Bening. Dengan dengan gerakan cepat, Daka membuka kaosnya.
"Byuur...," Daka pun ikut masuk ke dalam air menyelam mendekat ke Bening.
"Daka...!" pekik Bening kaget karena dengan cepat memeluknya dari dalam air.
"Kenapa nggak aja- ajak sih?" bisik Daka lembut
"Isshh lepas!" rengek Bening kegelian dan malu. Untuk pertama kalinya dia mandi bersama seorang pria.
Bening pun berusaha menghindar dan menyelam lebih dalam. Daka tersenyum semakin tertantang dan mengikuti Bening.
__ADS_1