
“Huuuft...,”
Begitu Daka menarik handuk dan ngaciir lari ke kamar mandi, Bening langsung menghela nafas dan mengipasi mukanya yang merah dan mendadak terasa panas.
“Aku bisa gila kalau begini terus. Apa itu tadi hooh? Menji jikan. Dia sangat mesium?” gumam Bening mengigit bibirnya.
Bening berusaha menarik nafas dalam, menghembuskan pelan mengatur deguban jantungnya yang mendadak tak beraturan. Walau angin kencang dan udara luar dingin tapi mendadak Bening kegerahan.
Bening memejamkan matanya lagi mengusir bayangan apa yang tadi dia lihat.
Sayangnya semakin Bening memejamkan mata, malah ingatanya semakin jelas. Seperti kamera yang dizoom lalu hasil fotonya dicrop fokus ke satu titik, benda ajaib yang seumur hidup baru pertama kali Bening lihat secara live seperti terus melekat di otak Bening dan membuat Bening panas dingin.
“Oh my God. Its crazy..,” gumam Bening memukul- mukul kepalanya sendiri, merutuki dirinya kenapa malah terus terbayang. Mendadak sakit hatinya akan Naka hilang teralihkan. Rasa sesak dan sedih berganti menjadi panas mendebarkan.
“Aku nggak mau tidur bareng dia malam ini, bahaya!” batin Bening kemudian.
Bening lalu ke dapur mengambil air minum, tentu saja karena dapur dan kamar mandi masih satu garis lurus di satu ruang, rumah mereka juga belum diternit, gemericik air yang menyiram tubuh Daka terdengar Bening.
Bening pun melirik pintu kamar mandi dan otaknya semakin menyala.
“Aish...,” desis Bening bayangan Daka tanpa sehelai pakaian terus datang lagi. Bahkan seakan dinding kamar mandinyang hanya memakai kayu tipis hilang berganti kaca transparan dan Bening melihat Daka sedang mengguyu air dengan tubuhnya yang polos penuh otot dan tampak kuat.
Bening langsung meminum air putih cepat dan segera berlari ke kamar lalu mengunci pintunya.
"Aku harus kunci sebelum dia datang. Osh... aku bisa gila kalau begini?" gumam Bening menutup kepalanya dengan bantal.
****
Sementara Daka terus mengisi air ke bak mandi, lalu mengambil dengan gayung menyiram ke tubuhnya meredam hawa panas yang jauh lebih hebat.
Daka juga sangat malu saat aib dan rahahasianya terbongkar. Sebenarnya sejak Daka melihat Bening berenang di sungai, bukan hanya kasihan dan simpati yang bersemayam di hatinya.
Rasa yang awalnya heran jijik karena Bening terlihat miskin dan galak, bertambah menjadi gemas karena Bening sering ngomel tapi perhatian. Menyadari Bening perhatian datang rasa terima kasih setelah menyadari ditolong. Rasa terimakasih itu berlanjut menjadi empati dan kasihan setelah mengetahui hidup Bening.
Paket komplit rasa itu bertambah menjadi kagum saat melihat bakat Bening menari dengan cantik dan menakjubkan.
Dan ketika terkena air sungai, tubuh Bening tercetak indah dengan baju basah yang melekat. Mulai saat itu, Bening membangunkan adik kecil Daka.
Dari krbiasaan setiap hari, karena tertutup pakaian yang longgar, dada dan bagian belakang Bening memang tampak rata dan Daka katai kerempeng.
__ADS_1
Tapi saat bajunya basah, ternyata ada isinya, sesuai dengan porsi tubuh Bening yang ramping, semua itu justru membuat Bening terlihat sempurnya. Tubuhnya terpahat indah bak Maha dewi.
Selanjutnya setelah saat itu, dari detik demi detik menjemput menit dan menyusun perjalanan hari yang mereka lewati, tanpa Bening tahu, tubuh Daka selalu merespon setiap mereka berdekatan. Daka selalu betah berdekatan dengan Bening dan ingin terus bersamanya.
Itu sebabnya dengan senang hati Daka menikahi Bening dan berupaya mendekati Bening dengan memaksa tidur di kamarnya, apalagi didukung banyak alasan yang rasional.
“Aish,... kamu sih nggak pandai jaga rahasia, pakai jatuh segala, jadi tahu kan dia!” gumam Daka menyentil- nyentil barangnya layaknya kakak yang menasehati adik tersayangnya.
“Turun, turun dulu... sabar, ambil hatinya dulu!” batin Daka lagi melumuri sabun membersihkan barangnya agar segera melemah.
Adik kecil Daka seakan bernyawa dan mengerti empunya. Setelah dibersihkan dan diguyur air lambat laun mengendur.
“Bahaya nih kalau dia abis ini tambah marah dan mengusirku dari kamarnya?” gumam Daka sambil menyiram air ke tubuhnya dengan cepat.
Daka sudah bisa menebak, Bening yang galak pasti langsung berfikir buruk mengetahui Daka on fire saat dekat denganya.
"Apa uang dia rasakan selama ini dan setelah ini? Aish.. semoga dia tidak marah?" gumam Daka.
Hati kecil Daka memang sangat ingin menjadikan Bening istri seutuhnya, juga adik kecilnya meronta ingin didekatkan ke Bening.
Tapi sebagai laki- laki yang berhutang budi, juga tumbuh benih cinta yang tulus ingin Bening bahagia, mengetahui hati Bening banyak terdapat luka, membuat Daka terus menahanya. Daka tahu batasan dan ingin penyatuan yang murni.
Setelah adik kecilnya kembali tidur dan hawa panasnya redam oleh guyuran air yang dingin, Daka yang sudah berpakaian lengkap segera keluar.
Benar sesuai prediksinya, pintu kamar Bening sudah tertutup rapat.
“Thok... thok...,” Daka pun mengtuk pintu kamar Bening.
Bening sedang menormalkan degub jantungnya yang mendadak rewel tidak mau beritme wajar jadi kaget mendengar pintunya diketuk.
“Hoh..Mau apalagi dia? Ih!” gumam Bening hanya menelan ludahnya malu sekali hendak bertemu Daka lagi.
Daka kembali mengetuk pintunya.
“Aku minta maaf, buka pintunya!” ucap Daka pelan tulus ingin meminta maaf karena tidak sopan.
Bening masih tidak menjawab apalagi membuka pintu.
Daka mengetuk lagi,
__ADS_1
“Aku tahu kamu belum tidur, tadi nggak sengaja, sungguh aku minta maaf, makan yuk!” ajak Daka lagi.
Bening masih enggan menjawab walau perutnya lapar. Bening sangat dheg- dhegan dan malu bertemu Daka lagi.
“Aku nggak akan per_kosa kamu kok. Aku nggak jahat santai aja, maaf!” sambung Daka lagi sangat bisa menebak pikiran kotor Bening.
Tapi Bening yang gengsinya tinggi masih tetap teguh pendirian pura- pura tidur tidak menjawab.
“Ya udah aku ke tempat Leon ya!” ucap Daka akhirnya.
Daka pun melangkah menjauh dari kamar Bening.
Mendengar kata Leon dan mendengar langkah Daka, Bening langsung ingat, Leon kan sejak sore tadi pamitan bersama kawanya. Mess Leon sekarang diisi perempuan, janda cantik yang lumayan berisi tubuhnya.
Entah kenapa, mendadak Bening tidak mau Daka bertemu dengan atasan barunya.
“Jangan...!” jawab Bening dari dalam kamar
“Daka jangan kesana!” teriak Bening lagi masih dari kamar. Sayangnya Daka tidak menyahut.
“Kok nggak nyaut? Cepat sekali dia jalanya?” gumam Bening.
"Daka kamu denger nggak sih? Jangan kesana!" teriak Bening lagi.
Seharusnya Daka dengar runah Bening kan kecil apalagi tanpa ternit. Tapi Langkah Daka tidak terdengar juga suaranya.
Bening pun segera turun dari kasurnya dengan langkah tergesa segera membuka pintu kamarnya hendak mengejar.
“Klek!” pintu terbuka. “Dheg...,” seketika itu Bening langsung terhenti mematung.
Tepat di depan pintu, Daka berdiri dah Bening hendak menabrak Daka. Kini mereka berhadapan sangat dekat.
Ternyata Daka mendengar dan kembali dengan langkah pelan, Daka pun memberikan senyum mahal yang hanya ditujukan Bening dengan tatapan maskulinya.
“Gleg!” Bening tergugup dan jantungnya bukanya sembuh dan normal tapi degubanya bertambah banyak.
Sehabis mandi, masih dengan rambut basahnya, juga aroma sabun yang kuat, Daka terlihat sangat tampan.
“Kenapa aku nggak boleh ke sana?” tanya Daka berbicara normal membuyarkan lamunan Bening yang tersihir dengan senyum Daka.
__ADS_1
“Ehm... Leon tidak di mess itu lagi!” jawab Bening.