
“Salam hormat, ayahanda?” sapa Daka membungkukan kepala ketika sampai di sebuah ruang yang megah dan tampak berjalan seorang lelaki tua dari arah berlawanan. Pria itu parasnya hampir persis dengan dirinya. Bedanya di sudut matanya mulai ada keriput.
“Putraku…,” ucap Pria itu terhenti dengan mulut bergetar.
Walau tak ingat semuanya, melihat Ayahnya lagi, hati Pangeran Abe pun bergetar, dia pun langsung bersimpuh, tidak bisa dijelaskan rasanya. Walau tak bisa menangis tapi di hati sungguh terbersit rasa haru.
“Bangun!” ucap Raja meminta Pangeran Abe agar tak bersimpuh.
Pangeran Abe bangun dan Raja langsung memeluknya.
Putri Aille Pangeran Adelfino, Pangeran Alexander, Ibunda Dewi Hera, juga Ibu Helena, tampak berdiri menyaksikan semuanya.
Mereka semua menegang, entah tidak ada raut bahagia dari kedua istri Ayahanda raja ataupun dari kedua adik laki- lakinya. Hanya Putri Aille yang tampak bahagia melihat kedua laki- laki yang merupakan anak dan ayah itu saling memeluk hangat.
“Kenapa kamu baru kembali? Apa yang terjadi denganmu? Semua orang mencarimu, bahkan berita kematianmu tinggal tiga hari diumumkan?” tanya Raja.
Pangeran Abe ingat rencananya, dia pun memasang muka polos layaknya Daka, lalu menatap kedua Ibu tirinya dan saudaranya.
“Putraku,” sambung Dewi Hera menampakan muka terharunya. "Ibu senang kamu sudah kembali,"
“Syukurlah kamu selamat, Pangeran!” ucap Putri Helena.
Pangeran Abe masih memasang muka pura- pura bingung. "Aku tidak ingat apapun ayah!” ucap Pangeran Abe.
Raja dan semuanya langsung saling pandang dan menoleh ke Ares.
Ares yang menemukan Abelard, padahal raja sudah mengerahkan semua anggotanya, tapi orang Raja yang katanya ahli tak berhasil. Yang berhasil malah Ares yang terlihat diam, itu saja dari Bernand, bukan Ares sendiri.
Meski begitu, Ares, Bernand dan orangnya Pangeran Abelard yakin, bukan mereka tak menemukan Pangeran Abe tapi memang ada yang menginginkan Abe tak kembali.
"Kau tidak ingat aku?" tanya Ibu Dewa Hera bersimpati.
"Ibu... Kakak mengalami trauma berat dan lupa. Dia sedang berobat, dia ingat sebagian. Tapi belum sepenuhnya. Dia harus pengobatan agar kembali ingat semua," sahut Putri Aille.
"Apa yang terjadi Ares?" tanya Ibu Helena ikut nimbrung.
“Hormat, yang Mulia Raja, ijin menyampaikan?” jawab Ares dengan bahasa formal ke Raja.
Raja hanya mengatupkan kelopak matannya tanda mempersilahkan. Ares pun menjelaskan.
“Pangeran ditemukan dalam keadaan luka parah dan hanyut di sungai oleh orang desa. Dia diobati dan dirawat di rumah kecil tepi sungai itu. Pangeran lupa ingatan dan sedang menjalani pengobatan,” tutur Ares lapor.
Raja pun mengangguk, sementara Abe langsung melirik ke anggota keluarga yang lain, raut tegang mereka tampak mengendur, namun Pangeran Abe masih susah menilai, siapa yang paling tegang dan paling bahagia saat mendengar cerita Ares.
“Apa yang kau ingat tentangku?” tanya Raja singkat ke Abelard.
Abelard pun menunduk sejenak, lalu menatap Ayahnya dengan tatapan tulusnya. Pangeran Abe pun mulai menceritakan apa yang dia ingat.
“Bersama Ibu permaisuri, kita bertiga liburan ke swiss, ayah mengajaku naik wahana kereta gantung, berkeliling melihat pegunungan salju dan jembatan panjang. Aku kedinginan walau sudah memakai jaket, dan ayah memberikan jaket ayah yang besar untukku! Sehingga tubuhku tertupi semua oleh jaket Ayah. Saat itu ibu dan ayah tertawa terbahak - bahak karena aku seperti pinguin darat, aku tadi tahu itu mimpi atau bukan. Tapi itu sering datang ke tidurku,” jawab Pangeran Abe lancar bahkan tanpa sengaja matanya merah dan sedikit ingin tertawa.
Raja terdiam, itu memang kenangan mereka yang hanya mendiang Ibu Pangeran Abe, Raja dan Abelard kecil yang tahu. Bahkan saat itu, raja masih belum menjadi raja dan saat itu mereka tanpa pengawal.
Raja sedikit menunduk namun enggan menunjukan kesedihanya mengingat istri pertamanya yang sudah meninggal itu.
"Siapa orang desa yang menemukan dan merawatmu?" tanya Raja lagi.
"Gleg!" Ares langsung menelan ludahnya.
Saat di perjalanan kemarin, mereka sudah sepakat. Sampai Abelard sembuh dan mempunyai power kuat dan melindungi Bening. Tidak boleh ada yang membawa nama Bening ke istana.
"Seorang pemuda bernama Leon, Yang Mulia!" jawab Ares.
Mendengar jawaban Ares, Putri Aille langsung melotot. "Bukankah yang tinggal serumah dengan Abe seorang perempuan yang mengaku sudah menikahi kakaknya itu?" Bahkan Putri Aille melihat sendiri dengan matanya, bahwa pujaan hati yang menjadi kakak tirinya itu memadu kasih dengan perempuan itu di sungai. Putri Aille melihat sendiri tubuh Pangeran Abe secara utuh merengkuh Bening. Luka sayat yang sudah dijahit, beberapa memar juga terlihat. Putri Aille yakin yang merawat adalah Bening.
Putri Aille juga tak pernah melihat sekalipun Leon bersama Pangeran Abe. Putri Aille pun langsung melirik ke Ares dan memperhatikan Abe. Ada sesuatu yang disembunyikan dan rencanakan. Seketika itu, keringat Putri Aille keluar. Bahaya kalau sampai ternyata Pangeran Abe tahu apa yang dia perbuat.
__ADS_1
"Bawa dia ke hadapanku!" Titah raja.
"Siap yang Mulia!" jawab Ares.
Raja pun mengangguk dingin.
“Baiklah, sekarang makan dulu!” titah Raja singkat. Raja pun berjalan tegak dan suasana kembali hening.
Di meja besar nan indah, beraneka ragam makanan enak. Pangeran Abelard pun berada di sisi kanan paling dekat dengan raja menghadap para ibu tirinya, sementara adik- adiknya berada di samping raja.
Tak ada percakapan lagi, karena memang tak ada kehangatan di antara mereka walau mereka semua saudara.
Bahkan sebenarnya hubungan Abelard dan ayahnya, tak sehangat yang Abelard ingat di masa kecil dan seperti yang terlihat tadi. Sejak Abelard ditinggal ibunya dan raja menikah lagi, Abelard jauh dari ayahnya dan selalu bersama emban yang diketahui baru saja meninggal 1 bulan lalu karena terlalu sedih Pangeran Abe tak kunjung kembali selama berbulan- bulan.
Sebelum Abelard diserang pun mereka habis bertengkar. Pangeran Abelard menentang kebijakan Raja yang menerima pedagang dari luar kerajaan yang hendak memasarkan barangnya di lingkungan istana.
Pangeran Abelard juga selalu mempunyai pendapat yang berbeda dengan para menteri. Pangeran Abelard ingin segala keperluan istana memakai produk rakyat mereka. Pangeran Abelard juga baru saja dilantik menjadi ketua tertinggi di perusahaan milik kerjaan itu.
Saat Pangeran Abe pulang dan ingin berkunjung ke makam Ibunya, di jembatan yang sepi, Pangeran Abe diserang dan disakiti.
Pangeran Abe dan Ares, sedang ingin memastikan. Yang sengaja membunuhnya, tim Dewi Hera, atau Putri Helena.
Setelah semua duduk dan menghadap makanan masing- masing. Ada juru masak juga yang mengambil sampel untuk mencicipi. Setelah Raja memberi anggukan, Petugas kerohanian di istana memimpin doa.
"Kamu sudah makan atau belum, Sayang? Apa yang kamu makan?" seketika itu. Daka langsung teringat istrinya. Berbeda sekali, beberapa bulan ini, hari- hari Daka bersama Bening hanya makan seadanya.
Ya, tak seperti di rumah pada umumnya. Untuk sekedar makan di istana juga ada protokolnya. Mereka pun segera menyantap hidangan tanpa ada suara.
Setelah semua selesai, dan Raja mengijinkan bubar, tanpa beramah tamah semua beranjak dan pergi dengan kesibukan masing- masing. Sebenarnya Putri Aille sudah tidak sabar kembali mendekati Pangeran Abe dan terus bersamanya. Sayangnya Raja langsung memberi titah ke Ares, mengundag Pangeran Abe untuk datang ke ruang santai di dalam istana itu untuk sekedar bercakap.
Pangeran Abe dan Ares pun patuh. Mereka pun berbincang banyak, mengenai beberapa hal terutama pekerjaan Abe yang selama ini terbengkalai. Perawatan ulang tahun yang batal. Juga bagaimana raja membungkam desas desus dimana keberadaan Pangeran Abe dan hampir diumumkan meninggal.
Pangeran Abe pun mengangguk mendengarkan.
Pangeran Abe mengangguk.
"Demi keselamatanmu. Kamu tidak boleh meninggalkan istana!" ucap Raja lagi.
"Wuah!" seketika itu kebiaasan Daka yang urakan keluar. Pangeran Abe langsung tercengang saat mendengar tidak boleh keluar istana. Bagaimana dia bisa menemukan Bening kalau begini.
"Tidak ada bantahan dan ini perintah!" ucap Raja. "Bahkan ke Paviliun pribadimu. Tidak boleh!" ucap Raja lagi.
Ares hanya menunduk. Setelah ini pasti dia yang diamuk.
"Tapi aku bukan boneka dan tawanan yang harus berdiam diri di rumah Ayah. Aku punya rumah sendiri kan? Aku juga masih bisa melakukan apapun!" sanggah Pangeran Abe
"Kalau begitu. Coba katakan padaku. Proyek apa yang sedang kamu rencanakan? Anggaran belanja kebutuhanmu berapa Trilyun? Lalu kebijakan apa yang kamu rancang menghadapi krisis pangan di wilayah selatan?" tanya Raja sedikit mengetes
"Gleg!" Daka langsung terdiam. Dia memang belum ingat sedetail itu. Dia hanya mengingat apa yang ada di mimpinya.
"Apa kamu tahu siapa rekananmu dan musuhmu?" tanya Raja lagi.
Pangeran Abe masih diam.
"Hiduplah dengan baik atas pengawasanku. Pulihkan keadaanmu!" ucap Raja singkat lalu bangun dan pergi tanpa menunggu sanggahan.
Pangeran Abe tak berkutik dan langsung menatap Ares.
"Jadi itu ayahku?" tanya Pangeran Abe langsung menatap Ares kesal.
Ares hanya tersenyum kecut. Perangai raja memang tidak bisa ditebak. Dia terkenal galak otoriter suka bermain perempuan dan berpesta. Tapi dia juga mempunya sisi baik yang orang tidak tahu.
Buktinya, walau saat Pangeran Abe sehat selalu bersitegang dan bertengkar dengan Raja. Tetap Pangeran Abe yang dijadikan putra mahkota. Bahkan Walau mendiang ibu Pangeran Abe meninggal, tak ada pelantikan permasuri untuk istri- istri muda yang dia manjakan.
__ADS_1
"Mohon ampun, Pangeran!" jawab Ares.
"Bagaimana aku bisa menemui istriku kalau aku harus berdiam diri di rumah besar ini?" tanya Abelard marah.
"Di sini banyak cctv. Ayo kita ke kamar Pangeran!" ucap Ares mengendalikan Abe agar tak kelepaasan.
"Oke... aku di sini bukanya tambah kekuatan justru boneka dan balita!" gerutu Pangeran Abe kesal.
Ares tak komentar dan mengantar Pangeran Abe ke kamarnya yang luasnya 3 kali lipat rumah kontrakan Bening. Bahkan mempunyai balkon dengan pemandangan kota.
Sesampainya di kamar Pangeran Abe langsung marah
"Apa sudah ada kabar tentang istriku? Aku mau kabur saja biar kucari sendiri!"
"Sabar Tuan. Orang kita sudah bekerja!"
"Lambat!"
"Saya akan segera temukan Tuan Putri dan pastikan dia aman. Putri Camilia sudah terus kita awasi!" jawab Ares seperti dugaan awal mencurigai Putri Camilia
"Tidak usah banyak omong. Buktikan beritahu segera dimana Istriku!" bentak Abe lagi.
"Siap Pangeran!" jawab Ares menunduk walau hatinya gelisah.
Sebab Putri Camilia sejauh ini tidak menunjukan apapun. Kan Bening memang tidak bersama Putri Camilia.
"Jangan fokus ke dia. Cari ke semua penjuru negeri ini!" bentak Abe lagi. .
"Siap Pangeran!" jawab Ares lagi.
"Aku mau sendiri!" ucap Abe.
Ares mengangguk dan undur diri. Meski begitu di depan kamar, Pangeran Abe tetap dijaga.
Saat Ares pergi, Pangeran Abe menatap ke sekeliling kamarnya yang luas dan megah. Semua bayangan hari- harinya bersama Bening pun kembali datang.
"Kamu harus tinggalkan kamar usang itu? Tidurlah nyaman bersamaku di sini, Bening?" gumam Pangeran Abe bertambah kerinduanya.
****
Di tempat lain.
"Hujaan... Ning!" keluh Tia.
"Ya udah sih. Santai aja. Biar aku yang masak!" jawab Bening
"Masak apa?"
"Ada mi instan kan? Dingin- dingin gini enaknya bikin yang anget dan seger. Udah nggak usah beli jajan terus. Kita makan ini aja!" ucap Bening dengan lancang sudah membuka lemari makanan Tia.
"Boleh juga!" jawab Tia
Bening pun nyengir.
"Lets go. Kita masak!" ucap Bening dengan riang.
Ketika tangan Bening memegang Mi dan mencari gunting untuk membuka, handphone Tia yang sedang dicharge berbunyi.
"Telpon nih!" seru Bening ke Tia.
"Siapa?" tanya Tia.
Bening yang ada di dekatnya langsung melihat. Seketika itu Bening langsung sumringah.
"Kamu udah jadian ya sama Leon?" tanya Bening.
"Hoh!" pekik Tia dengan muka mendadak kaya kepiting rebus.
__ADS_1
Bening pun langsung nyengir lagi. Sementara Tia langsung beranjak mengambil ponselnya.
Di layar panggilan tertera wajah Leon, tapi nama kontaknya ditulis love.