Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Jualan minuman.


__ADS_3

Baik Bening dan Daka sama- sama berusaha menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan lebih. Meski begitu Bening mulai membuka diri, menyadari sepenuhnya dia adalah seorang istri. Bening lebih banyak berlaku ramah dan bekerja sama dengan baik dengan Daka. Bahkan Bening juga banyak memperhatikan Daka.


Daka sendiri menahan tapi tetap melangkah perlahan membuat Bening nyaman. Mengalihkan dari pikiran kotor yang terus mengajaknya ke aktivitas orang dewasa, Daka mengajak Bening diskusi, langkah apa yang akan mereka tempuh untuk mendapatkan uang juga membuat Bening tidak stress dengan status pengangguran.


"Tapi aku belum punya ide jualan apa?" jawab Bening menanggapi Daka yang mengutarakan ide jualan dengan wajah sendunya.


"Hhh...," Daka menghela nafas mencoba mengerti Bening.


"Oke baik. Kamu baru aja patah hati karena dipecat. Tenangkan dirimu dulu saja. Nikmatilah waktu nganggurmu! Aku hanya usul. Bekerja adalah tanggung jawabku," ucap Daka santai dan mengerjai Bening


"Ish..., yaya aku pengangguran! Tapi aku juga tidak mau kok bergantung padamu," desis Bening tersinggung, dikatai Pengangguran.


"Maaf. Aku bahas gini biar kita ada obrolan aja kok. Santai aja! Kan memang yang wajib mencri nafkah suami kan?" tutur Daka lagi.


"Nggak. Kamu bener kok. Aku harus punya kegiatan. Aku juga tidak boleh berpangku tangan. Bukan tentang wajib atau tidak. Aku tidak suka bergantung. Aku juga tidak mau dilecehkan. Kalau bekerja kita jadi tergantung dan ada di bawah kendali orang, setiap hari berada di ujung kecemasan takut dipecat, apalagi jadi pengangguran aku pasti akan stress, aku memang harus punya ide jualan!" ucap Bening membenarkan niat Daka.


Daka pun mengangguk senang Bening berfikir jernih dan semangat.


"Iya... aku cari modal dulu!" ucap Daka.


"Sebenarnya aku punya tabungan. Ah.. tapi jualan apa ya? Yang modalnya sesuai uangku tapi laku?" ucap Bening


"Memang berapa uang yang kamu punya?" tanya Daka.


"Adalah... aku harus belajar dulu dan tahu pasar, tapi ke siapa? Kalau asal nekat nanti malah uang habis. Ah kenapa sih aku buntu gini idenya?" keluh Bening lagi kesal tidak punya ide jualan.


"Yap kamu bener. Tapi ini udah malam, tidur yuk, kita pikirkan besok lagi. Siapa tahu ada ide!" ajak Daka mengajak Bening tidur karena kasian melihat Bening yang tampak penat.


Bening pun mengangguk tersenyum.


"Iyah . Ya ampun nggak kerasa udah jam 10 ternyata?" ucap Bening tanpa sadar mereka mengobrol sampai malam.


"Ya udah ayo tidur!" ajak Daka.


Daka langsung masuk ke kamar dengan santainya, sementara Bening ke kamar mandi untuk gosok gigi terlebih dahulu. Setelah itu Bening menyusul Daka ke kamar.


Daka yang sudah masuk lebih dulu tampak berbaring nyaman menunggu Bening layaknya suami menunggu istrinya. Karena Bening dan Daka sudah baikan, Bening pun tak mengusir Daka atau membuat alasan bertengkar lagi. Akan tetapi rasanya jadi aneh.


"Ehm...," Dehem Bening tiba- tiba dirinya merasa kelu. Jantung Bening mendadak berdebar kencang dan canggung bingung mau apa.


Rasanya sangat aneh berada di situasi itu. Apalagi mengingat mereka tadi pagi berpelukan dan Daka memeluknya dengan sengaja.


Di otak Bening beterbangan pikiran dan sangkaan, dia harus bagaimana? Lalu apa yang akan Daka lakukan. Bahkan Bening sangat berdebar, bersiap menerima, mengira Daka akan memeluknya lagi dan melakukan lebih dari itu.


Tapi rupanya Daka masih tenang di posisi terlentangnya, malah dia tampak memejamkan mata.


"Haissh.. kenapa aku berharap dia memelukku lagi sih. Bening dasar kamu!" gumam Bening menggigit bibirnya merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa?" tanya Daka tiba- tiba, dia paham Bening tampak tegang juga sesekali menghempaskan nafasnya.

__ADS_1


"Ehm.. tidak apa- apa!" jawab Bening gugup takut dan malu kalau sampai Daka tahu isi hatinya.


"Tidurlah.. pakai selimutnya! Tidak baik tidur malam," ucap Daka lembut mengambil selimut.


Karena Bening gugup Bening sampai mengabaikan selimut padahal malam terasa dingin.


"Iyah. Makasih ya!" ucap Bening tersenyum.


Daka mengangguk dan memejamkan matanya lagi. Bening kemudian menelan ludahnya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Daka.


"Kenapa aku selalu berburuk sangka padanya. Dia sungguhan baik dan menghargaiku. Kenapa dia selalu terlihat semakin keren. Huuuft kenapa aku jadi dheg- dhegan begini?" batin Bening memegangi dadanya sembari meringkuk dan berusaha memejamkan matanya untuk tidur.


Daka juga memejamkan mata agar lupa. "Dia masih datang bulan, percuma kamu meminta dan merayunya sekarang. Kau hanya akan tersiksa, tidur... tidur!" batin Daka juga menahan.


Lambat laun mereka berdua sama- sama terpejam hingga keduanya masuk ke alam bawah sadar lepas dari belenggu rasa malu dan gengsi.


Udara malam yang menyeruak masuk dari celah- celah lubang jendela membuat mereka kedinginan dan membangunkan naluri mereka untuk saling mencari kehangatan. Hingga mereka berpelukan tanpa sadar.


Jika Bening, kehangatan tubuh Daka semakin membuatnya larut dalam dunia mimpi, tapi Daka sentuhan Bening membuatnya terbangun.


"Gleg!" Daka tersentak dan menelan ludahnya saat merasakan ada dua bulatan menonjol menekan ke tubuhnya.


Sesuatu yang Daka sempat padamkan kini kembali bangun. Seperti hari kemarin, tangan Daka berontak dan tidak mau patuh untuk diam. Apalagi sudah pernah menjelajah dan tahu isinya. Tangan Daka gatal.


Tidak peduli sang empunya bangun atau marah, tangan Daka kembali terulur untuk memeluk Bening, lalu berjalan menyusuri semua jalan yang meliuk, lalu mencari celah agar bisa masuk. Dan Daka kembali mendapatkan apa yang dia mau, bahkan kini kesabaranya sudah habis hingga dia berani menyingkap pakaian Bening dan bukit indah itu terpampang di hadapan Daka.


"Kamu istriku kan?" batin Daka menelan ludahnya.


"Eeemmm," Bening bereaksi terhadap hisapan Daka yang kuat dengan mengeluarkan suara yang lembut, seperti menahan geli, dan tanganya bergerak acak menepis Daka.


Hal itu membuat Daka tersentak dan jantungnya terpacu lebih cepat. Daka sadar konsekuensi perbuatanya dia bersiap dimarahi.


"Apa dia akan marah! Aku suaminya kan?" gumam Daka dengan nafas tersengalnya menatap wajah Bening menunggu respon Bening.


Tapi sepertinya Bening sangat kelelahan, begitu Daka berhenti menghisap dan memelintir, walau setengah badanya sudah Daka buka matanya tetap terpejam dan kembali tenang, gerakan tanganya adalah respon alami tubuhnya. Melihat Bening yang kelelahan Daka jadi kasian.


"Kenapa aku merasa seperti bajiingan kalau begini?" gumam Daka.


"Aku tidak bisa terus mencuri kesempatan begini? Tapi kapan aku berani mengajaknya secara terang- terangan? Aish..." batin Daka kesal sendiri. Daka frustasi sendiri karena takut ke Bening.


Tubuhnya terasa bergetar ingin melahap semuanya dan melakukan apa yang dia suka. Tapi seperti ada yang menamparnya dan membuat dia membeku untuk berhenti bergerak. Seperti ada yang memberitahu, Bukan begitu cara yang benar meng_gauli istri.


Daka pun tersadar untuk tidak memaksa. Daka kembali merapihkan pakaian Bening dan kembali tidur.


Karena Daka semalam bangun untuk me_nyu_su, Daka jadi terlelap dan Bening terbangun lebih dulu. Bening melirik Daka masih masih sangat pulas.


"Ternyata hanya mimpi. Dia tidak sungguh hendak meper kosa aku kan? Haissh kenapa aku bisa bermimpi se_jorok ini sih?" gumam Bening memeriksa tubuhnya masih utuh tertutup.


Bening seperti mengingat rasa yang timbul akibat tangan liar Daka, tapi seperti sadar dan tidak sadar, antara mimpi dan nyata karena semalam kepala dan mata Bening terasa berat untuk bangun.

__ADS_1


"Hhh...,"


Bening ingat dia sekarang ibu rumah tangga dan pengangguran. Selayaknya istri Bening bangun lebih dulu dan menyiapkan segala keperluan Daka bekerja.


Sekitar 30 menit, sarapan pagi dan minuman hangat sudah Bening siapkan. Hingga aroma masakan itu membangunkan Daka. Daka pun bangun untuk bersiap.


"Sarapan dulu!" ucap Bening dengan lembut tak ada suara kesal atau marah sedikitpun.


"Hmm ya!" jawab Daka.


Bening pun menyajikan masakanya, selayaknya istri dan menemani Daka sarapan.


"Kalau boleh tahu. Kamu bekerja dimana? Sebagai apa? Apa ada lowongan untukku?" tanya Bening di akhir mereka sarapan.


"Uhuk.. uhuk...," Daka terbatuk. Daka kan merahasiakan pekerjaanya takut Bening malu.


Bening pun dengan sigap mengambilkan minum.


"Sudah kubilang. Jangan berfikir kerja dulu. Nikmati masa nganggurmu. Bersantailah. Kan kita sepakat mau cari ide jualan. Ngapain kamu mau ikut kerja!" jawab Daka.


"Hmmm... tapi aku akan bosan kalau hanya di rumah terus tidak melakukan apa- apa! Aku mentok tidak punya ide!" jawab Bening dengan mulut manyunya.


"Belum juga sehari di rumah. Jangan berfikir banyak, kamu bukan tidak punya ide. Tapi belum. Dinginkan dulu otakmu! Nanti pasti muncul ide!" ucap Daka lagi.


"Hemmm ya!" jawab Bening.


"Nanti kutanya Bu Maria deh." ucap Daka.


"Siapa sih Bu Maria itu?" cibir Bening lirih.


"Oh ya?" ucap Daka tiba- tiba teringat sesuatu dan mengbaikan pertanyaan Bening.


Bening pun tersentak dan menoleh, wajah Daka tampak berbinar.


"Kata Bu Maria, akhir pekan ada acara pertunjukan seni dari berbagai sekolah, di balai kota. Bu Maria cerita kalau ada festival begitu, dia suka buat makanan untuk dijual! Jadi penjual makanan dadakan gitu!" tutur Daka ingat cerita perempuan tua yang sekarang jadi bosnya.


Bening mengangguk dan berfikir. Iya, Bening ingat, itu kan rangkaian acara perayaan hari besar istana. Saat Bening sekolah Bening juga suka ikut. Gambaran acara itu pun datang. Otak Bening pun tersambung.


"Kalau gitu aku jual minuman aja kali ya?" sambung Bening mempunya ide.


"Iya bagus juga. Kita tinggal siapin peralatan. Kamu juga harus berlatih bikin minuman apa?"


"Ya nanti aku belajar!"


"Siip. Ya udah. Aku kerja dulu. Biar kutanya Bu Maria! Nanti kita belanja!" jawab Daka.


"Oke!" jawab Bening


"Besok ya! Kita belanja bersama!" jawab Daka.

__ADS_1


"Siip!"


Bening hanya bisa mengangguk semangat, sementara Daka segera membereskan sarapanya dan bersiap bekerja.


__ADS_2