Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Draft


__ADS_3

"Aku suamimu, aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Aku akan menafkahimu, kamu tidak perlu risau akan pekerjaanmu!" tutur Daka meyakinkan sembari meraih pundaknya dan menatapnya dalam meyakinkan.


Bening berhenti dari isakanya walau nafasnya masih tersengal.


"Ada aku, aku akan menemanimu Aku akan ada di dekatmu bagaiamanapun keadaanmu. Percayalah!" tutur Daka lagi dengan penuh harap Bening mengerti.


"Benarkah?" tanya Bening akhirnya


"Ya..., terimalah aku jadi suamimu! Aku akan bertanggung jawab terhadap hidupmu!"


"Tapi...,"


"Tidak ada kata tapi. Bahkan kamu sudah menyelamatkan hidupku. Bukankah katamu aku berhutang padamu. Aku akan bayar itu semua? Aku akan hidup untuk kebahagiaanmu!" sambung Daka.


"Bagaimana kalau ternyata kamu mempunyai keluarga atau punya pacar atau bahkan punya istri? Aku hanya orang asing untukmu!" ucap Bening lagi.


Daka kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu biar saja aku tidak ingat siapa aku. Agar aku hanya ingat kamu!" ucap Daka sembari mengeluarkan muka tengilnya.


Mendengar kata Daka. Bening yang tadinya terisak menangis merasa sakit langsung mencebik cemberut.

__ADS_1


"Ya jangan... setidaknya kamu harus ingat siapa kamu dan tahu usiamu!" jawab Bening.


Daka kemudian tersenyum.


"Oke... tapi kamu janhan sedih lagi. Lupakan pekerjaan di sana. Kamu bisa dapatkan pekerjaan lain!" ucap Daka lagi.


Kali ini Bening setuju dengan nasihat Daka dan tersenyum mengangguk. Daka pun kembali memeluk Bening hangat sehingga mereka berdua berpelukan nyaman untuk beberapa saat. Hingga rasa nyaman itu berubah ada hawa panas menjalar.


"Ehm...," dehem Bening segera menjauhkan diri karena baru sadar menyentuh sesuatu.


Daka pun gelagapan malu. Bening juga menelan ludahnya dan merapihkan rambut salah tingkah.


"Aku mau mandi dulu! Sepertinya makanan juga habis kan?" ucap Bening mengalihkan pembicaraan.


"Iyah. Kamu bau keringat juga. Oh ya. Bu Maria tadi kasih aku makanan kok. Aku bawa dua ayam goreng. Kita tinggal masal nasi aja!" jawab Daka.


"Siapa Bu Maria?" tanya Bening.


"Bosku, kapan- kapan aku kenalin!" jawab Daka.


Bening mengangguk. Lalu Bening beranjak pergi menjauh dari Daka.

__ADS_1


****


"Huuuft"


Keduanya, w bukanalau Bening di dapur tepatnya di depan kamar mandi dan Daka di ruang tamu, mereka sama- sama membuang nafas melebur canggung dan debaran hebat yang tak bisa diartikan Bening


"Sabar Tong... sabar," batin Daka merayu adik kecilnya agar bersabar


"Satu kunci pintu terbuka. Tapi bagaimana cara aku memulainya?" batin Daka ternyata lebih dheg- dhegan dari Bening.


Daka kemudian mengalihkan fokusnya dengan berfikir keadaan mereka. Sekarang Bening sudah tidak bekerja. Itu berarti Daka harus mempunyai penghasilan lebih. Kata Bu Maria kalau hanya jadi pemulung tidak akan cukup.


"Apa aku ikut- ikutan jualan juga kaya orang- orang?" batin Daka lagi.


Walau belum mengingat jati dirinya, tapi otak Daka bekerja dengan baik memikirkan rancangan mendapatkan uang sesuai apa yang dia lihat saat bersama Bu Maria.


Sementara Bening langsung masuk ke kamar mandi dan menepuk dadanya pelan.


"Huuf. Kenapa aku selalu nyaman saat berada di peluknya? Kenapa dia terlihat sangat baik dan keren saat menenangkanku. Huuft apa itu tadi? Apa dia selalu teraangasang saat bersamaku?" gumam Bening berpikir


"Apa aku mulai jatuh cinta denganya? Ah tidak- tidak! Bagaimana ini?" gumam Bening menepuk- nepuk pipinya.

__ADS_1


Bening pun segera mengguyur air ke tubuhnya


__ADS_2