
“Thok.. thok…,”
“Ya siapa?”
“Saya Pangeran,Ares.!”
“Hmmm.. masuk,” ucap Daka malas.
Selama pengobatan, Raja bertitah, Abe di kamar saja, kata dokter, Abe sudah hampir sembuh, tapi Abe mengaku baru ingat sebagian. Itu sebabnya Raja meminta Abe jangan keluar. Dan sekarang pekerjaan di kamar, Abe hanya ngegame, tidur minum obat lalu memperhatikan detail silsilah keluarganya sendiri.
Semua pekerjaan dihandle oleh orangnya Ares.
“Tiiit…,” pintu kamar Abe yang megah dan canggih dibuka dengan remot juga sandi dimana hanya Abe juga pengawal setia yang tahu, langsung terbuka begitu Abe memencet tombol open.
Ares pun masuk, meski begitu Ares masih berdiri di dekat pintu, aturan dan tata karma kerajaan memang tidak boleh sembarangan di kamar Pangeran yang besar itu.
“Selamat Siang Pangeran,” sapa Ares menekuk setengah badanya memberi hormat.
Abe sedang duduk di sofa panjang dimana dibelakangnya terdapat aquarium yang sangat besar.
“Duduklah, apa sudah ada kabar tentang istriku?” tanya Abe selalu menanyakan Bening.
“Ampuni Hamba, Pangeran, semua kamera perekam sudah kami pasang di rumah Nona Camilia juga ratu muda, gerak gerik mereka juga tidak ada yang aneh,” ucap Ares ragu melaporkan hasil kerjanya.
Baik di rumah Camilia atau keluarga keraajaan yang lain tidak ada aktivitas yang mencurigakan seperti mereka mempunyai tahanan.
“Brak….” Spontan Abe yang sekarang berkuasa jadi kasar karena frustasi Bening belum ketemu. Abe langsung menendang meja di depanya yang berisi aneka minuman. Abe sangat kesal. Kenapa setelah menjadi Pangeran yang katanya dikelilingi orang hebat mencari Bening tidak juga ketemu, padahal mungkin kalau Abe bebas, Abe akan mencari sendiri.
Melihat Abe mengamuk, Ares menunduk, tapi Ares lega, kalau orang hilang di depanya ini sungguh Abe yang dulu. Kemarin saat Abe bersikap baik, Ares sempat ragu kenapa Abe mendadak jadi baik dan rendah hati.
__ADS_1
“Beri aku cara agar aku bisa keluar dari gedung menyebalkan ini!” omel Abe keras karena kesal.
Ares tetap sabar menerima omelan, setelah Abe terlihat bernafas normal, Ares pun mematuhi Abe untuk duduk mendekat.
“Putri Camilia menunggu di depan Pangeran,” tutur Ares pelan.
Sontak saja, Abe yang kesal langsung mendelik dengan matanya yang menyala.
“Apa kamu sedang memperdayaku? Dan sengaja tidak mencari Bening seperti kalian mengabaikanku selama ini? Aku butuh, Bening kenapa malah Camilia yang datang?” omel Abe lagi. Abe terus emosi dan meluapkan marahnya.
Ares menghela nafas menahan sabar. Dia kemudian mengambil sesuatu dari sakunya dan menunjukan ke Pangeran Abe.
“Ini cara terakhir Pangeran,” ucap Ares hati- hati.
“Apa ini?” tanya Daka mengernyit bingung.
“Kita menyebutnya Dewa pengintai, ini adalah magnet ajaib, Pangeran bisa meletakanya di cincin, jepit rambut, kalung liontin atau bahkan anting Nona Camilia,” tutur Ares memberi tahu.
Ya keluarga raja tentu saja teknologi canggih seberapapun harganya mereka punya.
“Seperti rencna sebelumnya Pangeran, bersikaplah baik ke mereka dan pasangkan ini, kita akan tahu setiap gerik mereka,” ucap Ares lagi memberitahu rencananya.
Abe sekarang pun mengerti. Sesuai rencana mereka, Abe akan menyambut Camilia, bahkan kalau diperlukan ada kontak fisik agar Abe bisa memasang alat itu di tubuh Camillia dan Camillia sama saja menjadi alat mata- mata Abe.
“Baiklah, dimana aku harus menemuinya?” tanya Abe.
“Di taman Tuan,” jawab Ares.
Ares dan Abe pun mengatur siasat, bagaimana Abe harus pura- pura lupa termasuk menjelekan Bening agar Camilia percaya dan menganggap Bening bukan sesuatu yang penting. Setelah matang, diantar Ares, Abe menemui Camilia.
__ADS_1
Camilia sudah menunggu di taman dalam istana itu, taman itu di teras balkon menghadap lautan.
“Pangeran…,” sapa Camilia dengan wajahnya yang berseri namun penuh kepalsuan.
Abe dan Ares berdiri menyambut.
“Ingat Pangeran, semua orang di dalam istana ini harus kita curigai dan anggap semua menginginkan nyawamu,” bisik Ares.
Abe tidak menjawab tapi hanya memberi kode. Kalau dia sudah tahu.
Pangeran Abe pun memberikan salam hormat dengan menganggukan kepala pada Camilia karena Camilia juga keluarga bangsawan.
“Putri Camilia,” sapa Abe formal,
Camilia pun mendekati ke Abe.
“Aku sangat bersyukur, Kau benar- benar kembali,” ucap Camilia lagi memeluk Abe.
Abe diam, walau dalam hati sangat jijik ingin mendorong Camilia.
“Maafkan aku, saat itu aku tidak percaya terhadapmu, ternyata benar kau calon tunanganku?” ucap Abe bersandiwara.
“Tidak apa- apa, aku mengerti, itu semua tidak penting, yang penting kamu sekarang ada di sini bersamaku,” ucap Camilia dnegan manis.
Abe mengangguk bersandiwara layaknya orang lupa ingatan.
“Ares tinggalkan aku bersama Camilia” ucap Abe pura- pura ingin berdua dengan Camilia.
Ares pun mengangguk pergi, seakan memberi privasi Tuanya. Padahal Abe ingin berdua dengan Camilia hendak pura- pura membelai Camilia lalu menyelipkan dewa pengintai itu.
__ADS_1
Tepat saat Ares berjalan menjauh, ponsel Ares berbunyi, ternyata Leon memberi kabar kalau Bening sudah ketemu.
“Haish…,” desis Ares kecolongan.