Suamiku Bukan Berandalan

Suamiku Bukan Berandalan
Melebur ke Masyarakat.


__ADS_3

“Daka....,” panggil Bening hati- hati, hendak meminta bantuan mengambil handuk. 


Tidak ada jawaban dari Daka. 


“Daka...,” panggil Bening lagi lebih keras.


Daka masih tidak menyahut. 


“Ish... dia kok nggak jawab apa dia di luar?” gumam Bening lagi.


“Daka aku minta tolong dong! Dakaa!” panggil Bening lebih keras. 


Tapi tetap tidak ada sahutan. 


“Ish...,” desis Bening kesal. 


Akhirnya setelah menimbang sekian detik di dalam kamar mandi, mengingat baju yang dia lepas sudah basah, dan dia kedinginan jika terus menunggu, Bening membuka pintu kamar mandi pelan. Hingga terbuka sedikit celah. 


Pelan- pelan dengan nafas terengah- engah dan jantung yang berdebar, takut Daka seperti sebelumnya nongol di depan pintu. Bening memastikan dengan kedua matanya yang beredar keluar.  


Daka tidak ada di dapur. 


“Sepertinya dia tidak ada? Apa aku keluar saja ya?” gumam Bening. 


"Dakaa...," panggil Bening memastikan.


Tidak ada sahutan. Fiks Daka di luar rumah.


Gantungan handuk terletak di dinding tembok dekat pintu belakang. Lebih tepatnta di sisi belakang kamar mandi. Jika Daka di luar rumah, Bening aman keluar ke situ.


“Tapi kalau dia tiba- tiba nongol gimana?” gumam Bening ragu menutup pintunya lagi, tapi tidak dikunci. 


“Dakaaa..,” panggil Bening sekali lagi memastikan. 


Masih tidak menyahut. 


“Benar tidak ada?” gumam Bening akhirnya dengan menerjang semua takut. Dia berjalan keluar dengan keadaan polos tanpa pakaian. Kedua bukit kembarnya dia biarkan terbuka tertepa angin semilir, untung kencang dan kokoh sehingga saat berjalan tidak bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Bening berjalan sangat cepat langsung ke belakang, tapi rupanya handuk masih tidak ada di gantungan. 


“Ish... dimana sih?” gumam Bening kesal jantunynua semakin berdegub kencang, takut Daka tiba- tiba datang. Kan malu kalau Daka melihat gua kecil tersembunyi di antara kedua pahanya.


"Oh ya kan aku jemur?” gumam Bening ingat, tadi pagi karena cuaca panas oleh Bening di jemur di tepi rumah. 


“Duh gimana ini?” gumam Bening bingung hendak mengambilnya keluar atau ke kamar atau balik ke kamar mandi menunggu Daka. keduanya sama- sama beresiko.


Degub jantung Bening semakin cepat memompa, dia harus memutuskan segera sebelum Daka datang. 


“Sepertinya dia tidak ada, aku ke kamar saja!” batin Bening memutuskan berjalan cepat ke kamar. 


Sayangnya tepat saat Bening berbalik dan melangkah, dari arah luar dengan berjalan cepat, Daka datang ke arahnya.


Dan mau tidak mau mereka berpapasan tepat di depan kamar mandi. Daka yang mendengar panggilan Bening samar- samar, tapi tadi sedang tanggung berjalan setengah berlari.


“Ada app.... wuah...,” pekik Daka langsung terbengong takjup melihat pemandangan indah yang selama ini mengganggu kepalanya. Kini bukan hanya menerka, tapi Daka melihat secara utuh, semua bagian tubuh Bening tidak tersisa tertangkap netranya dan terekam di otaknya.


"Gleg!" Daka menelan ludahnya.


Tentu saja, tubuh Daka langsung memanas dan antenanya langsung bereaksi. Sementara Bening terpekik malu. 


“Haaagh?” pekik Bening langsung memalingkan badan dengan nafas yang terengah hampir habis. Kini Daka hanya melihat bagian belakang tubuh Bening, tetap indah terbentuk sangat rapi dan mulus tanpa noda.


Bening tergugup dan bingung, Bening hendak masuk ke kamar mandi lagi, tapi jika ke kemar mandi berararti dia harus mendekat ke Daka dan itu artinya membiarkan Daka melihatnya lebih lama. 

__ADS_1


Bening memilih berlari ke belakang kamar mandi dan langsung berjongkok di lorong jalan ke pintu ke luar.


Bening memeluk tubuhnya sendiri berlindung, saking malunya Bening langsung meringkuk menundukan kepalanya dan menitikan air mata. Dia kecolongan lagi.


Daka yang tadinya memanas, sempat terbuai bisikan setan untuk menerkamnya berubah jadi geli sendiri dan kasihan melihat Bening berlari malu dan terisak. Daka tau bagaimana malunya, sekarang mereka satu : satu. 


Daka kemudian melirik ke kamar mandi, dan sekarang tahu permasalahanya. Daka menahan diri untuk tetap di tempatnya. 


“Kamu tadi memanggilku? Kamu mau ngajakin aku... itu ya?” tanya Daka malah menggoda Bening.


Bening yang sangat malu dan merasa ternodai karena tubuhnya terlihat orang lain, tak kuasa menjawab. 


“Hei... kok malah ngumpet? Aku siap lhoh!” goda Daka lagi sangat iseng. Padahal dia tahu apa masaalahnya. 


“Jangan mendekat! Stop! Di situ aja!” pekik Bening lagi meringkuk bersandar di dinding  samping kamar mandi menuju ke pintu luar, sangat lucu dan menggemaskan bagi Daka. 


“Yaya... terus tadi kayaknya kamu manggil aku? Ada apa? Aku suamimu, kalau emang kamu udah nerima aku, ayolah nggak usah malu!” jawab Daka lagi sambil terkekeh senang sekali. 


“Apaap sih... hiks! Gila!” gerutu Bening lagi tidak berani menoleh.


“Lantai rumahnya belum berkeramik, banyak kuman jangan duduk di bawah begitu, gatel nanti lho!” gurau Daka lagi semakin iseng. Walau diberi peringatan jangan maju, Daka tetap maju dan memastikan Bening sedang apa.


“Ih...,” Bening pun semakin kesal, rasanya seperti sedang dikuliti.


“Hei...bangun! Jangan di situ! Tadi juga manggil- manggil aku. Aku udah datang nih. Aku buka baju juga ya!” jawab Daka lagi semakin mengerjai Bening.


“Iiiih...!” teriak Bening sangat kesal ke Daka yang selalu iseng dan menyebalkan. Bening ingin bangun dan menonjok Daka tapi tak kuasa. 


“Ups. Loh kok marah?” tanya Daka lagi dengan muka nakalnya.


“Aku tuh manggil kamu buat ambilkan handuk! Ngapain ke sini. Pergi keluar kamu. Ih!” rengek Bening akhirnya ngaku. 


“Oh mau minta tolong?” tanya Daka masih terus terkekeh bahagia sekali bisa mengerjai Bening.


"Sana- sana pergi. Keluar rumah!"


"Aku nggak bawa anduk?"


"Oh. Nggak bawa handuk ternyata? Dimana emang handuknya?” tanya Daka lagi, 


“Di luar!” jawab Bening manyun tetap tidan berani menatap Daka.


“Ya bentar! Aku ambilkan!” jawab Daka patuh karena kasihan ke Bening. Daka tampak hendak melangkag melewatu Bening.


“Tutup mata kamu!” teriak Bening. 


“Ya aku nggak bisa ngambil dong kalau jalan tutup mata!” jawab Daka.


Bening terdiam cemberut dan mengeratkan pelukan tubuhnya dengan kedua pahanya. 


Daka pun berjalan melewati Bening, membuka pintu belakang dan mengambil handuk di jemuran pakaian luar .


“Nih!” ucap Daka menyerahkan handuk mengalungkan ke bahunya dengan lembut.


Daka mendekat dan membungkuk, di depan Bening lebih tepatnya di atasnya. Daka  pun bisa melihat Bening dengan jelas semua kulitnya yang mulus, hanya saja tak seperti tadi saat dia bisa melihat lembah kecil yang terdapat gua kecilnya, juga bukit surga yang tidak terlalu besar. Kini hanya terlihat, jalan lembah di antara dua bukit yang tertekan tangan dan lutut. 


Suasana pun menjadi terasa panas di antara mereka berdua. Apalagi Bening diperlakukan seperti itu. Namun keduanya tetap saling menahan diri.


“Ya udah sana kamu pergi! Jangan lihat aku!” jawab Bening menggerutu. 


"Ya!" jawab Daka.


Bening pun segera membalut tubuhnya dengan handuk, masuk ke kamar mandi lagi membilas tubuhnya yang kotor karena bersimpuh di lantai. 

__ADS_1


"Dia tidak melakukan apapun atau memper kosaku?" batin Bening di dalam kamar mandi.


Sikap Daka yang tidak menyerangnya seperti yang dia bayangkan membuat Bening terkesima. Bening mengira dan berfikir pria normal melihat perempuan di rumah hanya berdua pasti akan khilaf, tapi sejauh ini mencium pun Daka tidak pernah.


"Dia sungguh Pria yang baik kan? Padahal kan aku istrinya?" gumam Bening jadi terpana mengagumi Daka. "Atau aku tidak menarik?" gumam Bening lagi malah minder.


"Ah terserahlah. Yang penting aku aman?" batin Bening lagi.


Sementara Daka keluar rumah. Tidak seperti dugaan Bening. Daka menyiksa diri dan menekan semua geloranya.


Daka menghembuskan nafasnya kasar menatap langit yang hitam dan melenturkan ototnya yang menegang. Daka berusaha mengusir bisikan sesat yang terus merayu lembut.


Daka bukan tidak tertarik atau tidak normal. Daka sangat ingin mendekap Bening, menangkup dua bukit indah yang dia lihat, melahapnya dengan nikmat. Tapi dia tidak mau, jika terlalu memaksakan.


Bukan kebahagiaan, nanti malah akan dibenci Benig dan diusirnya. Padahal Daka tidak punya tujuan dan tempat tinggal lagi. Penghasilan hari ini saja setelah dia berputar mengelilingi pasar hanya dapat 10 ribu rupiah. Melihat tempat tinggal Bu Maria sangat mengerikan bagi Daka, lingkunganya kumuh, bau dan sempit.


Mendengar kamar ditutup, Daka menyusul mandi. 


Suasana rumah jadi menegang seperti waktu itu, hanya saja, sekarang berbalik posisinya. Mata Daka yang ternodai. Bening masih seperti kemarin, mengurung diri di kamar, bingung mau apa, canggung dan malu.


Daka kembali lagi harus berfikir, merayu Bening untuk keluar. 


Karena tidak punya ide, Daka pun memlih tidak merayu, memberikan Bening ruang untuk sendiri. Setelah sepersekian menit rumah mencekam karena saling diam Daka punya ide.


"Bening...," panggil Daka..


"Hmm...," jawab Bening di balik tembok.


“Tadi ada tetangga yang kasih nasi sama lauk. Dia undang aku, katanya di rumah ada acara adat dan makan- makan. Aku bingung aku pergi nggak ya?” tanya Daka ke Bening.  Kali ini, Daka kembali punya senjata mengajak Bening bicara. 


“Hah? Tetangga? Tetangga siapa?” tanya Bening di balik kamar dengan kaget.


Selama ini, Bening hampir tidak pernah bersosialisasi dengan warga sekitar kecuali bertegur sapa saat berangkat dan pulang kerja. 


“Dia, bapak- bapak yang nikahin kita, waktu itu!” jawab Daka. 


Bening pun langsung keluar. 


“Mana nasinya?” tanya Bening. 


“ Nih!” jawab Daka menunjukan sekotak nasi. Tadi sore Daka tidak menyahut panggila Bening karena sedang menerima tamu mengundang Daka di teras. 


Bening pun segera memeriksanya


"Yang gerebek dan nikahin kita kan ada banyak. Yang mana?" tanya Bening.


"Katanya rumahnya di samping balai desa!"


“Oh..,” jawab Bening mengangguk. Ternyata itu dari bapak kepala desa. Beliau tahu, Bening dan Daka berkeluarga, maka dari itu sekarang Bening mendapatkan nasi. 


“Anaknya, mau nikahan besok! Datang nggak nih aku? Kita sudah dianggap sebuah rumah tangga!” tutur Daka sembari bertanya.


Bening menelan ludahnya, yang tadi malu sekarang membuang malunya. Ya benar, beberapa warga yang menikahkan mereka, menganggap Bening dan Daka sebuah keluarga kecil. Seketika itu di hatinya timbul rasa bertanggung jawab akan Daka. 


Bening pun melihat Daka dari ujung kaki sampai ujung kepala, sudah benar belum dalam berpenampilan. 


“Pakai kemeja yang sopan, juga celana hitammu waktu itu, jangan bicara apapun kalau tidak ditanya. Senyum saja! Jangan komentar apapun. Apalagi komentar pedas. Dataang saja ikuti proses acaranya!” jawab Bening memberi pesan yang banyak ke Daka.


Dakaa pun mengangguk tersenyum. Bening terdengar sangat perhatian.


“Oke!” jawab Daka. 


Malam itu, mereka pun kembali akur bekerja sama selayaknya suami istri pada umumnya dan belajar melebur ke masyarakat desa. Mereka juga memendam semua yang sore itu mereka alami. 

__ADS_1


****


Kak bantu like komen dan vote yaa.


__ADS_2