
Antonie tercengang mendengar pertanyaan dari wanita itu. Seketika perasaan gugupnya langsung muncul.
"Ka-kamu ngomong apa sih? A-aku tidak mengerti."
Antonie menjentikan jarinya kembali. Wanita itu menjentikan jemarinya juga.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau memanggil burung dengan kekuatanmu jarimu itu?"
Antonie semakin dilanda panik, memilih untuk pergi menuju ke tempat adik-adik angkatnya tergolek. Ternyata, Angela terus mengikutinya.
"Siapa namamu? Apa aku boleh mengetahui namamu? Di mana kalian tinggal? Lalu apa pekerjaanmu?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Angela.
"Mbak, boleh aku menagih janjimu yang kemarin?" Antonie lari dari pertanyaan.
"Apa itu?"
"Jika kamu akan merahasiakan segalanya. Bahkan tangan dan kakimu tidak akan mengetahuinya."
Angela tercenung sesaat, lalu dia tersenyum. "Baik lah, aku janji. Aku juga ingin membayarmu karena sudah menyembuhkanku dengan total. Aku sudah mengecek, dan tak ada lagi yang menghalangi pembuluh pada rongga pernafasanku."
Antonie tersenyum tipis. "Tidak usah, aku minta satu lagi. Kamu jangan mengatakan satu hal lagi kepada siapa pun."
"Apa itu?" tanya Angela.
Antonie merangkul Rizki dan Fanya. Lalu menghilang membuat Angela mengerjapkan kedua matanya. "Ternyata, dia bukan manusia. Dia adalah dewa." gumamnya menatap langit.
*
*
*
Dua kawanan penjahat tengah berjejer di hadapan Dokter Bagas. Mereka baru saja melaporkan, kegagalan dalam melaksanakan perintahnya.
"Apa kalian bisa memberitahukan bagaimana rupa dari pemuda itu?"
"Semua begitu cepat, Boss. Kami tidak sempat melihatnya dengan seksama. Bahkan, dua anggota kami terpaksa menjalani perawatan serius karena patah tulang saat melawan pemuda itu."
Dokter Bagas hening, dia sibuk dengan pikirannya. Dia pun merencanakan sesuatu. "Di mana lokasinya?"
"Di halte dekat pusat perbelanjaan Mall M, Boss."
Lalu Dokter Bagas segera menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Coba kamu retas CCTV halte busway dekat Mall M!"
__ADS_1
Setelah itu Dokter Bagas menyuruh kedua orang itu bubar. "Sepertinya ini tidak mudah. Aku harus segera mencari pengganti dua anak itu, sebelum Dokter Hardan me meng gal kepalaku." gumamnya.
*
*
*
Saat malam hari di kamar Sonya, dia tengah penuh keringat masuk ke alam mimpi. "Tidaaaaaak!" teriaknya terbangun dengan cucuran air mata.
"Daddy?" ringisnya menahan debaran di jantung.
Saat pagi datang, Sonya masih teringat akan mimpi buruk yang dialaminya tadi malam. Dia melihat pada sang ayah bergantian mematap wanita yang terpaksa dipanggil dengan Mami.
"Kenapa masih belum selesai juga makannya?" bentak Lastri, sang Mami tiri.
praaang
Sonya melempar sendok ke arah piring tersebut. Dia kehilangan selera dan beranjak dengan wajah kesal. Sonya yang sudah memakai seragam koas-nya, langsung mengambil kunci membawa mobil.
Saat dalam perjalanan, dia melihat seorang pemulung tengah memilih rongsokan di sebuah bak sampah yang cukup besar. Sonya langsung teringat ke masa dia sudah menghilangkan nyawa seorang pemulung.
"Kenapa belum ada berita tentang jasad orang itu ya? Apakah jasadnya dimakan oleh hewan buas hingga tidak meninggalkan jejak sama sekali?" monolognya pada diri sendiri.
Dia berencana untuk memberikan sebuah kejutan kepada sang kekasih. Sonya bertopang pada kedua tangannya yang bersandar di atas meja.
"Issssshhh ...."
Dia meringis kesakitan sendiri teringat pada mimpi buruk tadi malam. Lalu, Sonya melihat Denish, berjalan bertiga dengan Dara dan Cika. Denish tampak tengah merangkul pundak Dara dan sebaliknya, Dara merangkul lengan Denish.
Sonya menyembunyikan wajahnya di balik meja tinggi itu. Dia mencoba mendengar obrolan mereka.
"Ay ... Lepas dulu!" Dara melirik kiri kanan. "Nanti Sonya melihat kita!" bisik Dara.
"Iya, tadi aku lihat mobilnya udah terparkir." tambah Cika.
"Makasih ya Cika, kamu membantuku menyembunyikan hubunganku dengan Denish." Dara merangkul pundak Cika.
"Iih, aku tu gak suka saka Sonya tau nggak? Aku juga gak setuju Denish pacaran sama Sonya. Tapi kalau kamu sama Denish, malah cocok bangeeet." Cika merangkul pinggang Dara.
Mendengar percakapan mereka, membuat Sonya merasa sangat sakit hati. Sonya tidak menyangka Dara yang selama ini diam tak pernah memiliki masalah dengannya, ternyata diam-diam berkhianat seperti ini.
"Awas Kau, Dara! Berani sekali merebut Denish dariku?" rutuknya menggenggam tangan penuh dendam.
__ADS_1
Lalu mereka berjalan terpisah bagai tidak terjadi apa-apa. Netra Sonya tak putus memperhatikan tingkah mereka. Lalu Sonya membiarkan mereka menghilang dan dia sendiri terus berusaha menurunkan emosinya.
"Oke ... Aku akan menganggap tidak melihat apa pun."
Setelah itu Sonya membuka cermin, memperhatikan penampilan dan memperbaikinya. Dia berjalan sambil membuka ponsel pura-pura sedang melakukan live seperti biasanya.
Di rumah singgah milik Antonie terlihat dua orang dengan wajahnya yang terlihat penuh kebingungan dengan pekerjaan masing-masing. Saat pagi datang, mereka berdua terbangun di kamar masing-masing.
"Gue pikir gue udah mati, kena hajar sama orang-orang kemarin." ucap Rizki, sementara tangannya sedang sibuk menggoyang wajan memasak nasi goreng.
"Iya, aku juga heran. Kok bisa ya tiba-tiba kita sampai di sini? Padahal Kak Antonie sama sekali tidak tahu keberadaan kita." ucap Fanya sambil menyapu lantai.
Antonie pun keluar dari kamarnya. Dia menyembunyikan senyuman dan duduk di atas tikar plastik. Rumah singgah ini belum memiliki peralatan kecuali kasur springbed tanpa dipan.
Melihat kehadiran Antonie, sebenarnya Fanya ingin sekali duduk di sampingnya. Akan tetapi, tubuhnya tak bisa dikendalikan jika belum menyelesaikan membersihkan rumah.
Tak lama, Rizki telah menyiapkan tiga porsi nasi goreng untuk sarapan, dan Fanya menyudahi megepel lantai. Saat itu lah mereka bisa leluasa bergerak seperti biasa.
Rizki melirik seisi rumah. "Gue pikir, gue dikendalikan sama hantu rumah jelek yang kemarin. Ternyata rumah ini juga ada hantunya."
Fanya hanya menepuk keningnya. "Jadi kamu—" Fanya menghentikan ucapan dan memilih diam karena diberi kode telunjuk di bibir Antonie.
"Oooh, I see ... Semua ini karena Kakak kan?" tanya Fanya.
"Aku? Kenapa?" tanya Antonie.
"Kakak yang menyelamatkan kami dari orang-orang itu kan?" tanya Fanya lagi.
Lalu, Antonie memasang wajah serius. Dia mendapat informasi dari System bahwa orang-orang itu adalah suruhan dari salah satu Dokter dari Rumah Sakit Harapan Kita. Mereka masih gencar menginginkan organ milik Fanya dan Rizki, yang dianggap sebagai anak-anak terlantar.
"Mulai hari ini, kalian harus hati-hati. Aku tidak akan mengekang kalian ke mana pun, asal kalian bisa menjaga diri sendiri."
Rizki sedikit mengerutkan keningnya. "Kenapa gue merasa kota ini makin mengerikan ya?"
"Kalau gak suka, balik kampung dulu sono!" cecar Fanya.
Tiba-tiba mereka teringat pada benda yang baru saja mereka beli. "Hapeeee?" Mereka berdua langsung berlari masuk ke kamar masing-masing.
Laku keluar dengan wajah gusar. "Bang, kemarin kita berdua beli hape. Ada lihat hape kite gak?"
"Hape?" Antonie menggelengkan kepala.
"Omaigaaat ... Batal punya hape baruuuu." tangis Fanya.
__ADS_1