
Ronz menyeringai mendengar ucapan Zahn. "Setelah itu, kau akan membusuk di dalam tanah! Hahahaha!"
"Tidak! Sebelum kau yang membusuk di sana terlebih dahulu!"
Akhirnya, Zahn hanya bisa menunggu informasi yang tak kunjung datang. Sesekali ia tetap menghampiri panti asuhan tersebut memastikan informasi terbaru.
Setelah enam tahun pencarian, akhirnya ia mendapat kabar bahwa sang anak sudah muncul. Kali ini ia mendapat kabar bahwa anaknya yang hilang itu telah menjadi dokter, dengan keahlian menyembuhkan tiada tandingan.
"Sepertinya dia sedang sibuk, saya belum bisa menemuinya."
"Jadi, putra Tuan bukan praktik di rumah sakit? Hanya membuka klinik seperti ini?" Mamad, sang supir melihat puing-puing bangunan sebelah.
"Dibuat, di samping rumah sakit besar yang telah runtuh. Sepertinya ia mendapat bakat marketin dari Anda, Tuan."
Zahn melirik bangunan yang dimaksud supirnya, dia menyeringai dan menggelengkan kepala. "Mungkin itu sekedar kebetulan saja."
Kendaraan mewah itu bergerak meninggalkan bangunan tempat Antonie bekerja.
Siang hari Liana berjalan sendiria membawakan makanan yang dimasakkan oleh Rizki. Rizki diminta untuk menjemput adiknya, Leon pulang sekolah. Dengan langkah sedikit berbunga Liana memandangi sebuah kendaraan berwarna merah berdiri tepat seperti waktu itu.
Lalu Liana menghitung waktu pertemuan Antonie dengan wanita yang ada di dalam kendaraan itu. "Jadi, mereka akan ketemu esok hari?"
__ADS_1
Suara napas Liana terdengar sedikit memburu, setelah itu gadis cantik itu masuk mengecek keadaan Antonie yang merenung sendirian.
"Tumben sepi?" Liana memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Iya, yang datang hari ini tidak sebanyak yang kemarin." Antonie melihat benda yang ada di tangan Liana, sebuah rantang yang berisi bekal untuk makan siangnya.
Liana memahami pandangan pria yang kelaparan ini. Dengan segera ia membuka rantang makanan tersebut dan menyerahkannya kepada pria yang tentunya sangat kelaparan ini.
Setelah itu, Liana hendak bergerak beranjak, dengan cepat pria itu menarik Liana, duduk di bangku sebelahnya. "Temani aku!"
"Iya, tunggu! Aku mau ambil minuman dulu." Liana mengulum senyumnya bangkit, melirik Antonie menatapnya dalam diam. Liana teringat kembali pada ucapan Antonie yang tadi malam yang bergema di dalam otaknya.
Dia menpercepat langkah keluar dari ruangan tersebut. "Liana! Jangan mudah termakan! Dia hanya basa basi padamu! Bukan berarti suka padamu!"
"Aku tahu kamu sengaja seperti tidak melihatku," ucap Sonya dari arah pintu depan.
Liana menyerahkan air mineral yang ia ambil kepada Antonie, dan kembali lagi ke luar. "Eeeeh, ada orang ternyata. Aku kira siapa si setan merah yang mampir di sini?" Liana memberikan senyuman kakunya.
'Eh, ternyata si Mak Lampir,' batinnya.
"Mana dia?" tanya Sonya to do point.
__ADS_1
"Dia siapa ya? Emang di sini ada siapa lagi?" Liana sengaja membelokkan pertanyaan.
Sonya menyadari perilaku Liana ini. Dia menghentakkan. Kaki beberapa kali. Lalu masuk ke dalam koridor menuju ruang kerja Antonie. Liana yang menghalangi, didorong begitu saja.
Antonie ternyata telah menghabiskan makanan untuknya. Dia melihat kehadiran wanita yang ia kutuk di setiap muncul dalam ingatannya.
"Waaah, kamu udah selesai makan? Yaaah, aku terlambat ya? Padahal aku mau ajak kamu makan berdua di luar sana." ucap Sonya duduk di samping Antonie yang hanya menatapnya dengan dingin.
"Apakah kamu sudah memberitahukan kepada tiga temanmu, bahwa kita akan bertemu?" ucap Antonie langsung ke inti.
"Kenapa mereka harus ikut? Kita berdua saja sudah cukup." sanggah Sonya tidak setuju dengan keinginan Antonie.
"Karena aku ingin memberitahukan kepada kalian mengenai satu hal. Kalian harus tau, dan aku harus membuat kalian semua tahu."
Antonie keluar dari ruangannya. Liana masuk mengangkat dagu membereskan peralatan makan sisa Antonie barusan. "Waduh, bersih tak bersisa. Ah, tadi harusnya aku disupi oleh dia. Jadi batal gara-gara kedatangan seseorang," ucap Liana berbohong.
Ia ingin mengetahui reaksi gadis itu. Dan, benar ... raut wajah gadis itu terlihat tersentak kesal. Namun, Liana menikmatinya.
"Abis ini, nanti malam aja suap-suapannya, yipiiii..." Liana setengah terlonjak semakin menjadi menggoda calon dokter itu. Liana keluar mengikuti langkah kaki Antonie yang meraup udara luar hingga memenuhi paru-parunya.
"Kamu mau aku temenin atau tidak?" Liana berlaku sok dekat dan mesra kepada Antonie di hadapan Sonya.
__ADS_1
Antonie menatap Liana dalam diamnya, ia seaka bisa membaca apa yang dilakukan oleh gadis ini kepadanya.