Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 81


__ADS_3

Semua mata memandang seorang gadis dua pulahan yang sedang menggandeng anak laki-laki berusia sepuluh tahun.


"Enak aja ya, si Kakak cantik minta-minta. Emangnya saat dibutuhkan tadi kemana, Neng?" celetuk Rizki turut kesal melihat Liana tiba-tiba muncul saat semua membicarakan tentang uang.


"Dari pada bingung-bingung kan? Masalah uang aja dibuat bingung." Liana menarik Leon bergabung dengan yang lain.


Mata Antonie menangkap sebuah benda yang terparkir di pinggir jalan. Kendaraan itu begitu dia ingat karena beberapa waktu sebelum dia meninggal, mobil bewarna merah itu berjalan dengan ugal-ugalan.


"Sonya." gumamnya.


Liana mendengar apa yang diucapkan Antonie. Raut Antonie terlihat datar, memandang sesuatu yang ada di belakangnya. Liana memutar kepala melihat sebuah mobil bewarna merah.


Ada apa dengan mobil itu? Kenapa dia terlihat sangat marah?


[ Sepertinya ada sesuatu antara pemilik mobil dengan dia, Nona. ]


Liana mencoba menebak pemilik mobil itu. 'Berdasarkan bentuknya, apakah pemilik mobil ini adalah seorang wanita?'


[ Tepat sekali. ]


Liana kembali melirik Antonie dan mobil itu secara bergantian. Beberapa waktu kemudian Liana mengkedikkan bahu melanjutkan langkah kaki bergabung dengan mereka. Namun, saat dia turut duduk bersama, ada satu gadis yang bangkit memilih beranjak dari sisinya.


"Udah beres semua kan? Aku pulang dulu ya? Kalau kelamaan, nanti ibuku pusing nyari aku." Fanya melambaikan tangan sejenak wajahnya dingin menatap Liana.


Liana mengangkat dagu menantang lirikan Fanya dengan wajah yang tak kalah sombong. "Apa sih? Anak kecil doang udah songong minta ampun," celetuknya.


Fanya memilih tidak mengubris dan pergi meninggalkan mereka.


Setelah Fanya pergi, pintu kendaraan itu terbuka. Semenjak tadi, wanita yang ada di dalam kendaraan itu bertahan menunggu suasana sepi. Dia merasa penasaran dengan tanggapan Antonie saat telah berani menunjukkan rasa sukanya kepada pria berkaca mata itu.


Sonya mengenakan mini dress berwarna hitam melangkah kan kaki menuju ke arah empat orang tersebut. Melihat wanita itu membuat Liana merasa tidak suka.


Saat berjalan dengan percaya dirinya, Liana mengulurkan kaki. Sonya yang terfokus kepada Antonie, sama sekali tidak menyadari apa yang telah menanti kakinya di bawah sana.


Sonya menyandung kaki Liana dan dia langsung ambruk. Suara benturan terdengar cukup keras saat Sonya jatuh. Sonya melirik Liana dengan tajam dan mendengkus.


Antonie membantu Sonya untuk bangkit tanpa mengatakan apa-apa. Sesaat Sonya bersemangat berdiri menurunkan kembali pakaiannya yang naik beberapa inci.


Antonie menatap panjang pada Sonya dengan wajah datarnya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Bukan kah di rumahmu masih dalam suasana berkabung? Seharusnya, kamu menemani ibumu."


"Huuh, suasana duka malah kelayapan. Anak yang tidak berbakti sekaleee?" Liana menayadarkan diri pada bangku sembari membuang muka, meski bibirnya mengeluarkan sindiran yang membuat wajah Sonya mengerut karena kesal.


"Aku dengar lagi ada acara peresmian klinik penyembuhan tanpa memerlukan obat dan gratis. Aku penasaran seperti apa, makanya aku datang ingin mengetahui seperti apa bentuk program kesehatannya." jelas Sonya dengan sedikit senyuman kikuk.


"Haaalaah, bilang aja lagi ada yang gatel, macam kena ulat bulu." celetuk Liana tanpa melihat ke arah mereka.


"Pppfffttt ...." Rizki menahan tawanya mendengar ucapan Liana.


Sonya melirik kesal pada Liana. Namun, Liana tidak menoleh kepadanya sedikit pun.


'Enak banget jadi Bang Antonie? Banyak yang suka? Laah, gue siapa yang suka?' Rizki hanya bisa berteriak di dalam hati.


Antonie melirik Rizki. Rizki menyadari dia sedang diperhatikan oleh Antonie membuang muka sambil bersiul.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pulang, dari pada keluargamu pusing mencari kamu yang menghilang. Meski aku tidak menyukai ayahmu, tetapi aku turut berduka cita atas kepergian ayahmu." ucap Antonie memasang wajah setulus yang ia bisa.


"Terima kasih. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keluarga. Mereka baik-baik saja." ucap Sonya dengan mata berbinar-binar.


Sejujurnya, Sonya sama sekali tidak merasakan kesedihan atas kepergian ayahnya. Meskipun segala yang dia minta selalu diberi, tetapi sebelumnya selalu dibandingkan dulu dengan kakaknya Sony. Hingga membuatnya kehilangan rasa simpati pada sang ayah.


Antonie mulai merapikan beberapa hal lain yang sedikit berantakan. Sonya memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Antonie. Ada sesuatu yang ingin sekali dikatakan, tetapi di sekitarnya masih cukup banyak orang hingga membuatnya tidak sanggup untuk menyatakan apa-apa.


Antonie menyadari setiap langkahnya terus jadi perhatian. Baik itu Sonya, Rizki, dan Sonya.


"Jika kalian ingin mengatakan sesuatu, katakan lah saat ini juga! Aku ingin beristirahat dan aku harap tak ada lagi yang mengganggu istirahatku."


"Aku—" Liana dan Sonya saling bertatapan, setelah itu membuang muka. Mereka berdua sama-sama ingin berbicara, akhirnya sama-sama memilih diam.


"Gue aja, Bang. Apa perlu itu semua kita hitung?" timpal Rizki melihat dua perempuan ini.


"Ooh, itu. Kalau semua setuju sih tak masalah." ucap Antonie lagi.


"Aku ingin menawarkan diri untuk menolong menghitungnya." Liana bersemangat memahami apa yang dimaksud.


"Nah, setelah semua kita hitung, tujuh puluh lima persen dari jumlah yang ada mau aku berikan pada panti asuhan tempat aku dibesarkan dulu." ucap Antonie.


Kening Liana berkerut. "Tujuh puluh lima persen? Kok banyak amat?" tanyanya merasa tidak setuju.


"Iya, karena pada awalnya ini adalah program gratisan. Aku sendiri tidak menyangka mereka semua akan memberikan uang yang tak aku minta."


"Jadinya, aksi amal ini harus tetap terlaksana. Paling tidak, aku bisa menjelaskan dari mana asal uang yang aku dapatkan ini. Karena semua ini murni dari hasil kerja keras."


Sonya memgernyitkan wajah, sedikit salah tingkah. Sejenak dia melirik Rizki, Liana, dan Leon yang berada di sana.


"Apa kamu memiliki waktu akhir pekan?"


Semua yang ada di sana membulatkan matanya. "Kencan?" tanya Liana dan Rizki serentak.


"Hmmm ...." Sonya hanya bergumam.


"Baik lah, aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu, dan tiga temanmu." ucap Antonie kembali.


"Kenapa mereka harus ikut juga?" Sonya merasa tidak setuju. Dia merasa membutuhkan waktu hanya untuk berdua.


"Jika mereka ikut, tak ada bedanya sama yang sekarang," sungutnya.


"Beda! Orang-orangnya beda! Masalah yang dibahas pun tentu berbeda!" Antonie menekan ucapannya satu per satu.


"Ck!" Sonya berdecak kesal karena dia yakin tidak akan memiliki kesempatan untuk mengatakan segalanya.


Sonya bergerak cepat menarik Antonie menuju pojok bangunan ini. Antonie mengikuti dari belakang, sembari melirik kedua orang yang membesarkan matanya.


Setelah sampai pada tempat yang dirasa tepat, Sonya melepas genggamannya itu. Beberapa waktu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut Sonya. Antonie masih hening menunggu gadis itu berbicara.


Setelah beberapa waktu menyiapkan hati, akhirnya Sonya mulai memutar tubuh, menatap Antonie yang masih tak bergeming menunggunya bicara.


"Kamu tahu, dulu aku itu sangat membencimu. Ditambah lagi, kamu menciumku seenak jidat di hadapan orang lain."

__ADS_1


Antonie masih hening mendengarkan apa yang diucapkan gadis ini. Wajahnya telah merah, seperti orang yang mengalami demam.


"Namun, entah kenapa wajahmu selalu saja berseliweran di sekitarku." Sonya kembali menarik nafas panjang.


"Apa kamu benar-benar tertarik padaku hingga terus mengikuti sampai membuka klinik tepat di sebelah rumah sakit papa. Meskipun akhirnya ... yaaa, gitu deh."


Antonie masih mode silent mencoba menjadi pendengar yang baik. Dia ingin mendengar langsung semuanya dari mulut gadis ini.


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku? Apa yang kamu rahasiakan selama ini?"


"Rahasia ya? Sebenarnya banyak, dan aku sudah lama ingin mengatakannya padamu." ucap Antonie dengan datar.


"Coba katakan!" Sonya bersemangat merasa umpannya telah berhasil dimakan oleh Antonie.


"Makanya, tunggu lah pada masa kalian berempat berkumpul." Antonie pun pergi meninggalkan Sonya yang tadinya masih sumringah mengharapkan sesuatu dari mulut pria itu. Senyuman itu kini berubah menjadi membulat, dan pandangan kosong.


*


*


*


"Waaaah, ternyata hasilnya banyak banget ya? Gue nggak nyangka bisa sampai dua puluh juta dalam sehari ini." ucap Rizki menyudahi penghitungan uang-uang tersebut.


Antonie mendekati Liana. Liana pura-pura tidak memahami arti tatapan Antonie. Antonie menggerakkan jemari telunjuknya, membuat sesuatu yang disembunyikan di dalam bra keluar dengan sendirinya.


Ada lima dompet yang melayang menuju tangan Antonie. Seketika wajah Liana berubah merah karena ketahuan akan aksinya yang diam-diam itu.


"Kapan Kakak ambil?" tanya Leon dengan polos


Sementara Rizki menepuk keningnya menggelengkan kepala. "Usaha terus, sampai mampos." celetuk Rizki.


"Dikit kok, lima biji doang. Nggak semuanya gue ambil." dalihnya.


Setelah itu, mereka mendatangi panti asuhan tempat Antonie dibesarkan. Dengan wajah haru, Bunda Wulan, ketua panti asuhan yamg sudah mulai sepuh.


"Siapa?" tanya Bunda Wulan.


"Saya dulu pernah tinggal di panti ini, Bunda. Hari ini saya ingin berbagi rezeki dengan adik-adik yang tinggal di panti ini." terang Antonie.


"Iya, maksud saya nama kamu siapa? Maklum, Bunda sudah tua. Jadi, memang sudah sulit mengingat nama dan wajah satu per satu."


"Aku Antonie, Bunda. Apa Bunda masih mengingatku?"


"A-Antonie? Benar kah ini Antonie?"


Antonie mendekat mencium tangan Bunda Wulan, orang yang dulunya selalu sabar menghadapi sikapnya yang dulu cukup brutal, dibanding anak-anak yang lain.


"Antonie, akhirnya kamu datang juga. Ada yang sudah beberapa kali bolak balik ke panti ini mencari dan menanyakan keberadaanmu. Setelah sekian lama kamu keluar dari tempat ini, baru kali ini kamu mau datang ke sini kembali."


Antonie mengerutkan keningnya. "Siapa yang mencariku, Bunda? Tumben sekali ada yang datang memcariku ke panti ini."


Bunda Wulan membuka kaca matanya, memastikan kembali wajah Antonie. "Kamu semakin tampan saja. Wajahmu sangat mirip dengan orang yang mencarimu."

__ADS_1


__ADS_2