Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 39


__ADS_3

"Wah ... Wah ... Wahhh ... benar sekali seperti kata orang-orang di luar sana. Dunia ini hanya selebar daun kelor." gadis itu bersidekap dada.


Systemnya mulai memindai tubuh Antonie. [ Nona, sepertinya dia tidak membawa emas atau apa pun yang berharga. Namun, Anda tidak mencari dia untuk mencuri bukan? ]


"Ekhm ..." Liana berjalan mendekati pria yang dipanggilnya dengan cupu. Dia menengadahkan tangan di hadapan Antonie.


"Cepat kembalikan!" dengan sedikit bentakan.


Antonie hanya tersenyum tipis dan kembali menghilang. Liana masih bisa melihat pergerakan dari Antonie dan mengejar dengan kecepatan yang diatur oleh System yang dimilikinya.


Antonie tersenyum tipis menghilang dan berada di belakang Liana. Kali ini posisi pun berbalik, Antonie yang mengikuti gadis itu dari belakang. Memegang sebuah benda berbentuk kantung raksasa.


"Kamu masih belum kapok juga wahai pencuri liar? Benda milikku, masih mau ngaku milikmu?" Antonie menyelubungi Liana dengan kantong itu.


sreeet


Kantong raksasa tersebut menyempit dan mengecil dengan sendiri mengikat gadis itu yang langsung terguling beberapa meter tak mampu lagi berlari. Liana mencoba menggerakkan tubuhnya yang sudah sesak karena ikatan yang terlalu kuat dari leher hingga ke kaki.


"Wooy! Cupu! Lepaskan gue! Kurang ajar!" umpaat gadis itu.


Antonie berjalan pelan mendekat memasang wajah dinginnya. "Masih berani mencuriku dariku? Kamu salah sasaran!"


Antonie mengangkat gadis yang terikat itu dengan satu tangannya. Gadis itu terus bergerak bagai ulat bulu yang meronta-ronta.


"Ah, jika aku berdarah dingin seperti mereka, mungkin kamu sudah aku lempar ke jalanan dan dilindas oleh kendaraan." Antonie berpindah ruang dan berada di pinggir danau.


Dia mengayun-ayun kan tangan hingga Liana yang sedang terikat ke arah danau, ikut terayun.


"Woy ... Woiy! Lu mau ngapain?" Liana yang sedikit oleng karena melintasi tempat dengan waktu yang begitu cepat baru saja tersadar. Di hadapan matanya sudah terbentang air tenang yang sangat luas.


Antonie terus mengayun-ayunkan Liana yang tidak bisa berbuat apa-apa. "Ternyata kamu takut juga." Antonie mengayunkan tangannya semakin cepat.


"Wooi ... aaaagghh ... Aaaaagghh ...." Liana berteriak semakin tak karuan mengikuti gerakan tangan yang semakin cepat.


"Huweeekk ... Huweeeekkk ...."


Terdengar sesuatu dari gadis itu. Antonie pun menghentikan gerakannya. Dia tersenyum tipis meletakan gadis itu di ujung dermaga.


"Yakin, masih berani?"

__ADS_1


"Huweeekk ... huuweeeek ...." Liana memuntahkan segala sesuatu yang ada di dalam perutnya.


"Ku-kurang ajar!"


Antonie tak mengatakan apa-apa. Dia beranjak dan ingin meninggalkannya.


"Tunggu! Tunggguu! Tunggggguu! Jangan tinggalkan gue sendirian di sini!" Liana merasa tubuhnya lemas usai semuanya keluar.


Antonie melirik pada gadis aneh itu. Otaknya mulai ragu meninggalkan dia di malam hening begini sendirian. Apalagi dia adalah seorang wanita.


Antonie menjentikan jarinya. Dengan seketika benda yang mengikat Liana menghilang membuat gadis itu oleng hampir terguling jatuh ke danau.


"Aaaaaaggghhh!" teriaknya.


Antonie memainkan jemari menahan tubuh itu untuk tidak bergerak. Setelah merasa stabil, Liana memapah tubuhnya bangkit, dan langsung melayangkan tendanganya kepada Antonie.


Antonie menggantungkan telapak tangannya ke arah atas, gadis itu mematung tetapi matanya masih bergerak dengan tatapan bingung.


"Sudah lah! Hentikan serangan sia-siamu itu! Sebelum aku lupa bahwa kamu adalah seorang wanita!"


"Lepaskan gue, sia*lan!" rutuk gadis itu yang masih mematung, tubuhnya masih mengambang.


bruuughh


Liana ambruk begitu saja dengan kaki yang tidak siap, membuatnya terkilir. "Sialan tu cupu remehin gue." Liana meringis menggenggam pergelangan kaki dan menium lututnya yang terluka.


dugh


Sebuah benda jatuh begitu saja, benda itu adalah antiseptik yang biasa ditemukan di apotik.


"Pakai lah! Jangan lupa bersihkan dulu lukanya!" terdengar suara pria yang membuatnya terjatuh.


Liana meringis dengan mata liar melihat segala arah. Namun, tak satu pun tampak bayangan pria cupu itu. Dia memungut obat luka tersebut, dan bergerak dengan terpincang memasang muka bebek menuju rumah.


"Untung saja dia seorang wanita, kalau bukan ... mungkin ...." Antonie sedang bertengger di sebuah pohon melihat kepergian Liana yang terseok.


"Apa Anda menyukainya, Tuan?" tanya System.


"Kenapa kamu berpikir begitu?"

__ADS_1


"Karena Anda kembali lagi demi mengantarkan obat itu padanya."


"Tidak—aku rasa tidak. Aku tidak akan bisa menyukai siapa pun. Karena sejatinya aku ini sudah mati. Aku hanya lah mayat hidup yang tidak memiliki jiwa murni lagi. Karena dulu, aku tidak seperti ini."


*


*


*


Pada sebuah rumah yang cukup besar, sedang berkibar bendera duka. Orang-orang menghadiri rumah duka tersebut dengan perasaan sendu. Di tengah ruangan, tampak seorang wanita menangis di samping lelaki yang terlihat tidur dengan pulas.


Dokter Hardan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata kepalanya saat ini. Dia melihat tubuh kaku milik bawahannya itu. Padahal dia sangat yakin, pria ini sudah dibawa ke ruang bawah tanah, dikubur di sana.


Sonya dengan wajah enggan dan angkuh hanya memperhatikan dari jauh. Semua orang yang bekerja di rumah sakit datang melayat, rasanya tidak untuk tidak hadir. Padahal, selain membenci Denish, tubuhnya terasa sakit setelah didorong oleh pria yang datang dan pergi sesuka hati.


Sonya merasa sangat penasaran pada laki-laki yang duduk di atas mobilnya itu. Namun, di saat kesempatan datang untuk menginterogasinya, dia malah lepas begitu saja.


Sonya melihat Dara dan Cika sudah hadir duduk di dekat Denish dan mamanya. Sebuah senyum sinis masih menghiasi wajah angkuh Sonya.


'Oke, sekarang sudah berani terang-terangan rupanya? Kita lihat nanti, apakah praktik kerja kalian bertiga akan lolos atau tidak.'


Sonya pun bergerak ke luar rumah memilih untuk melakukan live seperti biasanya. Dengan memasang wajah sedih, Sonya mulai berdrama di hadapan pemirsa yang selalu setia menonton acara un-faedah yang dia tayangkan kali ini.


"Halo pemirsa, hari ini aku melayat ke rumah mantan pacarku. Di sini juga ada sahabatku yang sudah menghianati aku ... Tapi tidak apa-apa, mungkin jodoh itu di antara mereka. Bukan rezekinya karena tidak mendapatkan aku ....."


Sementara itu, di area rumah sakit yang sepi, warga yang sudah berhasil mendeteksi keluarganya yang hilang mulai mengamuk. Mereka berhasil mendapat hasil visum bahwa keluarga mereka meninggal dengan cara paksa. Dugaan mengenai tulisan yang tertancap di atas area kuburan masal itu pun kembali mencuat.


Sehingga tak sedikit yang melaporkan dan menuntut agar pihak yang berwenang mengusut rumah sakit besar itu hingga tuntas. Ponsel Dokter Hardan bergetar. Dia mendapat panggilan dari bagian informasi.


Dokter Hardan bergerak keluar dari ruangan dan menjawab panggilan tersebut. "Ada apa?"


"Begini, Dok ... beberapa warga yang menyatakan kekuarganya meninggal dengan cara tidak wajar kembali menuntut rumah sakit ini."


Wajah Dokter Hardan melirik ke arah pintu. Di balik pintu itu ada sebuah tubuh yang terbujur kaku. Jasad dari orang kepercayaan yang melakukan segala perintahnya.


"Biarkan saja! Selagi tidak berpengaruh dengan jumlah pasien yang berobat, kalian diam saja!"


"Tapi, Dok. Polisi dan penyidik yang hadir semakin banyak. Mereka menemukan lift khusus menuju ruang bawah tanah."

__ADS_1


__ADS_2