Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 42


__ADS_3

Tanpa berkata apa-apa Antonie menarik kaki gadis yang tidak mau diam itu. Dia menyentuh sejenak, tetapi full power.


Zzzzttt


"Aaaauw!" Liana mendorong Antonie karena kaget bagai terkena sentruman. Antonie bergerak dan pergi.


"Eh, tung—" Liana terdiam, tak ada lagi bayangan orang yang baru saja mengobatinya.


Liana merasa tak sakit lagi. Liana bangkit, kakinya diputar-putar dan dia melompat-lompat. "System, sebenarnya dia itu apa?"


[ Healer, Nona.]


"Healer itu apa?" Tetapi System pencuri hanya diam tanpa jawaban.


"Hey, System bodoh, Healer itu apa?" teriaknya mencak-mencak.


*


*


*


"Lapor, Dok. Semua sudah aman dan terkendali." ucap seseorang menundukan tubuhnya di belakang Dokter Hardan.


"Apa mereka mengecek lift itu?"


"Tidak, Dok. Aliran listrik lift itu kami putuskan sehingga kami bisa memberi alasan itu hanya lah lift rusak yang berfungsi sebagai pajangan."


Hanya wajah datar yang diberikan Dokter Hardan. Setelah itu dia mengibaskan tangan menyuruh orang kepercayaannya yang baru untuk pergi.


"John, pastikan anak yang di bawah itu dilepas keluarganya juga." ucap Dokter Hardan.


Orang yang bernama John menunduk dan segera turun mencari seseorang yang bertanggung jawab atas organ yang akan mereka rebut lagi. Banyak permintaan organ anak, dan kebetulan ada anak sepuluh tahun dirawat di bawah sana.


Saat John keluar, Sonya masuk dengan keadaan terseok. "Ini semua salah Daddy! Daddy tinggalkan aku begitu saja di sana. Sekarang kakiku terkilir!"


"Gadis bodoh, apa yang kau lakukan di sini?"


"Kenapa Daddy yang marah? Harusnya aku yang marah. Daddy pergi begitu saja tanpa mengajak aku di tempat cowok sia*lan itu. Kalau tahu begini, aku tak akan ikut melayat!" Sonya mencak-mencak mengeluarkan amarahnya kepada sang ayah.


"Kau, pulang lah! Obati sendiri kakimu, dan aku tak ingin mendengar ocehanmu!" Dokter Hardan menuju kursi kerjanya lalu memutar kursi tersebut membelakangi Sonya.


Sementara, pria yang baru saja dipanggil dengan John, berbicara dengan dokter yang menangani pasien yang satu-satunya bertahan dalam koma di rumah sakit ini.

__ADS_1


"Apa yang dikatakannya saat harga perawatan dinaikan?"


"Awalnya dia terlihat gugup, Pak. Tapi katanya akan dia usahakan." terang dokter wanita itu.


"Kalau dia berhasil menyerahkan uangnya, nanti tingkatkan lagi harganya!"


Wajah sang dokter terlihat keberatan. "Bukan kah segitu saja sudah jauh melebihi standar rumah sakit lainnya? Jika orang lain, dia pasti menyerah mendengar biaya perawatan yang sangat tinggi. Namun, kenapa harus dinaikkan lagi? Kasihan dia?"


Pria yang bernama John hanya tersenyum sinis, pergi tanpa mengatakan apa-apa pada wanita berjas putih tersebut. John bergerak menuju ruang ICU yang satu-satunya masih aktif. Ruang yang diisi oleh adik Liana, Leon.


"Sebentar lagi giliranmu, usiamu masih sangat belia. Tuhan pasti akan menempatkanmu di surga." John menyeringai membayangkan apa yang akan dia dapatkan.


*


*


*


Usai pemakaman yang penuh liku, Denish mengencangkan kancing jas hitam yang masih melekat pada tubuhnya.


Dia pamit kepada sang ibu sejenak, menuju ke kantor polisi. Dengan bermodalkan ponsel yang pernah memotret penampakan lantai bawah tanah rumah sakit, Denish bersaksi dan menyerahkan diri.


"Saya bersumpah demi Tuhan yang saya percaya, saya menyatakan ini dengan sesungguhnya dan sebenarnya, bahwa pemilik rumah sakit besar itu adalah dalang di balik semuanya!"


Tim penyidik yang baru saja kembali, dibuat menggaruk kepala karena merasa pusing. "Saya baru saja kembali dari sana, akan tetapi tak satu pun hal yang mencurigakan kami temui."


"Saya akan mengantar Bapak semua datang ke tempat itu. Kali ini, mereka tak mungkin bisa menghindar lagi."


Lalu turun kembali perintah untuk penggeledahan. Sementara Denish ikut serta dalam misi para penegak hukum itu. Di saat malam sudah menjelang, para pimpinan sudah kembali, para petugas sudah berganti, polisi datang memperlihatkan Bukti Izin Menggeledah setiap inci dari bangunan ini.


Petugas malam segera melakukan panggilan kepada sang pimpinan utama. "Bagaimana ini, Dok. Polisi datang dengan jumlah lebih banyak."


"Lagi?" bentak Dokter Hardan yang baru saja bisa bernafas lega.


"Iya, Dok. Apa yang harus saya lakukan? Di antara tim penyidik itu ada mahasiswa koas yang bernama Denish, Dok. Dia memandu para petugas menuju ke lift khusus ruang bawah tanah."


Dokter Hardan diam tak bergeming. Sepintas dia memikirkan sesuatu dan memanggil bawahannya yang lain.


Di ruma sakit, Denish mengajak tim penyidik untuk menuju area yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Namun, lift itu tidak bisa bergerak sama sekali.


"Tadi siang, kami sudah mengecek hingga kemari. Kami sedikit merasa aneh, mengapa ada lift di tenpat ini, padahal tidak memiliki bagian tinggi."


"Jika lift ada di bagian tengah, terlihat wajar. Bagian tengah gedung ini memiliki bangunan tinggi hingga enam lantai. Namun, sudut bangunan ini hanya satu lantai. Kenapa ada lift? Tidak mungkin dibuat untuk sekedar pajangan." terang salah satu penyidik.

__ADS_1


"Sebenarnya, lift ini menuju sebuah ruang bawah tanah dengan kedalaman sepuluh meter dari permukaan." lapor Denish.


Tim penyidik tersebut menganggukan kepala. Akan tetapi, semua anggota terlihat kebingungan karena lift tersebut tidak bisa bergerak. Denish pun tidak tahu masalahnya ada di mana. Biasanya semua lancar saja tanpa kendala.


ddrrrttt


ddrrrttt


Ponsel Denish bergetar, dia lihat nomor kontaknya tidak terdeteksi dengan label 'private'


Denish menjawab panggilan tersebut dengan perasaan was-was. "Halo."


"Denish ... Denish ... Kamu di mana, Nak?" terdengar suara Berta, sang ibu di panggilan tersebut dengan nada cemas.


"Mama dengar dari orang ini, kamu kecelakaan. Kamu baik-baik saja kan? Kamu jangan pergi ninggalin Mama juga, Mama tak bisa hidup di dunia jika kamu juga pergi dari Mama." tangis wanita di ujung panggilan.


"Bagaimana? Kamu paham kan kenapa ibumu ada bersama kami?" Suara beralih menjadi bariton.


Denish mematung dengan tangan bergetar. Kerongkongannya terasa tercekat, jantungnya berdegup dengan cepat.


"Jangan! Kalian tidak boleh menyakiti mamaku! Menjauh lah dari mama!" teriaknya sembari meneteskan air mata karena rasa takut yang luar biasa.


"Saudara Denish, apa yang terjadi?"


Denish menggeleng cepat menarik para tim penyidik meninggalkan lokasi. "Sepertinya saya salah. Saya harus kembali, saya ingin melihat keadaan ibu saya yang sendirian di rumah."


cekreeek


Sebuah borgol mengikat pergelangan tangan Denish. "Kamu tidak bisa kabur begitu saja sebelum semua laporanmu diusut dengan tuntas. Bahkan, kamu sudah menyerahkan diri dan bersaksi kepada kami semua."


Denish berusaha melepaskan tangannya dari benda yang terbuat dari baja anti karat tersebut. Namun, tangannya tak kunjung bisa dilepas juga.


"Pak, saya mohon ... Lepaskan saya ... Kalau tidak, ayo ikut saya ke rumah sejenak. Saya ingin memastikan keadaan ibu saya di rumah."


Beberapa kali diskusi dengan penyidik lainnya, akhirnya mereka semua ke rumah orang tua Denish. Mencari wanita yang melahirkan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Namun ... Semua sepi ... Tak satu pun yang ditemukan, termasuk para asisten rumah tangga yang bekerja di sana.


...****************...


Ayoo kakak, mampir juga pada karya teman Author ya..


Napen: Liliani


Judul: My Two Annoying Brothers

__ADS_1



__ADS_2