Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 40


__ADS_3

"Katakan pada mereka bahwa itu hanya lift yang rusak! Saya akan ke sana sekarang juga!" Dokter Hardan mengatakan pada asistennya untuk menyampaikan amplop duka cita lalu mereka pergi.


Sonya tidak mengetahui bahwa sang ayah telah meninggalkannya, dia masih asik berdrama di hadapan penonton. Dia tak menyadari bahwa semua yang ada di rumah duka mulai memperhatikan akting yang tengah dia mainkan.


"Sonya, jika kamu seperti ini di tengah duka Denish, lebih baik kamu pulang saja." ucap Dara.


Sonya mendelik. "Ini lho guys, sahabat yang merebut pacarku." Sonya mulai menyorot ke arah Dara.


Dara menepis ponsel mahal milik Sonya. —braaak—ponsel terjatuh dan semua mata kembali melirik ke arah calon dokter itu. Sonya berlari kecil mengambil ponselnya. Dengan mendengkus kesal tangan Sonya sudah bersiap hendak melayangkan pukulannya.


Namun, melihat semua orang terus memperhatikan, Sonya memilih untuk menahan amarahnya. Dia mencari posisi sang ayah, tetapi tak kunjung terlihat.


"Kamu mencari papamu?" Senyuman sindiran muncul di bibir Dara. "Kasihan, anak tak dianggap! Bahkan tak berkata apa pun saat pergi meninggalkanmu!"


Mendengar sindiran Dara tersebut, membuat Sonya langsung naik pitam. "Apa kau bilang?" Sonya mengeluarkan suara yang cukup keras. Sehingga semua orang melirik kesal padanya.


Denish pun bangkit menarik Sonya keluar dari ruangan tersebut, lalu mendorongnya hingga terjatuh. Tidak hanya itu, Denish melempar uang duka yang dititipkan oleh asisten Dokter Hardan tadi.


"Kembalikan ini pada papamu! Katakan pada papamu untuk bersiap-siap! Semua akan terbongkar setelah semua usai!" Denish kembali masuk ke dalam rumahnya bergabung dengan keluarganya yang lain.


*


*


*


Seorang wanita bersama seorang bawahannya berjalan dengan wajah sumringah menuju rumah singgah milik Antonie. Rumah singgah tersebut terdengar cukup ramai. Sehingga Angela memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang ada.


Dari dalam sana, muncul seorang perempuan muda. Angela memberikan senyuman kepada gadis yang tak lain adalah Fanya. Akan tetapi, Fanya membalas senyuman itu dengan wajah cueknya.


"Cari siapa, Mbak?"


Angela teringat pada dua gadis ini yang dulu dibawa oleh Antonie. "Waah, ternyata kamu tinggal di sini?"


Fanya membalas dengan reaksi yang tak sedap dipandang. Fanya menaikan tangan pada salah satu pinggangnya. "Emangnya kita pernah bertemu?"


Dilla yang merasa jengkel akan kelakuan Fanya yang dirasa tidak sopan kepada atasannya langsung menyerobot. "Kamu ini bisa sopan dikit nggak sama orang tua?"


Fanya membalas dengan ucapan yang lebih tajam lagi. Hingga terjadi adu mulut antara Fanya dan Dilla.


Antonie yang tengah mengunci diri di dalam kamar mendengar pertengakaran tersebut, hingga memilih menghentikan meditasinya lalu bangkit dan keluar mencari tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Antonie langsung menemui orang-orang yang sedang bertengkar berada di pintu masuk. Netra Antonie langsung menangkap wajah seseorang yang berdiri di belakang wanita melawan mulut Fanya.


"Kamu?" tanya Antonie menatap Angela yang tengah menghentikan Dilla melawan anak kecil.


Angela melirik pria yang dicarinya langsung berubah sumringah. "Hai ... Aku sudah lama mencarimu. Akhirnya bertemu juga."


Setengah jam kemudian terjadi obrolan serius antara Antonie dan Angela.


"Nggak usah, Mba. Sudah kewajiban saya membantu dan melayani masyarakat yang bermasalah pada kesehatan. Saya tidak membutuhkan apa pun sebagai balas jasa seperti apa yang kamu katakan."


"Saya harap kamu mau menerimanya. Karena, jika kamu memimpin Rumah Sehat itu, aku yakin akan banyak sekali orang yang sembuh tanpa tergantung obat-obatan dan alat lagi." ucap Angela meyakinkan.


Antonie melirik Fanya dan Rizki secara bergantian. Rizki hanya mengedikan bahu. Sementara Fanya berlaga cuek memainkan kuku, membuat seseorang yang berada di samping Angela mendengkus kesal.


"Ini anak minta di—"


Angela menepuk pundak Dilla dan menggelengkan kepala. Hingga Dilla hanya mencabikan bibir karena menahan rasa kesalnya.


"Saya harap kamu memikirkannya dengan sebaik mungkin. Karena saya sudah memiliki lokasi yang paling tepat untuk Rumah Sehat itu."


Beberapa waktu, Antonie hening dalam memikirkannya. "Terima saja, Tuan. Jika Anda terima, maka God System yang akan terpakai dengan maksimal." ucap System.


'Apa aku sanggup melayani semua orang dengan satu tubuh ini?' berontaknya di dalam hati.


*


*


*


"Bagaimana?" tanya Dokter Hardan kepada bawahannya.


"Beres, Boss. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."


Dokter Hardan mengangguk segera menemui tim penyidik yang sibuk memeriksa membongkar dan mencari sesuatu di ruangan donor organ di rumah sakit itu. Tempat itu, tentu saja bukan di ruang bawah tanah.


Detektif dan tim penyidik lainnya sedang berada di brangkas ruang donor yang legal. Tentu saja organ-organ tersebut berada dalam jumlah yang standar.


Penyidik mencoba mengecek keadaan di ruang ICU, terlihat pasien koma sedang mendapat perawatan yang baik. Lalu detektif tersebut membuat satu catatan, dan menyilang dugaan bahwa pasien koma tidak diperlakukan sebagaimana mestinya.


Liana berjalan sedikit terseok melihat seseorang polisi berpakaian preman keluar dari ruang tempat adiknya dirawat. 'Apa mereka mencari aku?' batinnya sedikit ciut.

__ADS_1


Liana masuk tergesa-gesa langsung mengunci ruangan tersebut. Lewat kaca yang ada di pintu Liana mengintip kembali, tampak banyak sekali orang-orang berseragam maupun yang tidak bolak-balik mencari sesuatu yang ada di rumah sakit ini.


"System, apa lu tau apa yang sedang terjadi? Kenapa polisi begitu banyak berkeliaran di mari?"


[ Mohon tunggu sejenak! ]


Liana berjalan ke sebelah brangkar sang Adik. "Kamu jangan takut, Leon. Kakak akan selalu menjagamu."


[ Ternyata rumah sakit ini bermasalah, Nona. Banyak dugaan negatif yang menerpa rumah sakit ini. ]


"Ah, mereka mungkin hanya iri. Gue bersyukur Leon dirawat di rumah sakit ini. Di sini, Leon mendapat perawatan terbaik, dan mereka mengatakan bahwa Leon akan sembuh, tahun depan."


Mata Liana berkaca-kaca menahan air mata. Karena kaki dan tubuhnya merasa sakit, Liana tidak bisa bergerak untuk mencuuri sesuatu. Dia memilih untuk menemani adiknya yang masih dan terus tertidur.


"Leon, bangun lah! Kakak rindu bersenda gurau denganmu."


tok


tok


tok


Terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar ruang rawat Leon. Liana kembali terseok berjalan untuk membuka pintu. Seorang perawat dengan raut yang tampak sedikit aneh mengajak Liana berbicara di luar.


"Dokter Nadya, yang merawat Leon memanggil Mba Liana, sebagai wali pasien Leon."


Liana menganggukan kepala, lalu memgikuti langkah perawat tersebut. Setelah itu, Liana dipersilakan untuk duduk.


"Selamat siang Mba Liana." ucap Dokter Nadya. Liana hanya menjawab dengan anggukan. Dalam kepalanya mencoba menebak apa yang akan dibicarakan oleh dokter ini.


"Sepertinya Leon mulai menunjukan perkembangan yang bagus, Mba."


Mata Liana membesar, senyum lebar menghiasi bibirnya. "Benar kah, Dok?"


"Oleh karena itu, kualitas perawatan Leon akan kami tingkatkan. Hal ini tentu juga akan berkaitan dengan peningkatan harga biaya perawatan."


...****************...


Haloo kakak semua, jangan lupa mampir pada karya teman author ya.


Napen: Eni Pua

__ADS_1


Judul: Mengejar Cinta Casanova



__ADS_2