
"Siapa yang mencuri tongkat saktiku???" teriak seorang makhluk dengan bulu berwarna coklat di sepanjang tubuhnya, menggunakan baju perang.
Makhluk tersebut langsung menatap lurus pada Antonie yang juga menatapnya dari jarak jauh. Dia melihat tongkat kesayangannya berada di dalam genggaman Antonie.
Dengan mengerutkan kening merasa marah, makhluk itu melesat cepat langsung menyerang Antonie. Dengan gesit dan ringan, Antonie menghindar hingga terdengar dentuman tumburan keras antara makhluk itu dengan bukit batu.
Lagi-lagi suara retakan perlahan yang semakin lama terdengar saling sambung menyambung menggema memenuhi seisi lokasi di sekitar sana.
braaaaakk
Kembali suara patahan bukit batu menggema mengagetkan burung-burung yang ada di sekitar nya. Makhluk tadi bergerak cepat memantul berpijakan pada pecahan-pecahan batu tersebut kembali ingin menyerang Antonie.
Kali ini Antonie ingin mencoba menggunakan tongkat yang ada di tangannya. Antonie memasang ancang-ancang menjadikan tongkat tersebut bagai double stick dengan kedua tangan bergantian mengayunkannya.
"Pencuri! Berani sekali kau menggunakan benda kesayangan milik Raja Kera?"
Antonie menghentikan ayunan pada double stik tersebut. Lalu dia terfokus melihat tongkat yang ada di tangannya. "Jadi ini milikmu?"
Namun, serangan sudah tinggal beberapa inci lagi hampir menghantam wajahnya. Antonie menghindar dengan cara membalikkan tubuh kayang dan kakinya naik ke atas lalu berguling dengan posisi sempurna.
Belum sempat bersiap, makhluk yang mengaku sebagai raja kera itu kembali berputar menyerang Antonie. Kepalannya tiada henti diarahkan pada wajah Antonie. Antonie refleks melindungi diri dengan tongkat yang ada di tangannya.
baaak
baaak
baaak
Raja Kera itu terlihat pengipaskan tangannya yang kesakitan memukul tongkat tersebut. Dia terlihat semakin marah dan kembali menyerang Antonie dengan impulsif tak tertebak.
Kali ini Raja Kera mengombinasikan gerakan antara pukulan dan tendangan menghajar Antonie. Akan tetapi Antonie masih menggunakan tameng tongkat bewarna emas itu untuk melindungi dirinya.
Namun, masih sama seperti tadi, Raja Kera terlihat kesakitan setiap terkena tongkat sakti tersebut. Antonie seakan mendapat kesempatan, kali ini dia yang memilih untuk menyerang.
Antonie melibaskan tongkat yang berantai itu ke arah raja kera. Raja Kera terlihat terkejut dengan refleks menghindar. Antonie terus mengayunkan benda itu ke arah Raja Kera, kiri kanan atas bawah secara bergantian.
"Kenapa? Apa kau takut?"
Sekarang giliran Antonie yang mengejar, membuat Raja Kera lari tunggang langgang. Pada satu kesempatan, Antonie melompat mengayunkan tongkat itu pada Raja Kera yang sudah kelelahan, beberapa detik makhluk yang menjadi target berhasil menghindar.
__ADS_1
braaaaaakkk
Tongkat itu memecahkan bukit batu kembali. Antonie terhenti memandang tongkat tersebut. Dia merasa tidak pantas menggunakan benda itu untuk melawan seseorang, dia khawatir benda itu bisa menghancurkan tubuh semua makhluk yang terkena oleh tongkat sakti itu.
"Sepertinya aku tidak bisa menggunakanmu tongkat sakti."
Tanpa dia sadari, dari arah belakang tendangan maut telah melayang membidik Antonie. Tinggal sedikit lagi, Antonie menggeser tubuh langsung menangkap kaki itu dan langsung melemparnya ke sembarang arah.
Raja Kera tersebut melesat menukik berbentur pada dinding batu. Namun dia seperti tidak mengenal rasa sakit, langsung bergerak kembali mengejar Antonie.
Antonie menyiapkan dirinya untuk menerima serangan Raja Kera bersiap menerimanya dengan lengan yang kokoh. Raja Kera kembali melakukan serangan kombinasi kaki dan tangan, mencoba merebut tongkat yang hanya digenggam oleh Antonie.
Dengan sukarela Antonie menyerahkan tongkat itu kepada pemiliknya sang Reja Kera. Raja Kera menelengkan kepalanya merasa heran atas tingkah lawannya ini.
Namun, Raja Kera tidak melewati kesempatan yang dia miliki langsung menyerang Antonie tanpa berpikir panjang. Namun, hal aneh pun terjadi, saat Raja Kera mencoba memukulkan tongkat tersebut kepada lawannya itu, tongkat yang dipegangnya berhenti dengan sendirinya.
Sehingga Antonie malah memiliki kesempatan untuk menyerang Raja Kera dengan tangan kosong. Suara pukulan terdengar cukup memilukan, kepalan Antonie tepat mendarat di pipi Raja Kera.
Setelah itu, Raja Kera mencoba melakukan perlawanan kembali dengan tongkat sakti bewarna emas. Namun, tongkat tersebut berhenti kembali, seakan tidak mau mengenai dan menyakiti tubuh Antonie.
Kali ini Antonie menarik kaki Raja Kera memutarnya dengan gerakan yang sangat cepat lalu dilepaskan begitu saja. Tubuh Raja Kera melayang menembus langit yang sangat jauh hingga tak terlihat.
"System, kenapa manusia seperti monyet itu menyangka aku mencuri tongkat miliknya?"
"Walaaah, perbuatanmu mengingatkanku pada seseorang yang menggunakan System Pencuri itu."
"Haaatciiiim."
Seseorang yang sedang menggunakan pakaian serba hitam tengah memanjat bangunan yang dijadikan sebagai sarang burung walet.
"Siapa yang membicarakanku?" tanya gadis itu sembari mengusap hidungnya.
[ Saya juga kurang tahu, Nona. Saya hanya System Pencuri Handal, yang memandu kesuksesan dalam program pencurian. ]
"System, kenapa kau terus memaksaku untuk mencuri? Aku ini sudah berjanji tidak akan mencuri lagi bila adikku sudah sembuh. Aku sengaja pulang kampung ke tempat yang jauh seperti ini supaya tidak mudah tergiur untuk mencuri."
[ Maaf kan saya, Nona. Saya memang terprogram demikian! ]
Liana kembali melanjutkan meringsek ke dalam bangunan gelap itu. Di dalam bangunan, tampak banyak sekali burung walet yang sedang beristirahat.
__ADS_1
Saat Liana mengambil sarang burung tersebut, hewan-hewan itu mulai mengeluarkan bunyi yang cukup riuh.
"Sstttt! Jangan berisik!" rutuk Liana terus memetik sarang walet yang melekat pada tempat-tempat tertentu.
Sang pemilik yang berada di lantai dasar bangunan merasa sedikit heran dengan yang terjadi. Tumben sekali walet-walet yang memiliki sarang di tempat tinggi di atas rumahnya berisik tengah malam seperti ini.
Selama ini, tidak ada yang berhasil masuk ke bagian atas tersebut. Karena bangunan itu tidak memiliki apa pun kecuali di puncaknya ada beberapa lubang kecil untuk jalan keluar masuk burung walet.
Sang pemilik yang terkenal sebagai juragan sarang walet pun meringsek menaiki tangga yang sudah dibuatnya khusus berada di dalam rumah.
[ Nona, dari dasar bangunan akan datang seseorang untuk mengecek tempat ini. ]
Liana masih sibuk memetik sarang burung walet yang sudah terkumpul cukup banyak di dalam kantong khusus yang dia gunakan.
"System, cepat bantu aku berkamuflase!"
[ Kamuflase diaktifkan! ]
Saat ini tubuh Liana benar-benar tidak bisa dibedakan dengan kegelapan ruangan ini. Namun, dia terus merayap di dinding masih mengambil obat-obatan herbal yang terkenal mahal itu.
Hal ini tentu masih membuat hewan-hewan yang kehilangan sarang berkicau terbang ke sana kemari di dalam bangunan tanpa cahaya itu.
cekrek
Terdengar suara yang berasal dari pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan rumah sang pemilik bangunan. Liana segera mematung tidak bergerak sama sekali.
Pintu sudah terbuka, terlihat cahaya dari lampu senter menyigi sekitar puncak dan dinding bangunan. Wajah pria bertubuh tambun dipenuhi tato itu menegang marah saat melihat tidak lagi melihat sarang-sarang walet yang akan dipanennya keesokan hari.
"BANGSAAAT! SIAPA YANG MENCURI SARANG WALET MILIKKU?"
Liana masih mematung, dia menunggu beberapa waktu hingga orang tersebut keluar dari ruangan ini dan kembali menutup pintu.
"Huuuufftt!" Liana menghela nafas lega. Dia masih melihat ada beberapa sarang walet yang masih belum diambilnya dan segera menuntaskan pekerjaan tanpa berpikir panjang lagi.
Dengan dibantu System Pencuri Liana bisa melewati lubang dengan ukuran yang tak lebih dari sepuluh kali lima belas sentimeter untuk keluar dari bangunan itu.
Ternyata saat ini sang pemilik sedang mengumpulkan pasukannya di luar untuk mencari pencuri sarang burung walet yang sudah ditunggu beberapa waktu terakhir semenjak panen terakhir kali.
Liana sudah berada di puncak gedung. Dia yang kurang hati-hati membuat salah satu dari anak buah sang juragan, membidik dirinya diam-diam dengan senapan laras panjang.
__ADS_1
[ Nona, tiarap— ]
dooooor