
*Buat yang udah sampai di sini, pastikan baca kembali bab sebelumnya karena ini adalah kelanjutan setelah pembaharuan bab 75*
"Kok gue nggak dilindungi juga?" sungut Rizki.
Antonie melepas pelukannya tidak mengubris rutukan. "Rizki, kamu bawa mereka pulang!" titah Antonie.
"Baik!"
[ Nona, sepertinya pria yang waktu itu lah penyebab kekacauan ini. Pria yang Anda tolong, memiliki Demon System, adalah orang yang jahat. Lari lah! ]
System pemandu milik Liana memberi peringatan.
Rizki menarik Liana dan Leon sekaligus. Namun, Liana menepis tangan Rizki. "Leon, kamu pergi sama Kak Rizki ya? Kakak akan pulang sama Bang Antonie."
[ Nona? Dia sangat berbahaya untukmu! ]
Diam kau!
Leon menggeleng melepaskan tangan Rizki. Dia memeluk Liana karena tampak sangat ketakutan.
Liana melihat Antonie berlari menuju suatu tempat dan melompat. Liana menundukan kepalanya mengusap kepala Leon. "Kamu harus dengarkan kata Kakak! Kakak ada urusan, kamu pulang lah sama Kak Rizki. Nanti Kak Rizki memasak nasi goreng untukmu!"
Rizki mengernyit dan tersenyum kikuk. "Iye, Tong. Nanti gue masakin nasi goreng. Tapi lu pulang sama gue ye?"
Leon mengangguk meski wajahnya terlihat tidak ingin meninggalkan Liana. Akhirnya dia menggenggam tangan Rizki dan melambaikan tangan.
[ Nona? Aku tahu kamu sudah jatuh cinta padanya. Namun, sebaiknya kamu menjauh dari pria itu! Dia sangat berbahaya untukmu! ]
"Kau diam saja! Ini biar jadi urusanku!"
Liana pun turut berlari menuju arah tempat Antonie menghilang. Di puncak bangunan sedang terjadi perbincangan lebih tepatnya perdebatan. Kehadiran Liana membuat dua pria itu membesarkan mata.
"Kau?" ucap mereka dengan serempak.
Antonie melirik ke arah lawan yang merusak perisainya tadi. Dia menebak Sony mengenal Liana.
"Sudah ku katakan, kau harus menjauh saat aku tidak menyadari kehadiranmu!" Sony tersenyum sinis melirik gadis itu dan Antonie secara bergantian.
"Jadi, kalian saling mengenal rupanya?"
Antonie menarik Liana untuk berdiri di belakangnya. "Selagi ada waktu, kamu pergi lah!" gumamnya melirik Liana yang berada di belakang.
Liana melangkah kan kakinya berdiri di samping Antonie. "Gue udah lama tidak bertarung. Kali ini gue mau ikut, sepertinya seru."
Sony tersenyum sinis, sementara Antonie tidak menggambarkan satu apa pun di wajahnya. Dia langsung bergerak hendak menangkap Liana.
Namun, Antonie bergerak cepat menghalangi dan melayangkan pukulannya. Maka terjadilah saling pukul dan tendangan dengan gerakan cepat.
__ADS_1
Kepala Liana bergerak kiri, kanan, dan atas dengan cepat. Dia pun berlari mengejar dua orang yang sedang bertarung, lalu melompat dan melayangkan tendangan mautnya menuju Sony.
Sony berhasil menangkap kaki gadis itu dengan tangannya lalu membanting Liana ke arah gedung rumah sakit. Dengan gerakan kilat, Antonie menangkap Liana agar tidak terbentur oleh gedung itu.
"Sudah ku katakan, pulang lah!" Sejenak Antonie melirik orang-orang yang sedang dirawat di sana. Cukup banyak pasien yang tidak mengerti apa pun, di rawat dalam rumah sakit ini.
Hal ini lah yang membuatnya tidak bisa membalas pada bangunan tersebut. Jika dia menggila, akan ada banyak nyawa yang tak bersalah menjadi korban.
Antonie menurunka Liana. "Kamu pulang lah! Ini urusan laki-laki!"
Sebuah serangan kilatan petir mengarah kepada mereka.
[ Perisai diaktifkan. ]
Antonie dan Liana terselubung perisai karet membuat mereka tidak tersentuh oleh serangan petir itu. Sony tak hentinya memberikan serangan dengan menukik cepat mengarahkan tendangan kepada mereka berdua dengan seringai di wajahnya.
[ Serangan datang kembali, teleportasi! ]
Beberapa detik saat tendangan itu akan mengenai Antonie dan Liana, mereka menghilang membuat Sony tepat menendang balok ppndasi bangunan itu dan membuat bangunan bergoyang dan retak. Hal ini menimbulkan kepanikan pada pasien yang dirawat karena merasakan getaran hebat.
"Gempa?"
"Gempa?"
"Gempa?"
Antonie telah sampai di rumah singgah membawa Liana. Sementara Rizki dan Leon masih belum sampai juga.
"Kamu di sini saja! Jangan ke mana-mana!"
"Tunggu, aku mau ikut—"
Antonie telah menghilang meninggalkan rona pada wajah Liana. Telapak tangannya diletakkan di dada merasakan debaran jantung yang luar biasa.
"Tidak! Gue tidak boleh jatuh cinta! Cinta itu merepotkan!"
"Lhoh? Lu udah pulang?" Rizki dan Leon baru sampai, melirik kiri kana. "Mana Bang Antonie?"
Antonie telah berada di puncak kliniknya melihat kepanikan pasien yang berbondong-bondong ingin keluar dari gedung rumah sakit itu.
[ Sepertinya kondisi sedang gawat, Tuan. Dalam hitungan menit, gedung rumah sakit itu akan runtuh karena hantaman tadi. ]
[ Beruntung Anda masih bisa menghindar. Jika tidak, mungkin orang yang bernama Antonie Candra Buana hanya tinggal nama. ]
"Lalu bagaimana keadaan pasien?"
[ Situasi di dalam gedung sangat kacau, Tuan. Kita harus mengeluarkan semua mereka sekaligus saat ini juga. ]
__ADS_1
[ Dalam hitungan mundur, gedung itu akan roboh, Tuan. ]
Antonie tidak mengulur waktu lagi, dia akan masuk ke dalam bangunan tersebut. Namun, dihadang oleh Sony.
"Mau ke mana kau?"
"Jangan sekarang! Nyawa orang-orang yang berada di dalam bangunan itu, dalam bahaya."
Antonie menerobos Sony dan Sony menjejarnya dengan serangang. Antonie menepis dan langsung meninju perut Sony, membuat pria itu terpental jauh.
Antonie mulai berkonsentrasi melihat orang-orang yang masih tertinggal di dalam gedung. Masih banyak pasien yang lemah tak berdaya yang tertinggal sendirian.
Retakan gedung rumah sakit yang menjulang ke atas hingga enam lantai itu mulai merenggang melepaskan diri dari ikatan satu sama lainnya.
"Tolooong!"
"Tolong!"
"Tooolooong!"
Teriakan meminta pertolongan menggema di penjuru gedung itu. Antonie mulai berkonsentrasi pada pasien yang tertinggal. Dia merentangkan kedua tangan lalu dinaikan ke atas.
"Semua yang ada di dalam bangunan ini, berkumpulah di ruang lepas parkiran ini!"
[ Hitungan mundur mulai dari sepuluh, sembilan, delapan .... ]
Retakan-retakan terdengar semakin keras. Antonie menggerakan kedua tangannya dengan cepat dan semua yang ada di dalam rumah sakit tiba-tiba muncul di pelataran parkir.
[ tiga, dua, satu. ]
braaak
braaaakk
braaaaaakkk
Suara patahan demi patahan pada bangunan itu semakin keras. Dentuman dan suara ambruk bangunan mulai terdengar. Perlaham bangunan itu hancur berkeping-keping.
Bahkan, di antara pasien-pasien itu terlihat pendirinya memegangi jantung tak menyangka rumah sakit yang dibangun dengan susah payah bisa hancur seperti itu. Dokter Hardan menahan sakit akan debaran hebat di jantungnya.
Sony melihat rumah sakit yang sudah tidak berbentuk itu memasang muka datarnya. "Awas kau! God System!" tangannya mengepal dengan sangat kuat.
"So-Sony, kamu di mana?" rintih Dokter Hardan.
Antonie mendengar rintihannya. Namun, dia merasa ragu untuk menolong pria yang telah menghilangkan banyak nyawa ini.
Pantaskah dia untuk ditolong? Atau aku biarkan seolah tidak melihat dan mendengarnya?
__ADS_1