
Keesokan siang harinya, seorang pria dengan beberapa orang lainnya berada pada wilayang kosong tak jauh dari rumah sakit.
"Kita harus membuat terowongan baru menuju ruang bawah tanah." ucap pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah Dokter Hardan.
ddrrrtt
ddrrrttt
Ponsel Dokter Hardan bergetar. Dalam layar datar pipih itu tertulis sebuah nama yang membuatnya tersenyum secara otomatis. Dokter Hardan menjawab panggilan tersebut.
"Sony, bagaimana kabarmu?"
"Daddy, aku akan kembali ke Indonesia." ucapnya dengan nada dingin. Dia sedang berada di bandara menunggu keberangkatan pesawat untuk kembali ke negara asal.
"Kenapa pulang? Apa kamu sedang liburan?"
"Bahkan, tak ada yang menyadari bahwa aku sudah menyelesaikan kuliah spesialisku." Sony masih memasang wajah dinginnya. Sebelum sang ayah melanjutkan berbicara, Sony menutup panggilan menuju pesawat yang akan membawanya kembali ke tanah kelahiran
Dokter Hardan yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya pada sang putra kesayangan, melirik pada ponsel. Ternyata, panggilannya sudah ditutup. Dokter Hardan melirik pekerja yang melakukan penggalian dengan wajah dinginnya.
Sementara, gedung di sebelah Rumah Sakit Harapan Kita, terlihat cukup ramai dibanding biasanya. Beberapa orang sedang membenahi tempat tersebut. Salah satunya Antonie menata brangkar yang nantinya akan digunakan oleh pasien.
"Yakin tidak memerlukan ruangan untuk pasien yang rawat inap? Lalu bagaimana dengan farmasi berkaitan dengan obat-obatan?" tanya Angela mencatat hal-hal yang diperlukan.
"Itu semua tidak perlu, Mbak. Hanya saja aku membutuhkan satu benda yang cukup besar." Antonie merentangkan tangannya.
Angel tersentak melihat ekspresi wajah Antonie yang membuatnya silau. "Benda apa yang kamu butuhkan?"
"Brangkas. Aku membutuhkan brangkas yang besar. Aku akan memesannya untuk diletakan di sini."
Angel mengerutkan kening menyipitkan mata. "Jadi kali ini kamu mau menarik bayaran pada pasien seperti rumah sakit sebelah? Hingga kamu membutuhkan brangkar segala?"
Antonie merasa salah menyampaikan sesuatu. Dia menggaruk pelipis kikuk harus mengatakan apa. "Siapa tahu nanti ketiban rezeki. Kata orang menolong banyak orang, maka rezeki pun akan banyak mengalir untuk kita."
Angela melipat kedua tangan di dada. "Jadi kamu nggak ikhlas nih?"
Duh, salah bicara lagi, batin Antonie.
Antonie memutar tubuh keluar dari ruangan itu sambil menggaruk kepala bagian belakangnya. Bukan karena gatal, tetapi karena merasa bingung tak tahu apa yang akan dikatakannya lagi.
__ADS_1
Setelah itu, pria berkaca mata ini pindah ke ruangan yang lain. Memisahkan ruang perawatan antara pria, wanita, anak-anak, dan penyakit menular.
Pada ruangan wanita, dia membagi atas dua brangkar. Pertama wanita lanjut usia, hingga Antonie tidak perlu merasa enggan dan tak nyaman. Dia tidak merasa canggung jika mengobati wanita yang sudah paruh baya.
Yang kedua untuk wanita muda. Antonie memberikan batas dinding kaca di antara brangkar tersebut. Lalu dinding kaca itu memiliki dua lubang di dekat tempat tidur untuk memasukan kedua tangan. Setelah itu, bagian atas ditutupi sesuatu agar dia tidak melihat pasien wanita secara langsung.
Angela masuk kembali, dia sudah merasa heran dengan desain ruangan yang menurutnya cukup aneh ini. "Kenapa harus dibedakan? Jangan bilang kamu punya phobia terhadap wanita muda?"
Antonie tidak menjawab dan memilih keluar mengecek ruangan lain. Hal ini membuat Angela merasa sedikit tersinggung. "Apa kamu tidak menyukai keberadaanku?"
Antonie memutar tubuhnya dengan cepat. "Bukan begitu, Mbak ... Hanya saja, aku—" Mata Antonie liar melihat sisi yang lain. Dia merasa tidak nyaman di saat hanya berdua saja dengan dengan wanita yang masih asing ini.
"Hanya saja kenapa?" Angela mulai berani mendekati Antonie.
"Oh, lihat itu! Ada sesuatu di rambut kamu." Antonie mengambil sesuatu yang tak ada di rambut Angela, lalu bergeser berjalan kembali kabur keluar ruangan.
"Heii, tunggu! Kamu mau ke mana?" Angela terus mengejar Antonie.
Rizki dan Fanya yang turut membereskan tempat itu mulai memperhatikan gelagat aneh dua orang tersebut.
"Sepertinya Mbak Angela itu suka sama Bang Antonie." ucap Rizki memainkan dagunya.
"Kenapa gitu?" tanya Rizki.
"Kak Antonie kan jelek. Mana mungkin Mbak Angela jatuh hati pada dia." celetuk Fanya.
Rizki menggaruk kepalanya. "Jangan ngaco lu! Gue aja yang cowo bisa bilang dia sejenis pria tampan."
Fanya hanya mencabikan mulutnya. 'Gak pernah lihat dia buka kaca mata sih. Udah ceking, kucel, jelek, dekil lagi.' batin Fanya melanjutkan pekerjaan.
Di sana juga ada Berta, mama Denish yang menawarkan diri untuk ikut. Beliau takut sendirian di rumah singgah Antonie yang masih asing baginya. Tidak disangka, ternyata mereka malah ke gedung sebelah rumah sakit tempat suaminya bekerja dulu.
"Suami Tante bekerja di sana dan Denish, anak Tante juga praktik kedokterannya di sana." ucap Berta saat baru sampai tadi.
"Ooh, kalau aku hampir mati di sana. Kalau tidak masuk sana, mungkin bener-bener udah gak ada lagi di sini." ucap Fanya cuek terus berlalu.
"Maafkan dia, Tan. Fanya memang tercipta seperti itu." ucap Rizki tersenyum dan berlalu.
Saat ini semuanya sedang membersihkan bagian bangunan itu. Sementara Antonie yang menatap pemandangan luar yang lepas menangkap sosok anak kecil sedang duduk menatap gedung yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Angela masih mengikutinya, tetapi memilih berada yang cukup jauh dan memperhatikan Antonie dari jauh. Angela memperhatikan gerak-gerik pria yang membuatnya penasaran itu, kali ini terlihat lebih aneh dari sebelumnya.
Antonie berjalan ke ujung beranda gedung ini. Dia melihat sosok anak kecil itu tengah memasang wajah sedih melihat ke arah bangunan itu.
Antonie duduk di sebelahnya, si anak kecil ini melirik sejenak bangkit dan hendak beranjak pergi. Antonie dengan cepat menangkap makhluk yang tak kasat mata itu. Angela merasa heran dengan gerakan Antonie, masih memilih diam dan memperhatikan.
Arwah bocah itu merasa sangat terkejut melihat ada yang bisa menyentuhnya. Dia mematung sejenak, berpikir itu hanya sebuah kebetulan. Semenjak dia bermain di gedung ini selama satu tahun terakhir, tak satu pun ada yang bisa melihatnya.
"Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Antonie memastikan bahwa dia benar-benar melihat dirinya dengan sangat jelas.
"Kakak bisa melihatku?" tanya arwah anak kecil itu lagi.
Antonie melepas genggamannya pada tangan anak kecil itu. Lalu dia kembali duduk di lantai pojok bangunan, menepuk lantai mengajak bocah arwah itu untuk duduk di hadapannya. Keanehan Antonie masih dalam pantauan Angela yang terus memperhatikan.
Bocah berbentuk arwah itu duduk dengan sedikit bersemangat di hadapan Antonie. Dia merasa cukup senang karena ada yang bisa melihatnya.
"Siapa nama kamu?"
"Leon, Kak."
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Sejak setahun lalu aku menempati bangunan kosong ini. Karena tempat ini begitu dekat dengan tubuhku yang ada di sana." Menunjuk rumah sakit yang ada di sebelah bangunan ini.
"Jadi kamu sedang sakit di sana?" tanya Antonie memastikan.
Arwah bernama Leon itu menggelengkan kepala. "Sebenarnya aku sudah meninggal, Kak. Namun, sebuah alat menghentikan langkahku untuk pergi. Alat itu membuat jantung yang ada di dalam tubuhku kembali berdetak." Leon menundukan wajahnya.
"Sebenarnya kamu lebih memilih mana? Meninggal atau hidup?" tanya Antonie.
"Dulu aku ingin meninggal saja Kak, ingin ikut dengan kedua orang tuaku yang telah pergi lebih dahulu."
...****************...
Yuhuuu.. Kakak.. Mampir juga yuuuk
Napen: Lady MerMaD
Judul: Jerat Hasrat Kakak Ipar
__ADS_1