Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 47


__ADS_3

"System ... Kamuflase!" ucap Liana cepat.


Gedung tersebut mulai berisik karena suara auman sirine pengaman bergema dengan sangat nyaring.


[Kamuflase diaktifkan]


Liana seketika berubah warna mengikuti warna langit-langit tersebut yang berwarna putih. Membuat sen jata tadi yang membidik langsung ke arah Liana berputar-putar mencari target yang tidak terlihat.


Liana bergerak cepat merayap hendak keuar lewat pintu. Seluruh ruangan ini telah diberi pengaman lampu led membuat Liana tidak bisa keluar lewat jendela.


Pintu masih dalam keadaan terkunci. Dia masuk lewat ventilasi udara di bagian atas pintu, begitu juga keluarnya harus dari tempat yang sama. Dari arah luar terdengar derap lari orang yang cukup banyak.


Dari arah luar ada suara kunci pintu yang sedang dibuka. Liana bergerak cepat mengambil posisi ventilasi yang telah berhasil dibobolnya tadi.


"Weii, lihat sana!" terdengar suara dari luar.


"Iya, ventilasi bagian atas pintunya bolong."


krek


krek


Pintu dibuka dari arah luar membuat Liana mempercepat gerakan bergerak melewati ventilasi udara.


"Lihat itu!" Seseorang menunjuk ke arah Liana.


"Heh, pencuri!"


Mereka masih bisa melihat Liana, membuat gadis itu cepat bergerat keluar dan berpindah ke ruangan lain melewati plafon yang berlobang.


Para security membagi tugas. Satu orang bertugas mengecek berlian. Yang lain berpencar demi mengejar sang pencuri.


"Ganti warna!"


[ Kamuflase hitam diaktikan! ]


Tampilan Liana sudah berubah menjadi kelam malam. Liana kembali merayap meminimalisir gerakan yang mudah terendus lawan.


Liana sudah naik ke puncak bangunan menepuk kedua tangannya yang sudah dipenuhi oleh debu.


"Kena kau!" ucap seseorang dan ternyata puncak bangunan ini sudah sangat ramai dipenuhi oleh para security.


Tanpa memberi aba-aba mereka mulai bergerak menyerang Liana. Liana tak gentar sama sekali. Wajah dibalik masker itu menyemburatkan sebuah senyum tipis. Dia merasa sangat senang untuk meladeni mereka.

__ADS_1


Liana mulai dengan gerakan menghindari para Security itu dengan sangat apik. Menghindar ke kiri ke kanan dan salto. Tanpa berkata apa-apa Liana mulai membuat kaki para security tertekuk dan didorong.


Dia tidak ingin terlalu over power melawan para security ini. Bisa menyebabkan nyawa orang-orang biasa melayang jika dia mengerahkan semua kekuatan kakinya.


Liana memberi dorongan pada dada salah satu security. Setelah itu, dia terpentak menubruk kawan-kawannya yang berada di belakang.


Liana menopangkan tangannya pada kepala salah satu security dan mengangkat kedua kakinya menendang setiap orang yang datang. Saat kakinya mendarat, kepala security tadi di tarik membuat pria itu terangkat. Liana melemparnya pada security yang baru saja datang hendak menye rang.


bruuukkk


Tubuh mereka langsung ambruk, Liana salto berputar jungkir beberapa kali menuju ujung bangunan. Dia tidak sadar ada benda kecil tercecer dari kantong saat dia berputar bergantian antara kaki dan tangan itu.


[ Nona! ] System pencuri menyadari itu.


"Jangan berisik! Gue lagi berusaha kabur. Dari pada orang-orang itu te was karena kaki gue? Mending gue kabur."


[ Tapi—]


"Gue bilang jangan berisik!"


Para security yang mengejar sudah semakin dekat. Liana mulai berlari sekencangnya, memberi lambaian tangan pada orang-orang itu, dan melompat ke gedung sebelahnya.


Padahal gedung sebelahnya jauh lebih tinggi, tetapi kaki Liana sudah berlari mendaki dinding gedung tersebut membuat para security tercengang. Security tersebut mengusap matanya memastikan apa yang terjadi bukan lah mimpi belaka.


"Dia sudah berada di gedung sebelah. Cepat lapor pada keamanan gedung sebelah dan ayo kita kejar dia ke sana!"


Namun, berlian tersebut sudah tidak ada di tempat dia menyimpan terakhir kali. "System ... mana berlian gue tadi?"


[ Berlian yang Anda ambil telah jatuh, Nona.]


"APA? Kenapa tidak mengatakannya pada gue tadi?"


[ System sudah memperingatkan. Tetapi Anda seperti biasanya tidak mau dengar.]


"Kenapa malah nyalahin gue? Seharusnya tolongin gue, kek ambilnya?"


[System tidak bisa bekerja tanpa perantara.]


"Aaah ... begoo begoo begooook! Kenapa tidak ada yang lancar segalanya setelah ketemu si cupu sia*lan itu?" rutuknya berputar arah hendak kembali ke gedung tadi.


Liana mengeluarkan teropong memastikan keadaan di gedung bawah sana sudah aman. Setelah memastikan tak ada lagi orang di sana, Liana segera melompat dari atas dengan gaya cantik berputar-putar beberapa kali menjelang mendarat.


[ Anda sudah semakin lihai, Nona! ]

__ADS_1


System memuji Liana. Akan tetapi tidak membuat gadis itu senang. Dengan wajah cemberut, dia mengeluarkan senter mini menerabas kelamnya puncak bangunan pameran tadi. Dia mulai merangkak mencari benda kecil dengan nilai yang sangat tinggi itu.


*


*


*


"Maaaamaaaa ... Mamaaaaaa." Seorang anak kecil sedang menangis mencari sang ibu. "Mama, Leon ada di mana?" tangisnya.


Satu tangan Antonie berada di pinggang, satu lagi berada di dagu. Dia merasa kebingungan dalam mendiamkan anak yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Antonie mendekat hendak menenangkan Leon.


"Huwaaaaa ... Om siapa? Om Pencu lik ya? Huwaaaaaa ..." tangisan Leon semakin tinggi.


"Ini Kakak, Leon. Masa kamu lupa? Aku yang sudah membuatmu sadar dari koma!" terang Antonie mencoba menenangkan.


"Maaamaaa, Papaaaa, Kakaaaaak, ada yang udah nyuliiiik akuuuuu!" Leon berteriak-teriak tidak karuan.


"Sssttt! Ssssttt! Tidak ada yang nyuuulik kamu kok Leon." bujuk Antonie.


"Maaamaaa, dia tahu namaku jugaaaa. Dia pasti jahaaaat!" tangisan Leon semakin kuat.


Hal ini membuat orang-orang yang berada di rumah ini terbangun. Fanya melempar bantalnya kesal bergerak keluar mencari tahu apa yang sedang terjadi. Di depan pintu kamar Antonie sudah berdiri Rizki dan Berta.


"Kenapa ada anak kecil di dalam?" tanya Fanya kepada Rizki.


"Tante juga tidak tahu, tiba-tiba kami mendengar tangisan anak kecil. Tante terbangun karena suara itu." ucap Berta menjelaskan.


Fanya mengerucutkan bibirnya mendelik melihat ke arah Berta. "Rizki? Kamu tahu alasannya?"


Rizki mengedikan bahu dan menggelengkan kepala. Lalu perlahan Fanya menarik gagang pintu melihat Antonie sedang dilempar semua benda yang ada di dalam sana oleh anak itu.


Leon melihat seorang gadis muda langsung berlari memeluk Fanya. "Kakak ... Kakaaak!" tangisnya dalam pelukan Fanya.


Fanya mendorong Leon. "Kamu siapa? Kenapa main pelak-peluk aja?"


Leon tersentak mendengar bentakan wanita muda ini. Dia langsung melepas pelukannya dan kembali meraung memanggil keluarganya.


"Siapa dia, Kak?" bentak Fanya melihat Antonie menggaruk kepalanya.


"Ooh, dia anak kecil." jelas Antonie dengan bingung.


"Iya aku tahu dia ini anak kecil. Kenapa dia tiba-tiba ada di sini?" bentak Fanya lagi.

__ADS_1


Berta menarik tangan Leon, mengusap air mata bocah sepuluh tahun itu. "Ayo sini, di sini ada Mama Berta. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Berapa usiamu?"


Leon patuh mengikuti dan mendekati Berta. "Aku Leon. Aku sembilan tahun. Mamaku masih hidup, Tante bukan mamaku."


__ADS_2