
Siapa tahu Kakak dan Abang punya yang gratisan di sebelah 😅😅😅 yang F.
Authornya lagi sedikit capek, hehehe ... Lagi banyak kerjaan yang dikasi big boss nya Author yang ada di real life. Jadi, kenalin dulu ya ... Walau Cerita Super God System belum tamat, tapi sequelnya udah ada .... Wkwkwkwk ...
...****************...
"LEPASKAN DIA BANGSAAAT!"
Amar berteriak dengan suara parau saat melihat gadis remaja yang merupakan kembarannya mulai dijaaamah seorang pria langsung di depan matanya. Laki-laki tersebut sudah bertelanjang dada mulai menciuuumi Amira yang terus bergerak meronta agar pria itu menjauh.
"Lepas! Lepas kan aku!" Amira terus meronta memberi perlawanan ketika pria biadab itu mulai bergerilia berada di atas tubuhnya.
Saat ini, Amar dalam keadaan terikat pada sebuah kursi. Kedua tangan di sisi kiri kanan dikelilingi tali tambang bewarna putih.
Dia terus menggesekan kedua tangan dan kaki berusaha melepaskan diri, berharap tali tersebut bisa lepas dengan sendirinya. Amar terus bergerak melakukan segala upaya mencoba melepaskan diri.
Amar tidak memiliki waktu yang banyak, karena akan mengancam keselamatan Amira, saudari kembarnya. Dia terus memainkan tali tambang itu hingga usahanya membuahkan hasil. Ikatan pada kakinya mulai longgar dan terlepas.
Amira terus meronta, memukul, mencakar, dan menendang pria yang sudah menempelkan bibirnya pada leher remaja yang masih mengenakan seragam itu.
Pria itu sudah mulai meraba bagian sensitif pada tubuhnya. Suara tangisan ketakutan Amira mulai pecah. "Jangan Om! Jangaan! Huwaaaa."
"Ayo lah cantik! Kamu tidak akan menyesal jika tidur bersamaku. Aku akan menjadikanmu ratu yang ke-25. Namun, kamu jangan khawatir! Aku berjanji, kamu tak akan kekurangan satu apa pun." Tangannya mulai membuka kancing seragam Amira.
"ANJIIIING! Apa yang kau ucapkan?" Amar berlari karena ikatan pada kakinya sudah lepas seutuhnya. Meskipun tubuhnya masih dalam keadaan terikat dengan kursi.
Lusio, pria biadabb yang akan menodai Amira belum sempat menoleh langsung mendapat hantaman keras oleh kursi yang mengikat Amar.
buuugh
baaagh
Kepala Lusio langsung terasa oleng, dan bagian dada yang ikut terkena kaki kursi begitu menyakitkan. Amar menghantamkan kaki kursi tersebut dengan sangat kuat. Lusio terjungkal meringkuk kesakitan pasca pukulan tersebut.
Amira langsung bangkit lari ke samping Amar. Amira membantu melepaskan ikatan pada Amar dan Lusio mulai bangkit pasca rasa pusing yang hebat melanda dirinya.
"Woooii! Jimo, Dodol, Ajai! Lu pade ke mana anjiiir?" teriak Lusio memanggil anak buahnya yang memang sengaja disuruh keluar sebelum menikmati tubuh Amira.
Namun, orang-orang yang dipanggil tidak mendengar teriakan Lusio, boss mafia yang tidak pandang bulu terhadap siapa pun mangsanya. Para anak buah sedang membicarakan pergulatan Lusio dengan gadis muda yang cantik, yang tadi mereka tangkap saat pulang sekolah.
Ikatan pada Amar sudah mulai lepas, dan mencoba menyerang Lusio bersenjatakan kursi. Amar mengayunkan kursi tersebut memukulkannya pada Lusio. Ternyata, pria itu cukup lihai dalam menghindar.
__ADS_1
Lusio menumpukan tubuhnya pada kedua tangan dan memanikan kaki membuat kursi dalam genggaman Amar terlepas. Amar segera menempatkan Amira berdiri di belakangnya.
"Kenapa bocah? Kau takut? Aku pikir kamu adalah pria tangguh meskipun dalam usia muda. Ternyata, kamu tak ada bedanya dengan remaja lain yang hanya besar mulut." Lusio berdiri di atas bangku tempat Amar terikat tadi.
"Lepaskan kami! Kami tidak tahu apa-apa mengenai urusanmu dengan orang tua kami!" ucap Amar dingin.
Lusio melompat dari bangku dan sudah berada tepat di hadapan Amar. Dia menyeringai mengulurkan tangan ingin menarik Amira.
Amar dan kembarannya saat ini berusia delapan belas tahun. Kedua kembar tersebut memiliki paras yang rupawan.
Karena kecantikan dan ketampanan mereka langsung turun dari kedua orang tua mereka yang memiliki gen sempurna.
Namun, sebulan lalu, orang tua mereka meninggal dengan cara mengenaskan. Mereka mengalami kecelakaan dengan keadaan mobil terbakar.
Orang tuanya meninggalkan warisan yang sangat besar bagi mereka berdua. Namun, semenjak seminggu lalu, Lusio mulai meneror mereka dengan alasan hutang orang tua mereka yang sangat besar.
Mereka berdua yang masih di bawah umur diasuh oleh Om Leon, adik dari ibunya. Leon adalah pria berusia 30 tahun belum menikah, saat ini berada entah di mana.
Apakah dia sudah mengetahui bahwa kedua keponakannya ini diculik? Tidak ada yang tahu.
"Hap!" ucap Lusio masih ingin menangkap Amiran.
tak
Suara tangan Amar memukul tangan Lusio. Lusio kembali mencoba menangkap Amira yang terus menghindar, dan Amar terus menolak tangan Lusio.
Amar pun mendorong tubuh pria berusia 45 tahun itu. Melayangkan kepalannya yang tidak seberapa meninju perut pria itu yang penuh dengan otot.
Lusio terus menyeringai, dia merasa sangat puas melihat apa yang terjadi. Mempermainkan bocah kembar ini rasanya sangat menyenangkan.
"Orang tua kami tidak mungkin berhutang! Papa dan Mama memiliki uang yang sangat banyak!" Amar terus melayangkan tinju kepada Lusio.
Lusio bagai menikmati, tanpa ada rasa sakit sama sekali hanya mendorong pelan tubuh Amar yang masih remaja itu. Amar langsung jatuh, Lusio bergerak mengejar Amira dengan tatapan penuh naf su.
Amar merayap menangkap kaki Lusio, hal ini tentu membuat Lusio jatuh tengkurap dengan hidung dan jidat terbentur lantai.
Melihat Lusio meringis, membuat Amar bangkit dan langsung berdiri menarik Amira meninggalkan tempat ini.
Amar bergegas mengajak Amira lari menuju jendela. Namun sayang, jendela itu tidak memiliki pintu.
Amar mencari sesuatu untuk dan melihat sebuah bongkahan besi langsung mengambilnya. Amar melemparkan bongkahan besi tersebut.
praaaaang
__ADS_1
Suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring hingga anak buah Lusio yang berada di luar mendengarnya. Mereka langsung berlari menuju lokasi tempat Boss mereka berada.
"Cepat lompat! Kita tidak memiliki banyak waktu!" ucap Amar.
Amira mulai meringsek mencoba melewati jendela. Amira berhasil berada di luar bangunan. Setelah itu giliran Amar melompat dan langsung menarik Amira berlari keluar menjauhi bangunan gudang itu.
Para anak buah melihat sang boss tengah meringkuk guling-guling karena rasa pusing yang luar biasa. Lalu sebagian lagi melihat dua remaja yang tadi mereka tangkap sedang berlari menjauh.
"Cepat kejar mereka!" teriak Lusio.
Lusio pun bangkit, dengan rasa amarah dengan mengeluarkan senjata api yang tadinya tidak digunakan.
"Kalian akan menyesal!"
Lusio mengikuti anak buahnya berada pada posisi paling belakang. Tidak lupa dia mengokang senjata itu dengan wajah amarah dan benci karena merasa sangat tersakiti.
Amar dan Amira mempercepat larinya melihat para pria berwajah ganas telah mulai mendekat. Namun, Amira yang tidak terbiasa lari membuat tubuhnya oleh dan jatuh tersungkur.
Amar yang tadi udah lebih dahulu, kembali ke belakang dan mencoba menarik Amira untuk bangkit. "Ayooo! Kita harus lari!"
"Aku udah nggak sanggup Kak! Aku—"
Amar tidak membiarkan Amira terus mengeluh. Amar menarik Amira naik ke punggungnya dan langsung berlari sambil menggendong adik kembarnya itu. Hal ini tentu membuat kecepatan lari Amar menjadi sedikit lebih lambat.
Penjahat-penjahat tersebut sudah semakin mendekat. Begitu juga dengan Lusio. Tanpa perasaan mereka membidik tubuh gadis yang berada di punggung saudara laki-lakinya.
Sebuah seringai terhias di bibir Lusio. "Ini lah hukuman bagi anak tak menuruti ucapan orang tua!"
doooor
Tembaaakan langsung menembus pungguh Amira membuat gadis cantik itu tersentak, genggaman erat Amira semakin lama semakin mengendur.
Amar merasakannya dan memperlambat laju lari. "Amira?"
Tangan Amira sudah terjuntai, dan terlihat daaarah yang menetes satu per satu di tangannya yang sudah layu itu. Amar menghentikan larinya dan terdengar ringisan sang adik.
"Amira? Kamu tidak apa-apa?" Amar berjongkok.
"Ka—kak ...." Tubuh Amira jatuh begitu saja ke atas tanah.
doooooor
Tubuh Amar menegang sesaat, dan dia terduduk.
__ADS_1
doooooor
Sekali lagi Amar menegang, jatuh tergolek dengan memuntahkan daaarah.